“Jadi kau akan memberikanku sebuah tour room bukan?” Elvern lagi-lagi menggodaku untuk melakukan hal bodoh yang baru saja diberikan sepupuku. Apalagi saat kami berdua berdiri di depan pintu kayu yang merupakan pemisah antara ruang tengah dan ruang tidurku. Sebuah gantungan yang terbuat dari kayu tergantung apik disana, selain sebagai penanda juga sebagai hiasan agar tempat tinggalku tidak terlalu sepi. Elvern melirik kearah gantungan tersebut sambil membuat sebuah senyuman. “Apa yang membuatmu tersenyum?” tanyaku sambil menaikan sebelah alis. Elvern menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin tahu ruangan pribadimu,” dia terkikik pelan. “Um…” semula aku memang tidak menganggap bahwa hal ini adalah ide yang bagus. Tapi aku merasa sedikit terkesima melihat betapa banyaknya rasa tertarik

