episode 10

1855 Kata
Pukul 8 malam Tay sudah berada didalam mobilnya menuju rumah sakit untuk menjemput New. Namun jalanan kota bangkok yang sangat padat itu membuat perjalanan Tay yang harusnya bisa Tay tempuh dalam waktu 20 menit kini menjadi 1 jam lebih, membuat Tay hampir menabrak semua mobil yang menghalanginya. Namun kewarasannya mampu membuat Tay bertahan dari fikiran gila itu. Setibanya dirumah sakit Tay melihat New dan kedua sahabatnya sedang berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil, entah itu mobil siapa yang pasti bukan mobil New karena mobilnya sedang dibengkel. Setelah beberapa saat mobil itu pergi menjauh, Tay pun mengikuti mereka. Tay tidak tahu kemana tujuannya, yang pasti mereka mengarah ke pusat kota. Mobil itu berhenti disebuah kafe yang sangat ramai, Tay hanya melihat dari jauh karena Tay tidak ingin mereka tahu jika Tay mengikuti mereka. Namun sepertinya kafe ini tidak asing bagi Tay, ya karena kafe ini tempat kedua kalinya Tay bertemu dengan New. Tay melihat mereka asyik makan dan mengobrol, New terlihat hanya menanggapi obrolan itu seadanya dan wajahnya tampak muram. Tay berusaha untuk tidak masuk kedalam kafe itu, menunggu mereka selesai makan. Beberapa saat kemudian mereka keluar dari kafe dan berjalan menuju mobil. Namun hanya Jane dan Oab saja karena New tidak ikut masuk. Setelah kepergian mereka berdua Tay keluar dari mobilnya dan menghampiri New yang saat ini sedang berdiri dipinggir jalan, mungkin sedang menunggu taksi. "Bukankah aku bilang akan menjemputmu malam ini?" Tay berdiri dibelakang New dan berbicara tepat disamping telinganya membuat New terkejut dan hampir terjatuh ke arah jalan raya. "Astaga.. kamu mengejutkanku" ucap New sambil mengelus dadanya. Tay tersenyum melihat New yang sedang terkejut itu terlihat sangat menggemaskan. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Tay sambil memeluk pinggang New, New terlihat menoleh kekanan dan kiri memastikan ada orang yang melihatnya atau tidak. "Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu disini? Bukankah kamu akan menjemputku di rumah sakit?" ujar New berusaha melepas tangan Tay dari pinggangnya. namun sayangnya Tay sangat keras kepala, menolak melepaskan kekasihnya itu. "Tadi aku kerumah sakit dan mengikutimu sampai disini. Apa kamu berusaha kabur dariku?" "Tidak" jawab New bohong. Tentu saja New sangat ingin kabur dari pria didepannya ini, New tidak menyangka jika Tay akan mengikutinya. Membuat New kesal karena usahanya untuk kabur gagal. "Kalau begitu aku akan mengantarmu. Ayo" Tay menggandeng tangan New menuju mobilnya untuk mengantar New sampai rumah. Selama diperjalanan suasana didalam mobil sangat hening, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Sesekali Tay melirik ke arah New untuk melihat ekspresi New saat ini, namun New hanya menatap keluar jendela. "Terima kasih sudah mengantarku" ucap New setibanya didepan gerbang rumahnya. Saat New akan membuka pintu mobil, Tay menahan tangan New. "Apa kamu melupakan sesuatu?" Tanya Tay membuat kening New berkerut. "Melupakan apa?" Tanya New dengan wajah bingungnya. "Ini" Tay menyentuh bibirnya dengan telunjuknya, New membelalakkan matanya saat tahu apa yang Tay maksud. "Tidak, aku harus segera per..." Ucapan New terputus saat Tay memaksa mencium New, Tay tahu jika New akan menolak untuk menciumnya langsung, itu sebabnya Tay yang mencium New terlebih dahulu. Setelah beberapa saat Tay melepas ciumannya, menatap New yang masih syok karena tiba-tiba dicium lalu kembali mencium New dengan sedikit lumatan dibibirnya hingga New mendorong Tay karena dadanya sesak kehabisan nafas. New mengambil nafas sebanyak-banyaknya, tanpa mengucapkan apapun New keluar dari mobil dan masuk kerumahnya. Setelah New masuk kedalam rumah, Tay tersenyum dan menyentuh bibirnya. "Bibirmu sangat lezat. Aku semakin menyukainya" ujar Tay dengan seringai menyebalkan diwajahnya. *** Disebuah rumah yang sangat megah, seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kamar anaknya yang sejak semalam mengurung diri di kamar hingga siang ini, sang ibu hanya bisa memohon agar anaknya mau keluar dari kamar. Namun anaknya tidak menghiraukan panggilan ibunya, sang ayah yang tahu kejadian itu langsung mendobrak pintu kamar anaknya saat sudah terbuka ibunya langsung masuk ke dalam kamar dan menangis histeris melihat sang anak yang tidak sadarkan diri dengan luka sayatan dipergelangan tangannya. "Jane.. Jane.. bangun nak.. kenapa kamu melakukan hal seperti ini?" Sang ibu terduduk lemas melihat kondisi anaknya, ayahnya pun langsung membawa Jane kerumah sakit agar nyawanya bisa selamat. Setibanya dirumah sakit Jane langsung dibawa ke ruang UGD dan disana ada New yang sedang bertugas. New yang melihat keadaan Jane itu segera menyuruh suster menyiapkan ruang operasi untuk memberikan pertolongan agar darah yang keluar dari lengannya berhenti. Ibu dan ayah Jane hanya bisa pasrah melihat anaknya yang terbaring lemas diatas ranjang dibawa keruang operasi. Beberapa saat kemudian New keluar dari ruang operasi dan memberitahu keadaan Jane saat ini, lalu Jane dibawa ke kamar rawat inap untuk proses pemulihan. Hingga malam hari orang tua Jane masih setia menunggunya hingga sadar. Orang tuanya tidak tahu apa yang terjadi pada Jane, karena Jane memiliki kepribadian yang sangat terbuka pada orang lain membuat orang tuanya tidak menyangka jika Jane akan melakukan hal seperti ini. New bersama seorang suster datang untuk melihat perkembangan kondisi Jane, kemudian Jane pun sadar. "Jane apa kamu mendengarku?" Tanya New yang sedang memeriksanya. Orang tua Jane yang sejak tadi duduk di sofa sudut kamar langsung menghampiri Jane dan melontarkan berbagai pertanyaan, namun Jane tidak menjawab. Dia hanya diam dan tiba-tiba menangis membuat New dan orang tua Jane panik. "Jane ada apa nak? Kenapa kamu menangis? Apa masih sakit?" Tanya sang ibu yang hanya dijawab dengan gelengan, namun Jane semakin menangis histeris. Jane yang masih menangis itu kemudian duduk dan memeluk New, membuat New terkejut karena Jane menangis dipelukannya. "Ibu dan ayah keluarlah dulu. Aku ingin bicara dengan New" ucap Jane disela-sela tangisnya. Orang tua Jane yang sudah akrab dengan New itu pun keluar, memberikan mereka waktu untuk bicara. Sang suster yang sejak tadi terheran karena baru pertama kali melihat Jane menangis ikut keluar dari kamar menyisakan Jane dengan New saja. Saat semua orang sudah keluar, Jane melepas pelukannya namun masih terisak, New duduk dikursi samping kasur Jane dan menunggu hingga Jane bicara. "New" panggil Jane. "Ada apa Jane? Kenapa kamu jadi seperti ini?" New mengusap air mata yang tersisa di pipi Jane. cemas dengan keadaan sahabatnya yang tidak seperti biasanya. "Aku tidak tahu harus bagaimana New. Aku.. Akuu.. tidak bisa mengatakan pada siapapun" "Kamu bisa mengatakan padaku Jane. Kamu tahu kan aku selalu mendengar ceritamu" Jane menatap New dengan sedih, Jane sangat tahu New orang yang seperti apa itu sebabnya Jane lebih memilih bicara pada New daripada orang tuanya sendiri. "New.. Aku.. hamil" lirih Jane. "APA????" New berteriak kaget mendengar perkataan Jane membuat Jane menundukkan kepalanya. Jane takut jika New akan membencinya. "Kamu pasti bercanda Jane" New memegang kedua pundak Jane. "Aku tidak bercanda New, aku serius. Jika aku bercanda aku tidak akan mencoba untuk membunuh diriku sendiri" Jane kembali menangis, New yang masih terkejut itu kemudian memeluk Jane. Menangkannya. "Dengan siapa?" Tanya New yang masih memeluk Jane dan mengelus rambut panjangnya. "Dokter Fin" New melepas pelukannya dan menatap Jane tidak percaya, sejak kapan Jane dekat dengan dokter itu? Setahu New mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu, karena Fin merupakan playboy yang selalu menyakiti wanita itu sebabnya Jane sangat membenci Fin karena Fin selalu mengejarnya. Namun kini Jane mengandung anak Fin? "Bagaimana bisa Jane? Bukankah kamu membencinya?" New mengguncang bahu Jane karena diam saja. "Malam itu aku mabuk, dan dia mengantarku pulang. Namun dia malah membawaku ke apartemen nya. Aku tidak sadar, aku fikir itu rumahku. Dan tiba-tiba dia melakukan itu padaku" "Apa kamu sudah memberitahunya?" "Sudah, tapi dia tidak percaya dan malah mengusirku. Aku tidak tahu harus bagaimana New. Jika orang tua ku tahu mereka pasti sangat kecewa padaku" Jane kembali menangis histeris, membuat orang tua nya yang sejak tadi menunggu didepan kamar masuk kedalam. "Ada apa nak? Kenapa kamu menangis seperti ini? Katakan pada ibu ya" New bangkit dari duduknya dan mempersilahkan ibu Jane untuk duduk. Jane memandang New, tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ibunya. Namun New hanya mengangguk, New ingin Jane jujur kepada orang tuanya, kemudian New keluar dari kamar itu. *** New berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruangan Fin berada, saat ini amarah sudah menguasai New, New ingin membunuh Fin saat ini juga. Namun New juga ingin Fin bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan pada sahabatnya itu. Setibanya didepan ruangan Fin, New melihat dari kaca kecil tembus pandang yang ada dipintu didalam ruangan Fin sedang berciuman dengan seorang suster. Membuat amarah New semakin memuncak. Tanpa mengetuk pintu, New masuk kedalam ruangan itu hingga membuat dua orang yang berada didalamnya terkejut. New langsung memukul wajah Fin hingga terjatuh dari kursinya, suster yang sedang duduk dimeja itu berlari keluar ruangan meninggal Fin yang saat ini menjadi sasaran amukan New. "b******k. Beraninya kamu menghancurkan Jane. Kamu harus bertanggung jawab" ujar New sambil memukul wajah Fin. "Tanggung jawab apa, aku tidak mengerti" Fin yang yang dipukul tiba-tiba terkejut, memegang pipinya yang terasa nyeri. "Kamu sudah menghamili Jane tapi masih pura-pura tidak mengerti" New kembali menghujani Fin dengan tendangannya. New duduk diatas perut Fin dan memukuli wajah Fin hingga babak belur. Tidak lama kemudian security datang melerai perkelahian mereka. "New tenanglahh, apa yang terjadi?" Oab yang datang bersama security itu menahan pundak New, namun New berusaha untuk menghampiri Fin yang sedang dipapah oleh security. "Aku harus membunuhnya Oab, dia sudah menyakiti Jane" "Apa maksudmu?" Pertanyaan Oab tidak langsung dijawab oleh New, karena New masih menatap Fin dengan tatapan membunuh. "Bukan aku yang melakukannya, aku tidak tahu apa-apa sungguh" Fin berucap dengan sisa tenaga nya, New yang mendengar ucapan itu langsung menyentak tangan Oab yang sejak tadi menahannya lalu menghampiri Fin dan kembali memukulinya. "b******k. Kamu masih berani berpura-pura didepanku. Aku tahu kamu menyukai Jane. Aku tahu kamu mengejarnya, tapi sekarang setelah kamu merusaknya kamu membuangnya begitu saja?" Oab kembali menahan New yang hampir membunuh Fin, Fin sudah tidak sadarkan diri dan dia dibawa oleh security dan beberapa dokter yang melihatnya ke ruang perawatan khusus dokter. New dan Oab masih berada didalam ruangan Fin lalu Oab membawa New keruangannya. "Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa dengan Jane?" Tanya Oab setibanya mereka diruangannya. New mengusap wajahnya kasar, menatap Oab dengan sedih. "Jane dihamili Fin" "APA??? Apa maksudmu? Bagaimana bisa?" Oab yang sejak tadi tenang, kini menjadi marah, harusnya tadi Oab membiarkan New untuk membunuh Fin. "Tadi siang Jane dibawa kesini karena berusaha untuk bunuh diri. Lalu saat dia sadar dia menceritakan semuanya padaku. Dan aku langsung menghampiri Fin diruangannya karena dia tidak mau bertanggung jawab" "b******n" Oab menggebrak mejanya hingga kaca yang melapisi meja itu retak dan membuat tangannya berdarah. Oab keluar dari ruangannya di ikuti New untuk menuju kekamar Jane. "Oab apa yang terjadi?" Tanya Gunn saat berpapasan dengan Oab dan New yang sedang menuju ruangan Jane. "Maaf Gunn aku harus menjenguk Jane, nanti kita bicara lagi" Oab meninggalkan Gunn begitu saja, Gunn merasa sedih karena diabaikan. Namun Gunn mengikuti tanpa sepengetahuan mereka. Setibanya dikamar Jane, Oab menghampiri Jane yang sedang tertidur seorang diri dan duduk disampingnya. New hanya berdiri menatap Jane dengan sedih. Gunn yang tidak tahu apa-apa hanya memandang mereka dari luar. "Jane kenapa kamu melakukan hal seperti ini?" Oab mengambil tangan Jane dan menggenggamnya. "Maafkan aku Jane, harusnya aku melindungimu" ucap New menyesal. "Ini bukan salahmu New, ini semua salah b******n itu" ucap Oab yang tidak melepas pandangannya dari Jane. Membuat Gunn yang sedang memperhatikan dari luar merasa cemburu. Kemudian pergi menjauh dari tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN