BLESSING OF MISTAKE

716 Kata
Diandra menatap layar ponselnya. Sudah tiga foto diunggah Rajendra sejak hasil tes DNA keluar. Dan seperti diduga puluhan ribu komen di acuhkan begitu saja, pihak manajemen, sahabat dan keluarganya pun tutup mulut kecuali sebaris kata “ Rajendra akan menjawab sendiri pada waktunya.” Ditariknya nafas panjang, menyadari kemungkinan dia akan berada di lingkaran itu, menjadi target pertanyaan dan komentar. Untung saja lelaki itu termasuk pribadi tertutup yang tak pernah membicarakan masalahnya dengan orang yang tidak dipercayanya, pun kedekatan mereka dulu tidak terlalu diketahui banyak orang selain teman teman terdekat. Sampai saat ini belum ada yang mengaitkan dengan dirinya, akan berbeda cerita kalau ia yang mengunggah foto Narend bersamanya ... beberapa pihak yang akan menyadari kemiripan itu. Setelah mengunggah fotonya bersama Narend, beberapa minggu kemudian ia mengunggah kebersamaan Narend dengan oma, opa dan sepupunya, Aliya. The blessing of mistake .... Foto terakhir diunggah lelaki itu saat transit beberapa jam yang lalu. Salah satu foto favoritnya yang dikirimkan Rajendra padanya. Dalam nuansa hitam putih Rajendra menggendong Narend ditangan kanannya sementara tangan kiri lelaki itu menggenggam tangannya ... foto yang diambil dari belakang itu menceritakan banyak hal. Apalagi rencanamu sekarang, Jen ....? Diandra cukup mengenali bahwa saat ini ada rencana yang tengah dijalankan Rajendra ...Lelaki itu cukup sabar dengan detail dan timing yang menurutnya tepat untuk mengabarkan hubungan mereka. “ Ibu, mana ayah ?” Diandra tersenyum melihat lelaki kecilnya tak sabar ,” Sebentar lagi. “ ditatapnya gelombang penumpang keluar dan teriakan Narend cukup jelas untuk mengetahui kehadiran Rajendra. Diikutinya kaki kecil itu berlari menghampiri dan sebentar kemudian tenggelam dalam pelukan ayahnya ,” Hai.” Tak tahu harus bagaimana, Diandra mendekat dan berdiri diam sampai Rajendra memeluknya erat. “ Semua baik baik aja kan ?” Diandra tersenyum, meraih kopor kecil Rajendra ,” Yuk ...” dibiarkannya lelaki itu menggandengnya keluar. Sisa salju masih menyisakan udara dingin dan jalanan yang licin. Hati hati dikemudikannya mobil milik Thomas yang dipinjamkan padanya ,” Papa mama sehat ? Bram, Laras, Aliya ?” “ Baik. Dapat salam dari Iwan. Dia pengen kesini sebenarnya.” “ Kenapa gak ikut ?” Iwan, partnernya di klub bulutangkis, yang membawanya dekat dengan Rajendra beberapa tahun lalu ,” Sibuk manajer satu itu ?“ Rajendra tertawa ,” Mungkin nanti, pasti kesini dia.” Disibukkannya diri dengan menanggapi celotehan Narend, berharap semuanya lancar dan keluarganya serta Iwan akan menyusul kemari saat pernikahan mereka. ,” Kangen katanya lama gak ketemu kamu.” “ Aku juga.” “ Kangen Iwan ? Kangen aku gak ?” Sangat .... sahut Diandra dalam hati sambil menggembungkan pipinya. Memaksa diri berkonsentrasi pada jalanan yang mulai berkelok. “ Aku tahu .... gak usah malu. Aku aja bolak balik bilang kangen kamu ama Narend.” Tertawa, diusapnya pipi yang memerah disampingnya ,” Besok jam berapa ?” “ Setelah makan siang, dan kalau lancar tiga hari lagi surat kelahiran Narend keluar.” “ Lalu ? Bagaimana dengan kita ?” Diandra mencengkeram kemudi, melirik dari spion lelaki kecilnya terlelap di kursinya " ehm ..." Rajendra menghela nafas ,” Aku sudah siapkan apa yang kita butuhkan untuk menikah.” “ Dan kenapa aku gak terkejut dengan semua itu ?” guman Diandra pelan, nyaris tak terdengar. “ Apa yang memberatkanmu, Ndra ?” ditatapnya jalanan yang basah ,” Bukankah kamu sudah mempersiapkan semua untuk aku dan Narend ?” “ Kamu dan Narend itu satu hal ... tidak akan banyak mengubah keadaan, karena itu gak bisa diubah.  Apapun yang terjadi, dengan atau tanpa namamu di belakangnya, sampai kapanpun Narend adalah anakmu.” Diandra membersit ujung hidungnya ,” Tapi kita ... itu lain hal, Jen.” “ Aku gak mengerti maksudmu.” “ Kita punya jalan masing masing ...” “ Tapi ada jalan lain, Ndra ... jalan itu adalah kita bersama-sama ...” rahang Rajendra mengeras menahan emosi ,” kamu cuma berusaha menghindari jalan itu.” Diandra mengatupkan bibirnya rapat rapat. *Itu jalan yang jadi mimpinya ... Tapi yang dijalaninya adalah hidupnya .. bukan mimpinya... , dan banyak hal yang harus dipertaruhkan untuk komitmen semacam itu. * Rajendra menarik nafas panjang melihat alis mata Diandra hampir menyatu, masih tanda yang sama setiap kali perempuan itu berkeras akan sesuatu. Tidak tepat baginya untuk menekan Diandra saat ini, kecuali hanya membuatnya semakin menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN