Ditengah-tengah kemeriahan tersebut bertambah meriah disaat kembang api diluncurkan ke angkasa dan menghiasi langit yang gelap, serontak semua bersorak gembira sembari bertepuk tangan.
“Sayang, bentar ya...mama telpon.” Seru Jesica yang kalah dengan suara musik.
“Apa?!!” Seru Jonathan tidak jelas.
“Mama telpon. Bentar ya.” Ucapnya lebih mengeraskan suaranya didekat telinga Jonathan, kemudian menjauh dari keramaian. Dia pun menuju ke jembatan sembari mencari udara segar.
“Ok, mom. I know. Oh come on. Just party...” protes Jesica karena mamanya meminta untuk segera pulang “Jesica is not a kid anymore, right.” Kesal Jesica didalam telpon karena mamanya memperlakukannya kayak anak kecil “Jonathan also was with Jesica here. So, dont worry, mom.” Ujarya menenangkan mamanya sembari terus berjalan ke tengah jembatan. “Ok, Iam fine. Bye, love you, mom.” Ucapnya kemudian menutup telponnya. “Mama ini kayak apaan aja deh.” Kesalnya sembari bersandar ditepi pagar kayu jembatan.
“Kenapa sih mama kayak gini, apa mama nggak pernah muda atau gimana sih?” omel terus pada dirinya sendiri. “Kan tau sendiri kalau...” belum selesai bicara tiba-tiba pagar kayu jembatan roboh dan Jesica teriak kaget ikut terjatuh dengan pagar tersebut, untung saja dengan cekatan jari-jarinya bertahan di bibir jembatan dengan keadaan gaun panjangnya yang sobek sampai ke paha karena tersangkut kayu yang jatuh ke laut.
“AAAA??!! TOLONG!!!??? TOOLLOONNGG!!?” Teriaknya berusaha menahan diri “TOOLLOONNG!!!??” teriaknya sekali lagi, karena dia sadar suara musik yang sekeras itu tidak mungkin dia kalahkan dengan suaranya ini. Dia berusaha naik sendiri tapi rasanya sulit sekali, antara takut, gemetar dan shock membuatnya dia kesusahan untuk naik ke jembatan. “TOOLLOONNGG??!!” jari-jari Jesica mulai tidak kuat menahan tubuhnya yang tergelantung dibibir jembatan, dia tidak tahu seberapa dalam dan dingin air laut dibawah sana, dia bisa saja menjatuhkan diri dan berenang ke tepi tapi dia tidak tahu apa yang ada dibalik air laut itu.
Jesica terus berusaha menaikkan diri tapi tidak bisa juga, sementara jari-jarinya mulai tidak kuat menahan bobot tubuhnya, dan akhirnya dia tidak bisa bertahan lagi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini
“Aaa??!” teriaknya terhenti ketika lengannya ada yang menahannya seketika dia buka mata dan melihat keatas siapa yang menolongnya.
“LO GILA APA SINGKONG??!!” Teriak Alex menahan tubuh Jesica kemudian berusaha menarik Jesica keatas. Dengan usaha yang cukup keras Alex bisa menaikkan Jesica keatas. “Lo udah nggak waras mau bunuh diri gini?!!” Ngos-ngosan Alex yang belum juga beranjak pergi dari atas tubuh Jesica “Gila lo ya.” Tambah Alex, namun Jesica belum bisa berkata apapun, dia masih shock, terlihat raut muka Jesica yang ketakutan dan gemetar.
TAARRRR!!!! Jonathan melempar dua gelas yang dia bawa untuk dirinya dan Jesica, tapi dia malah mendapat Jesica berada dibawah Alex dengan gaun yang sobek hingga terlihat pahanya. Tanpa banyak bicara Jonathan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Seketika Alex bangkit diikuti Jesica yang tersadar bahwa dia masih selamat. Dia bingung harus berbuat apa, dia juga bingung harus berkata apa, sekilas dia melihat Alex kemudian menyusul Jonathan. “Jon, kamu salah faham. Kita nggak ngapa-ngapain.” Serunya, tapi dia tetap mengacuhkan Jesica dan terus berjalan dengan penuh emosi
“Jon, tadi aku mau jatuh ke laut karena pagarnya tiba-tiba roboh. Percaya sama aku, aku nggak berbuat apa-apa. Please jangan salah faham.” Jelas Jesica tapi Jonathan tidak mau mendengarkannya.
“Jon, yang dibilang Jesica bener.” Seru Alex menahan bahu Jonathan yang kemudian berhenti melangkah “Kamu jangan salah faham.” Tambah Alex, Jonathan pun kemudian berbalik badan dan menghantam Alex cukup keras hingga tubuh Alex cukup dibuatnya terpanting.