Merebah dikasur empuk bikin badan Jesica lumayan enakan sambil ngobrol ditelpon dengan Tari "Lo jangan bercanda??" teriaknya dari telpon kaget sampai telungkup nggak percaya.
"Gue serius." suara Dion dibalik telepon "gue sama Tari udah mau nyampe rumah lo. Kita pikir mau habisin week end sama lo."
Waaahhhh. Bangun langsung lonjak-lonjak diatas kasur. "Gue tunggu lo didepan rumah."
"Gue udah nyampe didepan rumah lo."
"Serius lo??!" teriak riang langsung berlari keluar kamar menuju pintu depan.
Glek. Buka pintu diluar sudah nongol mobil parkir didepan rumah. Dion keluar dari mobil. Sangking senengnya ngeliat Dion, ia langsung berlari riang menuju cowok itu lalu menubruknya dengan pelukan erat. "Thank you, thank you, thank you." Dion yang hampir kehilangan keseimbangan segera sergap menerima pelukan dari cewek trouble maker ini "gue seneng banget lo datang."
Sementara Tari yang baru aja turun dari mobil hampiri mereka. Rasanya seneng juga ngeliat temennya bahagia. Ngeliat Jesica terus-terusan meluk Dion itu bearti dia seneng banget Dion datang kesini. Sampai-sampai dia lupa kalau ada sahabatnya juga yang datang. Tangannya pengen banget membelai rambut Jesica, saat akan nyentuh rambut Jesica ia kurung niatnya dengan jauhin telapak tangan dari rambut Jesica. Mungkin dengan adanya Dion disini sudah lebih dari cukup bikin sahabatnya ini bahagia. Pikirnya.
Tersenyum kemudian berniat masuk kedalam rumah. Ketika berbalik badan tangan kanan Dion meraih tangan kirinya menghentikan langkah kakinya meski Dion masih dipeluk oleh Jesica.
Menoleh ketangan yang ditahan kemudian mengarah ke Dion yang ngedipin mata berisyarat untuk tidak pergi.
Habis makan malam mereka duduk-duduk didekat kolam renang, separuh kaki Jesica dan Tari dicelupin kedalam air sembari nyeritain lebih detail hubungannya dengan Jonathan.
"Lo tenang aja. Masih ada gue disini." cengir Tari "oh ya." nepuk pundak Jesica "gue ada sesuatu buat lo." ngeluarin kaki dari kolam lalu bangkit "bentar ya" berlalu masuk kedalam.
Nggak lama, Dion datang duduk disamping Jesica dan ikut memasukin kaki kedalam air. "Hei" tegurnya.
Tersenyum manis "hai" balas Jesica.
"Tari mana??"
"Barusan masuk kedalam. Nggak tau tuh mau ambil apaan." Dion mangguk-mangguk.
Mereka pun asyik ngobrol berdua sambil bercanda gurau. Sedangkan Tari yang barusan nongol berhenti langkahin kakinya ketika ia dapati Jesica dan Dion lagi asyik bercanda. Kayaknya Jesica bisa melupakan lukanya kalau ada Dion. Batinnya tersenyum sembari ambil napas dalam-dalam kemudian mulai langkahin kaki menuju mereka berdua. "Ceilehh...asyik bener mainan airnya." selanya, Dion melihat Tari kemudian berhenti godain Jesica.
"Coba lo liat ulah dia. Masa Miss Trouble Maker diisengi terus ampe basah gini." protes Jesica.
"Udah, udah..." melirik Dion "nih, gue bawain kado buat lo." nyodorin sebungkus kado.
"Apaan nih??"
"buka aja." jawab Tari.
"Kok lo repot-repot banget sih bawain kado buat gue segala." penasaran apa isinya. Sebuah pigora dengan foto mereka bertiga pada saat DN sekolah berlangsung. "Wah...keren bangeettt."
"Itu ide dari Dion." Tari tersenyum melirik Dion yang ngerutin kening. Sementara Jesica terlihat terkejut dengan senyum lebar melihat Dion yang sebenarnya bingung kenapa Tari bicara begitu. Dia bertanya-tanya sendiri, bukannya kado ini inisiatif Tari sendiri? Pikir Dion cuman bisa nunjukin senyuman manis.
"By the way, Mawar bakalan marah enggak nih liat foto lo sama gue dan Tari??" goda Jesica naik-naikin alis. Dion tersenyum.
"Gue udah bener-bener putus." Mata Jesica terbelalak nggak percaya. What?!! Serius?! Batinnya.
"Sumpeh lo udah bener-bener putus sama Mawar??" ceplos Jesica. Dion ngangguk sekali. "Huh, akhirnya setelah sekian lama putus juga sama cewek songong itu." Dion langsung menoleh kaget denger pernyataan Jesica barusan. Tersenyum jail "hehehehe, bercanda kali..." nepuk bahu Dion. Tari ketawa kecil dan Dion geleng-geleng kepala aja.
"Trus, trus, lo udah ada gebetan baru?" seru Jesica penasaran.
"Jes, ngantuk nih...tidur yuk." sela Tari nguap lebar-lebar. "Yuk tidur...capek nih. Besok kita lanjutin lagi ngobrolnya."
Huft. Padahal masih pengen ngobrol. Tapi apa boleh buat. Tari udah ngantuk. "Ya udah yuk." Jesica angkat kakinya dari dalam air. "gue ke kamar duluan ya Dion."
Glek. Menutup pintu kamar. Tari menuju meja rias kemudian mengambil sisir untuk menyisir rambut didepan cermin. Sementara Jesica ngrebahin diri di kasur "Gue seneng banget Dion juga ikut kesini." Tari berhenti nyisir melihat dari kaca tubuh temennya yang rebahan di kasur "entah kenapa ya rasanya hati gue tadi seneng banget liat Dion turun dari mobil." kembali pelan-pelan nyisir rambut.
"Emhh...kayaknya lebih seneng didatangin Dion daripada sahabatnya sendiri..." sindir Tari nyibir.
Nyengir sembari bangkit nuju meja rias kemudian merangkul Tari "Kalau boleh jujur iya sih. Hehehe" Air muka Tari berubah sewot bikin geli "enggak...enggak. Gue bercanda kali."
"Kalau emang seneng nggak apa kali." sahut Tari "toh niat gue kesini karna gue kawatir sama lo. Enggak kawatir gimana coba tiap hari lo telpon-telpon, sms - sms gue dengan bahasa lo yang alay itu, alias lebay." celotehnya "sebenarnya bikin risih juga sih..." bibir Jesica menguncrit "hehehe. Abis lo ini bikin gue nggak bisa tidur tiap malem. Kepaksa deh gue kesini sekalian ajak Dion biar ada temen yang ngrasain sengsaranya jadi temen lo." Jesica meluk hangat temennya yang bawel ini.
"Lo tau banget sih. Gue itu juga kangen sama Dion."
"Apa? lo, lo kangen sama siapa..." dengan muka memerah lepasin pelukannya "Ayo, ngaku. Tadi lo bilang kangen sama siapa??" goda Tari malah bikin mukanya memerah "sejak kapan Miss Trouble Maker kangen sama cowok?? Hah??"
"Ah, lo mah gitu ada temen baru bisa seneng dikit digituin." cemberut.
Tari menyibir "Sejak kapan lo ada rasa sama si Dion?" Jesica memutar mata berpikir. Sejak kapan ya??
"Emmh....mungkin sejak dia ajak gue jadi panitia." ceplosnya "Eh, tapi bukan maksud gue suka bearti gue cinta ya. Gue biasa aja."
"Serius biasa aja..." sentil Tari ke hidungnya "Dion kayaknya ngerti cewek loh..."
Menarik tangan Tari membawanya keatas kasur dengan duduk bersila "Gini, gini, gini, gue kasih tau yang sebenarnya sama lo." tarik napas dalam-dalam "sebenarnya detik-detik gue terakhir di sekolah..." malu ngucapin sementara Tari menunggu kelanjutannya "gue mulai suka sama dia. Rasanya tuh kayak hembusan angin cinta nerpa dalam diri gue."
"Lebay banget lo." nonyol kepala Jesica yang cengingisan.
"Gue, gue serius. Gue sempat ngrasain gitu. Apalagi pas dia sering banget nongol dibelakang gue dengerin keluh kesah gue, tapi dia dia itu nggak marah." semangat cerita "tapi...pas gue keinget bakalan pindah sekolah, gue baru sadar jadi gue mutusin berusaha ngilangin rasa itu." menghela napas.
"Kenapa? Kan lo bisa hubungan jarak jauh." sahut Tari genggam tangannya.
"Waktu itu kayaknya gue nggak bakalan bisa hubungan jarak jauh. Jadi gue putusin ngurung niat gue."
"Tapi buktinya, dia selalu ada buat lo sampai sekarang..."
"Gue rasa, dia udah punya gebetan baru."
"Maksud lo??" kejut Tari
"Cowok kayak dia itu nggak bakalan lama ngejomblo-nya. Ngerti..." nonyol kening Tari yang tersenyum manis. "Toh, gue juga belum pernah pacaran sebelumnya." ambil guling lalu mendekapnya "yang ada malah dibikin barang taruhan."
"Apa lo mau gue yang nendang tuh Master Trouble Maker, biar lo puas??" hibur Tari.
"Boro-boro lo tendang. Disenyumin sama dia aja paling lo yang ketendang jauh." godanya bikin nyengir.
"Apaan sih lo ini...Udah ah, gue mau ambil minum dulu." turun dari ranjang "Haus. Lo mau diambilin sekalian nggak??" tambah Tari di daun pintu.
"Boleh."
"Siap tuan putri..." menutup pintu.
Ketika menuju dapur, Dion membuntutinya diam-diam. Tari ambil gelas kemudian membuka lemari es ambil botol dingin nuangin air kedalam gelas lalu meneguknya. Lumayan dahaga hilang. "Hei." sapa Dion berbisik ke telinganya bikin kaget.
"Dion??" tekannya dengan suara pelan memukul kecil bahu cowok yang ngagetin dirinya "kamu ini bikin kaget aja."
Dion tersenyum manis sembari menatap dirinya. Lalu melangkah mendekat sementara Tari malah melangkah mundur sampai tubuhnya nempel ke lemari es. "Dion. Kamu mau ngapain??" Tari kebingungan, Dion malah semakin dekat dan dekat kemudian berbisik.
"Aku lagi kangen sama kamu." Tari tersipu malu.
"Apaan sih??" Dorong tubuh Dion.
"Emangnya nggak ada yang kangen ya??" Goda Dion. Tari melirik manja.
"Udah ah." ambil gelas kemudian nuangin air dingin kedalam gelas.
Dion ngelingkarin kedua tangannya ke pinggang Tari dari belakang. "Aduuuh, ternyata pacar sendiri udah nggak kangen lagi." nada manja bikin Tari menyibir.
"Aduuhh, kasian...." monyongin bibir sembari melepas tangan Dion sembari berbalik badan "kangennya ditahan dulu. Sekarang aku mau ke kamar dulu nyusul Jesica pasti dia udah kekeringan di kamar."
"Tari?? Dion??"
Mereka berdua kompak menoleh kearah Jesica yang baru aja nongol.
"Hei, Jes. Baru aja gue mau kekamar."
"Pantesan ya lama banget, ternyata..." melipat kedua tangan merhatiin kedua temannya didapur berduaan. Dan sedikit berpikir ngapain Dion di dapur??
"Girls, gue punya ide. Gimana kalau kita begadang nonton film semaleman?" tawar Dion menyela "gue nggak bisa tidur. Belum ngantuk nih. Gue tadi bawa film-film bagus." lanjutnya.
Jesica dan Tari saling memandang. Boleh juga sih. Pikir mereka. "Ya, hitung-hitung nemenin gue. Masa gue harus sendirian. Padahalkan gue kesini nyari hiburan." tandas Dion.
"Oke" Sahut Jesica. Tari menoleh kaget.
"Serius Jes lo nggak apa-apa begadang malem-malem??" cemas Tari. Soalnya ia tau bener ketakutannya Jesica ditengah malem itu bikin orang kawatir setengah mati.
"Tapi gue ke toilet bentar ya, abis itu kita begadang bareng." seru Jesica kemudian bergegas pergi.
Tari menarik napas dalam-dalam. Kemudian melihat Dion lalu berkata "Dion." panggilnya, dengan tatapan lembut Dion merespon "Yah?"
"Untuk saat ini, aku minta kamu nggak kasih tau hubungan kita." Dion terbelalak.
"Maksud kamu?"
"Aku minta kamu rahasiain hubungan kita dari Jesica"
"Tap, tapi kenapa?"
"Saat ini dia butuh kamu daripada aku." Dion nyentuh pipi kanan Tari begitu lembut dan bertanya
"Tapi apa salahnya sama hubungan kita?"
memegang tangan Dion "Jesica mendam rasa sama lo, sebelum kita jalin hubungan ini..." Jelasnya "gue nggak bisa nusuk temen dari belakang. Andae aja gue lebih awal tau, gue nggak bakalan jalin hubungan sama elo." Dion tarik napas dalam-dalam sembari narik rambutnya sendiri.
"Tap tap tapi, mana bisa gue..."
"Dion. Lo juga sempatkan mendam rasa sama Jesica??" tebak Tari kena sasaran "cuman disaat rasa kalian datang, Jesica malah harus pergi. Dan habis itu baru gue yang datang masuk ke kehidupan lo. Ya kan?" Dion tak menjawab, ia hanya menyandar lemas di dinding. "Saat ini Jesica butuh lo disampingnya. Lo tau, disekolah barunya, dia dibikin barang taruhan sama temen-temennya disana. Perasaannya dimainin disaat dia mulai jatuh cinta." Dion hanya diam berpikir apa yang harus dilakukan.Tari meraih tangannya. "Pliiss, demi gue..." pinta Tari berkaca-kaca "gue nggak bisa bayangin apa yang bakal terjadi kalau dia tau ternyata kita sudah jadian disaat dia mengharapkan cinta dari lo. Plisss." Dion menatap Tari cukup lama tanpa bicara.
"Oke" suara lembut Dion "tapi gue minta lo nggak boleh ngelarang gue deket sama lo. Karena gue sudah terlanjur sayang sama lo." Syarat Dion sembari mengusap satu pipi Tari penuh sayang.
Tari tersenyum haru sambil mangguk-mangguk "thanks."
"Gue lakuin ini buat lo. hanya buat lo doang." tuding Dion nggak tega ngeliat Tari bersedih.
******