Aku mengerjapkan mataku secara perlahan, apakah aku pantas menerima sebuah pengakuan mengejutkan? Entalah, aku merasa hanya karena Elvern terlihat dua kali lipat lebih serius. Aku selalu terbawa untuk menyimpulkan bila hal-hal tersebut adalah hal yang cukup penting. Aku merasa jantungku dipaksa bekerja dengan keras meskipun aku sudah mencoba untuk abai. Tiba-tiba aku teringat dengan dua bola matanya yang berwarna merah, dibeberapa kesempatan saat kami berdua cukup intim. Aku berpikir bahwa aku mabuk karena hal-hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Namun saat Elvern mengatakan hal semacam itu, aku tidak habis pikir untuk berpikir bahwa ada saja kemungkinan besar di alam semesta ini yang memang terkadang tidak sesuai dengan akal dan logika. Tapi kemudian ketegangan itu mencair, suasana se

