PULANG

638 Kata
Diandra duduk di kursinya, membiarkan aliran penumpang lain mendahuluinya keluar. Sementara Iwan sudah lebih dahulu keluar, meninggalkan Rajendra yang dengan sabar menemani Diandra sambil menggendong Narend yang terlelap. “ Kita turun sekarang, Ndra ?” Diandra mengulurkan tangan, menurut ketika Rajendra menuntunnya keluar. Cepat atau lambat semua akan dihadapinya, hanya soal menunda waktu. “ Pasang tampang datarmu, sedikit senyum tanpa makna yang sudah kamu latih bertahun tahun bisa kamu gunakan saat ini.” Bisik Rajendra sambil mempererat genggaman tangannya. Diandra tersenyum kecut, menyodok dengan ujung sikunya ,” Sok tahu.” “ Senyummu tidak selepas dulu, sayang .... kecuali saat bersama Narend dan aku.” Mata Diandra melebar, tertawa ketika melihat Rajendra memasang tampang angkuh. Diedarkannya pandangan, melihat Iwan mengacungkan jempol dan berjalan keluar dengan troli penuh barang. “ Ayo, Iwan dan barang barang kita sudah ada yang jemput. Kita langsung ke mobil Bram saja, dia sudah siap diluar.” Rajendra memasukkan ponsel ke saku celana dan kembali meraih tangan Diandra. Sudah lewat pergantian hari, tapi nyatanya masih ada beberapa pewarta dan penggemar Rajendra yang menunggu mereka di pintu keluar. Diandra menghembuskan nafas dan memasang senyum andalannya, mengimbangi langkah lelaki disampingnya yang tidak lambat tapi juga tidak tergesa. Ada dia yang akan menjaga kami, dari apapun. Menyadari dirinya sedikit tenang dengan menyadari keberadaan Rajendra sebagai kepala keluarga, Diandra membiasakan diri dengan panggilan dan kilatan lampu kamera sebelum memeluk Bram singkat dan membuka pintu mobil. “ Capek kak ?” “ Lumayan, sendiri aja Bram ?” “ Yang lain sudah tidur, tapi Alya minta dibangunkan kalau Narend datang.” Diraihnya Narend dari pelukan Rajendra ,” Sini Bang.” Ujarnya sebelum membawa Narend duduk di kursi depan. “ Sudah dulu, ya ... masih rada jet lag.” Rajendra menyudahi pembicaraan dengan masuk ke mobil dan menutup pintu setelah melambaikan tangan. Tanpa sadar Diandra menghembuskan nafas lega saat mobil melaju meninggalkan bandara. “ Lolos langkah pertama, selanjutnya bisa lebih heboh tapi gak akan berlangsung lama.” Rajendra menarik Diandra kedalam pelukannya. Diandra mengguman sambil berusaha menenangkan diri. Minggu depan, Rajendra akan mengajaknya dan Narend melakukan wawancara ekslusif. Kenyamanan Narend menjadi alasan utama lelaki itu menolak wawancara dengan audience ,” Hanya kami berdua kalau dengan audience. Tapi kalau mau anakku hadir, no audience. Kenyamanan Narend nomor satu.” Kalimat yang disampaikan dengan nada datar itu menjadi dasar keputusan yang diambil Iwan untuk bernegosiasi dengan produser. Pernikahan mereka hanya diumumkan melalui satu unggahan surat nikah mereka di akun Rajendra. Keluarga dan jajaran manajemen selain Iwan yang lebih dahulu pulang ke Indonesia pun hanya diam sambil mengatakan Rajendra akan bicara sendiri. “ Gak akan ada wawancara lain mengenai kehidupan pribadi mereka, dan itu lebih dari cukup untuk membuat nilai dan rating wawancara eklusif itu naik tanpa harus menghadirkan audience.” Jelas Iwan saat bernegosiasi ,” Seperti tidak kenal Rajendra saja, dia gak pernah jawab pertanyaan tentang hal pribadi diluar pekerjaan.” “ Ndra ....” Diandra tergagap saat Rajendra menjauhkan badannya. “ Mikirin apa ?” Rajendra menatapnya dalam, melihat ketakutan terbersit di mata kelam itu  ,” Percayalah, aku akan lakukan yang terbaik untuk kalian.” “ Aku percaya.” Diandra tersenyum ,” Tapi tetap saja kehidupan kita saat ini akan jadi sorotan, aku berharap tidak terlalu lama mereka mengusik kehidupan pribadimu.” “ Gak akan lama, sayang.” Rajendra mengecup keningnya ,” bulan depan bakal ada pernikahan kontroversial juga.” Matanya menyorot jahil ,” Berita kita akan sedikit tenggelam, apalagi kalau kita tetap no koment selain wawancara besok.” Diandra tertawa ,” Aku gak pernah meragukanmu tentang pemilihan waktu .... “ “ Termasuk timing yang menghasilkan Narend ? Aku akan berhitung lagi untuk adiknya.” Diandra melotot sebelum menyusup dalam pelukan hangat lelaki yang tertawa lepas itu. Di depan Bram tersenyum sambil mengusap kepala Narend, bertukar pandang dengan sopir keluarga yang juga menyimpan senyumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN