34. Berhati Mulia

2302 Kata

Arsakha kembali merogoh sesuatu benda di balik bajunya. Mengeluarkan benda yang tak kasat mata itu di atas telapak tangannya. Semua orang tercengang melihat keadaan itu. Karena mereka tidak melihat apa pun di atas telapak tangan Arsakha. Padahal Arsakha tersenyum ketika mengeluarkan kembang pucuk merah yang tak kasat mata itu dan menyimpannya di atas telapak tangan kanannya. “Ini kembang Puncung Merah itu, Tabib! Apa Tanib bisa melihatnya?” Arsakha kembali tersenyum kepada tabib yang masih mengernyitkan dahinya. Tabib itu memfokuskan pandangannya ke arah kedua manik mata Arsakha. Sorot matanya seakan menunjukkan bahwa dia memiliki pertanyaan yang mengendap dalam benaknya. “Arsakha! Kau tidak menipu kami kan? Jangan bermain-main dengan masalah ini!” Demang Damar menatap tegas ke arah Arsa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN