Di hari pertamanya kerja, Jessica ingin bekerja dengan giat supaya dirinya lebih cepat memahami pekerjaannya.
Ketika sedang sibuk membuka-buka dokumen, Monica datang ke mejanya membawa berkas.
“Selesaikan laporan ini, saya ingin semuanya tertata rapi lalu serahkan kepada ku.” Titahnya yang dianggukin oleh Jessica. “dan ya, satu lagi. Hari ini kamu akan pulang terlambat jadi jangan buang-buang waktu mu jika tidak ingin pulang kemalaman.” Jelasnnya kemudian hengkang pergi meninggalkan Jessica yang hanya diam seperti anak kucing.
Jessica menarik napas panjang seolah mencari tenaga ekstra untuk lembur di hari pertamanya kerja. “Oke.” Menyemengati dirinya sendiri.
*
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam petang dan Jessica masih sibuk didepan komputer. Bahkan di tengah kesibukannya ponselnya berdering dan muncul nama Jonathan disana, Jessica tidak bisa menerima telpon tersebut. “Maafkan aku Jonathan, akan aku telepon balik setelah pulang kerja.” Gumamnya sendiri dengan jari-jari yang masih sibuk didepan komputer.
Dan akhirnya, pukul tujuh malam lebih lima belas menit. Pekerjaan Jessica selesai. “Huuft.” Menyandarkan diri di sandaran kursi. Ia mengambil segelas minuman di meja untuk melegakan dahaga di kerongkongan keringnya. Kemudian mengambil ponsel untuk menelepon Jonathan sebelum keluar kantor.
“Hei.” Sapa Jessica ketika ketika teleponnya sudah tersambung.
“Hei. Kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku tadi?” tanya Jonathan.
“Maaf. Hari ini hari pertama ku bekerja dan banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Jawab Jessica dengan nada suara yang terdengar lelah.
“Sudah makan?” tanya Jonathan penuh perhatian.
“Setelah aku pulang, aku akan segera makan nanti.”
“Memangnya kamu dimana sekarang?” penasaran Jonathan.
“Masih di kantor. Aku akan pulang setelah ini.” Jawab Jessica.
“Baiklah. Segera pulang dan istirahat. Aku enggak mau kamu sakit.” Ucap Jonathan dibalik telepon.
“Iya. Sebentar lagi ak-.” Ucapan Jessica terputus ketika mendengar suara berdehem dibelakangnya, kemudian ia berbalik badan mencari tahu suara siapa itu.
Seketika mata Jessica melebar melihat sesosok lelaki yang sedang berdiri di belakangnya, begitu pula lelaki itu. Hingga Jessica segera mematikan sambungan teleponnya tanpa berpamitan terlebih dulu.
“Alex???” ucap Jessica yang terkejut melihat Alex berada di kantor ini.
Tak kalah mengejutkan juga ketika ia berniat menegur staf yang tak kunjung pulang dengan memberi isyarat dengan berdehem. Malah dirinya dibuat tak percaya bahwa staf tersebut adalah Jesica.
“Lo???” rasanya sangat tidak menyangka.
Jessica langsung bangkit dari duduknya dengan mata yang masih tak percaya. “Lo ngapain disini? Lo ngikutin gue kerja disini juga?? Lo itu kenapa jadi menguntit sih??!” cerca Jessica sangat kesal karena harus dipertemukan dengan Alex lagi yang pernah membuat hatinya kacau. Sudah hampir satu bulan lamanya Jessica berusaha melupakan semuanya tentang Alex dengan susah payah dan sekarang ketika dirinya sudah membaik, lelaki ini malah muncul lagi di hadapannya.
“Gue?? Lo salah paham, gue sudah-“ belum sampai Alex menjelaskan alasannya kenapa berada disini, Jessica memilih untuk mengambil tas nya dan melenggang pergi meninggalkan Alex sendiri.
Alex tidak menghalangi kepergian Jessica, ia jadi berpikir bagaimana bisa Jessica bekerja di perusahaan om-nya ini. Sejak kapan Jessica bergabung disini.
Sementara Jessica berjalan dengan penuh sumpah serapah tak menyangka bahwa dirinya satu kantor dengan Alex. Apa dia memata-matai ku sepanjang waktu hingga dia tahu kalau Jessica mendapatkan pekerjaan disini. Kesal Jessica didalam hati. Sangat menyebalkan.
*
Sesampai di rumah pun, Jessica masih memikirkan Alex di kantor lagi. Dirinya menjadi penasaran bagaimana bisa Alex tahu kalau dirinya sekarang bekerja disana. Sangking kesalnya, Jessica hanya berteriak kesal dengan menendang dan meninju asal di tempat tidur.
“Aaaarrgghh!!!” sudah susah-susah menata hati lagi, kenapa takdir malah mempertemukan Alex lagi. Masalah percintaan selalu mmebuat Jessica pusing kepala.
“Jessica, ada apa??” tegur mamanya dari balik pintu karena mendengar teriakan Jesica tadi.
Kepala Jessica langsung menoleh kearah pintu kamarnya yang terkunci. “Enggak apa-apa mah. Cuma ada cicak terbang aja.” Sahut Jessica asal.
“Cicak terbang??” mama menggeleng-gelengkan kepala kemudian kembali beraktifitas yang lain dan tidak mengganggu Jessica yang sedang beristirahat.
*
Keesokan harinya di kantor, iseng-iseng Jessica menuju meja Monica untuk menanyakan tentang staf lain. “Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Hem?” Monica masih terus mantengi layar komputer.
“Apa ada anak baru disini selain aku?”
“Tidak.” Jawab Monica singkat dan cepat.
“Tidak?” bingung Jessica. “Anak laki-laki? Apa tidak ada staf baru laki-laki?” penasaran Jessica.
“Tidak.” Jawab Monica sama dengan terus menatap layar komputer.
“Apa kamu yakin? Sepertinya kemarin aku melihat ada anak laki-laki dengan penampilan rapi dan terlihat fresh, apa dia ti-“
Kesal terus diberi pertanyaan yang tidak penting dan mengganggu pekerjaannya Monica pun jadi naik pitam. Ia berhenti menatap layar komputer dan beralih ke Jessica.
“Tidak ada anak baru kecuali dirimu. Dan cuma kamu yang paling junior disini. Paham.” Ketus Monica membungkam mulut Jessica supaya tidak terus bertanya dengan sesuatu yang tidak terlalu penting apalagi itu diluar pekerjaan.
Jessica memasukkan bibir-nya kedalam mulut lalu tak sengaja melihat Alex berjalan kearahnya. Matanya melebar dan segera memberi kode Monica dengan menepuk-nepuk pundak Monica, ingin memberi tahu bahwa anak baru yang dia maksud adalah Alex.
Risih karena tangan Jessica terus menepuk-nepuk pundak Monica, ia pun kemudian melihat kearah Jessica dan ingin menegurnya. Namun belum sampai itu terjadi, ia melihat Alex datang dan seketika bangkit dari duduknya.
Jessica pun berkata dengan nada pelan ke arah Monica. “Orang ini yang aku mak-“
“Selamat pagi, pak Alex.” Sapa Monica ramah dengan senyum manis disana mengabaikan Jessica di sampingnya.
Jessica kian tak mengerti ketika Alex dipanggil dengan sebutan itu. Kepalanya bergantian melihat Monica lalu ke Alex. Apa yang terjadi disini? Apa dunia sedang tidak baik-baik saja? Jessica bertanya-tanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Alex mengangguk ramah kepada Monica lalu melihat ke Jessica. Monica yang paham dengan pandangan tersebut kemudian memperkenalkan Jessica kepada Alex.
“Dia staf baru disini. Namanya Jessica” Terang Monica, sedangkan Jesica masih memandang bingung situasi ini sampai-sampai dirinya kehilangan suara. “baru hari kemarin dia masuk kerja dan bergabung dengan kita. Sekarang dia dibagian marketing.” Lanjut Monica.
Alex hanya mangguk-mangguk dengan tersenyum tipis seolah Jessica tahu arti senyuman itu sedang menertawai Jesica. Kemudian Alex pun melangkah pergi tanpa berkata apapun.
Melihat Alex sudah pergi, Monica pun bernapas panjang dengan lega. Sementara Jessica bingung melihat tingkah Monica.
“Kenapa kamu seperti kehabisan napas?”
Monica melempar pandangan kesal. “Karena kamu, aku hampir saja ketahuan bergosip dengan mu.”
“Tap-tapi kan aku mau kasih tahu kalau orang itu bukannya orang baru disini juga?”
“Dia itu wakil direktur kita.” Jawab Monica lugas mengejutkan Jesica. “dia itu yang aku maksud kemarin. Jadi, kamu tidak perlu cari perhatian dengannya. Fokus kerja.” Imbuhnya.
“Ap-apa...???” Jessica sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Bagaimana mungkin sekarang dirinya bekerja dibawah naungan Alex. Kenapa takdir mempermainkan kehidupannya??? Rasanya Jessica ingin berteriak sekencang mungkin.
*
Di meja kerja, Jessica terus saja menggerutu tidak jelas, seolah mencaci maki dirinya sendiri bisa-bisanya dirinya bekerja dimana Alex adalah atasannya. Tidak. Ini sangat memalukan dan sangat menjatuhkan harga dirinya. Apa sebaiknya mengundurkan diri saja. Bergelut dengan hati nuraninya sendiri didepan layar komputer.
Kemudian telepon di mejanya berdering, segera Jessica angkat. “Hallo?”
“Jes, kamu diminta menghadap ke ruangan pak Alex.” Ucap Monica di balik telepon.
Mendengar perintah itu, mata Jessica terpejam. Sekarang dirinya terjebak didalam keadaan yang rumit.
“Baik.” Jawab Jessica malas.
Tak lama kemudian Jessica membuka pintu masuk ke ruangan Alex.
“Duduklah.” Alex mempersilahkan Jessica duduk di depan meja kerjanya.
Dengan tak bersemangat Jessica duduk disana. “Ada apa?” tanya Jessica yang bersikap tidak sopan dengan atasan.
Alex tersenyum lancip lalu berkata. “Apa seperti ini bicara dengan atasan?” singgungnya.
Seketika Jessica kena mental mendengar kalimat itu. Bagaimanapun saat ini Alex adalah atasannya. Dengan berat hati Jessica menarik napas panjang lalu berusaha bersikap seperti staf pada umumnya jika berhadapan dengan atasan.
“Iya bapak.” Tersenyum paksa. “bapak memanggil saya, ada yang bisa saya bantu??” seolah nada bicara Jessica lebih terdengar seperti tidak tulus.
“Ah, tidak. Tidak. Apa aku terlihat seperti bapak-bapak. Tidak.” Ujar Alex kemudian memikirkan sesuatu. “Ah, panggil saja Mr. Alex.” Sumeringah Alex yang seketika di timpuk dokumen yang berada di atas meja yang kemudian diarahkannya ke Alex oleh Jessica.
“Jangan macem-macem deh lo.” Ketus Jessica kesal didekte seperti anak kecil oleh Alex.
Bukannya marah Alex justru tertawa lepas. Memang kejahilan Alex terhadap Jessica tidak akan pernah berubah.
“Sekarang cepet ngomong, mau lo apaan?!” Jessica sudah tidak menggunakan tata krama lagi bicara dengan Alex, dia tidak peduli jika harus di drop out jika tutur bahasanya ditegur. Yang terpenting dirinya tidak perlu repot-repot berpura-pura.
“Gue nggak mau apa-apa dari lo. Semenjak gue nembak lo, lo tiba-tiba menghilang begitu saja. Dalam sekejab. Dan sekarang lihat, lo yang datang ke tempat gue.” Bangga Alex.
“Mana aku tahu kalau ini adalah kantor lo!” tandas Jessica dengan nada nyolot. “Kalau pun gue tahu sejak awal, perusahaan ini udah gue blacklist sejak awal. Bahkan diurutan pertama.” Imbuhnya kesal sendiri karena ia harus menutupi jantungnya yang bergetar luar biasa seolah ada genderang perang didalamnya.
“Oh ya? Pantas Tuhan mengirimkan mu kesini. Karena kamu memiliki niatan yang buruk tentang perusahaan ini.” Sahut Alex.
Jesiica tidak menjawab apa-apa kecuali dengan mimik wajah marahnya.
*
Sepulang kerja, sesampai di rumah Jessica baru bisa berteriak sekencang mungkin hingga mengejutkan mamanya yang langsung berlari melihat apa yang terjadi.
“Aaarrggghhh!!!!!!!!” teriak kesal Jessica.
“Ad-ada apa sayang?? Apa yang terjadi?? Kamu kenapa??” cemas mamanya melihat seluruh kondisi badan Jessica takut jika ada luka atau apa.
Jessica kemudian terdiam melihat mamanya yang cemas setengah mati. Kemudian wajah Jessica berubah mewek didepan mamanya. “Mamaaaa!!!!” seperti anak kecil yang kehabisan permen.
“Kamu ini kenapa???”
“Jessica ingin pindah kerja. Jessica ingin mengundurkan diri.” Seru Jesica.
“Baru dua hari kerja sudah mau mengundurkan diri??” mama bingung.
Bukannya menjawab, Jessica malah semakin mewek menjadi-jadi.
“Kamu ini ada apa? Jangan bikin mama tambah kawatir.” Mama menekankan nada bicaranya.
Seketika Jessica terdiam menatap mamanya sambil berpikir. Jika Jessica mengatakan yang sesungguhnya bukannya menyelesaikan masalah yang ada mama akan mengadakan pesta. Lalu Jessica berkata dengan nada normal seakan tidak terjadi apa-apa. “Tak apa. It’s okay. I am fine.” Sambil mencium pipi mamanya kemudian memilih hengkang untuk menuju ke kamar dan segera beristirahat lalu berkencan ria dengan Jonathan lewat video call.
*
Keesokan harinya, di lobi kantor, Monica mendapati Jessica baru saja masuk ke dalam lift. Matanya melebar dan langsung berlari menyusul Jessica supaya tidak lolos.
Untung saja masih tepat waktu, dan mereka pun naik lift bersama. Mata penuh sidik Monica pun sudah tak bisa disembunyikan lagi. Sebab seharusnya kemarin Jessica lembur tetapi Jesica malah melarikan diri.
“Masih ingat kantor, kamu?” singgung Monica penuh sidik. “Sepertinya kamu ingin bunuh diri. ” Omel Monica melampiaskan amarahnya.
“Apa hubungannya dengan ku?” tanya Jessica tidak merasa bersalah.
“What?!” kejut Monica atas respon yang ia dapat. “Kamu lupa, siapa manager HRD sekarang? Kamu atau aku?” tanya balik Monica dengan sangat kesal. “bos mana yang tidak kesal ketika disuruh lembur malah tidak bertanggung jawab. Bahkan tidak bisa dihubungi. Dan semua pekerjaan berantakan tak karuan.” Delik Monica. “kamu memang benar-benar sudah bosan hidup.”
“Maafkan aku Monica…” Jessica baru merasa bersalah.
“Tidak semudah itu memaafkan dirimu. Kamu sudah mempersulit pekerjaanku sekarang. Sebaiknya, setelah ini kamu menghadap Pak Alex.” Ketus Monica kemudian pintu lift terbuka lalu pergi berlalu.
Seperti yang sudah dikatakan Monica, Jessica pun masuk kedalam ruangan Alex. Tentu, melihat Jessica berada didalam ruangannya membuat Alex lega bercampur kesal. Namun ia berusaha bersikap datar.
“Kamu rupanya.” Tegur Alex dengan nada yang kurang enak didengar “Apa kamu ada sesuatu yang mendadak, sehingga tidak pamit ketika pulang?”
Jessica tidak menjawab, ia hanya duduk didepan meja Alex. Kemudian menyodorkan amplop coklat itu ke hadapan Alex.
“Apa ini?” mata Alex teralihkan oleh amplop tersebut.
“Maafkan saya. Saya tidak bisa menjadi staf yang diharapkan.” Sahut Jessica lembut tak berani menatap wajah Alex. “Jadi, saya memutuskan untuk mengundurkan diri.” Jessica memperjelas.
Mata dingin Alex hanya menatap Jessica yang tertunduk. Kemudian bernyimpulkan. “Jadi, kamu ingin melarikan diri dari tanggung jawab mu?”
“Tidak, Pak Alex. Saya akan tetap mempertanggung jawabkan semua yang sudah saya perbuat.” Balas Jessica.
“Ok, jika itu mau mu. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaan yang kamu tinggalkan begitu saja, kemudian mempertanggungjawabkan pinalti yang harus kamu bayar” Jelas Alex tidak main-main. “pikirkan baik-baik berapa total pinalti yang harus kamu bayar sedangkan kamu masih kategori baru disini."
Kepala Jessica terangkat sambil menelan saliva ketika mendengar deretan beban yang harus dia tanggung ketika mengundurkan diri diluar kontrak.Bisa-bisa uang tabungannya tidak akan tersisa sedikitpun tetapi malah akan menambah beban hidup yang tak berujung.
Tanpa membuka amplop coklat tersebut, Alex merobeknya menjadi dua bagian dihadapan Jessica.
“Jika kamu sudah memenuhi semua tanggung jawab mu, temui aku lagi.” Lugas Alex dengan suara yang mampu membekukan darah.
“Saya permisi, Pak Alex.” Suara Jessica terdengar lemas dan tidak bersemangat. Lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan.
Sedangkan, Alex memijat kecil keningnya karena merasa emosinya terkuras saat ini.
Baru saja Jessica kembali ke ruangannya dengan penuh beban pikiran, terutama kemarahan Jonathan ketika tahu bahwa dirinya bekerja dibawah naungan Alex. Dan dia berjanji akan segera keluar kemudian mencari pekerjaan lain. Dengan lunglai, ia duduk di kursi.
Beberapa waktu kemudian teleponnya diatas meja berbunyi. Dengan malas Jessica mengangkat telepon tersebut.
“Ya?”
“Apa kamu sudah memberikan berkas laporan terakhir kamu ke Pak Alex?” semprot Monica lewat telepon kantor sampai Jessica harus menjauhkan telinganya dari ganggang telepon.
“Belum.” Jawab Jessica pelan.
“Kamu ini bagaimana?! Ini kantor bukan kantor nenek moyang kamu. Jadi segera berikan dokumennya. Baru setelah itu kerjaan semua laporan kamu yang kamu telantarkan.” Omel Monica. “Jangan menyusahkan pekerjaanku lagi.” Kecamnya lalu menutup telepon.
Jessica pun berteriak tanpa suara karena terlalu stres menjalani hidupnya semenjak kemarahan Jonathan di videa call semalam. Seharusnya Jessica tidak perlu menceritakan kondisi pekerjaannya.
Huft. Mau tidak mau, Jessica harus menyelesaikan laporan yang diminta tadi. Ia kembali fokus ke komputer dan beberapa berkas yang berada diatas mejanya.
Setelah beberapa jam kemudian, laporan pertama Jessica selesai.Lalu ia menghubungi Monica lewat telepon kantor.
“Laporanku sudah selesai.” Ucapnya.
“Lalu?” sahut Monica dibalik telepon.
“Seseorang akan mengantar berkasnya ke ruangan mu.” Sambung Jessica.
“Untuk apa aku?” tanya balik Monica.
“Bukannya kamu yang akan membawanya kepada Pak Alex?”
“Apa? Aku?” seru Monica.
Jessica mengangguk dibalik telepon. “iya.”
“Listen to me. Aku adalah asistennya Pak Alex, orang kepercayaan Pak Alex. Jadi hanya Pak Alex lah yang ber-hak memberi perintah kepadaku. Ok.” Jelas Monica kemudian menutup teleponnya.
Jessica yang mendengar hal itu hanya menghela napas. Rasanya ia tidak ingin menemui pria itu sekarang.Kemudian ia pun memanggil anak buahnya untuk membawa dokumennya ke ruangan Pak Alex.
Beberapa saat kemudian, anak buah Jessica yang disuruh ke ruangan Alex sudah kembali ke ruangannya dengan membawa berkas.
“Cepat sekali?” tanya Jessica.
“Pak Alex ingin anda ke ruangannya. Karena dia tidak jelas dengan laporan anda.” Jawab anak buahnya kemudian pamit keluar ruangan.
Jessica memejamkan mata sejenak sembari mengambil napas dalam-dalam.
Tok, tok, tok.
Jessica masuk kedalam ruangan Alex, kemudian duduk didepan meja Alex.
“Pak Alex memanggil saya?” tanya Jessica pasrah dengan keadaan.
Alex tak langsung menjawab. Ia lihat sekilas wajah tak bersemangat dari Jessica lalu berkata. “Apa kamu memintaku membaca semua laporan kamu ini?” tanya Alex balik.
“Saya tidak bermaksud begitu.” Jawab Jessica pelan.
“Apa kamu bermaksud menghindar dariku?” kejar Alex penuh selidik.
Mata Jessica melebar, cukup terkejut mendengar ucapan Alex. “Ti-tidak seperti itu…sa-saya hanya-" Jessica bingung harus berkata apa.
“Seharusnya kamu mendapat surat peringatan.”
“Jika memang harus begitu, saya terima. Karena saya memang bersalah.” Pasrah Jessica justru membuat Alex kesal karena biasanya wanita ini selalu protes dan memberontak. Tetapi jika terlihat pasrah seperti ini, Alex merasa tidak nyaman.
“Ok, jika itu mau kamu.” Sahut Alex membuat Jessica mengernyitkan kening.
“Mau saya?” Jessica bertanya balik. “Saya sudah capek mengikuti kemauan anda.” Tanpa sadar Jessica mulai protes dan itu diam-diam membuat Alex tersenyum dalam hati.
“Lalu mau kamu apa?” Sebenarnya Alex ingin mengetahui apa alasan sesungguhnya yang dilakukan Jessica.
Jessica menarik napas pelan-pelan lalu berkata. “Saya akan jelaskan laporan saya ini-"
Karena mendapat jawaban yang tak diharapkan, Alex pun memotong pembicaraan Jessica.
“Kamu berikan saja laporan ini kepada Monica, biar dia yang mengurusnya.” Kesal Alex yang tak terlihat.
Dalam hati Jessica, pasti Monica akan marah jika mendengar hal ini. Tapi apa boleh buat, perintah tetap perintah.
Rasanya ingin sekali Jessica meremas-remas wajah Alex. Jessica yakin bahwa Alex sedang mempermainkan dirinya sekarang sebab cintanya telah ditolak oleh Jessica.
*
Alex yang berada didalam lift bersama dua orang staf lainnya dikejutkan oleh Jessica yang tiba-tiba menahan lift yang akan menutup.
Sesaat mata mereka saling bertemu ketika Jessica masuk kedalam lift, dan Jessica sedikit memberi hormat kepada Alex kemudian terdiam menunggu sampai lift terbuka kembali sesuai urutan lantai. Didalam hati Alex tersenyum melihat Jessica. Bagaimanapun Alex masih menyimpan rasa terhadap Jessica. Andai saja tidak ada Jonathan mungkin mereka berdua sudah menjalin hubungan. Sayangnya Alex kalah start, hatinya belum terketuk untuk mencintai Jessica dulu, tetapi sekarang Alex menyesal tidak dari dulu jatuh cinta kepada Jessica.
Sedangkan Jessica didalam hanya diam tertunduk tidak mau melihat tengok kanan kiri apalagi melihat Alex. Tidak. Sebaiknya dia menghindari kontak mata dengan Alex. Itu lebih baik.
Saat pintu lift terbuka, cepat-cepat Jessica keluar sebelum orang lain keluar. Dan menyelamatkan diri menghindar dari Alex. Lalu ia segera menuju mejanya. Jessica pun bisa bernapas lega.
Baru beberapa menit membuka komputernya, Monica berjalan menuju meja Jessica.
“Akhirnya aku melihat mu.” Sapa Monica duduk di depan meja Jessica.
“Senang juga bisa melihat mu, Monic.” Balas Jessica tersenyum ramah.
“Semua laporan yang terupdate sudah ada di asisten mu. Dan seharusnya kamu berterima kasih kepadaku. Karena diriku, laporan mu semua selesai.” Monica seolah menyanjung dirinya sendiri.
“Terima kasih atas semua bantuan mu , Monica. Sepertinya Aku harus mentraktir mu untuk balas budi.” Sahut Jessica.
“Tidak perlu repot-repot. Tapi katakan padaku, dengar-dengar kamu mendapatkan tugas khusus dari pak Alex, kasih tahu sedikit dong.” Monica penasaran.
Jessica terdiam sejenak, ternyata Monica bersikap baik pagi-pagi gini hanya karena ingin tahu tugas khusus yang diberikan Alex kepadanya. Padahal kenyataannya tak ada tugas khusus apapun untuk Jessica.
“Emh, begini Monica. Bukannya aku tidak mau memberi tahu kamu. Tetapi bukannya kamu tangan kanan Pak Alex, jadi tidak mungkin dia tidak memberi tahu mu. Apa kamu sedang menguji ku sekarang?” Elak Jessica berusaha bersilat lidah.
“Oh tentu, aku selalu tahu apapun yang menyangkut tentang Pak Alex.” Monica menjaga nama baiknya didepan junior.
Jessica tersenyum. “Jadi, pasti kamu tahu apa tugas khusus yang diberikan Pak Alex, aku tidak percaya kalau kamu tidak tahu. Pasti kamu sedang menguji ku.” Singgung Jessica terkekeh didalam hati. Sekali-kali mengerjai senior boleh lah ya...
Karena Monica tidak ingin terlihat seperti orang tak tahu apa-apa, ia pun mengakhiri percakapan tersebut.
“Iya, aku hanya menguji mu saja. Siapa tahu kamu orangnya suka bergosip dan membanggakan diri.” Monica menutupi rasa malunya. “Oh ya, setelah ini lanjutkan sendiri laporannya dan jangan banyak tanya.” Imbuhnya membuat Jessica menatapnya aneh. Kemudian Monica melenggang pergi meninggalkan Jesica yang menahan geli disana.
Jessica yang memperhatikannya hanya bisa geleng-geleng kepala sebelum akhirnya kembali kepada pekerjaannya sendiri.
Selang beberapa saat ganti staf lain datang ke mejanya dengan membawa setumpuk berkas.
“Apa ini, Helen?” tanya Jessica.
“Pak Alex menginginkan laporan minggu ini.” Jawab asistennya meletakkan diatas meja Jessica.
“Lalu kenapa malah kamu bawa kesini?” Jessica bertanya lagi.
“Pak Alex ingin anda mempelajarinya kemudian melaporkan kepada Pak Alex sendiri.” Jelas Helen.
“Tap-tapi ken…” Jessica berhenti berkata, percuma juga bicara dengan asistennya. “ya sudah… terima kasih.”
“Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Kenapa dia suka sekali menyusahkan gue?? Apa dia dikirim Tuhan untuk menguji kesabaran gue??? terkadang dia sangat menyebalkan seperti setan. Bisa-bisanya dia menjadi idola para cewek disini” Gerutu Jessica sendiri sambil membuka satu persatu dokumennya.
*
Tok, tok, tok.
Jessica masuk kedalam ruangan Alex dengan membawa dokumen yang tadi dia pelajari. Kemudian ia duduk di depan meja Alex.
“Senang melihat mu disini.” Ucap Alex mencairkan suasana.
Jessica mengangguk sopan kemudian meletakkan dokumen diatas meja. “Saya sudah mempelajari semuanya.” Jessica berusaha to the point.
“Bagus.” sahut Alex yang sudah punya niatan supaya bisa terus bersama dengan Jessica. Meski tidak bisa memeangkan hati Jessica setidaknya dia sudah merasa senang bisa melihat wajah cantik Jessica. Oh, ya Tuhan. Kenapa Alex baru menyadari betapa cantiknya Jessica. Alex senyum-senyum sendiri tak mampu menahan diri karena telah jatuh kedalam pesona Jessica.
"Hei, hallo??!" tangan Jessica melambai-lambai berusaha menyadarkan Alex yang dari tadi senyum-senyum sendiri. "Lo kenapa? Sakit? Ngeri gue lihat lo senyum-senyum sendiri gitu." cerca Jessica.
"Gue bayangin andai kita pacaran di dalam satu kantor." ujar Alex blak-blak an.
Mata Jessica melebar ketika mendengar ucapan Alex yang terang-terangan ini. Tetapi Jesica berusaha bersikap biasa saja.
“So?” Jessica sedikit mecondongkan kepalanya ke depan.
“So?” Alex mengikuti ucapan Jessica.
“What?!” Jessica tidak percaya dengan respon yang dia terima.
“Apanya yang apa?” tanya Alex.
“Kamu memintaku mempelajari laporan seminggu ini lalu menyuruhku datang kesini. Dan apa hanya ini saja yang aku dapat? kamu malah berandai-andai kita pacaran??” protes Jessica merasa buang-buang waktu.
“Iya betul. Dan kamu sudah mempelajarinya, ya sudah. Apa lagi?” tanya balik Alex.
“Aarghh, entah apa yang ada di otak kamu. Benar-benar membuat waktuku terbuang sia-sia.” Omelnya lalu bangkit dan angkat kaki dari ruangan Alex.
Sedangkan Alex dengan sikap dinginnya diam-diam memperhatikan Jessica. Dan pada saat Jessica membuka daun pintu, Alex memanggilnya.
“Jes?”
Spontan kepala Jessica menoleh kearah Alex yang terlihat senang mempermainkan emosi Jessica. “Senang melihat mu kembali.” Ucapnya lega setelah mengetahui Jessica sudah bersikap seperti awal mereka bertemu. Mereka berdua sering berdebat dan bertengkar. Sekarang harus terulang lagi dengan suasana yang berbeda tentunya dengan lebih bersikap dewasa lagi. Sungguh tidak disangka masa-masa kuliah itu, membuat Alex tak habis pikir bisa bertengkar dan selalu perang dengan wanita secantik Jessica.
“Kenapa dia suka sekali merepotkan ku.” Ocehnya sendiri dibalik pintu setelah keluar dari ruangan Alex.
*
Seperti yang sudah Jessica janjikan, dirinya akan mentraktir Monica sepulang kerja.
Dengan semangat Monica sudah menunggu di lobi. Mungkin dia takut jika Jessica tidak memenuhi janjinya.
“Kamu ingin makan dimana?” tanya Jessica yang baru saja datang to the point.
“Kamu tidak akan tahu meski kusebut namanya, yang penting sekarang kita naik taksi.” Ucap Monica mulai melangkahkan kaki.
“Naik taksi?” kejut Jessica. “haruskah naik taksi? Apa tidak bisa jalan kaki saja?” tawar Jessica berusaha menghemat pengeluaran.
“Jika kita jalan kaki, dari depan pintunya saja pasti kira diusir.” Sahut Monica sedang menunggu taksi lewat.
“Lalu siapa yang akan membayar taksinya?” tanya Jessica blak-blak an tidak ingin rugi terlalu dalam. Meski orang tua Jessica terbilang mampu tapi bagi Jessica pantangan jika mentraktir orang menggunakan uang pemberian orang tua sedangkan sekarang dirinya sudah bekerja.
“Tentu kamu. Siapa lagi?” jawab Monica enteng kemudian ia mendapatkan taksi menepi kearahnya. “ayo, masuk.” Ajak Monica penuh semangat. Ia segera masuk kedalam taksi diikuti Jessica yang pasrah begitu saja. Magau gimana lagi, janji tetaplah janji. Ternyata dunia perkantoran keras.
Sesampainya di sebuah restoran, segera Monica turun dari taksi. Sedangkan Jessica yang memberikan lembaran uang ke sopir taksi hanya bisa terperangah ketika melihat restoran yang dipilih Monica.
“Sepertinya kamu ingin merampokku.” Singgung Jessica tak bisa membayangkan akan menghabiskan seberapa dalam tabungannya. "Apa kamu tidak ada pilihan yang lebih menghemat kantong ku???" terang-terangan Jessica tanpa sungkan.
Bukannya marah, Monica justru menarik lengan Jessica dengan sangat semangat masuk kedalam restoran tersebut.
"Jadilah teman yang baik dan traktir aku disini. Makanya tadi aku tidak memberi tahu mu supaya kamu tidak menolaknya ketika sudah sampai disini." cengir Monica mencari kesempatan dalam kesempitan.
Raut wajah Monica semakin berseri-seri setelah memilih menu. Lalu dia berkata.
“Kamu tahu, ini adalah waktu yang kutunggu-tunggu. Di traktir seseorang makan disini.”
“Dan sekarang sudah menjadi kenyataan. Terima kasih atas sarannya.” Jessica sedikit kesal.
“Apa kamu tidak tulus mentraktirku?” delik Monica seolah menganggap Jessica berat hati.
“Bukan begitu maksud ku. Tentu aku ikhlas, tapi yang kamu pilih ini terlalu tinggi levelnya.” Terus terang Jessica.
“Maka dari itu, aku menunggu seseorang untuk mentraktirku. Jika tidak karena ditraktir, aku tidak akan kesini.” Sahut Monica. “Dan aku yakin, dari hasil tugas khusus mu itu, kamu pasti mendapat bonus tambahan berlipat-lipat. “ tebak Monica yang salah besar.
“Terserah kamu saja.” Pasrah Jessica.
“Apa kamu tahu, restoran ini adalah salah satu restoran milik keluarga Pak Alex.” Ungkap Monica sangat bangga bisa makan disini.
Sementara mata Jessica melebar tak percaya.
“Kenapa kamu sangat terkejut? Seharusnya kamu bangga bisa ajak aku makan di restoran mahal ini. Dan itupun restoran milik bos kita.” Jelas Monica lagi.
Jessica baru sadar kalau Alex dari keluarga yang kaya raya, pantas saja dia seperti anak kecil. Tidak mau kalah, egois dan maunya menang sendiri. Ungkap Jessica dalam hati.
Satu per satu menu pun datang memenuhi meja mereka berdua. Didalam hati Jessica menangis bombay karena harus membayar semua ini.
Mereka pun mulai menyantap pesanannya. Hingga ada suara familiar menyapa mereka berdua.
“Kalian berdua disini?” tegur Alex.
Mata Jessica melebar ketika melihat Alex, sementara mata Monica justru berbinar-binar bangga melihat bos-nya.
“Tidak kusangka kalian sedekat ini.” Ungkap Alex.
“Tidak seperti itu, dia hanya ingin berusaha memeras saya.” Sindir Jessica jujur.
Monica pun menendang diam-diam kaki Jessica dari bawah meja. “Jessica sudah berjanji dengan saya untuk mengajak saya kesini.” Tepis Monica dengan tersenyum lebar menutupi aksinya yang membuat Jessica menahan sakit kakinya.
Alex mangut-mangut lalu dulu bergabung dengan mereka. Dan seorang pelayan dengan sigap datang ketika Alex duduk.
“Sediakan kami menu special disini.” Perintah Alex kepada pelayan tersebut.
Bibir Jessica terbuka lebar ketika mendengar menu spesial disebutkan. Mau habis berapa banyak lagi makan disini? Dan, dan siapa yang meminta Alex juga ikut bergabung di meja mereka berdua? Bisa jatuh miskin dalam semalam. Cemas Jessica. Sedangkan Monica terlihat tambah girang saja tanpa kawatir dengan isi dompetnya. Sungguh terlalu.
“Permisi, Pak Alex. Boleh saya bertanya sesuatu?” Jessica meletakkan peralatan makan lalu melipat kedua tangan diatas meja.
Alex menganggukkan kepala mempersilahkan.
“Apa ada yang mengundang anda untuk bergabung disini?” ceplos Jessica tanpa filter membuat Monica terkejut hingga kedua matanya hampir keluar dari peradaban. Dia melotot kepada Jessica memberi isyarat kalau ucapannya itu terlalu kasar, apalagi dengan bos-nya bahkan sekaligus pemilik restoran ini.
Jessica yang melirik tak peduli kearah Monica sebab yang terpenting dia harus mengamankan isi dompetnya agar tidak semakin terkuras habis.
“Apa salahnya saya menyambut pelanggan baru disini?” tenang Alex seakan sudah kebal dengan celotehan Jessica yahg blak-blak an.
“Menyambut sih menyambut tapi jangan membuat miskin juga.” Ngedumel Jessica sendiri.
Menu spesial pun datang dan tersaji begitu nikmat dan pastinya lezat. Namun sepertinya tidak begitu dengan Jessica karena dia memikirkan harus bayar berapa satu piring ini. Bisa-bisa dirinya menjual ginjal untuk melunasi semua ini.
“Silahkan nikmati makan malam kalian. Saya harus pergi sekarang.” Alex mempersilahkan Jessica dan Monica untuk menyantap hidangan mereka kemudian bangkit dari duduknya dan pergi berlalu meninggalkan Jessica yang rasanya ingin gantung diri saja.
Sementara Monica sama sekali tidak kawatir. Dia terlihat antusias menghabiskan semua makanan diatas meja.
“Monica.” Panggil Jessica.“Kita patungan ya?” tawarnya.
Monica berhenti makan lalu melihat Jessica.
“Patungan?” tanya Monica memastikan lagi apa yang dia dengar.
Jessica menganggukkan kepala.
“Kalau kamu ajak patungan, bearti kamu masih punya hutang untuk mentraktirku. Bagaiamana?” tawar Monica kembali melahap makanannya.
Jessica menghela napas. Sama aja bohong. Pikirnya. Bagaimana tidak, pasti Monica akan membawa ke restoran mahal lagi dan itu sama saja akan membuat Jessica bunuh diri untuk kedua kalinya. Ah, lupakan. Bernegoisasi dengan Monica malah akan membuat dirinya semakin bangkrut.
Setelah semua sudah habis dan merasa kenyang. Bearti ini adalah waktu yang paling horor bagi Jessica. Siap-siap ia harus merogoh dompet sampai ke dasar permukaan. Sedangkan Monica sedang sibuk bertelpon riang dengan seseorang di seberang meja.
Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi kewajibannya memenuhi janji. Kemudian Jessica pun memberi isyarat ke salah satu pelayan.
Dengan sesegera pelayan tersebut datang ke meja Jessica.
“Kami sudah selesai. Bisa tunjukkan bon-nya.” Jessica berusaha berbicara se-tenang mungkin meski hatinya meronta-ronta dan berteriak-teriak.
Pelayan tersebut tersenyum lalu berkata penuh sopan. “Pak Alex memberikan hidangan free untuk meja anda.”
Seketika hati Jessica bak kembang api yang meletup begitu lega dan puas. Raut wajahnya seketika berubah seperti anak kecil yang baru saja diberi sebungkus permen coklat termahal sedunia.
“Benarkah?” Jessica memastikan dan pelayan tersebut menganggukkan kepala kemudian meninggalkan meja Jessica.
Rasa lega yang luar biasa mendengar kabar gembira ini. Seakan semua uang dan tabungannya terselamatkan. Dirinya tidak akan mengalami kebangkrutan malam ini.
“Ada apa?” tanya Monica yang baru saja menutup teleponnya.
“Ayo, kita pulang.” Ajak Jessica sudah tidak resah lagi.
“Apa kamu sudah membayarnya?” tanya Monica.
“Oh, tentu. Memangnya kamu mau membayar semua ini?” goda Jessica tidak akan memberi tahu siapa yang sudah membayar semua makanan ini. Untung saja Monica tidak terlalu memperhatikannya jadi Monica tidak akan menagih untuk di traktir lagi. Huft, lebih baik begitu.
Mereka berdua pun meninggalkan restoran dengan hati yang sama-sama puas.
*