28. Ritual Hujan Panas

1661 Kata

Arsakha terus berjalan menyusuri sebuah jalur setapak yang begitu gelap. Ki Belukang Sewu terlihat begitu bercahaya dengan pakaian yang dikenakannya. Tak lama berselang Ki Belukang Sewu berhenti untuk menoleh ke arah Arsakha. “Teruslah berjalan mengikutiku, Anak Muda!” Ki Belukang Sewu tersenyum kepada Arsakha yang terlihat bingung dengan perjalanan menuju tempat keberadaan kembang Puncung Merah. “Baik, Kisanak!” Dengan hati yang begitu antusias, Arsakha terus mengikuti jejak langkah Ki Belukang Sewu. Setelah melalui beberapa tanjakan jalan setapak yang panjang bagai sebuah ilusi di negeri dongeng, Arshaka dan Ki Belukang Sewu tiba pada sebuah tempat yang begitu sunyi dan asri. Tempat itu adalah sebuah Sendang atau sumber mata air, yang airnya begitu jernih dan mengalir bagai sungai.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN