- 28 -

1053 Kata
Suasana sore di jalanan Jakarta cukup ramai. Kendaraan kendaraan berlalu lalang, mengikuti arus lalu lintas yang ada. Kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat, dari mulai sedan sampai truck trcuk besar. Motor Riza turut andil memenuhi kepadatan kendaraan sore itu, yang mana banyak sekali warga ibu kota menghabiskan akhir pekannya dengan mengunjungi tempat tempat yang ramai. Jika hari kerja dipadati kendaraan pulang kerja, maka hari libur dipadati kendaraan yang mencari hiburan. Jakarta dan kepadatannya seolah menjadi dua hal yang tidak bisa lepas untuk terus bersanding karena kondisi yang tidak pernah membaik ini. Riza menyetir motor dengan perasaan serba salah. Hati kecilnya menyimpan sesal, tapi segera ditepik oleh logikanya. Tidak, ia sudah melakukan hal benar. Ini semua demi kebahagiaan orang-orang yang disayangnya. Meski rasanya sakit sekali, tapi ia cukup turut bahagia melihat Thella dan Dirgan tersenyum bahagia ke arahnya. Bukan kah yang terpenting Thella tetap bahagia? Dengan atau tanpa dirinya, Riza masih bisa kembali menjalani perannya sebagai sahabat Thella. Selalu begitu dan akan terus begitu, Riza akan terus menjadi sahabat Thella. Yang mungkin saja, nanti akan diceritakan Thella perihal hubungannya dengan Dirgan, entah itu berjalan baik atau tidaknya. Tentang rasa berbunga bunga yang akan dirasakan Thella saat pacaran dengan Dirgan. Riza harus menguatkan hati dalam mendengar semua cerita itu, akan di dengarnya kisah kisah itu sambil memandang wajah Thella yang dipenuhi senyum merekah. Pikirannya kembali berputar. Semua yang ia lakukan serba salah, dan harus ada yang mau mengalah atau kalah. Riza menyetir motor itu tak karuan, karna memang dikepalanya kini tersimpan banyak sekali pikiran yang serasa menggerogoti akal sehatnya. Seberusaha mungkin Riza untuk mengabaikan perasaan itu, tapi rasa perih itu justru mendominasi. Kumpulan sajak sajak memilukan yang ada di buku sastra seolah berkelebat di bayangannya, seperti mendukungnya untuk bergalau ria. Riza harus bisa tersenyum di hadapan Thella atau pun Dirgan. Riza harus tetap tertawa seolah bahagia, meski rasanya menderita setiap detiknya. Ia sampai berpikir untuk pindah sekolah saja demi menghindari Thella dan Dirgan yang nanti sedang dilanda kasmaran. Atau Riza ingin mengharapkan keajaiban, tiba tiba ada guru yang menyuruhnya pindah kelas. Ah! Apa ia harus mengajukan pindah kelas saja, bisa gak ya? Sepertinya itu pilihan paling masuk akal, atau yang ada dia di interogasi guru guru, dikira Riza korban bully di kelas yang sekarang. Tidak, itu jelas tidak masuk akal. Segala macam kemungkinan telah dipikirkan Riza, untuk menghadapi rasa patah hati yang entah kapan akan berakhir ini. Padahal baru saja di mulai, tapi rasanya ia sudah menderita sekian tahun saking perihnya. Jika begini, bagaimana bisa Riza menghadapi Thella dan Dirgan yang akan bersama sama mulai hari senin nanti di sekolah. Riza pakai minta pajak jadian segala, padahal makan bersama mereka aja rasanya menjadi canggung dan terasa sesak. Ia malah sibuk memikirkan langkah apa aja yang akan ditempuhnya untuk menghindari dua temannya itu. "s**t!" teriaknya saking tak tertahankan. Cowok itu mengerang frustrasi, dengan keadaan saat ini, yang membuatnya menjadi kesulitan untuk sekadar bernapas saja. Ia tidak menyangka patah hati sampai segininya, menggerogotinya hingga ke tulang tulang, bahkan memacu kecepatan motornya di jalanan saja sama sekali tidak menyembuhkan rasa sakitnya. Angin yang menerpanya sore ini sungguh tidak membantu dalam menerbangkan apa pun, hanya membuatnya terserang masuk angin saja, bukannya sembuh dari patah hati, malah yang ada hari senin ia tidak masuk karena habis kerokan. Riza menepikan motornya di pinggir jalan, dibukanya helm yang terasa membuat pernapasannya sesak. Padahal, helm tersebut tidak ada masalah apa apa, memang perasaannya saja yang sedang tidak karuan hingga membuat segalanya menajdi tampak serba salah. Riza meletakan helm di atas spionnya, lalu ia menjambak rambutnya sendiri dengan wajah frustrasi, seolah dirinya tidak mampu lagi menghadapi semua ini. Perasaan yang tidak karuan ini, seolah tak mampu terobati oleh apa pun kecuali ia bisa bersama Thella, yang mana tidak akan mungkin karena Thella sudah bersama Dirgan. "Emang salah kalo gue suka sama lo, Thel? Gue tau kalo gue sama Dirgan sama-sama suka lo. Tapi apa lo tau kalo gue lebih dulu mencintai lo dari pada Dirgan! Tapi sayangnya gue gak seberani Dirgan yang bisa nyatain cintanya ke lo!" celoteh Riza di motornya senidirian. Menumpahkan segala isi hatinya di pinggir jalan yang ia lalui itu, yang beruntung memang sepi, sehingga dirinya tidak dikira orang gila karena berteriak sendirian dengan wajah kusut nan semberawut. Riza benar benar tak kuasa menahan segala keluh kesah yang memaksa untuk ditumpahkan itu. Segalanya meluruh sore itu, meluruh sendirian, tanpa ditangkap siapa pun. Apalagi oleh sang objek yang harusnya mendengar pernyataan itu. Rasa sesal dan amarah karena ketidakmampuan mengungkapkan perasaan itu sukses menyiksanya sore ini. Ini jelas baru awal dari segalanya, baru beberapa jam berlalu, Riza bahkan tidak sanggup membayangkan hari hari yang harus ia lalui dengan menyaksikan Dirgan dan Thella yang akan terus bersama. Begini ya ternyata, menyukai seseorang yang tidak bisa dimiliki. Begini ya ternyata, merananya mencintai sahabat sendiri. “Gue sayang sama lo, Thel. Sayang banget. Dari dulu, sampe sekarang. Gue cinta sama lo, The.” Riza terus mengungkapkan isi hatinya pada angin, yang berharap dapat menerbangkan suara itu hingga sampai ke telinga Thella. Yang mana tentu saja tidak mungkin. Riza seperti orang bodoh yang mengharapkan hal hal tidak masuk akal karena rasa frustrasinya hari itu. Angin yang terus bertiup, menerpa tubuh Riza yang menepikan motornya di pinggir jalan, rupanya hadir sebagai pertanda bahwa sore itu akan turun hujan. Riza bahkan tidak menyadari bahwa warna langit sudah gelap, dengan awan tebal yang menggelayut, hingga perlahan air hujan mulai turun ke bumi. Tanpa aba aba, hujan seketika turun dengan derasanya, menerpa sosok Riza yang tidak memiliki persiapan apa apa dalam menghadapi hujan sore ini, ia bahkan tidak menyimpan jas hujan di dalam jok motornya karena lupa. Bahkan langit pun ikut menangis melihat dirinya patah hati. Riza tidak bergerak sama sekali, ia membiarkan dirinya diguyur hujan sore itu. Dengan harapan, mungkin saja ia bisa sakit karena diterpa hujan, lalu bisa ijin tidak masuk ke sekolah berhari hari. Meski hal tersebut hanya akan menunda patah hatinya barang beberapa saat saja, toh dirinya tetap harus bertemu Dirgan dan Thella di hari berikutnya. Setidaknya, dirinya bisa mempersiapkan untuk menata hati yang semberawut ini. Memastikan bahwa dirinya tidak akan kenapa napa asal melihat Thella bahagia meski tidak bersamanya. Thella masih tetap akan bersamanya sebagai seorang sahabat. Ya, sebatas sahabat, seperti dulu. Sejak dulu, dan akan terus dan selalu begitu. Mengharapkan lebih tanpa diiringi dengan keberanian mengungkapkan, jelas hanya membuat segalanya menjadi sia sia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN