Seminggus setelah insiden mempermalukan diriku di kebun, tidak terdengar kabar apapun tentang Mas Hamdan atau Maura. Katanya dia akan memberiku lima puluh persen dari nilai aset, maka harusnya kata kata itu dia tepati sebelum semua orang mencap Mas Hamdan hanya berani di bibir saja. Tapi ... bukankah Mas Hamdan dalam kesulitan ekonomi, lalu uang dari mana yang akan dia dapatkan untuk mengganti rugi padaku, apa dia akan meminjam bank atau malah menjual kebun dan sawah ke juragan Herman? Ah, hatiku gamang. Tapi seperti yang dikatakan suami, jika dia memang ingin merampas demi memuaskan hati, maka berikan saja apa keinginannya. Percuma menahan karena pada akhirnya sia sia saja. Buang tenaga dan waktu. Kuambil ponsel, kuhubungi Mas Irsyad yang baru sehari kemarin pulang ke rumah lalu pergi

