Ternyata!!!

1676 Kata
Saat waktu senggang,Jessica menikmati santainya di ruang tengah sambil menonton televisi ditemani cemilan disampingnya. kemudian dia melihat mamanya berdandan cantik turun dari tangga. “Jessica, ikut mama yuk! Mama mau belanja. Daripada kamu nganggur dirumah.” Ujar mamanya membenahi pakaian yang dikenakannya. “Tapi Jessica masih males keluar, ma.” Sahut Jessica malas tetep memperhatikan tontonan televisinya. “Ayolah sayang..entar kalau udah disana, mama jamin kamu nggak bakal malas. Ikut ya, dari pada mama sendirian!” rayu mamanya duduk disamping putrinya yang terlihat brantakan dandanannya. Jessica pun menghela napas untuk mengiyakan mamanya yang nggak mau keluar sendirian. “Iya, deh. Kalau gitu Jessica ganti baju dulu. Tapi mama jangan ngomel kalau Jessica entar ambil barang sesuka hati loh?” Serunya sambil lalu menuju kamarnya. Jessica sebenarnya masih malas menemani mamanya belanja, tapi rasa malasnya tak begitu lama, sesampai disana rasa malasnya kemudian pudar saat dia melihat pakaian yang terpampang pada patung yang telah menarik hatinya. Segera Jessica menyikatnya, naluri Jessica yang paling suka belanjapun keluar. “Ma, Jessica lihat kesana dulu!” serunya berjalan dengan semangat menuju tempat lain. Dia coba segala baju yang menarik hatinya. Lari kesana kemari memilih baju yang menurutnya semua bagus. Mengambil ini itu tanpa berpikir dua kali. Beda dengan mamanya, beliau sangat teliti memilih pakaian, harus dilihat dari bahan kainnya, mutu dan kualitasnya sekaligus muatannya…nyaman atau tidaknya pakaian tersebut. Mamanya masih dapat satu baju, Jessica udah dapet tiga baju. Saat mamanya sedang asyik memperhatikan baju yang baru saja dia ambil dari deretan baju-baju, dia pampang baju tersebut, setiap sudut baju tak luput dari matanya. Sampai seriusnya dia nggak tau ada orang datang dan menyapanya. “Asih?” sapa seorang wanita yang tak jauh berbeda umurnya. Mama Jessica pun menoleh tanpa ekspresi saat itu karena dia masih terfokus pada baju yang dia bawa. “Rita!?” kejut mama Jessica diikuti dengan senyum lebar. “Ya ampun, udah lama sekali tidak bertemu! Bagaimana kabarnya sekarang? Anak kamu mana?” tanya wanita itu yang dipanggil Rita. Dandanan mereka sama ok nya meski umur dah nggak ok lagi. Hehehe, tapi mereka berdua tetep telihat bugar dan segar. Di tengah obrolan dua wanita paruh baya ini, Jessica datang menyela tanpa melihat dengan siapa mamanya sekarang. “Ma, kayaknya cocok yang mana? Yang ini atau yang ini?” sambar Jessica sambil menempelkan gaun yang warna merah disebelah kanan dan ungu disebelah kiri yang dia pilih, kemudian melihat mamanya yang nggak sendiri lagi. “Eh???” kejut Jessica yang baru sadar. “Ini putriku…Jessica namanya. Jessica kenalin, ini teman mama, tante Rita.” Ujar mamanya srumingah membuat Jessica sedikit malu karena langsung menyambar begitu aja, terlihat kurang sopan. Hehehe. “Kayaknya bagus yang sebelah kanan deh, coba kamu pakai dulu.” Kata tante Rita lembut menunjukkan gaun merah sebelah kanan yang dibawa Jessica.. “Hehe…ya tante, makasih. Jessica coba dulu…” jawab Jessica sedikit canggung karena masih malu kemudian pergi menuju kamar pas buat nyoba gaun pilihan tante tersebut.. “Anak kamu cantik juga…” ujar Rita memandang kepergian Jessica dari belakang. “Kamu bisa aja. Oh ya, kamu sendirian disini?” tanya mama Jessica. “Ya nggak dong, kalau belanja anakku selalu ikut. Nah, itu dia!” seru Rita menunjukkan seorang cowok yang baru terlihat dari deretan-deretan pakaian-pakaian. “Alex, sini.” Seru mama Alex, dengan patuh Alex segera menghampiri mamanya. “Kenalin ini teman lama mama. Namanya tante Asih.” Kenal mamanya, Alex pun tersenyum manis dengan tante tersebut. “Asih, ini putra saya. Alex.” Tambah mama Alex. Lagi-lagi Jessica langsung menyela begitu saja tanpa melihat siapa yang bersama mamanya karena sibuk memandangi dirinya sambil merapikan gaun yang dia kenakan. “Gimana ma, bagus nggak?” Jessica tetep aja belum liat depannya, dia msih tetep tertunduk melihat gaunya yang dia coba. Alex yang juga belum melihat sesosok wajah gadis itu karena tertutup rambut jatuh yang terurai, dia terpesona begitu aja tanpa tau siapa cewek itu, saat itu sama sekali Alex ternganga dan nggak berkedip melihat cewek ini. “Ma, Jessica ambil yang ini a…” ucapan Jessica terhenti kaget saat dia mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang dihadapannya. “Alex!!?” batinnya terkejut. Begitu juga Alex, dia bingung harus kaget atau terpesona melihat Jessica sangat cantik mengenakan gaun tersebut. Segera dia katupkan rahangnya. “Oh ya, Jessica kenalin ini putranya tante Rita. Namanya…” mama Jessica memutuskan ucapannya. “Alex” sambung mama Alex. “Alex, dia Jessica. Anak tante Asih.” tambah mama Alex memperkenalkan mereka berdua. Jessica dan Alex pun canggung berjabat tangan karena sebelumnya mereka belum pernah melakukannya, sehingga setelah berjabat tangan mereka menarik tangan mereka dengan cepat. Mereka nggak nyangka sama sekali orang tuanya memiliki hubungan yang baik, berbeda dengan hubungan mereka yang selalu menggemparkan dunia. Saat itu mereka sempat tertegun, nggak tau ekspresi apa yang keluar dari air muka mereka. Sama sekali tak menyangka. “Ma, Jessica ganti baju dulu.” “Ya udah, mama tunggu di tempat makan dulu aja sama tante Rita dan Alex.” Sahut mamanya yang tidak tau apa yang terjadi diantara Jessica dan Alex. “Atau…Alex anter kamu aja??” sela mama Alex. Mereka berdua langsung terbelalak mendengar tawaran tersebut. Tanpa sadar serentak mereka menolak mentah-mentah. “Nggak, nggak, nggak.” Seru mereka kompakan. Sesaat mama mereka pun saling bertatap curiga melihat tingkah anaknya seperti itu. Tak menyangka mereka duduk di satu meja yang tak pernah mereka lakukan, bayangin aja nggak pernah, apalagi setelah mereka tahu orang tua mereka adalah teman akrab. Dunia ini serasa terbalik bagi mereka. “Kamu tahu Jessica, dulu mama sama tante Rita udah kayak saudara. Dimana ada mama disitu pasti ada tante Rita.” Kata mama Jessica semangat. “Oh, ya. Kita dulu juga pernah dicari orang tua kita gara-gara kita bersembunyi di lorong tempat tidur, karena kita pernah memecahkan lampu hias dirumah kamu. Tapi bersembunyi di rumah mama.” Kata mama Alex sangat senang bertemu temannya, begitu pula mama Jessica. Mama-mama mereka sangat bahagia sekali bertemu kawan lamanya. Sementara Alex dan Jessica, mereka hanya tersenyum paksa untuk menghargai orang tuanya yang terlihat sangat bahagia. Meski orang tuanya begitu, tetap aja Alex dan Jessica melontarkan pandangan tak suka mereka. Alex pun menendang kecil kaki Jessica, lalu Jessica meliriknya kemudian menginjak kaki Alex begitu kuat tanpa mengalihkan pandangan tajamnya pada Alex. “Aow!!?” rintihnya. “Ada apa, Lex?” tanya mama Jessica begitu peduli dengannya. “Oh, nggak ada tante, kayaknya di bawah meja aja tikus got yang gigit.” Ujar Alex nglantur mringis. Orang tua mereka pun melihat dibawah meja, sedangkan Alex dan Jessica malah berdebat meraih-raih tangan menantang. “Nggak ada apa-apa tuh, kamu ini ada-ada aja.” Ucap mama Alex yang dengan sergap mereka langsung bersikap manis di hadapan mama mereka.. “Oh ya, Ta. Gimana kalau kalian kerumah ku dulu. Ya… sekedar minum teh aja. Sekalian kalau mau main ke rumahkan mudah.” tawar mama Jessica yang membuat Jessica sangat terkejut. Jessica benar-benar nggak suka kalau rumahnya di injak oleh orang yang sangat dia benci. Mama ini apa-apaan sih, ngajak kerumah segalak! kesal Jessica dalam hati. Sedangkan Alex terlihat cengengesan, dia lirik cowok itu, dia bisa menebak apa yang dipikirkan cowok ini. Raut muka Alex terlihat sangat puas bisa ke rumah Jessica, sebab dia lebih bisa leluasa mencari bahan menjaili Jessica. Sedangkan Jessica sendiri masih terus menggumam di dapur sambil membuatkan minuman untuk tamu terhormatnya. “Pasti, anak itu punya rencana busuk lagi buat bikin ulah sama gue. Apalagi sekarang dia udah tau rumah gue. Mama ini juga kenapa coba bikin acara main kesini…iiih, sebel banget gue!” gumam Jessica terus. Saat dia mengambil gula, disebelahnya ada garam. Jessica pun punya ide buat Alex. Setelah usai, dia menghantarkan minumannya. “Silakan minum tante…” ucap Jessica meletakkan minumannya dengan ramah. “Makasih sayang…” puji mama Alex. Kemudian, dengan ramah pula Jessica memberikan minuman kepada Alex yang dari tadi cengar-cengir puas. Namun dalam keramahan Jessica ada udang dibalik rempeyek. Hehehe. “Oh ya, kamu nggak pakai pembantu, Asih? Lalu siapa yang beres beres rumah ini?” tanya mama Alex penasaran karena rumahnya begitu tertata rapi, bersih, nyaman, dan terlihat membetahkan berada di rumah ini. “Yang nggak mau pembantu itu si Jessica, dia yang beres-beres rumah ini. Nggak tau kenapa anak ini nggak mau ada pembantu.” Sahut mama Jessica mengelus-elus rambut putrinya. “Wah… rajin sekali, jarang-jarang ada remaja cewek yang mau bersih-bersih sekarang. Kamu beruntung sekali Asih punya cewek yang rajin, lembut lagi.” Ujar mama Alex terlihat membangga-banggakan menantu seperti itu, tapi Alex hanya mencibir sambil mengambil gelasnya. Tiba-tiba saat meminumannya, dia langsung menyemburkan minumannya yang terasa asin banget. “Alex???!! Kamu kok nggak sopan begitu!? Maaf ya, Asih. Kadang-kadang anak ini sedikit bandel.” Kata mama Alex jadi malu, sedangkan Jessica tertawa terkekeh-kekeh tanpa suara. “Nggak apa-apa.” Sahut mama Jessica. “Minuman ini, asin banget tante.” Kata Alex to the point. “Masa sih? Alex kamu jangan ngaco ya, minuman manis kayak gini kok dibilang asin sih.” Sahut mamanya yang sedikit malu melihat perbuatan Alex. Jessica pun masih menahan gelinya melihat kejadian itu. Malam harinya, Jessica cepat-cepat kunci kamar dan mantengin laptop supaya bisa nyaman ketika sedang video call dengan Jonathan. Dan Jessica pun menceritakan semuanya lengkap kepada Jonathan. Tentu saja, Jonathan yang berada nan jauh disana menjadi sangat cemas dan kawatir jika Jessica berpaling darinya. “Apa aku harus pindah kuliah saja?” cemas Jonathan. “Tidak, itu tidak perlu. Nanti yang ada kamu dan orang tua mu bertengkar lagi. Tidak,” tolak Jessica. “Tapi, bagaimana jika kamu lebih memilih dia daripada-“ “Jon?! Please. Jangan bilang begitu. Sama sekali aku tidak tertarik sedikit pun dengan dia. Aku tetap akan memilih mu sampai kapan pun.” Jelas Jessica meyakinkan Jonathan. “Aku hanya takut kehilangan mu.” Sahut Jonathan dibalik layar. “Ingat janji kita?” Tanya Jessica berusaha meyakinkan Jontahan yang mulai ragu. Jontahan mengangguk pelan. “Kamu harus yakin dengan janji itu. Bahwa apapun yang terjadi. Kita berjuang bersama demi masa depan kita. Oke?!” Jessica berusaha terus meyakinkan Jonatha yang tak bisa berbuat apa-apa ketika kekasihnya sedang berurusan dengan cowok lain. ********** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN