Bab 01
"Tidak, Keenan. Aku mohon percaya sama aku."
Perempuan itu geleng-geleng kepala, seraya mencoba menyentuh lengan Keenan sambil berusaha meyakinkan mantan calon suaminya itu. Akan tetapi, dengan kejam lelaki itu malah menepis tangannya, bahkan mendorong dan membuat Nabila hampir terjatuh.
Beruntunglah, perempuan itu punya keseimbangan yang baik. Sehingga dia tak harus merasakan kerasnya ubin lantai. Nabila masih berdiri walaupun terdorong mundur beberapa langkah.
"Percaya yang bagaimana, hah?! Lihat dirimu!" bentak Keenan mengeram dengan tatapan kesal. "Aku bahkan jijik membayangkan apa yang sudah kamu lakukan. Menjebak kak Arfan demi uang, dan sekarang kamu masih berani memintaku untuk percaya? Apa kau belum puas membuatku hancur seperti ini, Nabila? Kau masih ingin menyakitiku lebih dalam lagi, hah?!"
Pria itu tampak menahan diri, menahan air matanya ditengah wajahnya yang telah memerah. Emosi yang terus bertumpuk bercampur aduk, semakin penuh sampai sewaktu-waktu bisa saja meledak.
Sementara Nabila perempuan yang sejak tadi berusaha untuk membujuknya, terlihat menggelengkan kepala, beberapa kali, disertai dengan pipi sembab yang sudah dibasahi air mata. Dia bersikap seperti korban, tapi Keenan melihatnya sebagai pelaku utama.
"Ka-kami tidak melakukan apa-apa ... percayalah. Aku masih suc-"
"Berhenti berbicara omong kosong. Kedua bola mataku sudah cukup menjadi bukti, aku melihat sendiri bagaimana kau memeluk Arfan di balik selimut, bahkan kalian tanpa sehelai benang pun, semalaman di sana, dan sekarang kau masih munafik, memintaku untuk mempercayaimu?"
Keenan mendekat, lalu dengan emosi mengguncang tubuh mantan calon istrinya itu, sebelum kemudian mendorongnya kuat sampai Nabila tersungkur. Kali ini dia benar-benar merasakan betapa kerasnya ubin lantai tersebut.
Brugh!!
"Enyahlah dari hadapanku sekarang, aku tidak ingin melihat wajah busukmu, aku muak melihatmu. Pergi!!" Keenan buang muka dan mendesah kasar.
Meski begitu, dia yang mengusir dan berkata demikian, pada akhirnya Keenan sendirilah yang berbalik dan yang pergi dari sana. Meninggalkan perempuan itu sendiri, sampai seseorang mendekat dan menghampiri Nabila itu.
Seseorang tersebut merupakan laki-laki bertubuh tinggi, dad* bidang dan rahang tegas yang keliatan kokoh. Menatap dengan wajah yang puas, dan tampaknya senang menyaksikan penderitaan Nabila.
"Sudah kuperingatkan, tapi kau memang naif, bodoh dan terlalu nekat. Lihat, calon suamimu bukan cuma tidak percaya, tapi sangat membencimu! Apa kau lihat tadi, dia bahkan sangat jijik setiap kali menatap ke arahmu!" cibir pria dengan seulas seringai tipis yang mengejek.
Nabila yang masih belum bangkit langsung berdiri dan menatapnya dengan kemarahan. "Kesalahan apa yang sudah aku lakukan padamu, sampai-sampai kau sekejam ini, menghancurkan pernikahanku, dan sekarang membuatku hina di depan semua orang. Apa kau puas sudah berhasil menghancurkan hidupku? Puas, hahh?!!" bentak Nabila histeris diakhir kalimatnya.
Bukannya menjawab, laki-laki itu malah mendorong Nabila dan membuat perempuan itu kembali tersungkur kedua kalinya merasakan ubin lantai yang keras.
"Diamlah dan terima saja nasibmu. Jangan menguji kesabaranku, aku benci perempuan pemberontak!" kecam laki-laki itu bahkan mengancam Nabila tanpa perasaan.
"Kau jahat, kau laki-laki iblis bermuka dua!" umpat Nabila tak takut dengan peringatan dari laki-laki itu.
Pria itu pun berjongkok menyamai tingginya dengan Nabila yang masih tersungkur di lantai dan belum bangkit. Tiba-tiba menjambak rambut perempuan itu, menghadapkan wajahnya sehingga wajah mereka berhadapan. Pria itu menatap tajam, seolah menguliti dan menusuk Nabila sampai ke tulang.
"Lalu kenapa kalau aku memang iblis? Kau tidak akan bisa mencegahku, Nabila. Nikmatilah sedikit kekacauan hidupmu ini dan berhenti memberontak, atau hidupmu lebih buruk lagi!!"
Nabila menggeleng pelan, mengumpulkan tenaga lalu mendorong laki-laki itu dan mencoba membebaskan diri darinya. Namun, sayang hal itu, malah membuat jambakan di kepalanya semakin terasa kencang.
"Aaarrggh ..." jerit Nabila nyaring, tapi sedetik kemudian di justru melotot dan membalas tatapan laki-laki itu. Sakit di kepalanya tidak lebih sakit dari perasaannya yang telah hancur sekarang. "Aku bukan bidak catur-mu, dan aku tidak akan membiarkanmu tujuanmu tercapai!"
"b******k!"
Laki-laki itu mengumpat, kesal dengan Nabila yang sulit dikendalikan. "Masih berani menentangku, baiklah kita lihat sampai kapan kau seperti ini, sampai kapan kau bertahan dan terus-menerus dengan keberanianmu yang konyol!"
Tepat saat selesai mengatakan kalimatnya, tiba-tiba saja jambakan di rambutnya menjadi usapan lembut. Nabila bingung, tapi tiba-tiba saja tengkuknya di tarik, lalu tanpa di duga laki-laki itu memonopoli bibirnya tanpa aba-aba.
Belum sempat mencerna apa yang terjadi dan belum sempat memberontak, tiba-tiba panggilan dari seseorang menghentikan aktivitas itu dan membuatnya kaget.
"NABILAAA!"
Ternyata Keenan kembali ke sana, dan laki-laki yang baru saja memonopoli bibirnya itu, tersenyum puas tanpa sepengetahuan Keenan, tapi Nabila melihatnya. Dia panik dan menggelengkan kepala.
"Maaf Keenan, kau harus melihat hal ini. Nabila terus-menerus menggodaku, dan sebagai seorang laki-laki aku tidak berdaya lalu terbawa suasana," ungkap laki-laki itu segera membuat Nabila bertambah panik.
"Keenan tidak! Jangan percaya padanya, ak-kku tidak menggodanya. Aku mohon percayalah ...." Nabila bahkan sampai berderai air mata saat mengatakannya.
Namun, Keenan segera memalingkan kepalanya dan mendesah kasar. "Tidak usah sungkan padaku, sekarang dia milikmu, kak Arfan. Perempuan itu menginginkanmu. Maaf, seharusnya aku tidak melupakan fakta kalau hubungan kami sudah berakhir!"
"Keenan!"
Nabila menjerit tak terima dengan pernyataan mantan calon suaminya. Namun, alih-alih mendengar, Keenan seolah acuh, bahkan berbalik pergi begitu saja. Dia meninggalkan keduanya di sana, tanpa mengatakan sepatah katapun pada Nabila. Seolah-olah perasaannya yang hancur seolah sudah tak ada harapan bisa diperbaiki.
Menyadari hal itu, tubuh Nabila melemas, tiba-tiba kehilangan tenaganya. Air matanya tak kuasa ditahan dan kembali membasahi pipinya sehingga menjadi sembab. Dia sadar sudah tak ada harapan, dan hal itu membuat isak tangisnya terdengar pilu.
"Keenan ... aku benar-benar tidak berbohong ... aku mencintaimu, bagaimana mungkin aku mengkhianatimu ...."
Suaranya lirih, tapi sosok laki-laki yang dipanggil kak Arfan oleh Keenan yang masih sana, menyaksikan semuanya, seolah tak punya hati, menatapnya datar tanpa perasaan.
Arfan bangkit, berdiri lalu merapihkan pakaiannya. Kemudiaan secara tak terduga mengeluarkan lembaran kertas dari saku jasnya. Melemparnya tepat ke hadapan Nabila, karena foto-foto itu memang ditujukan untuknya.
"Persiapkan dirimu, siang ini kita menikah!" ungkap Arfan seenaknya.
Nabila meraih salah satu foto itu dan melihat penampakan Selin adik kandungnya nampak terikat dan tak berdaya di foto. Dia pun mengusap air matanya, lalu beralih menatap Arfan dengan tatapan yang meminta pertanggungjawaban.
"Berdandanlah yang cantik, walaupun sederhana, aku tidak suka pernikahan yang menyedihkan. Kalau kau masih keras kepala dan melawan, maka bersiaplah mendengar berita kematian adikmu!" ungkap laki-laki itu dengan kejam.
*****