Kicau burung dan semburat mentari menyemarakkan suasana pagi, kubuka jendela dan kugeser semua pintu-pintu kaca dari rumah minimalis modern kamu agar udara masuk dengan leluasa.
Setelah menyiapkan sarapan pagi kutuang secangkir kopi panas lalu beranjak ke meja laptop untuk memeriksa bursa saham pagi dan mengedit beberapa file video da rekaman suara, ah, dan yang kemarin sore dari jam tangan pintar milikku, jika aku tak mengaktifkan rekaman pintar mungkin aku akan lupa oleh sakitnya terbawa suasana melihat drama perselingkuhan epik suamiku.
Kusalin file dari I-watch dan kuputar di media player, suara tawa dan pembicaraan mereka terdengar begitu jelas, menyesakkan sekali mengetahui apa saja yang ia bicarakan di belakangku, tentangku, dan kekurangan ini.
Kulirik kaca yang tergantung bersebrangan di dinding sana, kuraba wajahku sendiri sambil melihat pantulan wajahku di cermin itu.
"Ah, iya, aku lupa merawat kecantikan karena akhir-akhir ini terlalu fokus pada urusan kantor, drama suami, program bayi,dan kesedihan, harusnya aku merawat diriku, agar suamiku tak berpaling sejauh ini," Batinku
Kutekan ponsel dan menghubungi Mia asisten pribadiku, akan kuminta doa melakukan sesuatu.
"Halo, Mia," sapaku.
"Halo selamat pagi, Bu, ada yang bisa saya bantu," tanyanya.
"Ehm, kamu tolong carikan saya salon terbaik, saya ingin booking perawatan," kataku.
"Oh, baik Bu, berarti Ibu tidak masuk kantor hari ini?" lanjutnya.
"Memangnya saya punya jadwal penting?"
"Sebenarnya ada Bu, beberapa photografer dan wartawan ingin rapat dengan Ibu, saya juga sudah mengirim file jadwal ibu seminggu ini lewat email, apakah ibu tidak baca?"
"Ah, iya, saya lupa, maafkan saya," jawabku sambil menepuk-nepuk kening sendiri.
"Jadi, salonnya bagaimana Bu?"
"Lain kali saja."
"Baik."
Kututup telepon sambil menghela napas, tepat ketika aku hendak mengesap kopi suamiku datang dari ruang TV masih dengan penampilannya yang kemarin, setelah terakhir kali mabuk.
"Selamat pagi, Sayang," sapanya sambil meraih gelas lalu membuka kulkas danenuangkan segelas air kemudian meneguknya hingga tandas.
"Hmm, pagi," gumamku kembali fokus pada layar komputer.
"Aduh, kepalaku pusing," keluhnya.
"Pergi mandi dan ganti pakaianmu, kita harus ke kantor," kataku.
"Kurasa aku gak bisa masuk, Sayang, aku kurang sehat," balasnya sambil duduk dan merebahkan kepalanya di meja makan.
"Apa ini hari libur? Ada beberapa wartawan yang akan menemuiku, aku ingin kamu yang ambil alih, bikin kesepakatan gaji mereka yang manusiawi dan minta mereka bekerja lebih keras lagi demi berita yang aktual, kritis dan berimbang. Kau ingin kita mendapatkan berita lebih dulu, dari kantor-kantor berita lain."
Ia mengangkat wajahnya dengan ekspresi tersentak, mungkin heran akan ketegasanku yang terlihat sedikit kejam. Dulu, jika ia terlihat tidak enak badan aku akan melarangnya ke kantor, merawatnya dengan penuh kasih, membuatkan sup panas dan menyuapinya dengan telaten. Namun sekarang, ia menghancurkan pengabdian itu dengan kebencian.
"Tapi aku sungguh lelah, Sayang, aku lemas dan sakit kepala," jawabnya sambil memijit-mijit kepalanya.
"Semua karyawan bekerja dengan disiplin, apakah sebagai atasan kamu akan mencontohkan teladan yang buruk?"
"Aku ... Lelah," ratapnya.
Kubuang napas kasar sambil tertawa getir, membayangkan apa yang telah membuatnya lelah, berapa sesi adegan memadu asmara mereka kemarin?
"Jadwalnya jam sembilan pagi, aku ada urusan sedikit jadi aku akan masuk siang nanti," tegasku sambil menuju lantai atas mengganti baju dan menghubungi Mia agar janji dengan salon dibuatkan untukku.
"Kamu kejam sekali, Melda," desisnya lemah.
"Sebaliknya kamu juga kejam, Mas, bahkan sangat kejam," balasku dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
*
Siang pukul 14:24 aku menuju kantor setelah sesi perawatan wajah dan potong rambut ke salon, beberapa karyawan yang berpapasan denganku di kantor terlihat kagum dan terpukau dengan penampilan baruku.
"Selamat siang, Bu," ucap Mia yang kebetulan berjumpa denganku di koridor.
"Siang," balasku dengan senyum lebar dan penuh percaya diri.
"Anda terlihat cantik dan berbeda sekali, Bu, anda lebih elegan setelah rambut anda di potong bob seperti itu," katanya.
Aku hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Oh ya, bagaimana tadi rapat Pak Aldo dan wartawan," tanyaku.
"Berjalan baik, Bu."
"Kesepakatan gaji?"
"Sesuai target pencapaian, bonus 20 persen jika rating menanjak."
"Bagus," gumamku puas.
"Ikuti saya ke ruangan saya, saya ingin tahu regulasi uang pak Randy yang kamu beritahu semalam."
"Baik, Bu, saya ambil datanya."
Setelah sepuluh menit menunggu, mia kembali mengetuk pintu dan kupersilakan dia masuk dan mengambil tempat duduk.
"Sepertinya aliran uang perusahaan aman-aman saja," katanya.
"Yakin tidak ada transaksi tersembunyi?"
Mia terlihat mengernyit lalu menggeleng-geleng perlahan.
"Tidak ada sejauh ini, Bu. Namun ... Saya kurang mengerti maksud Ibu mengatakan transaksi janggal, semuanya aman, Bu."
"Suamiku punya kekasih Mia," kataku jujur.
Mia menatapku terperanjat dengan penuturan barusan. "Benarkah, saya ... tidak percaya Pak Randy akan berbuat itu, jika benar itu terjadi," jawabnya sopan.
"Oleh karena itu, saya sedang mencari aliran dana yang mungkin dia gunakan untuk membelanjakan gaya hidup kekasihnya."
"Pak Randy tidak pernah menyelewengkan uang Bu, beliau jujur, tapi ... bukankah pak Randy juga digaji sebagai general manajer di perusahaan ini?"
"Ah, iya, benar, itu luput dari ingatanku sejak lama." Aku kembali mengingatnya.
"Memangnya Pak Randy tidak menafkahi istrinya dari uangnya sendiri?" Tanya Mia heran.
Aku tertawa lepas mendengarnya, mungkin karena uangku sudah banyak ia tak memberiku hasil keringatnya.
Gajinya sebagai General manajer adalah
Rp. 24.500.000,00 itu juga bersih setelah potongan pajak yang kesemuanya ditanggung perusahaan, ke mana semua uang itu tiap bulan, kalau bukan untuk Eleanor. Kini, aku bisa menarik kesimpulan mengapa wanita itu begitu nekat mengejar suamiku.
"Baik, terima kasih, Mia."
"Sama-sama, Bu, saya mohon izin lanjut bekerja dulu," katanya.
"Silakan," jawabku.
Kuraih ponsel dan kutekan nomor suamiku yang kini berada di ruangannya yang bersebrangan selasar denganku.
"Halo, Melda, ada apa sayang?"
"Aku sudah menghubungi pihak Bank untuk mengalihkan setengah gajimu ke rekeningku, Mas."
"Apa?! Kenapa?" Nadanya terkejut sekali.
"Sepertinya kamu sudah lama sekali lupa untuk menafkahi istri."
"Tapi uangmu sudah banyak," katanya tertawa kecil.
"Aku mau uang suamiku."
Kututup ponsel dan tersenyum puas. Mungkin saat ini, ia marah dan menggeram, tapi biarlah. Masa bodoh