Diandra menyibukkan diri di dapur selama Narend melakukan video call dengan ayahnya. Lelaki kecil itu begitu antusias menceritakan teman temannya.
“ Lalu, kapan ayah pulang ?”
“ Sebentar ya, jadwal kerja ayah masih padat. Bulan depan mungkin.”
“ Ayah kerja disini saja, seperti ibu.”
“ Bagaimana kalau Narend dan ibu yang kesini ?”
“ Ehm ....”
Rajendra tersenyum melihat lelaki kecilnya memasang tampang serius ,” Bicarakan dengan ibu, disini semua keluarga berkumpul.”
“ Ibu ... kita pindah ke Indonesia saja.” seru Narend ,” Ayah punya kolam renang di rumahnya.”
“ Kita bicarakan nanti.” sahut Diandra sambil mengulurkan segelas s**u ,” Kalau sudah, Narend sikat gigi lalu tidur, ya ... sudah malam.”
“ Ayah ... Narend tidur dulu ya. Besok telepon lagi.”
“ Good Night.”
“ No. .... Narend sikat gigi terus tidur, ibu bicara sama ayah saja.” Naren mendudukkan Diandra dikursi yang ditinggalkannya ,” Jangan lupa ceritakan ke ayah tadi Narend gak nangis pas ke dokter gigi ya. Daaaah”
Narend menatap perempuan yang menghela nafas sepeninggal anaknya ,” Mau cerita ?”
“ Bukannya tadi Narend sudah cerita.”
“ Hasil tesnya keluar besok, kan ?”
“ Ya ..., lalu untuk sidangnya mau kapan ?”
“ Iwan sudah mengirimkan scheduleku ?”
“ Sudah. Bagaimana bisa kamu punya jadwal sepadat itu ? Nyaris tidak ada waktu luang untuk istirahat.”
” Senangnya dengar kamu ngomel lagi.” Narend tertawa senang melihat Diandra berusaha memasang tampang datar ,” Iwan mengatur lagi jadwalku biar bisa punya waktu untuk bersama kalian. Salah satu konsekuensinya ya harus dipadatkan, karena sudah deal jauh jauh hari.”
“ Maaf mengganggu ritme kerjamu.”
Rajendra mendengus kesal ,” Akan lebih baik kalau kalian disini. Maukah kamu memikirkannya ?”
“ Tapi ... keberadaan Narend ?” Diandra menggantung ucapannya.
“ Andra ... Narend dan kamu adalah bagian dari diriku. Sebuah keluarga bukannya sudah sewajarnya berkumpul ?”
“ Kamu bisa menemui Narend kapanpun ... tapi aku tidak mau anakku jadi ...”
“ Anak kita Diandra Aurelia..., Narend anak kita, bukan anakku atau anakmu.”
Diandra mencoba untuk tidak takut, karena ia tahu lelaki diseberang sana itu benar benar sudah mencapai batas kesabarannya.
“ Setelah hasil lab dan jadwal sidang keluar, aku akan mulai menunjukkan keberadaan Narend.”
“ Tapi ...” Diandra tidak menyembunyikan kekhawatirannya
“ Tenang saja, aku akan memikirkan waktu dan cara yang terbaik untuk itu.”
... Aku tidak meragukan kemampuanmu tentang itu ... Diandra mengehela nafas.
“ Aku akan memastikan tidak ada keluarga atau managementku yang akan angkat suara tentang ini. Kita akan bicara bersama, dan hanya sekali.”
“ Kita ?”
“ Iya, sayang ... Kita.” Rajendra menarik nafas panjang, mengutuki jarak yang menghalanginya memeluk perempuan yang terlihat rapuh dengan pandangan menerawangnya itu.
“ Kamu masih harus kerja, istirahatlah.” ujar Diandra mendengar suara yang memeanggil Rajendra untuk bersiap take selanjutnya.
“ See you .... aku akan menghubungi kalian lagi besok.”“ Take care.”
“ Ndra ... love you.”
Diandra tidak menyahut dan berusaha membuang muka, memutskan koneksi setelah sempat melihat senyum dibibir Rajendra.
Berjalan pelan ke kamar Narend, tersenyum gamang melihat lelaki kecilnya tidur sambil memeluk bantal yang dibungkus dengan kaos milik Rajendra. Dimat ikannya lampu dan melangkah ke teras samping.
“ Diandra ...”
“ Thomas. Baru pulang ?”
Lelaki itu duduk disampingnya ,” Kapan hasil tesnya keluar ? Walaupun sebenarnya tanpa itu juga sudah jelas siapa ayah Narend.”
“ Besok.”
“ Lalu apa rencana kalian ?”
Diandra menhela nafas, bersandar ke dinding ,” Entahlah.”
“ Berencana untuk pulang dan menjalani kehidupan yang benar ?”
“ Kehidupanku disini tidak salah.”
“ Tidak salah pada waktu itu, dan selama ini kamu menjalaninya dengan baik.” Thomas menjulurkan kaki panjangnya ,” Tapi setelah kehadiran Rajendra, ada pilihan terbaik untuk membentuk keluarga yang utuh.”
“ Kamu ingin kami pergi ?”
Thomas mengacak rambut Diandra ,” Sejujurnya tidak. Karena aku akan kehilangan adik perempuan dan kolega yang bisa diandalkan. Tapi ... aku, papa dan mama menyadari kalian akan jauh lebih baik saat bersama. Narend berhak mendapatkan keluarga yang utuh.”
“ Disana, kehidupanku tidak akan setenang disini.”
“ Tapi disana kamu tidak sendiri.” ditepuknya lutut Diandra ,” Aku mencari tahu siapa Rajendra, aku bisa memahami ketakutanmu menjadi keluarga publik figure. Tapi sepanjang yang aku lihat di media, ayah Narend termasuk figur yang tertutup secara pribadi.”
“ Ya, dia selalu membatasi diri.”
“ Akan ada masa dimana semua orang ingin tahu tentang kalian. Tapi aku yakin itu hanya sementara, Rajendra pasti bisa mengatasinya.”
“ What should I do ?”
“ Pulanglah, dan berbahagialah bersama keluarga kecilmu.” Thomas berdiri ,” Demi Narend ... dan kalau kamu mau jujur demi dirimu dan Rajendra.” ditinggalkannya Dindra termenung sendiri menatap langit yang gelap ,” Masuklah, sudah mulai dingin.” serunya sebelum menutup pintu.
Diandra menghela nafas dan beranjak ke dalam.