Naura memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Tiba-tiba saja rasa pusing bercampur ingin mual muncul, sehingga Naura segera pergi ke toilet untuk mengeluarkannya. Naura berkumur, menetralkan rasa pahit di lidahnya. Sesekali memijat kepalanya yang masih pening. Setelah itu, Naura memandangi diri di depan kaca. Wajahnya terlihat pucat, padahal sudah banyak upaya Naura menutupinya. Memakai lipstik merah, dan menghidupkan aura matanya agar tidak kelihatan betul jika dirinya sedang kelelahan.
Lama gadis itu memandang diri di kaca, satu tetes air mata jatuh mengenai tangannya. Naura menangisi keadaannya yang benar-benar hancur sekarang. Dia berada di posisi terberat untuk memilih dua opsi. Tetap mempertahankan kandungan ini, atau lebih memilih untuk menggugurkannya. Naura benar-benar dilanda bingung.
"Ra, are you okay?" Naura mendengar suara Lila di luar.
"Aku baik-baik aja, Lil. Kenapa kaya khawatir banget si?" Naura keluar, menepuk pipi Lila yang nampak khawatir dengan keadaan Naura.
"Habisnya aku dari tadi nahan buat tanya ke kamu. Kamu pucat, masih sakit?" tanyanya.
"Ya ampun, mungkin efek begadang semalam. Aku gapapa kok," balas Naura yang sepenuhnya berbohong.
"Kalau begitu, ayo ke ruang rapat. Sebentar lagi pengganti Pak Gara akan datang."
"Sekarang banget ya? Aku pusing soalnya Lil. Pulang boleh nggak ya." Naura tidak lepas memegang kepalanya yang terasa berdenyut berputar-putar.
"Atau aku izinin aja, Ra? Aku juga gak tega lihat kamu begini. Pasti Bu Ayumi juga ngertiin."
"Gak yakin aku, Lil, tapi tolong izinin ya. Kalau gak diizinin juga aku bakal pulang. Gak kuat, dari pada pingsan dan nyusahin kan?"
"Kamu bilang dong, Ra. Sakit apa? Ditanyain jawabannya gapapa mulu. Barang begini, keluhannya pusing."
"Cuma pusing aja, Lil. Efek meriang ini mah, udah jangan khawatir. Aku pulang duluan ya."
"Hati-hati di jalan. Eh, atau mau aku pesen taksi?"
"Aku udah pesen duluan tadi," bohongnya. Padahal Naura bukan ingin pulang. Dia ingin berjalan di pinggir, entah itu berakhir di klinik aborsi atau kembali ke jalan bunuh diri lagi. Intinya untuk bertahan hidup dalam keadaan begini, Naura tidak bisa menanggung malu. Dia sudah menjadi aib. Aib bagi ayah, ibu juga keluarganya. Kalau sudah begini, siapa yang akan mau dengannya? Pasti di mata semua orang, dia bukan gadis yang baik-baik.
"Oh, oke. Aku ke ruangan Bu Ayumi buat izinin. Sekali lagi hati-hati. Kalau perlu mampir di apotek, cepet sembuh ya!"
Naura mengangguk, memaksakan senyum. "Iya, Lil. Semangat juga kerjanya. Maaf merepotkan."
"Siap!"
Naura segera keluar, mencangkleng tasnya, dan berjalan ke arah kiri. Padahal untuk jalan pulang, harusnya dia berjalan ke kanan. Ternyata memang dua opsi pilihan Naura. Digugurkan atau bunuh diri lagi. Terlihat gila, tapi jika orang di posisi Naura, juga mungkin memikirkan hal yang sama.
Naura berjalan menunduk, tidak peduli tentang banyak mata yang tengah menatapnya ragu-ragu. Naura juga tidak memedulikan bagaimana prasangka orang tentang dirinya. Mungkin saja orang berpikir dia adalah wanita tidak waras. Di depan sana, dia teringat satu kenangan bersama seseorang. Warteg. Iya, bersama Gara, keduanya pernah makan bersama setelah pulang dari butik hanya untuk memesan gaun serta jas mewah. Naura tersenyum getir. Dia tidak menyadari jika hari itu adalah hari tersialnya. Kenikmatan itu tidak ada rasanya sekarang. Benar-benar cukup sakit mengingat bagaimana Sagara berucap begitu manis malam itu.
Bagaimana kabar Sagara? Apa laki-laki itu bahagia dengan pernikahannya? Apa dia tidak memikirkan Naura? Bahkan tidak sempat berpikir untuk hamil itu akan terjadi setelah malam panas mereka? Rasanya banyak sekali pertanyaan di kepala Naura. Bahkan saat dia diberi kesempatan bertemu dengan Gara, dia ingin memberitahukan segalanya.
Lama tidak memerhatikan jalannya, tidak terasa sebuah klinik gelap yang Naura search dari goggle sudah di depan matanya. Klinik aborsi. Naura hanya berdiri tidak jauh dari sana, memutir jemarinya ragu. Dia menyentuh perut ratanya, ada nyawa bayi di dalam sana. Naura memejamkan matanya, hingga setetes mata jatuh. Naura benar-benar menjadi orang jahat sekarang. Benar-benar jahat. Naura mundur perlahan, sambil memeluk perutnya sendiri. Semalam bahkan dia berjanji untuk tidak melakukan hal gila seperti ini. Namun, kenapa setan kembali membujuknya. Naura tidak mau bertambah dosa. Cukup sekali saja dia lalai.
"Maafkan saya." Naura bergumam sendiri dengan perutnya. Bahkan ketika wanita di luar sana memanggil dirinya 'mama' berbeda dengan Naura yang terlihat bicara bersama orang asing. Naura belum siap untuk konsekuensinya.
***
Di sisi lain, Gerald Pranoto datang bersama pengawal lainnya tidak luput satpam menyambutnya. Gerald mengenakan kacamatanya, berjalan seperti CEO pada umumnya. Terlihat wibawa dan gagah.
Sampai di ruang rapat. Gerald segera memperkenalkan diri. "Sebelumnya, salam kenal saya Gerald Kalingga. Pengganti CEO Sagara Pranoto. Alasan saya menggantikan kakak saya adalah, Pak Sagara akan menghandle perusahaan di London untuk beberapa bulan ke depan dan kembali ke perusahaan mertuanya di Indonesia. Saya rasa, kalian bisa berkerja sama dengan saya."
Bu Ayumi segera memberikan berkas berisi identitas karyawan di sana. Gerald membacanya begitu teliti, hingga foto salah satu karyawan membuat Gerald harus melihatnya dengan detail. Sesuatu menggelitik hatinya. Dia, bukannya perempuan yang ditolongnya semalam?
Kemudian, Gerald menatap satu persatu karyawan yang ada di sana. Namun, Naura tidak ada di sana. "Karyawan kita sepertinya ada yang tidak hadir. Siapa?" tanya Gerald.
"Oh, ada memang, Pak. Namanya Naura, karyawan biasa di meja nomor 10. Dia izin untuk pulang karena sakit. Saya sudah bilang Bapak akan datang, tapi bagaimana. Sepertinya dia memang sedang tidak bisa menahan sakitnya," jelas Ayumi.
"Oh, oke. Kalau begitu. Mungkin ini perkenalan singkat saya. Kalian boleh kembali bekerja. Oh ya, Bu Ayumi. Kamu bisa antar saya ke ruangan? Saya belum paham dimana nya."
"Baik, Pak."
Naura menghabiskan waktunya di sebuah kursi panjang, memandangi danau yang disulap menjadi tempat bermain. Ada banyak anak-anak di sana. Namun, yang menarik di mata Naura adalah angsa-angsa yang sedang berenang. Naura sesekali melempari kerikil. Dia membuka ponselnya kembali ingin tahu tentang Sagara melalui Instagramnya. Nama Sagara.klgg diketik di kolom pencariannya.
Postingan terakhir bukan lagi seperti yang dilihat Naura kemarin. Postingan terakhir di post tadi pagi, foto kaki dua orang yang tengah berselimut. Di bawahnya tertulis caption, 'beautiful night'.
"Kamu bahagia ya, Gara di sana?"
***
"Mas, kamu tahu kan konsekuensinya jika tidak menuruti aku?"
Alice memulai obrolan yang sangat tidak ingin Sagara dengar. Mereka tengah duduk di meja makan, di hadapan makanan enak ini, apa Alice ingin membuat mood Sagara buruk?
"Jangan bahas sekarang, aku sedang tidak ingin mendengarnya."
"Keluargamu akan hancur, Mas. Ingatlah, perusahaan Pranoto tetap berjalan karena suntikan dana dari keluargaku. Jangan lupakan itu."
"Alice, aku tidak berniat melupakannya. Lagi pula, bisa kamu tidak terus membahasnya? Muak."
"Kalau begitu, aku harus membahas, Sayang? Oh, nanti kita harus datang ke kantor. Melihat perkembangannya."
"Iya, aku ingat."
"Aku mencintaimu, Sagara dan aku menginginkan hal yang sama. Kamu juga harus mencintaiku."
"Iya, Sayang."
Alice pergi menaiki tangga. Kini tersisa Sagara di meja makan. Sagara melihat ponselnya, lalu memencet apl instagramnya. Postingan tadi pagi, Alice sendiri yang memposting. Bukan Sagara.
"Kamu apa kabar ya?" Tidak tahu pertanyaan itu untuk siapa. Sagara tengah merindukan seseorang.