Bab 05

1012 Kata
"Breng-sek! Berani sekali jala-ng itu main-main denganku!" Arfan mengeram. Dia menatap tajam ke arah anak buahnya, sambil mengepalkan tangan dan dan mengerutkan dahi. "Cepat temukan dia dan kurung. Kalau perlu patahkan kakinya supaya tak bisa kabur!" "Tapi Bos, perempuan itu bilang dia akan kembali secepatnya. Dia juga tidak akan merusak rencana," jelas anak buahnya membuat Arfan semakin gusar. "Apa, kalian percaya pada perempuan sia-lan itu?! Keterlaluan. Kalian memang bod-oh. Cepat temukan dia apapun yang terjadi. Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya! Bawa jala-ng itu kembali, kurung dan ikat kakinya. Sepertinya dia lebih suka menjadi tawanan sungguhan!" omel Arfan kesal. Anak buahnya tampak tak berani membantah dan mengangguk patuh. Barulah setelah itu Arfan sedikit tenang dan meninggalkan tempat tersebut. Dia mengemudi dan menuju perusahaan. Masuk ke dalam gedung tinggi dan banyak lantai. Kemudian, tanpa buang waktu dia langsung menuju ke ruang kerjanya yang berada dijajaran lantai atas. Asisten pribadinya izin masuk dan langsung melaporkan jadwal pekerjaannya, tapi karena sedang kesal, Arfan malah menyemprotnya dengan omelan. "Apa kau tidak lihat, aku baru sampai?! Breng-sek, dasar tidak tahu sopan santun. Keluar dari sini dan bawa sampah itu!!" Beruntunglah mental asisten pribadinya itu sekuat baja, dan sepertinya dia sudah terbiasa dengan kejadian tersebut. Namun, baru saja beberapa langkah di depan pintu, Arfan tiba-tiba saja menahannya. "Tunggu? Katakan, apa Keenan ada di ruangannya?" tanya Arfan. Asisten pribadinya itu berhenti, dan berbalik menghadapnya. "Pak Keenan sedang pergi meninjau proyek, dan tepat jam makan siang kemungkinan pak Keenan akan kembali ke kantor!" Arfan mengangguk dan mengibas tangannya seolah menyuruh asistennya boleh keluar. Seperginya asistennya, Arfan tiba-tiba saja tersenyum aneh lalu menyeringai. Jarinya merogoh saku jasnya, dan mengeluarkan ponselnya di sana. Kemudian mendial nama Nabila di sana. Sayangnya, setelah beberapa kali di telepon, Nabila malah tak kunjung menjawab. Kesabaran Arfan nyaris habis ketika akhirnya telepon mereka terhubung. "Apa ... baji-ngan sepertimu mau apalagi, hahh?" Suara Nabila terdengar serak, Arfan yakin perempuan itu tampaknya baru bangun tidur, tapi dia tidak peduli, sebab yang diinginkannya adalah Nabila untuk rencananya. "Cepat kemari dan bawakan makan siangku!" ungkap Arfan dengan bossy. "Merepotkan, aku tidak mau. Kamu pikir siapa dirimu, seenaknya memerintahku begitu?!" sarkas Nabila terdengar kesal. Arfan mengepalkan telapak tangannya, lalu mendengus kasar. "Apa kau lupa kita sudah menikah? Aku suamimu Nabila, ingatlah fakta itu baik-baik, dan apa yang aku minta barusan adalah kewajibanmu. Kau harus menurut!" "Tapi aku tidak perduli, lagipula aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku cuma mencintai Keenan. Kalau kau lapar, pesan saja saja sendiri dan makan. Jangan libatkan aku dalam urusanmu!" balas Nabila ketus. Arfan mengangkat tangannya, menyugar rambutnya ke arah belakang, lalu menghela nafasnya kasar. "Baiklah, jika itu maumu. Terserah saja, tapi sebelum itu apa kamu sudah lupa Nabila, biar aku ingatkan adikmu masih ditanganku. Kalau aku sedikit menyiksanya, tampaknya itu sangat menyenangkan!" "Breng-sek, coba saja kalau berani menyentuhnya walau seujung kuku, aku akan membu-nuhmu!" balas Nabila Emosi. Arfan tersenyum dengan mengerikan. "Satu jam. Aku hanya menunggumu satu jam, lewat sedetik pun, maka kamu akan merasakan akibatnya!" Telepon langsung ditutup begitu dia selesai bicara. Lalu kurang dari waktu yang diberikan, Nabila ternyata sudah tiba di sana. Dia tak tersesat sama sekali, sebab beberapa kali sudah pernah ke sana. Lantai ruang kerja Keenan yang sama dengan Arfan, juga menjadi petunjuk baginya. Meski begitu, Nabila masih tergesa-gesa, dia setengah berlari melihat pintu lift yang hampir tertutup. Beruntunglah seseorang di dalam lift cukup baik dan menahannya. Akan tetapi, saat dia masuk ke sana dan akan berterima kasih, wajahnya langsung memucat, bibirnya terasa kelut dan tubuhnya terasa kaku. "Keenan ...." Suara lirih Nabila memanggil mantan calon suaminya dengan pelan. Namun, Keenan malah acuh tak acuh, bahkan buang muka setelah menyadari Nabila membawa sesuatu ditangannya. Mereka tak berdua di sana, masih ada orang lain, tapi kehadiran orang asing itu sama sekali tak membantu. Suasana canggung dan mencekam bagi keduanya. Sampai akhirnya naik lift yang harusnya cepat, terasa lambat dan membuat Nabila tersiksa. Meski akhirnya lift tersebut pun sampai di lantai tujuan tanpa adanya kendala. Namun, sialnya Arfan tiba-tiba saja sudah ada, dan berdiri tepat di depan pintu lift yang terbuka. Nabila sontak sedikit tersentak kaget, belum berakhir dengan rasa kagetnya itu, tiba-tiba dia merasa tubuhnya di dorong dari belakang. Dia memang tak lantas jatuh, tapi tubuhnya terdorong maju, bergerak tanpa sengaja bertumpu, terlihat seolah dia berhambur memeluk Arfan dengan tak sabaran. Hal itu pun membuat Keenan mengeras dan mengepalkan tangan. Sementara orang yang mendorong Nabila barusan, langsung pergi begitu saja, seolah dia tak melakukan apa-apa. Akan tetapi, saat berpapasan dan bertatapan dengan Arfan, orang itu malah dengan sengaja berhenti sebentar sebelum kemudian benar-benar pergi.. "Ternyata kamu semanis ini, Na. Hm, tapi apa yang membuatmu kemari?" tanya Arfan. Padahal satu jam lalu dia sendiri yang memaksa Nabila ke sana. Laki-laki itu seolah lupa, atau mungkin tengah merencanakan sesuatu. Nabila sedikit curiga, dia mendorong Arfan sampai pelukannya terlepas, lalu melirik Keenan yang ternyata menatapnya tajam. Mantan calon suaminya itu tampak sedang terbakar dalam cemburunya. Raut wajahnya sama sekali tak bisa berbohong atau menyembunyikan apa yang dirasakannya. "Sudah-sudah, tak usah dijawab. Karena kamu sudah di sini bagaimana kalau kita makan siang bersama. Keenan apa kamu mau bergabung?" tawar Arfan dengan kalimat yang mencurigakan di telinga Nabila. "Tidak!" jawab Keenan singkat dan datar. "Ouh, maaf ... aku hampir lupa. Kalian adalah mantan, Nabila pernah bersamamu, hanya agar menjadi istriku. Oh, tidak ... maaf, maafkan mulutku yang lancang ini. Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi kamu tahu sendiri, aku hampir tidak pernah diperhatikan. Jadi, aku terlalu antusias mendapatkan perhatian dari Nabila istriku. Sampai lupa mungkin itu menyakitimu. Aku harap kamu juga bisa memaafkan kenaifan Nabila, dia menyakitimu hanya terlalu mencintaiku!" ucap Arfan dengan percaya diri. Terbayang masa lalu dan kebahagian Arfan yang dirusak ibunya, Keenan pun mengangguk. Sementara itu, Nabila justru terlihat kaget, pun melotot tak terima mendengar ucapan Arfan. Dia pun bergegas menyela untuk menjelaskan. Tak mau Keenan sampai salah paham kepadanya. "Tidak, ak-" Sayangnya, Arfan tak memberinya kesempatan. Dia melirik kotak makanan yang Nabila bawa dan meraihnya dengan cepat. "Ah, ternyata kamu sudah menyiapkannya. Baiklah, Ken, kalau begitu, kami makan siang dulu!" Sebelum Nabila memberontak, dan sempat menyela, Arfan menarik pergelangan tangannya. Memaksa dan merangkul Nabila mengikutinya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN