Bab 4

1003 Kata
Flashback On ​Dua tahun lalu... ​Malam itu, hotel elit milik keluarga Utomo sedang berpesta. Sebuah pesta topeng mewah yang dihadiri oleh para kolega bisnis. Namun di balik kemegahan itu, Kirana sedang melakukan pelarian terbesarnya dari lingkaran iblis keluarga Zein. ​Gadis itu tampil memukau. Ia mengenakan gaun satin hitam dengan payet halus di bagian d**a, lengkap dengan topeng bulu berwarna senada yang menutupi identitasnya. Kirana berlarian di koridor sepi lantai eksklusif, tempat di mana kamar-kamar utama keluarga Utomo berada. Napasnya memburu, langkahnya mulai goyah karena pengaruh alkohol yang ia teguk. ​Di belakangnya, terdengar derap langkah berat dari beberapa pria berbadan besar. Bodyguard keluarga Zein. ​"Jangan lari kau j*lang!" teriak salah satu dari mereka, suaranya menggema di sepanjang koridor. ​Kirana yang dalam kondisi mabuk berat merasa kebingungan. Pandangannya kabur, dunia seolah berputar di sekelilingnya. Ia terus menyusuri lorong yang sunyi itu hingga matanya menangkap sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka. Tanpa berpikir panjang, Kirana menyelinap masuk dan langsung mengunci pintu itu dari dalam. ​Ia bersandar di balik pintu, jantungnya berdegup kencang. Namun saat ia berbalik, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Seorang pria sedang berdiri tepat di belakangnya, menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh tanya. ​Kondisi Kirana yang mabuk membuatnya benar-benar kehilangan kontrol. Suhu tubuhnya meningkat ketika secara tak terduga, sepasang tangan kekar Arga melingkar di pinggangnya untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. ​Kirana mulai meracau tak jelas, "K-kau tampan sekali. Maukah tidur denganku?" tanyanya dengan suara yang parau dan tak sadar. ​Tanpa menunggu jawaban dari pria asing di hadapannya, Kirana langsung bergerak agresif. Ia menarik kerah kemeja Arga dan mencuri kecupan di bibir pria itu. Arga terkejut bukan main. Bola matanya hampir melompat keluar mendapati ada wanita yang begitu berani menyentuhnya tanpa izin. Namun, melihat gadis di hadapannya yang begitu memikat dalam balutan gaun hitam itu, Arga memutuskan untuk tidak melepaskan kesempatan ini. ​Arga membalas ciuman itu, awalnya kasar namun perlahan berubah menjadi permainan yang hati-hati namun panas. Ia membawa tubuh Kirana menuju ranjang king size di tengah ruangan. Di bawah remang cahaya lampu tidur, pergulatan panas terjadi. Dalam kekacauan itu, topeng bulu Kirana terlepas, menampakkan wajahnya seutuhnya. Namun karena pencahayaan yang minim dan pengaruh gairah yang memuncak, Arga hanya bisa mengingat samar-samar detail wajah gadis yang telah menyerahkan segalanya malam itu sebelum ia menghilang saat fajar tiba. ​Flashback Off ​Dunia Arga kembali pada masa sekarang. Di hadapannya, Pak Syam masih bersimpuh dengan tangan yang melepuh bekas sundutan rokok. Arga memberikan satu kode tangan kepada Bara. ​"Bawa dia pergi," perintahnya pendek. ​Bara segera bertindak. Ia menyeret Pak Syam keluar dari ruangan itu. Teriakannya memohon ampun masih terdengar memilukan. ​"Tuan tolong.... tolong jangan bunuh saya!" ​Suara itu akhirnya menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. Arga mematikan sisa puntung rokoknya di asbak kristal, lalu berdiri dan berjalan menuju balkon lantai dua Bar Orion—tempat ia berada saat ini. ​Sorot matanya yang tajam menatap ke satu sudut meja bundar di bawah sana. Arga menyipitkan mata. Ia baru saja menyadari sesuatu yang sangat menarik. Gadis yang ia pinta untuk tetap berada di rumah. Gadis yang selalu terlihat santai namun ternyata memiliki adrenalin yang cukup besar. Arga terus memperhatikan itu membuat Kiirana, yang duduk di bawah sana, menyadari keberadaan sepasang mata yang mengintainya. Gadis itu mencoba menenangkan diri dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menurunkan sedikit topinya untuk menyembunyikan wajahnya. Namun bagi Arga, gerakan itu justru mengonfirmasi segalanya. ​"Permainan yang menarik, Karina," bisik Arga pada angin malam, sementara senyum psikopatnya kembali mengembang. "Ayo bubar! Bubar! Bar sudah tutup!" Suara lantang satpam Bar Orion memecah kebisingan yang mulai meredup. Teriakan itu seketika mengalihkan perhatian Kirana, memberikan sedikit celah bagi jantungnya yang sedari tadi berdegup tidak keruan. "Aduh!! Bagaimana ini kalau sampai ketahuan bisa mati sungguhan aku," gumamnya lirih pada diri sendiri. Tangannya yang dingin meremas pinggiran topi hitamnya, berusaha menekan rasa takut yang mulai merayap ke tenggorokan. "Yah, baru juga minum, sudah tutup saja," keluh Wili dengan wajah kecewa. "Sudahlah, ayo pulang!" ajak Kirana tergesa-gesa. Ia bangkit dari kursi itu dengan gerakan sealami mungkin, berusaha membaur di antara kerumunan pengunjung yang mulai berdesakan menuju pintu keluar. Setiap langkahnya terasa berat, ia tidak berani menoleh sedikit pun ke arah balkon VVIP, tempat ia yakin Arga masih berdiri mengawasi. ***** Suara guyuran shower terdengar dari dalam kamar mandi di kamar utama, memecah kesunyian malam yang dingin. Suara air itu perlahan beradu dengan langkah sepatu pantofel mahal milik Arga yang baru saja menapaki lantai marmer koridor. Arga berjalan perlahan menuju kamar. Wajahnya datar, tidak menunjukkan senyuman sedikit pun. Sorot matanya yang gelap masih menyimpan kilat amarah dan kecurigaan yang ia bawa dari Bar Orion. Pikirannya masih tertuju pada sosok bertopi hitam yang menghilang begitu cepat di tengah keramaian bar tadi. Begitu pintu jati kamar terbuka, pemandangan di depannya sedikit berubah. Kirana telah siap, duduk manis di tepi ranjang dengan gaun malam berwarna marun yang elegan. Rambutnya yang sedikit basah tergerai indah, memberikan kesan bahwa ia baru saja selesai membersihkan diri. Ia terlihat seperti gadis polos pada umumnya yang patuh menunggu suaminya pulang. Arga melangkah mendekat, menciptakan aura yang membuat udara di sekitar Kirana terasa menipis. Ia mengangkat dagu Kirana dengan telunjuknya, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang sehitam malam. "Bagaimana? Sudah menjalankan perintahku untuk tetap diam di kamar?" tanya Arga tanpa basa-basi. Matanya memicing, seolah sedang mencari kebohongan di pupil mata Kirana. Kirana menelan ludah perlahan. Ia menguatkan mentalnya, menatap balik Arga dengan tatapan yang ia buat setenang mungkin. "Ya, sudah," jawab Kirana mantap. Arga terdiam sejenak, membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Sudut bibirnya kemudian terangkat, membentuk senyum kecil yang misterius. "Bagus," ucapnya singkat. Arga melepaskan dagu Kirana dan berdiri tegak. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan meninggalkan Kirana sendirian di kamar itu. Kirana hanya bisa terduduk kaku, mengatur napasnya yang sempat tertahan. Ia tahu, Arga tidak akan melepaskannya begitu saja. Menunggu... itulah yang ia lakukan sekarang. Menunggu langkah gila apa lagi yang akan diambil oleh pria iblis itu untuk menghukumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN