Bab 5

1351 Kata
Kesunyian kamar utama yang sempat tercipta kini pecah oleh suara langkah kaki yang berat dan teratur. Arga kembali setelah membersihkan diri di toilet lain, membawa aroma sabun maskulin yang tajam. Tubuhnya yang kekar dan atletis tercetak jelas di balik handuk kimono berwarna navy. Kirana, yang sedari tadi duduk di tepi ranjang, segera menyadari kehadiran pria itu. Ia langsung berdiri. Namun, belum sempat sepatah kata pun terucap dari bibirnya, Arga bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan, Arga meraih tengkuk Kirana, mencengkeramnya dengan kuat hingga kepala gadis itu tersentak ke depan. Kirana bisa merasakan panas dari telapak tangan Arga yang kontras dengan dinginnya suasana kamar. Wajah pria itu kini hanya berjarak beberapa inci dari telinganya. "Malam ini aku tidak mengizinkan kamu tidur. Tetaplah duduk di tepi ranjang dan jangan coba-coba untuk memejamkan mata!" Suara Arga yang rendah dan berat itu seketika membuat perut Kirana mual. Ada intimidasi di sana. Arga sedang menghukumnya, meski pria itu tidak mengatakan alasannya secara gamblang. GILA! batin Kirana berteriak. Setelah mengatakan hal itu, Arga langsung memalingkan wajah Kirana dari hadapannya dengan kasar. Ia mulai merangkak naik ke atas ranjang. Pria itu memposisikan tubuhnya dengan nyaman di bawah selimut sutra, memejamkan mata, dan dalam waktu singkat ia tampak mulai terlelap. Di tepi ranjang, Kirana masih berusaha keras untuk tetap terjaga. Jam dinding berdetak lambat, seolah mengejek penderitaannya. Matanya mulai terasa sangat berat. Kepalanya pening, denyut di pelipisnya terasa semakin nyata akibat rasa kantuk yang luar biasa. Beberapa kali Kirana perlahan memejamkan matanya tanpa sadar, namun karena posisi duduknya yang tidak nyaman dan kepalanya yang mulai terkulai, ia kembali tersentak bangun dengan kaget. Gerakan tiba-tiba itu rupanya menimbulkan suara berderit ranjang yang cukup untuk membuat Arga terjaga. Pria itu membuka sebelah matanya, melirik Kirana yang terlihat gelagapan memperbaiki posisi duduknya. Suasana kamar yang remang membuat tatapan Arga terlihat lebih menyeramkan dari biasanya. Kirana menyadari tatapan itu. Ia menelan ludah, merasa tidak enak hati sekaligus takut jika hukuman ini akan diperberat. "Maaf, aku tidak tidur kok. Hanya... hanya sedikit pegal. Kamu lanjut tidur saja," ucap Kirana dengan suara serak, mencoba menutupi rasa lelahnya. Arga tidak menjawab apa pun. Ia tidak memarahi, namun tidak juga memberikan keringanan. Pria itu hanya menatapnya selama beberapa detik dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya berbalik membelakangi Kirana dan mulai mencoba untuk terlelap lagi. Kirana menghela napas lega yang sangat panjang. Dadanya yang sesak sedikit melonggar. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan, sampai nanti fajar menyingsing, ia harus tetap terjaga dan memastikan pria di belakangnya tetap merasa berkuasa. Ini adalah harga yang harus ia bayar demi sebuah pembalasan dendam yang tak boleh gagal. ***** Kantor pusat Utomo Grup pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Karyawan baru mulai berdatangan, namun di lantai paling atas, di ruang CEO yang luas, atmosfer sudah terasa tegang. Argantara yang tiba lebih awal dari jam kantor biasanya, memilih untuk berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta. Di tangannya, sebatang rokok menyala, mengirimkan asap tipis yang menari di udara sebelum hilang ditelan mesin pendingin ruangan. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar. Bara datang menghampiri dengan langkah tenang namun sigap. "Bagaimana hasil dari pengecekan CCTV kemarin?" tanya Arga to the point, tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya terdengar dingin. Bara berdiri tegak, membuka tablet di tangannya. "Di rekaman CCTV, tidak terlihat Nyonya Karina keluar dari rumah, Tuan. Semua pintu terpantau aman." Arga terkekeh rendah. Ia teringat bagaimana Kirana tampak begitu rapi dengan gaun maroon-nya semalam, seolah ia benar-benar tidak pernah meninggalkan kamar. "Apa kita perlu memberi penjagaan yang lebih ketat?" lanjut Bara, mencoba memberikan solusi bagi Arga. Arga memainkan rokok di tangannya, matanya menatap lurus pada tembok putih besar di samping jendela. "Tidak perlu. Dia bisa kabur karena dia memang jago," ucap Arga dengan nada yang hampir terdengar seperti pujian. "Biarkan saja dia berpura-pura patuh dan manis di depanku. Aku ingin lihat sampai sejauh mana boneka itu bisa memainkan perannya." "Baik Tuan. Namun, ada satu hal lagi yang berhasil saya dapatkan. Ini mengenai latar belakang Nyonya Karina...," ucap Bara dengan suara lebih lirih. Arga tersentak. Tangannya yang baru saja hendak membawa rokok ke bibir berhenti seketika. Sorot matanya menajam, ia berbalik sepenuhnya menghadap Bara. "Nyonya Karinabternyata pernah juga dikirim ke dalam lingkaran iblis keluarga Zein," balas Bara. Arga mengerutkan kening dalam-malam. "Kenapa dia bisa masuk ke sana?" Bara menggendikkan bahunya. Hanya itu informasi yang bisa ia dapatkan saat ini. "Aku belum tahu pasti, Tuan. Keluarga Zein sangat tertutup masalah internal yang satu ini." Mendengar jawaban Bara, Arga justru tersenyum miring. Senyuman yang penuh dengan misteri dan ketertarikan yang gelap. "Berhasil keluar dari lingkaran iblis itu hidup-hidup... itu sudah cukup hebat untuk seorang wanita," lirih Arga pada diri sendiri. Pria itu mematikan rokoknya di asbak dengan satu gerakan tegas. Kini ia mengerti mengapa Kirana tidak terlihat takut padanya. Wanita itu sudah pernah melewati neraka yang diciptakan oleh keluarganya sendiri. ***** Di kediaman mewah Argantara, ketenangan yang baru saja dirasakan Kirana kembali terusik. Bel rumah berbunyi. Dengan langkah yang dipaksakan, Kirana membuka pintu utama. Di sana, Nek Farah dan Om Juna kembali berdiri dengan senyum yang menurut Kirana lebih mirip seringai serigala berbulu domba. Entah apa tujuan mereka datang kembali secepat ini, namun Kirana tahu ia tidak punya pilihan selain menyambut mereka dengan ramah dan memainkan perannya sebagai Karina yang rapuh. Ia membawa mereka ke ruang tamu. Mereka duduk berhadapan. Om Juna, dengan setelan jas mahalnya, tampak gelisah, sementara Nek Farah mencoba mempertahankan wibawanya. Setelah basa-basi singkat, Om Juna tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan. "Karina... Bagaimana? Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Om Juna mendadak. Pertanyaan itu terdengar begitu vulgar. Kirana yang telah paham ke mana arah pembicaraan ini, mulai menarik napas panjang. Inilah saatnya ia memainkan dramanya. Ia menurunkan bahunya memasang wajah sedih yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Paman, aku... aku sudah berusaha," ucap Kirana dengan suara yang bergetar, seolah menahan tangis yang pecah. "Tapi Arga... dia bilang aku tidak pantas untuk menyentuhnya. Dia bahkan tidak sudi menatapku sebagai seorang istri." Kirana menyertai ucapannya dengan sesenggukan yang memilukan. Ia mengelap air mata buaya yang turun membasahi pipinya. Ia ingin memberikan kesan bahwa ia telah ditolak mentah-mentah. Nek Farah yang melihat hal itu menghela napas panjang. Wanita tua itu menggeser duduknya, mencoba menenangkan Kirana dengan membelai bahunya. Sebagai nenek Arga, ia sangat paham seberapa keras dan dingin sifat cucunya itu. "Karina...." ucapnya lembut. "Nenek benar-benar minta maaf atas sikap kasar Arga. Tapi Nenek harap kamu bisa memaklumi dia, ya. Arga memang memiliki luka yang belum sembuh." Nek Farah menjeda ucapannya sebentar, matanya menatap kosong ke arah lukisan besar di dinding. Kirana dan Om Juna sama sekali tidak menyela, menunggu rahasia apa yang akan keluar dari bibir wanita tua itu. "Arga dulu pernah sangat menyukai seseorang," lanjut Nek Farah pelan. Kirana mendongak, matanya yang basah menatap Nek Farah dengan rasa ingin tahu yang dibuat-buat. "Lalu?? Kenapa tidak menikahi wanita itu saja, Nek? Kenapa harus menjadikanku pelampiasan kemarahannya?" tanya Kirana dengan nada bicara yang terdengar tidak terima dan penuh kecemburuan. "Wanita itu sudah meninggal," balas Nek Farah santai, seolah kematian adalah hal yang biasa dalam lingkaran mereka. Kirana terdiam. Informasi ini menarik. "Kamu harus bisa berusaha lebih keras lagi, Karina. Nenek percaya kamu mampu meluluhkan hatinya. Kamu cantik, cerdas, dan kamu memiliki kesabaran yang tidak dimiliki wanita lain," lanjut Nek Farah mencoba menguatkan. Kirana dengan air mata buayanya tertunduk lemah, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya. Dalam hati, ia ingin tertawa terbahak-bahak menertawakan kebodohan mereka. Mereka mengira sedang menyemangati seorang gadis yang jatuh cinta, padahal mereka sedang memberi makan seekor macan yang sedang mengasah kukunya. Suasana kembali hening seketika. Hanya terdengar detak jam besar di sudut ruangan. Melihat situasi yang dirasanya sudah tepat, Om Juna meraih sebuah benda dari saku jasnya. Sebuah kertas undangan berwarna emas dengan embos logo keluarga Zein yang megah. "Karina, ini ada undangan dari keluarga Zein. Akhir pekan ini, mereka akan mengadakan pesta besar. Om harap kamu datang," pungkas Om Juna sembari meletakkan undangan itu di atas meja. Kirana menatap undangan itu. Di balik rona kesedihannya, matanya berkilat tajam. Pesta keluarga Zein. Arena yang sebenarnya. Jemarinya menyentuh permukaan kasar undangan itu. Kirana hanya bisa mengiyakan dengan anggukan lemah di depan mereka. Namun, di dalam kepalanya, sebuah rencana besar telah tersusun rapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN