RUMOR
Berita tentang kehidupan asmaranya kembali menghiasi media.
Cukup tahu saja ... Rajendra gak pernah merasa perlu untuk klarifikasi. Sebaliknya dia akan bereaksi ketika berita itu menyangkut karir dan pekerjaannya.
" Gak bisa didiemin terus nih ... " Iwan, manajer sekaligus sepupu dan sahabatnya menggerutu membaca pro kontra tentang kedekatannya dengan Laras, salah satu model video clip nya, yang diakhiri dengan kurang baik.
" Biar ajalah wan ... dia cari panggung aja."
" Hah .... dan ujungnya balik ke gosip tentang orientasimu yang itu. Apalagi kamu masih berbaik baik sama komunitas itu." gerutu Iwan sambil menjauhkan majalah dan tabletnya.
Rajendra tersenyum datar ," Mereka baik, dan gak memaksa. Aku tau batasannya kok."
Iwan mendengus ," Tapi ceritanya jadi lain karena kamu gak bergeming ama perempuan perempuan itu."
Rajendra menghela nafas panjang ," Bukan seleraku. Gak ada yang bikin nyaman." dibukanya jendela, menatap kegelapan dan udara malam yang beraroma hujan, seperti saat itu ....
Sedikit kasar, ditutupnya jendela dan menghembuskan nafas panjang ... mencoba menghilangkan rasa takut, rasa bersalah yang selalu hadir bersamaan dengan hasrat begitu nyata ... bahkan setelah tahun-tahun berlalu.
" Aku ke kamar dulu, semua udah beres kan ?"
" Ya." sahut Iwan pendek, sekali lagi memeriksa daftar di tangannya ... Tour panjang ini akan sampai pada ujungnya. Dan setelah itu mereka bisa istirahat hampir tiga pekan sebelum menyiapkan rangkaian promo tour berikutnya.
Rajendra ... saat ini masih menjadi barometer lelaki idaman. Ganteng, karir bagus, terkenal, kaya, romantis .... setidaknya itu lima kata pertama yang melintas di benak sebagian besar perempuan. Dan banyak diantara mereka yang bersedia menyerahkan dirinya, secara halus maupun terang terangan.
Tapi dibalik sikap ramah dan halusnya, yang seringkali membuat perempuan salah tafsir, sesungguhnya lelaki itu tak bergeming sedikitpun.
Ada yang kecewa dalam diam dan memilih menjauh, ada juga yang berkoar di media dengan berbagai ekspresi ... mulai playing victim, berhalusinasi sampai yang secara frontal menyerangnya seperti sekarang.
Sementara itu di belahan bumi lain ....
Diandra meletakkan kacamata, menatap geli sekaligus prihatin pada layar ponselnya. Deretan berita terbaru menghiasi media ketika mengetikkan namanya, mulai dari album dan single terbaru, rangkaian tour hampir sepanjang tahun, bisnis kuliner dan desain yang makin moncer sampai pada berita asmara yang entah benar entah tidak.
Ditatapnya sekali lagi gambar lelaki itu, sebelum berpaling menatap lelaki kecil di atas tempat tidurnya. Fotocopy ... atau miniatur lebih tepatnya. Bagaimana dari hari ke hari kemiripan mereka semakin nyata, sampai bisa dikatakan identik. Entah dari mana Narend bisa tersenyum, tertawa bahkan mengangkat bahu dengan cara yang sama ... melengkapi dan menegaskan kemiripan fisiknya.
Diandra memejamkan mata, terbayang bahkan terasa dengan jelas apa yang terjadi saat itu ... di malam gelap dengan udara bercampur aroma hujan.
Air mata bergulir saat rasa bahagia dan perasaan utuh itu masih terselip diantara rasa sakit dan kesepian yang menemaninya selama ini. Waktu dan jarak memang membantunya berdamai dengan dirinya sendiri dan masa lalunya .... Kehadiran Narend melengkapi sisi hidupnya yang kosong ... sisi keluarga dan orang tercinta.
Dan setahun terakhir, ketika dirinya hampir bisa menerima jalan yang tergaris bagi mereka ... Rasa bersalah lebih memenuhi hidupnya.
" Maafkan aku ... karena keputusanku kalian kehilangan momen penting di lima tahun pertamamu .... Harusnya ada sosok ayah bagimu ..." ditatapnya layar smartphone yang gelap ," Dan harusnya kamu tahu .... aku gak pernah meragukan kasih sayangmu pada anak anak .... apalagi anakmu sendiri. Maafkan aku." tangisnya semakin deras ," Tapi bagaimana aku bisa memberitahumu ?"
Tertunduk lemah, Diandra membiarkan tangisnya luruh seiring hujan deras diluar sana " Tuhan ... kemiripan ini apakah berkah atau hukuman dariMu ? Setiap hari semakin nyata sosoknya dalam diri Narend. Maafkan aku .... kalau memang harus membuka semuanya ... aku berserah atas jalanMu. Aku tak tau harus mulai dari mana ..."