Didalam sebuah restaurant cepat saji, Oab dan Gunn sedang menikmati makan siang mereka dengan lahap. Sesekali menjahili satu sama lain, terkadang Oab membersihkan sisa saus yang ada dibibir Gunn membuat para pengunjung yang melihat mereka iri karena keromantisannya. Hanya saja sebuah pertanyaan dari Oab membuat suasana makan siang mereka berubah.
"Gunn jika nanti aku meninggalkanmu apa kamu mau memaafkanku?"
Pertanyaan tak terduga dari Oab membuat garpu yang dipegang oleh Gunn terjatuh. Gunn menatap Oab bingung, bagaimana bisa disaat mereka tadi sedang bersenda gurau Oab malah menanyakan hal seperti itu?
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu mau meninggalkan ku?" tanya Gunn raut wajahnya terlihat marah.
Oab yang melihat ekspresi Gunn berubah menjadi gugup, "Ti..dak aku hanya bertanya. Aku tidak akan meninggalkanmu"
"Janji?" Gunn menyodorkan jari kelingkingnya pada Oab, namun Oab tidak langsung menerimanya ada perasaan ragu didalam hatinya. Benarkah Oab bisa berjanji tidak akan meninggalkan Gunn? Setelah beberapa saat berfikir Oab pun menyodorkan jari kelingkingnya pada Gunn dan menautkan jari keduanya tanda perjanjian.
"Apa kamu masih marah pada phi ku?" Tanya Gunn saat tautan jari mereka sudah terlepas dan kembali makan.
"Tidak, aku sudah memaafkannya. Itu juga salahku"
"Dia memang seperti itu, setiap kali kekasihku menyakitiku phi Tay akan menjadi orang pertama yang menghajarnya. Terkadang membuat orang membenciku"
Raut wajah Gunn menjadi murung membuat hati Oab terasa sakit. Bagaimana jika nanti Oab menyakiti Gunn? Akankah Gunn bersedih seperti ini?
"Aku tidak akan membencimu. Karena aku mencintaimu" Oab mengulurkan tangannya dan mengusak rambut Gunn.
"Oab.. aku sudah susah payah menata rambutku dan kamu merusaknyaaa" rengekan dari Gunn membuat Oab tersenyum. Seperti ini lah yang Oab inginkan, membuat Gunn merajuk dan nanti akan bermanja padanya lagi.
"Kamu sangat menggemaskan, jangan bersedih lagi" Oab mencubit pipi Gunn dengan gemas membuat Gunn memanyunkan bibirnya kesal.
"Aku kenyang, aku akan kembali kerumah sakit"
"Bukankah kamu akan membelikan makanan untuk Papamu?"
"Ah ya aku lupa. Aku akan pesan dulu"
Oab hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tingkah Gunn. Namun setelah Gunn menjauh untuk memesan makan, raut wajah Oab menjadi suram. Oab tidak ingin menyakiti Gunn karena dia sangat mencintainya, namun disisi lain Oab tidak bisa menolak perintah orang tuanya. Oab menjadi frustasi tidak tahu harus bagaimana. Tanpa sadar Gunn sudah kembali dan melihat ekspresi Oab yang saat ini menutup matanya dengan keningnya yang berkerut. Sebenarnya Gunn tahu ada yang disembunyikan oleh Oab, Gunn sudah merasakannya sejak beberapa hari yang lalu karena Oab selalu menghindar dan baru kali ini mereka kembali bertemu.
Setelah beberapa saat memperhatikan Oab, Gunn berucap membuat Oab sedikit terkejut "Oab.. ayo kita kembali"
***
"Ini boss surat kerja sama kita dengan tuan Krist. Tentang harga, manfaat dan efek samping obat itu semuanya ada disni" Off memberikan map berwarna coklat kepada Tay yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga.
Tay membuka amplop itu dan membacanya dengan seksama. Namun Tay mengerutkan keningnya saat membacanya. Lalu membanting amplop itu dengan kesal.
"Efek sampingnya membuat siapa saja yang memakannya akan kehilangan ingatan jangka pendek" Off mengambil kertas yang berisi keterangan efek samping dan membacanya dengan lantang.
Dengan kesal Tay menjambak rambutnya "Sialan. Apa dia akan lupa padaku?" Tanya Tay pada Off. dia merasa bodoh langsung menggunakam obat itu tanpa tahu efek sampingnya!
"Dia siapa? Ahh dokter itu. Apa boss sudah memberikan obat itu padanya?" Pertanyaan Off membuat Tay semakin frustasi lalu pergi meninggalan Off yang masih bingung dengan tingkah boss nya. Bagaimana jika dia melupakanku? Dia bahkan sudah menjadi milikku, apa dia akan mengingatnya?
Tay berjalan ke arah mobilnya yang terparkir didepan rumah kemudian mengemudikannya untuk menuju rumah sakit, saat ini Tay harus menemui New untuk memastikan apakah New ingat padanya apa tidak. Tay harap New tidak hilang ingatan dan mengingat bahwa New sudah menjadi kekasih Tay walaupun dengan paksaan. Setibanya dirumah sakit Tay memarkirkan mobilnya lalu berjalan menuju ruangan New berada karena sebelumnya Tay pernah kesana.
"Phi Tay" panggil seseorang saat Tay memasuki loby rumah sakit, Tay menengok ke asal suara dan terkejut melihat siapa yang memanggilnya.
"Gunn" ucap Tay lirih. Tay ingin kabur untuk menghindari berbagai pertanyaan adiknya itu namun Gunn malah berlari kearahnya membuat Tay tidak sempat kabur.
"Phi Tay sedang apa disini? Apa phi sakit? Atau phi ingin menemui Papa? Atau phi ingin menemuiku?" Rentetan pertanyaan Gunn membuat Tay bingung harus menjawab apa. Namun selagi Tay berfikir untuk menjawab pertanyaan Gunn seseorang yang sejak tadi bersama Gunn menyapanya.
"Selamat siang phi Tay. Apa masih ingat padaku?" Tay menautkan kedua alisnya mencoba mengingat pria asing didepannya.
"Kamu..."
"Dia Oab, kekasihku phi. Masa phi lupa?"
Tay kembali teringat apa yang sudah ia lakukan pada Oab beberapa hari yang lalu dan memandang Oab dengan tatapan tidak suka, Gunn yang melihatnya pun langsung membawa kakaknya itu keruangannya.
"Oab aku akan bicara dengan phi Tay, kamu kembalilah keruanganmu"
Tay berjalan lebih dulu untuk menuju ruangan Gunn, untungnya ruangan Gunn dan New berbeda lantai jadi Tay tidak khawatir akan bertemu dengan New jika saat ini sedang bersama Gunn. Tay tahu jika Gunn dekat dengan New karena kekasih Gunn merupakan sahabat New itu sebabnya Tay tidak ingin jika New tahu jika Gunn adalah adiknya. Tay tahu dari mana? tentu saja karena Tay sudah menyelidiki semua latar belakang New dan keluarganya. Tay juga tidak ingin Gunn tahu jika kakaknya ini menyukai New. Karena yang Gunn tahu Tay menyukai perempuan.
"Jadi... ada urusan apa phi Tay kerumah sakit?" Tanya Gunn langsung setibanya diruangan bahkan Tay belum duduk Gunn sudah melontarkan pertanyaan padanya.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang" bohongnya. Tidak mungkin Tay bilang akan menemui New, itu akan membuat Gunn semakin banyak bertanya.
"Benarkah? Tidak biasa phi Tay datang kerumah sakit hanya untuk mengajakku makan" Gunn memicingkan matanya untuk memperhatikan ekspresi Tay, namun karena Tay mampu mengendalikan ekspresinya membuat Gunn menyerah dan berusaha untuk mempercayainya.
"Hah baiklah aku percaya.. tapi maaf phi aku baru saja makan siang dengan Oab. Dan aku akan mengantar makan siang untuk Papa. Apa phi mau ikut?" tawar Gunn. segera Tay menolaknya
"Tidak, kalau begitu aku pulang dulu"
Tay bangkit dari duduknya dan berjalan untuk keluar ruangan Gunn. Namun suara Gunn membuat Tay menghentikan langkahnya.
"Papa sangat merindukan phi Tay. Jenguklah sesekali"
Tay mengepalkan tangannya dengan kuat berusaha untuk tidak melampiaskan amarahnya pada adik kesayangannya itu. Tay berusaha untuk tersenyum,
"baiklah" ucapnya dan pergi meninggalkan Gunn.
'Aku harus segera keruangan New' batin Tay.
***
Apa yang terjadi padaku?
Kenapa aku tidak ingat apapun tentang kejadian semalam?
Jane bilang aku diantar oleh seorang pria, tapi siapa?
Berbagai pertanyaan berkecamuk didalam otak New. New tidak habis pikir bagaimana dia bisa melupakan kejadian tadi malam. Apa yang sebenarnya terjadi?
New hanya ingat jika semalam dia akan pulang kerumah, karena mobilnya rusak New memutuskan untuk pulang naik taksi. Setelah itu New tidak ingat apa-apa lagi. New terlalu asyik berfikir hingga tidak menyadari seorang pria sedang berdiri didepan pintu ruangannya mengamati New dengan tatapan dingin. Tanpa mengetuk pria itu masuk dan duduk di kursi depan New membuat New terkejut karena orang itu menarik kursinya hingga bunyi.
"Kamu...." New membulatkan matanya saat melihat pria didepannya. ada perasaan aneh ketika pria itu tersenyum.
"Apa kamu mengingatku New?" tanya Tay yang berusaha senyum semanis mungkin. ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia tersenyum seperti ini. tapi demi meluluhkan pujaan hati Tay rela melakukannya.
"Ah apa kamu salah satu pasien ku? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya New berusaha menghilangkan perasaan aneh dihatinya.
"Aku tahu kamu mengingatku. jangan bertingkah bodoh seperti ini" senyum manis Tay kini berubah menjadi senyum kaku. ia bahkan tidak habis fikir dengan ekspresi New yang terlihat biasa saja saat Tay muncul didepannya. tidak seperti yang Tay harapkan.
"bertingkah bodoh bagaimana maksudmu? apa mungkin aku melakukan sesuatu yang salah padamu?" tanya New lagi membuat amarah Tay memuncak.
Braaakkk..
New terkejut saat mendengar suara gebrakan meja.
"Berhenti pura-pura, aku tahu kamu mengingatku" ujar Tay penuh penekanan disetiap katanya.
"Ya aku ingat. Kamu Tay pria yang pernah ku tabrak lalu ku rawat dirumahku, pria yang kutemui dicafe karena menabrakku hingga makananku jatuh, pria yang mengaku menyukaiku dan merebut ciuman pertamaku, aku ingat semua b******k" teriak New dengan kesal. New ingat semua hal yang pria itu lakukan padanya mengingatnya saja membuat New ikutan emosi.
"Apa kamu ingat kejadian semalam?" Tay mengabaikan teriakan kekesalan New karena itu bukan poin utama bagi Tay, karena Tay hanya ingin tahu apa New mengingat kejadian semalam apa tidak.
"Apa maksudmu?" Kening New berkerut tidak mengerti maksud Tay. Semalam? Memang apa yang dia lakukan semalam?
Tay menggeram kesal melihat wajah polos New yang sepertinya benar-benar tidak ingat kejadian semalam. Namun Tay tersenyum licik saat otak cerdasnya itu mampu berfikir hal yang akan membuat New tunduk. Tay menghampiri New dikursinya berdiri dibelakang New dan membisikkan sesuatu.
"Semalam wajahmu sangat menggairahkan, apalagi saat aku memasukimu dan kamu mengerang nikmat membuatku semakin bernafsu" bisik Tay dengan tangan yang menggerayangi leher New hingga ke d**a. New yang mendengar bisikan itu langsung bergidik ngeri, seluruh tubuhnya menegang bahkan wajah dan telinga New memerah.
Saat kesadaran New sudah terkumpul, New bangkit dan menjauhi Tay,
"bohong. Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu" New histeris mencoba untuk mengingat kejadian semalam, tapi New tidak bisa mengingat apapun.
Tay menghampiri New yang saat ini sedang memukuli kepalanya sendiri, Tay menarik tangan New kemudian memeluknya namun New memberontak, Tay semakin mempererat pelukannya sampai akhirnya New pasrah.
"Aku tidak bohong. Kamu sudah menerimaku sepenuhnya. Bahkan kamu sudah memberikan tubuh ini padaku. Sekarang kamu kekasihku. Dan aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun"
"Tidak mungkin" New melorot dari pelukan Tay lalu jatuh terduduk dan terisak.
"Apa kamu tahu alasanmu semalam menerimaku menjadi kekasihmu?" Tanya Tay yang masih berdiri melihat New yang duduk dilantai kemudian New menggeleng, Tay tersenyum dan berjongkok didepan New.
"Aku akan membunuh kedua sahabatmu dan ibumu jika kamu tidak mau menjadi kekasihku. aku sudah mengirim seseorang ke rumah ibumu untuk berjaga-jaga jika kamu melanggar janjimu" ujar Tay licik.
New terbelalak kaget, mendengar kata-kata Tay. New tidak ingin melibatkan kedua sahabatnya, bahkan ibu nya sendiri. New tidak ingin mereka terluka.
"Jangan sakiti mereka. Aku.. aku akan menjadi kekasihmu. Tapi jangan sakiti mereka ku mohon" pinta New, menggenggam kedua tangan Tay penuh permohonan.
"Aku tidak akan menyakiti mereka, asalkan kamu mau mendengar semua ucapanku"
New mengangguk membuat Tay kembali memeluknya dan tersenyum senang. Akhirnya dengan sedikit kebohongan Tay mampu mendapatkan New. Walaupun Tay tidak akan segan membunuh sahabatnya dan ibunya jika New tetap menolaknya.
Ceklekk..
Suara pintu terbuka membuat Tay dan New melihat keasal suara.
"Apa yang kalian lakukan?" Jane datang menatap keduanya dengan heran, karena posisi mereka saat ini sedang duduk sambil berpelukan dengan New yang menangis. Membuat siapa saja yang melihatnya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Jane.. kami.. kami tidak melakukan apapun" New bangkit dari duduknya dan menghampiri Jane, Tay pun mengikuti.
"Dia siapa New? Tapi tunggu dulu aku sepertinya pernah melihatmu...." Jane mengetuk dagunya tanda berfikir.
"Ah aku ingat, dia pria yang tadi mengantarmu kan" Jane menunjuk Tay sambil menatap New.
"Apa kamu yang mengantarku?"tanya New melihat kearah Tay.
"Ya aku yang mengantarmu. Apa kamu tidak ingat?" Tanya Tay balik. New menggeleng sungguh ia tidak ingat apapun.
"Jadi apa hubungan kalian? Apa kalian berkencan?" tanya Jane usil. Jane sudah sering melihat Oab dan Gunn saat mereka sedang bermesraan sehingga Jane sudah hafal bagaimana ekspresi seseorang yang sedang jatuh cinta. dan Jane melihat ekspresi itu pada Tay, karena Tay menatap New penuh cinta.
"Ya"
"Tidak"
Ucap Tay dan New bersamaan membuat Jane bingung.
"Sebenarnya kalian berkencan apa tidak?" Tanya Jane lagi.
"Ya"
"Tidak"
"Ya kami berkencan, dan mulai hari ini New adalah kekasihku" ucapan Tay membuat mata Jane terbelalak menatap keduanya. New hanya bisa menutup wajahnya karena malu bercampur kesal.
"Kalian sungguh berkencan?" Tanya Jane lagi untuk memastikan. matanya masih terbelalak menatap kedua. Jane tidak menyangka jika New akan melepaskan masa lajangnya bersama dengan pria tampan yang sangat mempesona ini. sungguh New sangat beruntung!
Tay mengangguk dan merangkul New, orang yang dirangkul hanya bisa tersenyum kikuk menutupi rasa takut, gugup, gelisah didalam hatinya.
'Aku melakukan ini demi kalian, aku tidak ingin kalian terluka' batin New.
"Wahhh ini kabar gembira, aku harus memberi tahu Oab" Jane bergegas keluar ruangan New untuk menuju ruangan Oab.
Tay yang mendengar nama Oab disebut itu panik, karena Tay tidak ingin mereka tahu siapa Tay sebenarnya.
Saat Jane sudah menjauh Tay mengelus pipi New, "aku pergi dulu. Nanti malam ku jemput karena mobilmu sudah ku bawa ke bengkel. Jangan coba untuk kabur atau kamu tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Mengerti"
New mengangguk tanda mengerti, lalu Tay mengecup bibir New singkat sebelum pergi dari ruangan New. New menghela nafas dengan lega melihat Tay yang sudah pergi.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini" ucap New mengusap wajahnya kasar.
Beberapa saat kemudian Jane datang bersama dengan Oab. Melihat didalam ruangan New tidak ada siapa-siapa kecuali New sendiri membuat Jane bertanya,
"Lohh kemana dia?"
"Dia siapa Jane?" New pura-pura tidak tahu.
"Dia kekasihmu New. Dia kemana?"
"Dia bukan kekasihku. Dan dia sudah pulang" ujar New sambil menyibukkan dirinya membereskan kertas berisi laporan pasien diatas mejanya.
"Jane bilang kamu berkencan dengan pria. Apa itu benar New?" Oab yang sedari tadi diam kini mulai bersuara. Oab tidak menyangka jika sahabatnya ini juga menjadi sepertinya. Padahal Oab yakin betul kalau New sangat menyukai wanita walaupun New belum pernah berkencan sebelumnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu" New terduduk lesu. Sebenarnya New tidak ingin membahas masalah ini karena New juga masih syok. Namun kedua sahabatnya itu menatap penuh tanda tanya dan New harus menjelaskan pada mereka hingga membuat rasa penasaran mereka terjawab.