Memperjuangkan

4286 Kata
Keesokan harinya di kantor, Jessica beraktifitas seperti biasa di meja kerjanya. Bagaimana pun ia harus tetap bersikap profesional setelah menandatangi kontrak. Andai saja ia tahu lebih awal kalau perusahaan ini adalah milik keluarga Alex, pasti Jessica tidak akan menerima kerjaan ini dan memilij untuk bekerja di tempat lain. Oke, demi masa depan karirnya. Ketika sedang fokus dengan pekerjaannya, Alex terlihat berjalan kearahnya bersama Monica. Dalam hati rasanya Jessica malas menyambut cowok itu, tetapi karena ada Monica, ia harus menjaga sikap. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Alex?” Jessica menawarkan diri. “Ya, tentu. Kamu dan Monica siapkan presentasi produk terbaru kita.” Jawab Alex. Bukannya bangga telah ditunjuk, Jessic amalah terlihat lebih ingin protes. “Sa-saya?? Tap-tapi kenapa harus saya?? Apa tidak terlalu baru jika saya yang harus melakukan ini?” tolak Jessica halus padahal dalam hati ingin sekali mencekik Alex yang sengaja melakukan ini. Alex pun yang seperti bisa membaca pikiran Jessica, berkata. “Justru itu yang ingin saya lihat.” Balas Alex menyembunyikan senyum kemenangannya. “So, Monic. Bantu staff baru ini untuk mempersiapkan segalanya. Beri semua bahan materinya. Saya tidak ingin ada kekurangan sedikit pun.” Jelas Alex, dengan patuh Monica hanya mengiyakan perintah Alex yang kemudian melihat Jessica sesaat sebelum akhirnya Alex melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Baik Monica maupun Jessica memperhatikan kepergian Alex, setelah dirasa cukup jauh. Monica pun berkata. “Presentasinya besok.” “Besok???” Jessica terkejut karena menurutnya ini terlalu mendadak. Monica menganggukkan kepala. Membenarkan ucapannya. “Kenapa mendadak sekali?? Kenapa tidak kemarin mengatakannya??” Jessica terlihat gugup karena perintah Alex yang seenaknya sendiri. Monica mengangkat kedua bahu. “Entahlah. Aku juga baru tahu dan dia langsung memilih mu begitu saja. Untungnya, aku tidak perlu repot-repot lagi mencari mangsa karena Pak Alex langsung menunjuk hidung.” Lega Monica yang malah membuat Jessica keberatan. Bahkan sangat keberatan namun tak berdaya oleh keadaan. Rasanya ingin sekali ia merobek-robek lalu dibakar kertas perjanjian kontrak itu. * Hari sudah hampir petang, sebelum pulang ke rumah, Jessica menyempatkan diri untuk ke toilet terlebih dahulu daripada ketika perjanalan pulang ia harus repot mencari toilet. Tak sengaja dirinya berpapasan dengan Alex. “Kamu belum pulang?” tegur Alex. “Menurut lo?” karena suasana kantor cukup sepi dan hanya mereka berdua di tempat ini, jadi Jessica tak segan-segan bersikap tidak terlalu formal. “Mau gue anter pulang?” tawar Alex mengabaikan ucapan Jessica. Seketika mata Jessica menyipit menatap lurus ke Alex. Sementara Alex hanya diam saja diperhatikan Jessica seperti seorang penjahat. “Kenapa lo tiba-tiba baik sama gue??” selidik Jessica. “Apa lo punya rencana lagi buat balas dendam sama gue karena gue pernah menolak cinta lo??” Alex tersenyum datar. “Gue udah melupakan permusuhan kita. Apa yang terjadi di kampus dulu, enggak akan gue bawa ke kehidupan gue yang sekarang.” Terdengar bijak. “Begitu kah??” Jessica tidak percaya. “Aku akan mengantar mu pulang.” Tawar Alex lagi lebih terdengar dewasa. “Tidak Pak Alex.” Tolak Jessica lagi berlagak menghormati atasannya. “Ini perintah. Bukan tawaran.” Ucap lugas Alex yang mampu membuat Jessica terdiam dan mematuhi perintah tersebut. Namun terbesit dalam benak Jessica akan sesuatu, lalu ia berkata. “Kalau pun gue mau lo anterin pulang. Bukan berarti lo bisa berbuat semau lo. Ngerti.” Kecam Jessica yang memberi peringatan sejak awal kepada Alex. Sebab ia tidak ingin memberi celah sedikit pun untuk Alex hadir di tengah hatinya antara Jonathan dan dirinya. Alex tidak menjawab, ia hanya tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya. Di tengah perjalan, suasana terasa hening lalu Alex berusaha mencairkan suasana, setidaknya bisa menghibur Jessica. “Aku seperti sudah lapar. Kamu ingin makan sesuatu?” Tanya Alex meski nantinya ia tahu akan ditolak lagi oleh Jessica. “Aku ingin memakan sesuatu yang enak dan lezat.” Jawab datar Jessica sembari menatap lurus ke jalan. Alex cukup dibuat kaget karena Jessica tidak menolak. Lalu ia pun membawanya ke salah satu restoran mewah milik keluarganya. “Kemarin kita bertemu disini dan belum sempat makan bersama sebab ada Monica. Jadi sekarang aku akan mengajak mu makan malam disini.” Ujar Alex. “Apa maksud kamu ini sedang mengajak ku berkencan terselubung??” delik Jessica tidak ingin terkecoh begitu saja. Alex tersenyum lebar, tak menyangka Jessica begitu was-was dengan Alex. “Apapun itu, kamu dan aku sama-sama merasa lapar. Jadi aku mengajak kamu makan.” Ujar Alex lebih bijak. Sesampainya di restauran, mereka diarahkan masuk kedalam ruangan yang lebih privat seperti ruangan VIP. “Kenapa kita masuk kesini?” Jessica merasa tak enak hati karena untuk masuk saja pasti sudah membayar mahal. “Aku rasa ini berlebihan. Sebaiknya kita duduk di meja dengan customer lainnya.” Imbuhnya. Alex tersenyum datar. “Tenang, aku Tidak akan memotong gaji mu untuk ini.” Sindirnya membuat Jessica melirik kesal Alex. Awas aja jika sampai ada potongan gaji karena makan disini. Batin Jessica. Sambil menunggu makanan datang, Alex pun mengajak mengobrol ringan. “Ada beberapa hal yang harus kamu tahu.” Ucap Alex san Jessica seperti siap mendengarkannya. “Pertama, jika di kantor jangan menganggap kita adalah teman kuliah dulu.” “Wait, apa?” potong Jessica. “Teman kuliah??” menatap aneh ke Alex. “Yang ada adalah musuh bebuyutan.” Jessica memperjelas, supaya Alex tidak kepedean. Alex menghela napas kemudian melanjutkan ucapannya. “Kedua, jangan campurkan urusan kantor dengan urusan diluar kantor.” Jelas Alex. “Sebentar-sebentar, apa kamu sedang mendekte ku? Apa ini maksud kamu mengajak ku makan malam??” tanya Jessica memastikan penuh selidik. Alex berpikir sejenak.“Anggap saja seperti itu jika itu yang kamu tangkap.” Jessica membuka bibir tak percaya. Ia merasa hidupnya sekarang dibawah kendali Alex. Mata Jessica melebar dan berniat protes, tidak tahunya pelayan datang mempersilahkan diri untuk masuk dan membawakan cukup banyak makanan untuk mereka berdua. Tentu hal itu telah mengalihkan dunia Jessica. Aroma masakan yang begitu lezat sudah sangat menggiurkan. Jessica tersenyum setelah pelayan pergi dan ia tak sabar untuk menghabiskan semua makanan ini. Segera ia mencicipi makanan di meja, sampai beberapa menit kemudian ia teringat dengan perbincangan dengan Alex. “Jangan pernah mencari kesempatan dalam ketidak perdayaan ku karena kontrak kerja yang sudah mengikat ku.” Sela Jessica ditengah santapannya. “Dan jangan asal menondong ku dengan tugas-tugas di luar wewenang ku. Aku anggap makan malam ini adalah permintaan maaf mu.” Tegasnya menjunjung tinggi harga dirinya seperti ketika kuliah dulu. “Kita lihat saja nanti, seberapa besar usaha kamu itu.” Sahut Alex juga menikmati makanannya. “Karena ini diluar jam kantor. Tentu aku boleh menanyakan sesuatu.” Ucap Jessica menghentikan makannya, dan fokus menatap Alex. “Apa itu?” Alex melahap sepotong steak. “Jangan pernah berharap kita menjalin hubungan apalagi berpacaran.” Jessica mempertegas. “Kamu tahu bahwa aku sangat mencintai Jonathan dan tidak ingin hubungan ku kacau dengan kemunculan mu ini. Aku tidak ingin menyakiti hati siapa pun.” Lanjutnya. “Tapi kamu sudah menyakiti ku.” Sela Alex jujur merasa tersakiti ketika cintanya di tolak. Sesaat mata mereka saling bertemu. Kemudian Jessica cepat-cepat mengalihkan perhatiannya. “Bukan kah sejak pertemuan kita, kita sudah saling menyakiti dan hampir perang setiap kali bertemu? Jadi, aku rasa kamu sudah terbiasa tersakiti.” Ujar Jessica kemudian kembali melahap santapan makan malamnya. Alex mangguk-mangguk seolah memberi respon yang tidak terbaca, antara menilai makanannya atau merasakan sakit yang berbeda. “Aku tidak bisa menahan diri ku untuk tidak mencintai mu.” Ucap Alex terus terang. Mata Jessica menatap Alex. “Kamu ini.” Jessica benar-benar dibuat emosi. “seharusnya aku tidak pernah berpikir kalau kamu itu orang yang baik.” Sesalnya. “Apa salahku? Aku hanya mengutarakan isi hati ku dan aku tidak masalah jika kamu tidak siap untuk menerima ku. Tetapi kamu tidak bisa melarang ku untuk mencintai mu.” Sahut Alex terima jika dirinya harus bertepuk sebelah tangan. Pertengkaran mereka membuat tak sadar kalau mereka sudah menghabiskan semua hidangan di meja. Dan mereka baru berhenti berdebat ketika merasakan perut mereka kekenyangan. Napas Jessica kembang kempis sambil menatap Alex dengan kesalnya. “Kenapa menatap ku seperti itu? Apa kamu ingin membayar semua makanan ini?” sindir Alex. Jessica tentu tidak menjawab. Dalam benaknya dia tidak waras apa jika dia harus membayar semua ini. Bisa-bisa dirinya akan berpuasa selama tiga bulan. “Apa kamu masih mau makan lagi?” tanya Alex yang masih setengah kesal juga dengan Jessica. “Kamu pikir aku serakus itu?” ketus Jessica. Alex melihat semua hidangan habis tak tersisa, lalu berkata. “Seperti tidak perlu dijawab.” Alex sedikit terlihat tersenyum tipis. Sedangkan Jessica hanya memamerkan wajah kecutnya. Dalam hati bicara sayang sekali makanan semahal dan seenak ini disia-siakan. * Keesokan harinya di kantor tak sengaja Jessica bertemu Alex didalam lift. Hanya mereka berdua. Beberapa saat suasana hening, sebelum akhirnya Jessica berkata. “Thanks” Alex yang sadar tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua, ia pun menoleh kearah Jessica. “Terima kasih untuk apa?” tanya Alex. “Makan malam itu.” Jawab singkat Jessica. “Oh.” Alex baru tersadar. “itu untuk perayaan pertemanan kita. Aku menganggap malam itu adalah malam perdamaian kita.” Ujar Alex. “Apa? Aku tidak merasa seperti itu? Aku berterima kasih karena semalam aku tidak perlu kelaparan di tengah jalan.” Tandas Jessica tidak sependapat dengan Alex. “sama sekali aku tidak kepikiran tentang pertemanan atau perdamaian atau apalah itu. Tidak sama sekali.” Imbuhnya mempertegas. “Begitu kah?” Alex memastikan dengan senyum ramah tanpa marah sedikit pun. Bahkan Alex yang dulu mudah terpancing emosi seperti sudah menghilang jauh dari dirinya. Hampir semenjak Jessica bekerja disini tidak melihat Alex marah atau nyolot kepada Jessica seperti ketika kuliah dulu. “Iya. Dan jangan membuat ku pusing dengan tingkah mu yang tiba-tiba seperti air dan api.” Delik Jessica yang membuat Alex tidak mengerti. “Apa maksud dari ucapan kamu?” “Entah apa yang sudah mencuci otak mu sehingga kamu bersikap seperti ini kepada ku.” Jelas Jessica. Alex hanya mengernyitkan kening belum mengerti maksud Jessica. “Kamu tahu, rasanya aneh jika kamu terlalu bersikap manis dan sok ramah ke pada ku. Mengerti” Jessica menyipitkan pandangannya. “rasanya aku ingin tahu dimana tempat kamu mencuci otak mu itu.” Lanjutnya. Bukannya merasa emosi, Alex malah tersenyum geli disana. “Apa perlu aku katakan lagi apa alasan ku bertigkah seperti ini?” tanya Alex membuat Jessica berpikir sejenak dan pasti akan membahas bualan tentang cinta. “Ah, tidak. Tidak perlu. Aku tidak mau pusing dengan ucapan yang penuh racun itu.” Tolak Jessica sebelum Alex mengatakan pendapatnya. “Kenapa? Apa kamu takut jatuh cinta kepada ku?” pede Alex. Jessica mendongakkan kepala dengan kesal sambil menghela napas seolah tidak mau mendengar ucapan cinta dari mulut Alex. “Oh, come on. Apa kamu berusaha merusak hubungan ku dengan Jonathan??” tanya Jessica to the point. “Tidak.” Jawab Alex enteng. “Lalu apa ini??? Kenapa kamu mencoba merayu ku??” tandas Jessica dibuat emosi sendiri. “Rasanya lama-lama berada disini membuat ku kesulitan bernapas.” Gerutunya yang terdengar hingga ketelinga Alex. “Apa kamu butuh napas buatan??” goda Alex yang kemudian langsung di timpuk tas oleh Jessica. “Aku akan membunuh mu jika kamu terus saja bicara.” Kecam Jessica memukul-mukul lengan Alex dengan tas hingga tak terasa pintu lift terbuka dan beberepa orang yang berada di luar lift dibuat sedikit tercengang dengan tingkah Jessica dan Alex didalam lift. Sadar dengan tingkah mereka, baik Jessica maupun Alex seketika berubah sikap dan merapikan diri sebelum akhirnya keluar lift. Lalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. * Monica masuk ke meja Jessica dengan membawa beberapa dokumen. “Apa ini?” tanya Jessica melihat Monica meletakkan dokumen tersebut diatas mejanya. “Ini yang harus kamu pahami sebelum kita mengadakan pertemuan di Singapore.” Jelas Monica yang menjatuhkan tubuhnya diatas kursi empuk melepas penat. “Oh…” Jessica mangguk-mangguk beberapa saat, kemudian tersadar dengan kata Monica barusan. “Apa? Kita?” ia tidak begitu mengerti. Monica yang sedang memperhatikan kuku-kuku indahnya menjawab. “Iya, kita.” Tetap fokus dengan kuku-kukunya. “Maksud kamu?” tanya Jessica belum paham. Barulah Monica melempar pandangan sedikit sinis. “Iya. Kamu, aku dan Pak Alex. Siapa lagi?” jawab Monica enteng. “Aku tidak sabar menanti hari esok.” Girang Monica. Lalu ia melihat Jessica dengan penuh peringatan. “Dan kamu, kalau sudah di Singapore jangan coba-coba untuk bersenang-senang.” Tandas Monica. “Karena kamu harus fokus dengan pekerjaan kamu disana. Jangan menganggap kalau esok itu liburan. Mengerti.” Monica memberi peringatan. Dia tidak sudi jika anak junior bersenang-senang jika ditugaskan bersama dirinya. “Wait.” Protes Jessica. “Me?” kedua tangan Jessica mengarah kepada dirinya sendiri. Monica yang tak mengerti hanya melirik kanan kiri lalu menganggukkan kepala. “why me?” protes Jessica. Monica melihatnya aneh, seharusnya Jessica senang kenapa dirinya terlihat tidak suka. “What's wrong with you?” Monica menggelengkan kepala lalu bangkit dari duduknya kemudian angkat kaki dari meja Jessica. Jessica membuang napas kesal. Ada apa dengan orang itu. Kenapa harus dirinya yang ikut dengannya? Apa tidak ada staf lainnya? Kenapa dimana-mana harus bersama pria itu? Sudah menghabiskan waktu kuliah bersama, satu kantor pula, parahnya lagi dia adalah bos-nya, dan dia selalu menyeret Jessica kedalam lubang yang sama. Huft, sebenarnya apa maunya pria itu. Jessica bangkit dari duduknya berniat menuju ruangan Alex untuk protes. Sangking emosinya, Jessica sampai lupa tidak mengetuk pintu ketika masuk ruangan Alex. “Apa maksud semua ini?” protes Jessica setelah menutup pintunya rapat-rapat. Alex yang duduk di meja kebesarannya tidak merespon apapun mendengar pertanyaan Jessica. “Apa tidak cukup Monica saja yang ikut kamu ke Singapore? Kenapa harus aku juga?” protesnya di tengah ruangan seolah enggan untuk duduk. Alex yang terlihat tenang hanya menyandarkan tubuhnya di kursi. Lalu berkata. “Apa kamu lupa disini kamu sebagai marketing? Yang mana kamu mewakili bagian marketing disini untuk menghadiri pertemuan tersebut. Dan apakah itu tugas Monica? Monica mewakili diriku karena dia asistenku. Dan kamu?” Alex berbalik mempertanyakan posisi Jessica. Jessica menarik napas panjang membetulkan ucapan Alex itu meski tidak mudah menerimanya. Melihat Jessica yang mematung ditengah ruangannya, membuat Alex berdiri lalu berjalan kearah Jessica dengan tatapan dingin. “Entah apa yang ada di kepala mu sehingga kamu marah karena aku menunjuk mu untuk hadir dalam pertemuan itu. Apa ruginya?” tanya Alex berhenti tepat dihadapan Jessica. “bisa kamu menjawabnya?” Jessica menelan saliva ketika mereka berjarak kurang dari satu meter. Parfum mahal Alex sampai bisa menembus lubang hidung Jessica sehingga membuatnya terbuai dalam sesaat. “It-itu karena…Karena…” mata Jessica berkeliaran tak berani menatap Alex seperti tadi. Sedangkan Alex terlihat menantang Jessica dengan tatapan yang begitu menggoda. “Ada apa? Kemana keberanian mu, Singkong?”Alex maju selangkah sehingga jarak mereka menjadi lebih dekat. Sadar akan hal itu, Jessica memundurkan kakinya supaya tidak semakin dekat. “Karena apa, Singkong? Kenapa kamu begitu sangat marah?” “Itu karena kamu selalu ada dimana-mana.” Jessica keceplosan. Alex mengerutkan kening. “Apa yang salah dengan diriku?” Jessica bingung harus menjelaskan bagaimana sebab tidak ada yang salah dengan Alex. Tapi entah dirinya merasa tidak karuan jika melihat Alex. Alex terus melangkahkan kakinya sehingga membuat Jessica berjalan mundur. “Sebaiknya kamu simpan tenaga mu untuk besok.” Tubuh Jessica terhenti karena ia sudah menabrak dinding sebelah pintu. Rasanya tenggorokan kering sehingga ia tak bisa berkata apa-apa. “Dan…” Alex semakin mendekatkan wajahnya “ketik pintu dulu, sebelum masuk.” Lanjutnya membukakan pintu keluar untuk Jessica. Jantung Jessica rasanya ingin meledak saat itu juga. Ia pun sesegera mungkin keluar ruangan dengan hati yang bercampur aduk tak karuan bahkan ia tidak bisa mendefinisikan emosinya saat ini. Lebih baik ia menjaga jarak dengan Alex. Perang batinnya yang membuat jantungnya berdebar. * Pagi ini Monica sudah berada di bandara dan siap terbang ke Singapura. Ia awalnya tidak peduli dengan Jessica yang belum juga datang sebab dirinya tidak mau sampai ketinggalan pesawat. Yang terpenting, dirinya sudah datang sesuai jadwal penerbangan. Toh, Jessica bukanlah anak kecil yang harus diingatkan. Tetapi setelah dipikir-pikir ketidakpedulian-nya nanti malah menjadi boomerang. Pasti Alex akan membuatnya lebih kerepotan. Ah, tidak. Niat Monica kan setengah ingin berlibur juga. Jika ada Jessica itu akan sangat membantu meringankan beban pekerjaannya. Cepat-cepat dia mengambil ponsel di tas lalu menghubungi Jessica. Sementara Jessica sendiri masih bermalas-malas di rumah. Ia sengaja tidak mengaktifkan ponsel, karena ingin hari liburnya rebahan saja di rumah. Tetapi karena pertemuan yang menyebalkan itu, dirinya diharuskan bekerja. Huft. Kenapa tidak ada yang membuat hari liburnya menjadi hari libur yang menyenangkan? Gerutunya sendiri didalam hati. Kemudian ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul tujuh, sementara pesawat akan berangkat pukul sembilan. Terbesit dalam benak Jessica apa sebaiknya dirinya kabur saja. Mungkin lari pagi atau pergi ke taman yang mana dirinya tidak berada didalam rumah sehingga Alex tidak menemukan dirinya. Masalah sanksi, ya sudahlah. Jessica siap menanggung. Toh, dirinya juga tidak ingin melihat Alex untuk beberapa waktu ke depan. Bergegas Jessica mengganti pakaian olah raga. Dan setelah selesai, dirinya diam-diam mengintip rumah sebelah. Berharap Alex tidak menyadari pelarian dirinya. Setelah dirasa aman dan tidak akan ketahuan. Pelan-pelan Jessica keluar lalu mengunci pintunya dan cepat-cepat berlari pergi meninggalkan rumahnya. Terlintas sesaat dalam benak Jessica, kenapa dirinya seperti buronan ketika keluar dari rumahnya sendiri. Tapi, ya sudahlah. Yang terpenting untuk beberapa hari kedepan ini dirinya tidak akan melihat wajah Alex. Tersenyum lega. Sudah pukul setengah sembilan.Monica mulai bersiap untuk masuk kedalam pesawat. Tak lama ponsel Monica berdering. Ia pun segera mengangkatnya. “Ya, Pak Alex?” “Apa kalian sudah masuk kedalam pesawat?” tanya Alex dibalik telelpon. Monica memejamkan mata. Ternyata perkiraannya benar. Pasti bos-nya akan memastikan semua tidak ada masalah. “Emh…sampai sekarang Jessica belum datang juga. Dan ini saya sudah akan bersiap masuk kedalam pesawat. Saya sudah menghubunginya namun ponselnya tidak aktif.” Jelas Monica apa adanya. Alex terdiam sejenak di jok belakang mobil yang sedang melaju. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir jernih. “Kalau begitu, kamu berangkat saja.” Perintahnya kemudian menutup teleponnya. Dan benar yang dikatakan Monica, ponsel Jessica tidak aktif.“Kita kembali dulu.” Perintah Alex kepada sopirnya. * Alex pun mendatangi rumah Jessica dengan berpakaian rapi. Tetapi bukannya bertemu dengan Jessica tetapi malah betemu dengan mama Jessica. “Alex?” mama Jessica cukup terkejut melihat penampilan Alex. “Pagi tante.” Tegur sapa Alex. “Tante pangkling melihat kamu sayang.” Ucap mama Jessica. “Kamu mencari Jessica?” tebak beliau. “Iya, tan.” Jawab Alex. “Karena ini hari libur, Jessica tadi pamit jogging.” Jelas beliau. “Jogging??” Alex meyakinkan diri. “Iya.” Jawab mama pasti sebab tadi Jessica mengenakan setelahn olah raga “Apa Jessica tidak bilang kalau hari ini ada tugas Jessica ke Singapura?” tanya Alex. “Singapura??” mama Jessica bingung kemudian mempersilahkan Alex masuk supaya bisa ngobrol sambil duduk dan minum teh. Alex menceritakan kalau Jessica bekerja di perusahaan yang dikelola oleh keluarga besar Alex. Dan betapa terkejut sekaligus bangga mendengar hal tersebut tetapi ada rasa kesal sebab Jessica tidak menceritakan hal ini. “Anak itu, dia tidak cerita sama tante kalau bekerja di perusahaan yang kamu kelola. Maaf kan tante, sayang.” Ucap mama Jessica. “Tidak masalah, te.” Sahut sopan Alex. “Kalau begitu, mama coba hubungi Jessica biar cepat pulang.” Ujar mama Jessica mengambil ponselnya. “Tidak perlu, te. Saya susul saja ke tempat Jessica jogging.” Cegah Alex. “Begitu?” “Iya, te. Nanti supaya bisa langsung berangkat.” Balas Alex. “Lalu pakaian-pakaiannya dan barang-barang Jess yang lain?” tanya mama Jessica. “Tidak perlu repot-repot, te. Kantor sudah menfasilitasi semuanya apalagi ada Alex, pasti semua terjamin.” Ujar Alex membuat mama Jessica merasa lega dan tenang. “Kalau begitu, tante titip Jessica. Kamu jewer saja jika anak itu bandel.” Ucap beliau. Setelah lari-lari cukup jauh, Jessica kemudian berhenti untuk istirahat di sebuah kursi panjang yang berada di taman kota. Jessica meregangkan otot-otot supaya lebih lemas dan rileks. Ditengah istirahatnya, Jessica dikejutkan dengan suara yang familiar. “Have fun, huh?” singgung Alex yang duduk tiba-tiba di sebelah Alex. Mata Jessica seakan ingin lepas dari peradaban melihat sesosok pria yang tak ingin ia lihat untuk sementara waktu. “Ka-kamu???” kejut Jessica serangan mati. “Kamu benar-benar telah membuang waktu ku sia-sia.” Tegur Alex yang kesal. “Bagaimana bisa kamu menyusul ku kesini?!” Jessica mengalihkan pembicaraan. Alex menghela napas penuh kekesalan. “Apa kamu lupa tentang kontrak kerja kamu.” Menatap kesal Jessica. “aku adalah bos mu.” Tekannya. Jessica menaikan bola matanya. Oh, tentu saja. Ia hampir lupa diri. “Kenapa kamu tidak berangkat ke bandara dari pagi tapi malah…” Alex memperhatikan pakaian olah raga yang dikenakan Jessica. “Sudah saya katakan kalau saya tidak ingin ikut ke Singapore. Silahkan saja sanksi saya.” Tantang Jessica. “Oh jika itu yang kamu mau. Aku akan panggil pengacara ku untuk membuat laporan tentang staf yang menantang ku supaya hukum saja yang bertindak. Karena aku sudah muak dengan alasan mu.” Ancam Alex yang mampu membuat Jessica hampir terkena serangan jantung. “toh, mama kamu pasti akan sangat kecewa dengan mu.” Imbuhnya membuat Jessica tidak mengerti. “Mama??” bingung Jessica. “Aku tadi ke rumah kamu dan bertemu dengan mama kamu. Ternyata kamu tidak bicara apa-apa tentang perkerjaan kamu.” Jelas Alex. “Jadi terpaksa aku memberitahu mama kamu.” Jessica terkejut setengah mati. “Elllooo!!!” rasanya Jessica ingin mencekik Alex. “Apa yang bisa aku lakukan?? Kamu yang memulai semua ini. Jika saja kamu tepat waktu dan tidak mearikan diri seperti ini. Maka aku tidak akan menjemput mu sekarang.” Jelas Alex membuat Jessica diam seribu bahasa. “Jadi jangan sampai mama kamu mendengar jika hukum yang bicara maka tidak akan ada yang bisa menolong kamu, apalagi kamu telah mengecewakan mama kamu karena menyembunyikan semua ini.” Tandas Alex. “So, kamu mau berangkat atau kamu tetap tinggal?” Alex memberi pilihan terakhir. Jessica menarik napas panjang. Bayangannya tentang hidup tenang tanpa melihat Alex ini sirna sudah. Jika ia tetap egois maka itu akan sangat merugikan dirinya. Karena dasar alasan bukan karena Alex yang bersikap tidak adil atau bersikap jahat kepada staf-nya, tapi dasar alasannya Jessica hanya tidak ingin melihat Alex untuk beberapa waktu. Sungguh tidak profesional. “Aku…aku akan bersiap-siap dulu…” ucapan Jessica pasrah. Alex yang sudah kehilangan kesabaran, memilih meraih tangan Jessica lalu menarik tangan wanita itu dan menggelandangnya menuju mobil. “Aku tidak akan memberi mu kesempatan untuk kabur lagi.” Lugas Alex. “Tap-tapi aku harus membawa baju ganti.” Sahut Jessica. “Aku tidak peduli.” Ucap Alex dingin tanpa menengok ke belakang, ia memasukkan Jessica kedalam mobil bersamanya di jok penumpang. Setelah mobil berjalan, barulah Alex melepas pergelangan tangan Jessica. Sedangkan wanita itu hanya melirik kesal Alex sambil mengelus-elus pergelangan tangannya. * Alex yang berjalan menuju ke sebuah pesawat yang berukuran tak begitu besar, berjalan dengan acuhnya dan tak peduli dengan Jessica yang mengekor hanya mengenakan pakaian olah raga. Sungguh, terlalu. Untung saja Jessica membawa dompetnya sehingga dia nanti bisa membeli beberapa baju ganti jika sudah sampai. Mata Jessica terbelalak berdecak kagum melihat isi pesawat. Apakah ini yang dinamakan pesawat pribadi. Bibir Jessica sampai tidak bisa tertutup. Ia masuk kedalam pesawat sambil menyebarkan pandangannya ke setiap sudut ruang pesawat. Sungguh mewah. Kemudian ia dipersilahkan duduk oleh seorang pramugari cantik. Pesawat pun lepas landas, Jessica yang duduk tenang di kursinya dihampiri seorang pria yang berlagak perempuan dan seorang wanita yang berpenampilan sangat fashionable. Mereka berdua memperhatikan penampilan Jessica dari atas sampai bawah seolah sedang mencari hal istimewa pada diri Jessica. Sedangkan Jessica sendiri hanya melihat dengan tatapan tidak enak. Berpikir apa yang salah dengan dirinya. “Jangan buang-buang waktuku.” Seru Alex membubarkan pengamatan mereka. “kalian tahu seleraku dan aku ingin semua sesuai sebelum pesawat turun.” Imbuhnya tegas. Kedua orang itu saling pandang kemudian meregangkan otot-otot jemarinya lalu mulai make over Jessica. “Eh, apa yang kalian lakukan?” bingung Jessica waspada. Namun ucapannya tidak digubris. Dan mereka berdua leluasa menyentuh wajah dan rambut Jessica. Sesekali Jessica menolak, namun mereka memperingati Jessica dengan pandangan sedikit menegur. “Jika kamu ingin cepat selesai. Lebih baik diam dan tenang.” Tegur pria gemulai tersebut dengan sopan. Suka tidak suka, Jessica akhirnya menyerah dan memilih pasrah wajah dan mukanya telah dijajah. Sementara Alex yang sibuk dengan laptop nya sesekali memperhatikan Jessica dengan tersenyum tipis. Entah sudah berapa lama kedua orang ini menata tampilan Jessica. Dan sekarang rambut Jessica sudah terlihat tatanan rambut kepang fishtail dalam gaya crown braid . Dan gaya rambut itu sangat cocok dengan paras Jessica sehingga mampu mencuri perhatian setiap orang yang mmemandangnya. Tak terkecuali Alex sekalipun. Padahal masih setengah dandanan saja, Alex sudah bisa menilai betapa mengagumkan wanita ini. Designer wanita mulai memilah-milah gaun yang pas untuk menyempurnakan penampilan Jessica. “Aku suka yang itu.” Seru Alex menunjuk gaun bewarna lavender. “Ini?” wanita tersebut menunjukkan kepada Alex yang mengangguk. “Ok, we will see.” Balas wanita itu membawanya kepada Jessica. “Cobalah pakai yang ini.” Pinta wanita kepada Jessica yang hanya menatap tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dengan patuh Jessica menerima gaun itu dan berniat untuk bangkit menuju kamar kecil untuk ganti pakaian. Tak butuh waktu lama, Jessica keluar bak menjelma sebagai bidadari. Gaun pilihan Alex benar-benar menyempurnakan sesosok wanita yang sebenarnya menyebalkan menjadi wanita yang berkelas dan elegan. Dengan mengenakan lace dress berwarna biru dengan panjang sedikit diatas lutut memamerkan kaki jenjang Jessica yang mulus menambah kesan yang mengooda. Apalagi warna biru akan serasi dengan warna langit pada momen hari yang cerah. Mata terpanah dan senyum kagum pun tak mampu lagi Alex sembunyikan. Dan itu membuat pipi Jessica merah merona bak tomat. Sebab ia menyadari kalau dirinya tidak pernah merasa bisa secantik ini. Oh, sungguh. Bahkan Jessica kagum dengan dirinya sendiri untuk pertama kalinya. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN