Terlibat Dengan Gerald

1002 Kata
Naura menginjakkan kakinya di rumah setelah Magrib. Sejak tadi dirinya hanya memutari jalanan seperti wanita tidak waras umumnya. Apalagi Naura membiarkan kakinya telanjang, merasakan panas dan kerikil tajam melukainya. Naura membuka pintu, sudah ada ibu dan ayahnya duduk dengan tatapan tidak seperti biasanya. "Duduk, Naura. Ayah mau bicara sama kamu." Suara ayahnya dingin. Biasanya kedatangan Naura selalu disambut hangat tidak seperti sedang diinterogasi. "Ayah sama Ibu kok gak nonton TV. Kenapa mukanya kaya marah. Ada masalah?" tanya Naura sambil menuruti suruhan Ayahnya untuk duduk. Ayahnya berdiri, melempar alat tes kehamilan di meja. Naura saat melihatnya langsung berubah masam. Tangan dan kakinya langsung mendingin. Matanya memanas. Kenapa dan siapa yang menemukan ini? "Jelasin ini punya sama Naura? Jangan bilang kalau pikiran Ayah sama Ibumu ini bener," kata Ibu Naura. Naura hanya diam, sampai air mata meluruh begitu saja. Melihat Naura yang diam, Ayahnya mulai memukuli kepalanya sendiri dengan keras. Suara menangis di kedua orang yang amat Naura cintai dan sayangi kini terdengar begitu menyakitkan. Naura terduduk sujud di kaki Ayahnya. Menangis hebat di bawah sana. Dia benar-benar seperti anak yang tidak tahu diri. Anak penuh dosa. "Maaf, Yah. Maafin Naura," cicitnya. Ayahnya mendorong Naura. Kemudian berdiri, menunjuk pintu dengan mata melotot. "Keluar kamu, saya tidak ingin punya anak yang bikin aib di keluarga." Ayahnya duduk, merasakan pusing dan sakit di d**a. Membuat itu Naura juga ibunya panik. Naura mendekat pada Ayahnya, tetapi Ibunya mencegahnya. "Ayah sama Ibu salah apa Naura? Kita besarin kamu penuh kasih sayang, tapi ini balasan kamu? Kalau sampai tetangga tahu. Yang jelek Ayah sama Ibu Naura. Ayah dicap tidak bisa menjaga anak gadisnya sendiri. Mau ditaruh di mana muka Ayah, Naura! Kamu mau perlahan membunuh Ayah atau gimana? Punya dendam apa, bilang Naura! Jangan justru berbuat dosa seperti ini. Katakan siapa ayahnya?!" Naura benar-benar tidak tahu selain harus menangis memegang kaki Ayahnya. Dia menyadari kesalahannya, tetapi perkataan Ayahnya baru saja. Membuat Naura seperti anak durhaka sekarang. "Maafin, Naura Ayah, Ibu. Naura salah. Naura nggak berpikir panjang sampai begini." "Ayah sama Ibu ajarin kamu buat jaga diri Naura. Tapi ini apa? Kamu terang-terangan mau dibuai sama laki-laki. Ayah tidak sudi punya putri seperti kamu. Bikin malu!" Ayahnya mendorong Naura. Bahkan sebelum kejadian ini, Ayahnya lah perisai bagi Naura. Ayahnya bahkan tidak segan-segan jika Naura tersakiti. Namun, saat ini Ayahnya benar-benar kecewa. Naura beralih menangis di kaki Ibunya. Terus saja mengucapkan maaf. Ibunya yang diam sejak tadi, melayangkan tamparan untuk Naura. Tangan Ibunya bergetar, setara dengan tangis yang mulai meluruh. "Ibu kecewa sama, Naura. Ibu kurang apa Naura? Salah apa aku Tuhan, sampai diberi cobaan begini!" Ibunya melakukan hal yang sama, menampar dirinya sendiri berkali-kali. Melihat hal itu, Naura menahan tangan Ibunya. Memohon untuk berhenti melakukannya. "Berhenti, Bu. Tampar Naura saja. Naura yang salah dan tidak tahu diri di sini. Naura t***l, Bu. Naura benar-benar tidak berguna. Malu-maluin keluarga." "Siapa ayahnya?" tanya Sang Ibu dengan wajah datar. "Dia di London Bu, menikah dengan orang lain." Penuturan itu membuat Ibunya, tidak habis pikir. Apa salahnya hingga dibebani dosa seperti ini! "Besok sore Ibu mau kamu ikut buat gugurin bayi ini." *** Naura tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan CEO barunya dalam keadaan seperti kemarin. CEO baru sekaligus adik dari Sagara sendiri. Sungguh, kalau Naura itu sangat memalukan. "Saya ingin bicara dengan kamu." Naura mendongak. Mendapati seseorang yang baru saja berlarian di bayangan otaknya. Gerald sudah berdiri di mejanya, menatap Naura. "Baik, Pak." Sampai di ruangan Gerald. Naura disuruh duduk di sofa bukan di kursi sebagaimana karyawan masuk untuk menemui atasannya. Gerald ikut duduk di sampingnya. "Kemarin saya dapat kabar kamu memilih pulang karena sakit. Hari ini juga wajahmu pucat. Baik-baik saja? Maaf, tapi setelah pertemuan pertama kita, tidak memungkinkan saya untuk takut jika kamu melakukan hal nekat lagi." "Saya baik, Pak. Ini hanya efek begadang. Mung—" Naura menjeda bicaranya saat rasa mual menguasai tubuhnya. Naura menutup mulutnya berdiri dan permisi untuk keluar menuju toilet dengan terburu-buru. Naura memuntahkan semua isi perutnya. Hingga gadis itu merasakan pait luar biasa di dalam mulutnya. Ini sangat menyiksa. "Naura, kamu baik-baik saja?" Naura membilas wajahnya lalu dikeringkan dengan tissue. "Saya baik-baik saja, Pak. Maaf, harusnya Bapak tidak perlu menyusul saya." Naura membalas dari dalam kemudian keluar. "Saya khawatir tiba-tiba kamu mual. Benar baik-baik saja? Tapi wajahmu lebih pucat dari tadi. Ayo ikut saya." "Eh kemana, Pak?" Naura ditarik paksa oleh Gerald. Kini menuju ruangan Gerald, banyak pasang mata memerhatikan mereka. Bahkan Naura bisa dengar meski suara mereka berbisik. "Astaga, Naura. Kemarin Kakaknya sekarang adiknya juga. Pinter banget dapetin hati CEO. Keenakan tuh." "Iya ih. Modal cari perhatian doang kayaknya. Apa tu anak bisa ngambil hati Pak Gerald ya? Tapi aku yakin si, palingan berakhir kaya kemarin. Ditinggal nikah." Naura berusaha menulikan telinganya. Namun, justru suara jahat itu memenuhi pikirannya. Membuat Naura muak. Saat sampai di ruangan Gerald, laki-laki itu membuka laci mejanya. Mendapati minyak angin, dan memberinya pada Naura. "Pakai, ini anget. Mungkin bisa meredakan rasa mual dan pusing kamu. Ah, mungkin kamu tidak nyaman ya dengan perhatian saya. Tapi, saat melihat kamu, saya terasa dihipnotis. Kamu punya mantra apa, Naura?" *** Naura sudah bilang tidak mau menggugurkan bayi itu. Namun, Ibunya terus memaksa. Bahkan saat keduanya saling tarik-menarik, Ayahnya hanya diam saja di kamar. "Ayo Naura. Kamu harus gugurkan bayi itu sekarang agar tetangga tidak tahu. Jangan bikin Ayah sama Ibu malu!" "Bu, gugurin bayi yang gak berdosa itu dosa besar. Tuhan bisa marah, Bu." "Kamu inget Tuhan saat seperti ini? Lantas melakukannya kamu inget siapa? Setan yang kamu ikutin!" "Naura gak mau, Bu. Naura mau membiarkan bayi ini lahir." "Dan akan dianggap anak haram nantinya karena melahirkan aib di keluarga juga kampung ini? Jangan konyol Naura!" "Naura benar-benar tidak mau, Bu. Naura takut. Takut kalau gagal dan Naura mati ditempat." "Ibu tidak peduli. Yang pasti, Ibu mau, aib di dalam perut kamu itu hilang." Naura menangis memohon untuk Ibunya benar-benar tidak melakukan hal ini. Namun, Ibunya tetap kukuh menarik Naura pergi. "Kalau kamu tidak mau menggugurkan sekarang. Jangan sebut Ayah sama Ibu orang tuamu lagi. Kita tidak sudi dengan putri sepertimu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN