Serba Salah

1690 Kata
Keesokannya, dengan malasnya Jessica masuk kelas. Apalagi ditambah ada musuh bebuyutannya. Keluhnya dalam hati. Dia juga belum ngliat temen-temennya nongol lagi. Dia tergopoh-gopoh tak semangat menuju kelasnya. Dari belakang, Agnes datang bermaksud mengagetkan Jessica. Dia menepuk pundak Jessica sambil berteriak nyelengking. Tapi ekspresi yang dia dapat ketidak puasan. Karena sama sekali Jessica nggak kaget, malah Jessica nggak respon sama sekali. Nggak komentar seperti apa yang biasa dia lakukan. Hal itu membuat Agnes jadi mengkerut-kerut, lalu dia rangkul bahu Jessica akrab. “Napa sih lo? Kusut banget? Kurang makan? Nggak dapet uang bulanan? Lagi dapet?” Tanya Agnes bertubi-tubi, tapi nggak satu pun yang Jessica jawab, mandang dia aja nggak, apalagi jawab. Sangking bingungnya, dia garuk-garuk dagunya sembari berpikir. “Ah! Atau jangan-jangan lo bener dijodohin sama tuh anak??!” lengking Agnes mengejutkan, tapi lagi-lagi Jessica nggak meresponnya, dia menoleh pada Agnes dengan tatapan kesalnya. Agnes pun yang ditatap seperti itu jadi cengengesan. “Sori. Hehehehe, abis lo ditanya diem terus? Jadi wajar dong gue nanya yang nggak-nggak.” Cerocos Agnes tetep semangat. Jessica mendongak keatas sambil menarik napas dalam-dalam. “Apa gue pindah aja ya dari kampus ini?” Tanya Jessica tanpa berpikir dua kali ucapannya itu. “GILA LO!!??” kejut Agnes setengah mati melepas rangkulannya lalu menatap Jessica yang asal-asalan bicara itu. “Gila gimana sih lo ini??!” “Jangan bilang ama gue kalo niat lo mau pindah ini, Cuma karena tuh orang!??” tebak Agnes terdengar lantang. “Masa sih lo kalah ma tuh anak?! Dulu lo yang pergi ninggalin dia, masa sekarang lo yang ninggalin dia juga?? Kalo bisa, lo buat dia nggak betah di kampus ini. Jangan malah lo yang jadi nggak betah. Udah baik kita bisa kumpul disini. Nggak perlu repot-repot nyari waktu luang bareng.” Cerocos Agnes yang membuat Jessica hanya ternganga mendengarnya, nggak nyangka temennya yang satu ini berbicara seperti itu. Tapi dipikir-pikir betul juga. Batinnya. Jessica pun mengangguk-angguk memikirkan sesuatu. Dalam keseriusan Jessica memikirkan cara buat ngalahin Alex, tiba-tiba disambar oleh Putri dan Sari yang mengejutkannya begitu pula Agnes yang langsung mengelus-elus dadanya. “WOIII!!!??” “Mikirin apaan sih?” sela Putri tanpa rasa bersalah. “Guys, mulai sekarang…we start wars!!!” seru Jessica mengejutkan semuanya, dia kepalkan tangannya penuh kebencian. Matanya menyorot kedepan dengan tatapan tajam. “Gue nggak bakalan beri ampun dia, gue udah cukup mengalah padanya. And now, gue bakal lebih nyengsarain dia!!” yakinnya, sedangakan temen-temennya pada bengong mendengarnya. “Jessica…lo, lo…baik-baik aja kan?” Tanya Sari yang jadi kawatir melihat Jessica seperti itu. Agnes dan Putri jadi pengen tertawa geli melihat respon yang diberikan Sari. “You think, I’m crazy?” tandas Jessica menatap Sari yang kemudian mencibir mengangkat bahunya bertanda mungkin saja gitu. Hehehe. “Lo yakin dengan ucapan lo? Tiap hari kan lo udah perang ama tuh anak?” tambah Putri ragu. Dia berpikir. Kalau Jessica menganggap mulai sekarang akan berperang, terus yang kemaren-kemaren apa kalau bukan perang??? Yang belum mulai perang aja dah mengemparkan seluruh kampus, apalagi kalau udah mulai perang??? Rubuh dunia ini. “Its show time.” Yakin Jessica sembari mengepalkan kedua tangannya. Sesaat kemudian, pundaknya ditabrak Alex yang baru aja lewat. “Ops, Sorii. Sengaja.” Cela Alex. Jessica pun menganga mendengar ucapan Alex. Segera dia meraih bahu cowok itu hingga berbalik menghadapnya. “Apa maksud lo?!” ketusnya. “Apa?” Alex pura-pura tak tau. Tanpa basa-basi Jessica menginjak keras kaki Alex, hingga dia lompat-lompat kesakitan. “Aow, aow, aow, sakit tau!?” “Ops, sorry. Sengaja.” Ucapnya mengulang ucapan Alex. “Lo...!!” tekan Alex. “What???” tantang Jessica Ketika Alex mau membalas, terlihat ada rektor tak jauh dari tempatnya. Dia pun terpaksa menahan emosinya. “Heh, gue peringatin lo. Sampai kapan pun lo nggak akan bisa menang dari gue. Lo nggak akan ngalahin gue. Apapun itu.” Tekannya pas dihadapan Jessica yang tak hentinya menyorotkan pandangannya pada Alex. “We will see.” Tantang Jessica. “Asal lo tau gue nggak bakalan nyerah begitu saja.” Tambahnya. “Oh ya??” “Ya. Lo takut?” ledek Jessica. “We will see, baby...” sembari memberi kecupan pada dua jarinya menuju pipi Jessica, tapi dia menangkis dengan emosi sedangkan Alex berlalu dengan senyum kecutnya. Hari terus berganti, dan Jessica tidak berdiam diri, dia terus berusaha untuk membalas semua perbuatan Alex. Dan dia tidak mau mengalah lagi atau memberi peluang pada cowok satu ini. Yang ada hanyalah tak ada kata ampun bagi cowok itu. Hingga suatu hari, Jessica sedikit keterlaluan mengerjai Alex. Kursi yang ditempati Alex, sudah dirancang oleh Jessica. Ketika semua masuk, Alex tanpa perasaan ragu duduk begitu saja. Tanpa dia sadari kursinya seketika ambruk dan tangannya tergores cukup panjang oleh salah satu sudut yang lancip hingga mengeluarkan darah. Semuanya pun terkejut. Awalnya, Jessica hanya terkekeh-kekeh rencananya berhasil, tetapi sekilas dia melihat darah langsung terbelalak matanya. Dosen yang ada saat itu segera menyuruh temannya membawa Alex ke klinik. “Jessica, lo kok tega banget sih?” bisik Sari kawatir. “Tega gimana maksud lo?” bela Jessica “Lo masa nggak liat sih luka Alex.” Sahut Agnes “Gue nggak lakuin apa-apa. Gue...gue...gue cuman longgarin kursi dia orang aja. Nggak lebih. Nggak sampai buat dia luka.” Bela Jessica jadi nggak enak hati karena dia merasa keterlaluan. “Trus buktinya, dia luka, kan?” tandas Putri kesal karena temannya berbuat gitu. Karena Jessica merasa bersalah dan tersudutkan, dia jadi tak bisa berbuat apa-apa “Trus mau lo semua apa?” cemasnya, tapi ketiga temannya hanya menatap dengan pandangan sinis “I must apologize, gitu.” Tambahnya, dengan pandangan datar, teman-temannya mengangguk bersamaan. “No. I will not. Gue nggak mau minta maaf, titik.” “Jessica, lo sadar nggak sih beberapa hari ini lo sering banget ngerjain dia, bikin hidup dia susah. Tapi lo liat, coba. Dia diem aja kan?” ujar Putri. “Kok kalian jadi bela tuh anak sih?” Jessica mengecutkan tatapannya. “Kita mau, setelah jam kuliah minta maaf ama Alex.” Ketus Sari menekan. “Iya, kita nggak mau tau. Lo harus minta maaf.” Tambah Agnes. Jessica begitu kaget dengan apa yang dikatakan teman-temannya itu, dia hanya bisa mengatupkan rahangnya tanpa sepatah kata pun. ********* Setelah luka Alex diperban, teman-temannya segera datang ke klinik menengoknya seketika memaki-maki Alex karena dia hanya diam saja saat Jessica mengerjainya. “Lo tuh begok apa? Coba lo liat! Masa lo Cuma diem gitu aja?!” kesal Randy memperhatikan luka Alex. “Tau tuh, mukin dia salah minum obat.” Tambah Damar “Tenang guys, gue nggak apa-apa. Ini hanya sebuah dari awal. Gue diem bukan karena gue kalah. Gue bakalan bikin dia bertekuk lutut di hadapan gue.” Ujar Alex yakin. “Liat dulu noh, luka kayak gitu. Mau ngapain, kang?” sahut Mike nggak percaya. Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba Jessica dan teman-temannya datang. Jessica terlihat begitu sangat tak sudi datang dan menjenguk orang satu ini. Tapi karena paksaan teman-temannya, dia harus melakukannya. “Gue...gue...” “Lo kenapa? Lo mau nambah luka gue lagi...” lanjut Alex. Agnes pun memberi isyarat pada Jessica agar segera meminta maaf. “No, no, no. Gue kesini...gue kesini...” Jessica terlihat seperti tersihir kaku nggak bisa berbicara dengan lancar. “Lo kesini mau nambah luka gue? Gue udah terlalu bersabar sama lo, asal lo tau kalau lo pengen nambah luka di tubuh gue silahkan. Gue terima, gue nggak apa-apa” ujar Alex membuat orang yang mendengar terenyuh dengan ucapannya. “Lagian, persedian caos gue masih banyak. Hahahahaha!!!!” tawanya begitu puas menunjukkan sebotol caos yang warna dan teksturnya hampir persis seperti darah manusia. Semua orang yang ada di klinik itupun dibuatnya terkejut termasuk teman-teman Alex. Mata Jessica terbelalak lebar tak menyangka dia melakukan saran temannya. “Aow, aow, tangan gue sakit...aow, aow...sakit..” berlagak kesakitan memegangi lukanya. “Lo mau minta maaf sama gue...aduh, sori banget nggak ada permintaan maaf buat lo, lagian maaf lo nggak ada gunanya disini.” Cerocos Alex dengan senangnya. Jessica nggak bisa berkata lagi, dia merasa malu dan sangat menyesal sudah mengikuti saran temannya, dia merasa ini benar-benar keterlaluan. Temen-temen Jessica pun merasa menyesal sudah memberi saran Jessica untuk meminta maaf pada Alex. Tanpa rasa kasihan lagi dan tanpa rasa bersalah lagi dia cubit bagian luka Alex hingga Alex benar-benar kesakitan sampai temen-temen Alex terkejut “Wah, gila. Gila. Gila. Sakit itu.” Seru Mike nunjuk-nunjuk, kemudain Jessica berlalu begitu saja diikuti teman-temannya. Perjalanan pulang, dalam mobil temen-temen Jessica tidak berani bersuara.Mereka benar-benar marasa sangat bersalah. “Aaaaaa!!!!!!” Jessica berteriak begitu histerisnya hingga Agnes yang membawa mobil seketika membanting setir dan memperhentikannya. “Lo liat sendiri kan tadi kayak gimana muka Alex liat gue dipermalukan gitu!!??gue bener-bener malu!!! Gila apa tuh anak!! Keterlaluan banget kerjain gue!!! Dia nggak puas-puasnya apa bikin hidup gue sensara!!!” Sambar Jessica begitu menggelegar di dalam mobil mengalahkan guntur. “Gue malu banget tau nggak sih!!?? Coba kalian bayangin, harga diri gue mau ditaruk mana coba!!?” kesal Jessica teriak-teriak nggak jelas dalam mobil. Lalu Putri pun memberanikan membuka mulut. “Jessica, kita semua minta maaf ya. Kita kira dia beneran…tapi, ternyata semuanya cuma akal-akalannya dia doang…sorrrii banget. Kita nyesel minta lo…” Putri tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dia hanya bisa mengelus-elus Jessica. “Iya, Jessica.. maafin kita semua ya…” tambah Sari yang sedang duduk di depan. “Mulai sekarang, kita nggak akan kasih saran yang baik buat lo jika lo berurusan dengan anak itu. Kita janji. Asal lo maafin kita semua. Ok.” Tutur Agnes. “Gue nggak masalahin itu…tapi gue masalahin harga diri gue. Liat aja lo Lex, lo bakal mampus di tangan gue.” Kecam Jessica mengepalkan tangannya. “Sudahlah Jessica, sebaiknya lo nyiapin diri lo buat besok.” Sela Agnes. “Emang besok kenapa?” Jessica mengerutkan keningnya bertanya-tanya. “Lo itu kebanyakan mikirin Alex jadi lupa kalau besok kita semua study banding.” Sahut Sari. “Eh, jangan asal ngomong ya?! Kurang kerjaan banget sih gue mikirin dia.” Seru Jessica langsung darah tinggi. “Nah, ini kayak Tom and Jerry.” Tandas Putri diikuti yang lain ketawa kecil. “Kalian ini temen atau sekutu sih?” kesal Jessica kemudian Putri memeluknya sambil menggoda Jessica.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN