Fayanna, gadis cantik itu berjalan dengan penuh semangat menuju ke unit apartemen milik sang tunangan. Hari itu merupakan hari ulang tahun sang tunangan. Fayanna, berniat untuk memberikannya sebuah kejutan. Karena sebelumnya ia memberitahu jika sedang berada di luar kota menemani sang Papa bertemu dengan kolega bisnisnya.
Hal itu memang sengaja di lakukan karena hanya untuk mengerjai sang tunangan saja.
“Demian pasti kaget banget banget kalo liat aku datang. Dari suaranya aja pas di telepon tadi dia kedengeran lemes, deh. Duh, sampe segitu cuma karena aku lupa ulang tahunnya dia.” Monolog Fayanna selama berjalan di lorong menuju ke ujin apartemen milik Demian.
Senyumnya semakin merekah saat sampai di depan pintu apartemen. Dengan perlahan Fayanna menekan pass code pintu. Agar tidak ketahuan oleh Demian yang katanya hari ini memutuskan untuk diam di apartemen saja.
Terdengar bunyi klik dan pintu pun terbuka. Dengan perlahan Fayanna membukanya dan masuk. Melepaskan sepatu yang digunakannya.
Gadis cantik itu berjalan mengendap-endap menuju kamar Demian. Kedua tangannya memegang sebuah kue ulang tahun.
Mendekati kamar ia mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar tunangannya itu. Berbagai macam pikiran yang buruk mulai menghampiri pikirannya. Namun, gadis cantik itu masih berusaha untuk tetap berpikiran positif. Meskipun rasanya sudah tidak mungkin.
Karena orang awam pun akan langsung tahu apa yang tengah terjadi di dalam sana. Hanya Fayanna seorang yang berusaha keras untuk menampik kenyataan itu. Karena masih belum melihat dengan kedua matanya sendiri.
Suara erangan dan desahan itu semakin jelas terdengar saat Fayanna sampai di depan kamar sang kekasih pujaan. Beruntung pintu kamar itu tidak tertutup dengan rapat. Ada celah yang tercipta dan cukup untuk Fayanna melihat dan mendengar aktivitas yang tengah terjadi di dalam sana.
Dengan tangan gemetar, gadis itu mengeluarkan ponselnya. Mulai merekam semua adegan panas yang tengah dilakukan oleh sang tunangan dengan seorang wanita yang begitu Fayanna kenal. Kenyataan tentang identitas yang menjadi partner ranjang Demian tak ayal membuat hati Fayanna semakin hancur berkeping. Karena wanita yang kini tengah menunggangi Demian dengan penuh semangat itu adalah sepupu jauhnya dari pihak sang Papa. Alesha.
Setelah dirasa cukup merekam, Fayanna pun mematikan proses merekamnya. Karena pasangan tidak tahu malu di depannya itu sudah mencapai puncak kenikmatannya masing-masing. Baru saja Fayanna berniat memasukan ponselnya dan akan melabrak mereka berdua. Sebuah pernyataan dari bibir Alesha membuat Fayanna urung melakukannya.
“Sayang, sudah terbuktikan. Kalau aku ini lebih segala-galanya dari tunanganmu yang cupu itu.” Suara manja Alesha terdengar.
"Aku ini hanya pria normal yang memiliki hasrat dan butuh pelampiasan. Sedangkan Fayanna tidak pernah mau bercinta denganku. Dengan alasan karena kami belum menikah.” Jantung Fayanna remuk untuk kesekian kalinya. Mendengar pernyataan Demian. Apakah salah jika Fayanna ingin melepas keperawanannya saat mereka sudah resmi menikah nanti?
“Lalu apa kau mau tetap menikah dengannya? Belum tentu juga dia mampu memuaskanmu di atas ranjang seperti yang kulakukan. Ingat sekarang ini di rahimku tengah tumbuh benihmu.” Alesha yang kesal akhirnya kembali membahas tentang kehamilannya.
“Kamu tenang saja, setelah aku resmi menikah dengan Fayanna. Aku akan segera menikahimu. Aku menikahinya hanya ingin mendapatkan hartanya saja.” Jawab Demian dengan santai. Pria itu kemudian merengkuh tubuh Alesha. Dan kegiatan panas itu kembali mereka lakukan.
Fayanna yang sudah merasa cukup mendapatkan bukti perselingkuhan Demian dan Alesha memutuskan untuk pergi. Wanita cantik itu menahan dirinya agar tidak menangis. Fayanna langsung pergi meninggalkan unit apartemen milik Demian. Tanpa di ketahui oleh sang pemilik apartemen.
Yang ada di pikiran gadis cantik itu saat ini adalah menemui sang Papa yang ada di kantornya. Ia akan meminta sang Papa untuk segera membatalkan pertunangannya dengan Demian. Gadis itu tidak sudi jika harus hidup dengan pria sampah seperti Demian.
***
Satu jam kemudian Fayanna sampai di perusahaan milik sang Papa. Kebetulan sang Papa sedang tidak begitu sibuk dan ada di ruangannya.
Melihat sang putri masuk ke dalam ruangannya Alvaro Canossa tersenyum lembut. Tidak biasanya sang putri datang mengunjunginya di kantor.
“Princess, Papa senang melihat kedatanganmu. Ada apa, Sayang?” Tanya Alvaro, sebagai seorang Ayah ia yakin jika terjadi sesuatu dengan sang putri. Terlihat dari wajah dan matanya yang memerah. Seperti menahan tangis dan perasaan marah.
Putrinya itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruangannya. Alvaro tidak langsung bertanya. Melainkan membiarkan dulu sang putri untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Pria paruh baya yang masih tampan itu berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral.
Alvaro memberikan botol yang sudah di bukanya itu kepada sang putri. “Minum dulu, Sayang. Biar kamu lebih tenang. Abis itu baru ceritain ada apa sebenarnya sama Papa.”
Fayanna menerima botol minum itu dan meminumnya secara perlahan. Setelah merasa cukup dan tenang, gadis itu menyimpan botol tersebut di atas meja. “Pa, Yanna boleh minta sesuatu sama, Papa?” lirihnya dengan suara yang tercekat. Mati-matian ia menahan agar menangis di hadapan sang Ayah.
“Tentu saja boleh. Emangnya putri cantik Ayah ini mau minta apa?” Tanya Alvaro dengan lembut.
“Tolong batalkan pertunangan Yanna dengan Demian, Pa.” Fayanna mulai terisak, namun lagi-lagi gadis itu menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Kenapa? Apa alasannya? Papa akan mengabulkannya asalkan dengan alasan yang jelas." Tegas Alvaro.
Dengan tangan yang gemetar Fayanna mengeluarkan ponsel miliknya. Kemudian, memutar video yang tadi direkamnya. Ada dua video yang berhasil Fayanna rekam.
Alvaro mengambil ponsel sang putri yang di letakkan di atas meja. Kedua matanya terbelalak melihat apa yang ada di sana. Pria paruh baya itu marah besar. Untung saja Alvaro belum menyerahkan perusahaan dan sebagian aset yang dimilikinya kepada Demian. Semua itu tadinya sebagai hadiah pernikahan untuk mereka berdua.
Rencananya Alvaro akan memberikan semuanya. Karena sang putri tidak bisa memegangnya sendirian. Namun, setelah melihat ini Alvaro berubah pikiran. Ia langsung menghubungi kuasa hukumnya untuk segera datang.
Ia akan meminta sang putri untuk menandatangani surat kuasa pemindahan seluruh kepemilikan aset-aset serta perusahaan ke tangan sang putri. Saat mendengar alasan sang Ayah dan kuasa hukumnya. Fayanna pun mau menandatangani surat-surat tersebut.
Setengah jam kemudian proses itu selesai. Alvaro pun merasa tenang. Langkah selanjutnya yang harus ia lakukan adalah membatalkan pertunangan sang putri dengan Demian.
Untung saja sepuluh menit lagi, Frederick Castello yang merupakan ayah dari Demian akan datang ke perusahaannya. Untuk membicarakan rencana kerjasama yang akan mereka lakukan.
"Apa kamu mau tetap di sini saat Papa membicarakan tentang pembatalan pertunangan kalian?" Tanya Alvaro pada putrinya.
Fayanna terlihat berpikir sejenak, "Kayaknya gak deh, Pa. Biar Papa aja yang urus, Fayanna kirim videonya ke ponsel Papa aja, ya. Biar nanti Papa aja yang jelasin sama liatin video itu ke Om Frederick. Aku pengen istirahat, Pa. Mau seharian di rumah aja." Manja Fayanna pada sang Papa.
"Ya sudah, cepat kirimkan videonya. Sebentar lagi Frederick akan segera sampai." Beritahu Alvaro.
Fayanna segera mengirimkan dua buah video yang berhasil di rekamnya kepada sang Papa. Setelah itu Fayanna segera pamit untuk pulang. Karena ia tidak mau bertemu dengan ayah dari pria b******k yang sebentar lagi akan menjadi mantannya itu.
Sebelum pulang ke rumah, Fayanna mampir terlebih dulu ke sebuah taman kota. Tujuannya hanya untuk menenangkan hatinya yang kini tengah porak poranda akibat pengkhianatan dari Demian.
Wanita cantik itu duduk di sebuah bangku kayu yang berada di bawah sebuah pohon yang rindang. Netranya disuguhi oleh pemandangan bunga-bunga yang sudah muncul menampakan keindahannya. Musim semi telah tiba, udara pun mulai menghangat meskipun semilir angin dingin masih terasa menerpa wajahnya.
"Welcome, Spring." Gumam Fayanna sambil memandangi rumpunan bunga-bunga cantik yang tumbuh di sekitar taman. Suasana hatinya yang tadi kacau kini berangsur membaik. Tak perlu menangis meraung dan meratapi pria tidak setia seperti Demian.
Bersyukur karena Tuhan membuka matanya. Memperlihatkan sikap Demian yang sebenarnya seperti apa. Fayanna tidak tahu apa yang akan terjadi jika dirinya mendapati fakta tentang perselingkuhan Demian dan Alesha jika dirinya sudah resmi menjadi istri dari Demian.
Atau yang lebih parah, dirinya memergoki pengkhianatan itu setelah memiliki seorang anak. Yang akan menjadi korban bukan hanya dirinya saja. Melainkan sang anak yang terlahir dalam pernikahan itu akan menjadi korbannya juga.