Taktik Perjodohan

1771 Kata
Di kampus, di lain tempat. Jessica dan Alex gempar menceritakan kejadian kemarin yang nggak pernah mereka sangka orang tua mereka itu teman akrab. “APA???!!!” kejut teman-teman Jessica. “Lo yakin ama omongan lo?!” tanya Sari untuk meyakinkan. “Ya jelaslah, Sar. Alex itu juga bersama gue. Ini semua apa nggak gila?!” kesal Jessica nggak habis pikir. Sama dengan Jessica, Alex juga bercerita seperti yang diceritakan Jessica pada temannya. “Gila??! Gue bener-bener nggak pernah bayangin silsilah keluarga lo yang kayak gini, sedangkan lo sendiri aja terus perang sama tuh cewek. Wah, pasti ada kesalahan diketurunan lo saat ini.” Kata Rendi nglantur. “s****n lo! Emang gue apaan. Lagian gue nggak punya hubungan darah ama tuh cewek” Sahut Alex membuat suasana hening sesaat. “Dan gue yakin, lo udah punya rencana buat dia. Karena lo sekarang udah tau rumahnya. Secara kan!?” sambar Damar menyela dalam keheningan. “Yah, kalau itu sih gue tau tapi belum tau yang harus gue lakuin???” seru Alex sembari memikirkan sesuatu. “Yah, payah lo!” ledek Mike begitu aja. Saat mereka asyik mengobrol, nggak sengaja Jessica dan yang lain melintas dihadapannya. Alex pun segera memutar otak untuk mencari bahan buat Jessica. “Eh, guys! Biasanya semua orang itu bercita-cita pingin jadi dokter, ilmuwan, guru, presiden, tapi ternyata ada juga orang yang bercita-cita jadi pembantu! Tuh contohnya kayak orang yang baru aja melintas disini!” seru Alex yang berlagak nggak sengaja padahal memang sengaja. Sekejap Jessica menghentikan langkahnya, tapi sesaat dia melangkah kembali. “Ternyata ada juga ya orang yang bercita-cita jadi pembantu.” Serunya sekali lagi, Jessica tau itu bukan ketidak sengajaan, dia pun langsung menoleh kearah Alex dan menghampirinya, teman-teman Jessica hanya bisa menepuk jidat mereka. Pasti sebentar lagi perang dimulai. “Sorry, excuse me?!” Jessica terlihat masih tenang. “Katanya, lo itu bercita-cita jadi pembantu.” Kata Rendy mengangguk. “Heh, gue peringatin, ya. Meski nyokab lo sama gue berteman, jangan harap gue mau temenan ama lo.” Kecam Jessica tak lepas menatap tajam Alex. “Heh, tukang GR. Gue nggak akan pernah mau berteman ama lo. Forever ever and ever. Jangan mimpi deh lo!” balas Alex memandang rendah Jessica. “Meski lo tau rumah gue. Gue nggak akan biarin lo rusak hidup gue! Kalau nggak minuman yang lo minum akan gue kasih garam yang lebih banyak lagi dari yang sebelumnya.” Sambar Jessica sedikit menyela dengan senyum datarnya. “Oh… jadi lo emang sengaja ya, kasih tuh minuman buat gue! Gue kira lo buta nggak bisa bedain gula ama garam!” Alex mulai bernada keras. “Gimana? Enak?” goda Jessica lalu pergi. Alex pun membiarkan Jessica pergi untuk kali ini. “Eh, Lex. Lo kok nggak cerita yang satu ini?” tanya Damar. “Ah, diem lo!” seru Alex yang membuat temanya menahan geli ********** Setelah pertemuan diantara nyokab Alex dan Jessica, sekarang mereka berdua sering keluar bareng. Setiap mereka tanya, nyokab mereka selalu menjawab hal yang sama yaitu jalan sama teman lama mereka. Orang tua Alex dan Jessica benar-benar sangat akrab, beda dengan Alex dan Jessica yang selalu bertengkar kalau bertemu. Sangking akrabnya orang tua mereka, Alex dan Jessica pun memikirkan hal yang sama ‘PERJODOHAN’ Masalah ini bener-bener serius kalau sampai kejadian, dunia ini pasti pecah belah. Di kampus, nggak Alex, nggak Jessica, mereka sama-sama bahas masalah ini bersama temen-temen mereka meski dilain tempat yang nggak sama. Apa yang diekspresikan Alex, sama apa yang diekspresikan Jessica. Mereka terus mondar-mandir dihadapan temen mereka masing-masing dengan perasaan cemas. Jessica gigit ujung kukunya, berpikir jangan sampai hal itu terjadi. “Ini nggak boleh terjadi, nggak boleh? Kalian kan tahu gue udah punya cowok. Apa yang harus gue katakana sama Jonathan jika ini benar-benar terjadi. Enggak. Gue nggak akan biarin kalau memang benar perjodohan ini terjadi. Gue cinta sama Jontahan. Gue nggak bakal khianiti dia.” cemasnya terus mondar-mandir. “Alex juga mikir hal yang sama kayak lo nggak ya?” Tanya Sari asal membuat Jessica semakin cemas. “Iiih, lo itu cukup mikir gimana caranya agar nyokap gue nggak mau jodohin gue sama tuh cowok…” “Tapi, lo kan juga belum bicara sama nyokab lo?? Ini kan masih dugaan lo.” Sela Putri. “Tapi, Put. Lo masa nggak bisa mikir sih? Kebanyakan dari masalah ini, ya jodohlah yang mereka pake buat memperat tali persahabatan mereka.” Tandas Agnes sembari terus memikirkan jalan keluar. Sementara Alex, juga glagapan menangani masalah yang satu ini. Dia nggak hentinya mondar-mandir, seperti apa yang dilakukan Jessica, dia gigit bibir buat menemukan jalan keluarnya. “Sebenarnya nih Lex, kalau udah kayak gini…terima aja deh. Toh Jessica juga lumayan juga sebenarnya.” Ujar Damar yang udah mentok nggak bisa menemukan jalan keluar sampai ini bener-bener terjadi. “s****n lo!” seru Alex menjitak kepala Damar, tapi Damar malah terkekeh-kekeh diikuti temennya yang lain. “Apaan sih kalian! Nggak lucu!” “Tapi memang bener apa yang dikatakan sama Damar.” Tambah Rendy geli. “Lo aja yang nikah ama tuh cewek. Cantik dari mana? Dia itu cewek jadi-jadian. Kalian lupa gigitan cewek itu kayak apa. Sampai menusuk danging yang paling dasar tau nggak.” “Wah…ini cewek gue suka. Cewek liar. Pasti memuaskan.” Goda Damar mringis sambil mencibir pada temennya yang lain yang juga mengiyakan perkataan Damar itu. “s****n lo! Percuma gue cerita sama lo kalau kayak gini jadinya, tambah manas-manasin gue.” Kesal Alex. “Iya, sori, sori. Gini aja. Lo kan belum tau pasti itu bakalan terjadi atau nggak. Mending lo tanya ama nyokap lo langsung, kalau perlu rayu nyokap lo. Atau gue yang ngrayu mama lo…” goda Mike, membuat Alex menjadi garang dan mau memukulnya tapi nggak sampai memukul. “s****n lo!” tandasnya kesal yang ditanggapi dengan ketawa kecil temen-temennya. Sore itu juga sepulang orang tua mereka dari jalan-jalan lansung disambar oleh mereka. Di rumah Alex, mamanya yang masih berada di depan pintu tiba-tiba di sambarnya dengan ramah, tidak seperti biasanya yang nggak memperhatikan mamanya sudah pulang. “Sini ma, Alex bawain!” serunya meraih tas mamanya dari tangan. Dengan sedikit aneh mamanya patuh saja memberikan tasnya pada anaknya dengan keganjalan. “Mama duduk dulu, biar bibi buatin minumannya.” Serunya mempersilahkan mamanya duduk di sofa yang empuk. “Bi, cepetan minumannya! Alex pijitin ya, ma.” kata Alex mulai memijit dibagian bahu. “Sayang, kamu kenapa?” tanya mamanya yang merasa aneh tapi juga menikmati pijatan tersebut. “Mama, minum dulu. Nih minumnya.” Tambah Alex semakin begitu aneh. Tak berbeda denga Alex, Jessica juga melakukan hal yang sama pada mamanya. “Jessica, kamu baik-baik aja kan? Mama, jadi kawatir…” ucap mamanya. “Nggak apa-apa kok ma…” jawabnya terus memijit-mijit kaki mamanya. Tanpa mereka sadari, mereka memikirkan hal yang sama dan melakukan yang sama pula untuk mamanya. Mama Alex pun tidak keberatan dipijit, karena jarang-jarang anaknya memijitnya, beliau selalu ditempat-tempat pemijit tradisional. Dan mumpung gratis, mamanya pun menikmatinya meski pijitan anaknya tak seenak tukang pijit langganannya. Terlihat cukup lama Alex memijit, dia pun mulai mengutarakan apa maksudnya melakukan hal tersebut. “Ma, apapun alasannya, mama tidak bisa menentukan hidup Alex. Biar Alex sendiri yang nentuinnya.” Kata Alex membuka obrolan begitu saja tanpa judul dan tanpa tema. “Kamu itu berbicara apa?” tanya mamanya masih menikmati pijitannya dengan tidak tau maksud Alex. Begitu pula Jessica. “Ma, Jessica punya pandangan sendiri untuk masa depan Jessica sendiri…Jessica harap mama tidak menyampurinya…” ujar Jessica begitu saja, juga tanpa judul maupun tema. “Mencampuri apa?” tanya mamanya menikmati pijitannya. Mama Alex masih menikmati pijitan anaknya yang lumayan enak tanpa merespom serius apa yang dikatakan Alex. “Mama, nggak usah berlagak nggak tau gitu deh, Alex tau sikap orang yang berlagak nggak tau apa-apa tapi sebenarnya punya rencana besar. Iya, kan!?” yakin Alex. “Kamu ini kenapa sih? Tingkah kamu aneh banget.” kata mamanya. “Mama jujur! mama mau menjodohkan Alex, kan?!” seru Alex yakin memutuskan sesuatu. “Hah?! Siapa yang mau menjodohkan kamu… lagian mau dijodohkan ama siapa coba?” jawab mamanya yang ternyata meleset dari perkiraan Alex. Seketika Alex menghentikan pijitannya. “Loh, kok berhenti. Ayo lanjut. Mumpung mama terasa enakan kamu pijitin.” Ucap mamanya. Dengan memejamkan bertanda mamanya bener-bener menikmatinya, Alex merasa malu sendiri karena dugaan yang biasa terjadi kalo ada hubungan antar orang tua. Sementara Jessica belum menyelesaikan maksudnya, sembari memijat dia mulai memberanikan diri untuk mengatakan apa isi hatinya. “Jessica nggak mau ma, kalau masalah ini mama ikut campur. Ma, jodoh itu nggak kemana, kalau udah jodoh dan pasangannya, ya udah itu aja, jangan pake acara dijodoh-jodohin gitu…jodoh kok dipaksa” cerocos Jessica tanpa memberi kesempatan mamanya bicara, sehingga mamanya ikut kaget Jessica berkata kayak gitu. “Emang siapa yang mau jodohin kamu, sayang…? Mama aja nikah sama papa kamu nggak pake perjodohan, masa sama anak sendiri harus pake dijodoh-jodohin segala. Kamu ini ada-ada aja.” Ujar mamanya yang membuat Jessica juga langsung menghentikan pijitannya, dia juga merasa malu sendiri tapi untung aja mamanya belum menyadari hal tersebut. “Bener ma?” pelotot Jessica yang langsung membalik bahu mamanya kearahnya dengan sergap. “Aduh, kamu ini ngomong apa? Mama nggak ngerti maksud kamu.” Mamanya langsung menyela tangan Jessica yang memegang bahunya. “Jadi, mama nggak pernah punya ada niat untuk jodohin Jessica sama…” kata Jessica terputus untuk meyakinkan. “Kamu itu ada-ada aja.” Sahut mamanya. “ayo pijitin lagi.” Tambah mamanya sambil memijat kecil bahunya menunjukkan bagian itu yang terasa capek. Sedangkan dirumah, Alex terus memastikan hal tersebut karena dia masih ragu. “Jadi, Alex nggak dijodohin sama seseorang!?” yakin Alex terlihat srumingah. “Buat apa coba, jodoh udah ditangan Tuhan kok dipaksa.” cuek mamanya. “Ya…kan biasanya orang tua seenaknya sendiri memilihkan jodoh…” sahut Alex merendahkan suaranya dengan mencibir. “Kamu ini.” Sambar mamanya sedikit kesal mendengar Alex berbicara nglantur. “Ya, udah kalau gitu Alex nggak usah repot-repot ngrayu mama. Alex mau ke kamar dulu!” seru Alex langsung pergi begitu saja. “Eh? Mijitnya belom selesai nih?!” seru mamanya yang melihat Alex sekejap hilang dibelakang pintu. “Mama, pijit sendiri aja!” teriak Alex dari dalam. Mamanya pun hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tetep disaat yang sama, namun di rumahnya masing-masing. Jessica dan Alex merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya dengan perasaan lega, mereka sama-sama bisa bernapas tanpa sesak di d**a karena kesalah fahaman dengan nyokap mereka. Dipandangnya atap kamarnya, Alex berpikir kenapa dirinya sampai berpikir kayak gitu. Padahal udah tau pasti mereka nggak akan pernah bisa berdamai sampai kiamat mau datangpun mereka tak akan jadi satu. Pikirnya. Setelah menerawang itu, lambat laun matanya pun terpejam pelan-pelan dan tidur. ********** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN