Demi Persahabatan

1682 Kata
Dion duduk diantara cewek-cewek selama film diputar. Merekapun menikmati alur ceritanya. Sampai-sampai kakek datang menyapa "Jes?". Cewek-cewek malah teriak ketakutan lalu menoleh. "Ahh, kakek. Ngangetin aja!!" kakek geleng-geleng kepala. "Jes, kalau takut jangan nonton." tutur Kakek. "Jes nggak takut kek, cuman kakek aja yang tiba-tiba ngagetin." Kakek melihat Tari lalu berkata "Tari, kalau Jesica udah ketakutan mending suruh ke kamar. Daripada badannya demam." "Kakek??" Mata Jesica mengarah-ngarah ke Dion. Kakek menghela napas. "Ya udah, Kakek mau tidur dulu." melihat Tari "Tari, kakek ke kamar dulu..." "Tenang kek, ada Dion. Pasti Jes baik-baik aja." Alur ceritanya mulai kelihatan seremnya. Mereka mulai terbawa kedalam cerita. Andae aja ada monitor jantung mungkin jantung Jesica udah nggak karuan dekupnya. Mataereka bahkan nggak berkedip. "Jes, Jes, mending lo tutup mata deh." ucap Tari mata tetep melototi film. Ditengah-tengah ketegangan cerita film. Diam-diam tangan Dion menggenggam salah satu tangan kiri Tari disela-sela lutut mereka. Dug. Tari menoleh dan Dion hanya tersenyum manis. Berusaha lepasin genggaman tapi Dion malah nguatin genggaman. Dion menatap dalam mata Tari meminta agar tidak nglepasin genggamannya. Sesaat mereka berdua terbawa suasana sendiri sampai nggak sadar tiba-tiba Jesica teriak keras bubarin semuanya nubruk tubuh Dion berniat sembunyi. Sangking cemasnya, tangan kanan Dion langsung merangkul Jesica bermaksud nenangin meski tangan kirinya masih megenggam tangan Tari. "Lo nggak apa-apa Jes??" Jesica masih mejamin mata mendekap ditubuh Dion. "Tadi ngeri banget setannya. Gila." desisnya masih dalam dekapan Dion. Menarik napas dalam-dalam kemudian nenangin Jesica "Tenang, tenang...Udah nggak ada kok. Nggak perlu takut, ada gue disini." Tari yang dengerin ucapan Dion barusan membuat dirinya sedikit cemburu, ia pun berniat menarik tangannya tapi ternyata Dion menahannya, ia tetap genggam kuat tangan Tari. Dan keadaan ini berlansung sampai film-nya habis. Setelah beresin kaset-kaset ditumpuk jadi satu dan bersihin makanan di meja, Tari beranjak pergi ke kamar nyusul Jesica yang sudah dulu pergi ke kamar. Dion yang masih duduk di sofa melihat Tari yang akan beranjak pergi, dengan sergap ia tarik tangan Tari hingga tubuh cewek ini jatuh kepangkuannya. Kaget Tari langsung nutup mulutnya dengan satu tangan sembari melotot kearah cowoknya "Dion, lo ini apa-apaan sih??" nada suara pelan tapi nekan. Dion malah senyam-senyum kemudian berbisik ditelinga ceweknya "kayaknya tadi ada yang cemburu deh..." godanya. "Apaan sih??" ngerutin kening sambil berusaha berdiri tapi Dion nggak ngebolehin. "Mau kemana sih, buru-buru amat." "Dion, nanti ada yang liat kita." tekan Tari ngecilin suara. Dion noleh kanan kiri. "Nggak ada." "Dion, nanti Jesica nyari gue..." "Emangnya gue nggak nyari gitu..." goda Dion terus "Diiiooon" lekuk bibirnya begitu jelas. Tersenyum lebar "bilang dulu kalau kamu cemburu." "Apaan sih? Enggak" Tari tersipu malu. "Hemmm, Kalau enggak kenapa tadi mau lepasin tangan gue..." "Mmhh...mmhhh..." mutar-mutat bola mata bingung jawab apa. "Kalau nggak bilang, aku nggak akan lepasin." Memutar bola mata seratus delapan puluh derajat sembari menghela napas dan berkata "iya...iya..." "Iya apa??" "Bikin cemburu." monyongin bibir sementara Dion tersenyum bangga. "Happy now. So, let me go." Dengan patuh Dion melepas tangannya lalu Tari beranjak pergi. "Ssuut." panggil Dion. Tari berhenti melangkah kemudian berbalik badan melihat cowoknya. "I love you" Pipi Tari terangkat lembut dengan mimik muka berseri-seri. "I love you too." balasnya dengan lekuk bibir yang jelas tanpa suara. ****** Gara-gara semalem begadang, jam delapan pagi belum ada yang bangun remaja-remaja ini, untung aja hari libur jadi nggak kawatir banget kalau dibuat bangkong. "Gilaa, cewek - cewek jaman sekarang. Udah siang belum ada yang bangun." Seru Dion ikut nimbrung diatas kasur. "Di, Dion?? Ngapain lo disini??" tegur Jesica "Ikut tidur bareng kalian." "Gila lo ya. Cepet pergi dari kamar gue." usir Jesica "kakek bakalan ngomel-ngomel kalau tahu." "Kakek udah pergi dari jam tujuh kaliii." "Dionnn, minggir...gue masih ngantuk." "Aduhh, ada apa sih berisik banget." sela Tari yang terganggu disampingnya. "Enak bener tidurnya. Ngikut ah..." meluk Tari, seketika Tari tersadar. "Singkirin nih tangan sebelum patah." ancamnya. Dion angkat tangan. "oke, gue keluar sendiri aja deh kalau semua pada molor." turun dari ranjang. Jesica dan Tari kompak bertanya dengan suara malas "Mau kemana?" Dion noleh ke mereka. Angkat alis "Emhh, pulang mungkin." lantang bikin cewek-cewek itu sadar dan terbelalak. "Serius lo?!" kompak mereka kemudian saling memandang dengan rambut yang acak adut. Dion melipat kedua tangannya menghela napas "Mau gimana, niatnya liburan tapi malah ditinggal molor." "Oke,oke. Planning lo mau kemana?" tanya Jesica ngusap-ngusap mata. "Kalian mandi dulu aja deh." Jesica turun dari kasur sementara Tari kembali tidur. "Tari bangun." guncang tubuhnya. "Entar dulu geh. Lo mandi dulu aja. Abis tuh baru gue." malas. Jesica bangkit lalu masuk kedalam kamar mandi. Dion yang melihat Jesica sudah masuk kedalam kamar mandi dan mendengar suara shower menyala. Ia pun deketin Tari yang masih merem. Membelai rambut pacarnya "kayaknya ngantuk berat nih pacarku." bisiknya. Tari tersenyum meski mata masih tertutup. Dion memandang cewek didepannya kemudian tersenyum berniat mengecup kening pacaranya. Tari mengelak. Melotot pada cowok didepannya ini. "Deket nggak boleh, megang nggak boleh, sekarang mau nyium aja nggak bisa." ngambek Dion. Tari langsung bangkit dari tidurnya dan langsung menutup mulut Dion dengan kedua telapak tangan rapat-rapat. Cemberut menepis tangannya kemudian berniat berdiri beranjak pergi. Tari menahan lengannya. Menoleh melihat senyuman Tari kemudian mengecup keningnya. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta. "aku keluar dulu ya sayang." Tari mengangguk manis. ****** Mereka bertiga memutuskan untuk jalan-jalan ke taman hiburan. Hampir semua zona permainan mereka jajal. Seharian mereka habisin waktu bersama. Sampai didepan rumah hantu. Enggak bakalan gue masuk. "Lo harus nyoba, pokoknya." paksa Tari. "Enggak." "Ah lo mulai nggak asyik deh." ngambek "Tariii, lo kan tau gue..." "Ada Dion sama gue disini." tandas Tari "Tapi didalem pasti..." muka udah pucet ketakutan. "Tenang Jes, ini buat terapi lo. Toh ada gue sama Dion juga." narik tangan Jesica masuk antrian sementara Dion buntut aja. Masih antri aja muka Jesica udah pucat duluan. Gigit ujung kuku cemas ketakutan. Menengok ke Tari dan berkata "Gue udah nggak kuat." rengeknya. Tari mengela napas. "Mungkin kalau lo ada didalam sana. Lo bisa hilangin pikiran lo dari Jonathan. Dan lo bisa sedikit lupain rasa sakit hati lo. Ngerti" tutur Tari nyentuh pipinya lembut. "Pasti lo bisa." Dengan rasa ragu Jesica mengangguk. Matanya merhatiin orang-orang yang masuk kedalam rumah hantu, terlihat petugas itu masukin enam orang setiap menitnya. Selangkah demi selangkah para pengantri nggak sabar masuk rumah hantu itu, kecuali Jesica. Ia melihat pintu gerbang didepan mata rasanya seperti ada tumpukan ketakutan dibenaknya. Nyalinya bener-bener menyiut, ia lebih milih banji jumping dari ketinggian seribu meter daripada masuk rumah hantu. Dug. dua ronde lagi ia akan masukin rumah hantu ini. Kakinya sudah gemetaran tapi ia harus coba. Mungkin aja bener yang dibilang Tari tadi. Gue pasti bisa. "Guys." panggil Tari "gue kebelet nih, udah nggak tahan." nyengir Tari. Apa lagi rencana Tari. Pikir Dion. "Gue ke toilet dulu, nanti gue susul." buru-buru pergi. "Tapi Tari, gue..." "Dion tolong jagain Jes bentar ya..." Dion baru ngerti maksud Tari. Ternyata ceweknya ini minta dirinya dan Jes cuma masuk berdua aja. Menghela napas dan mau buka mulut. "Lo harus sama Jesica." tandas Tari menatap tajam Dion kemudian berlalu keluar dari antrian. Dion nepuk-nepuk bahu Jesica. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Dan sekarang dirinya berada diantrian ke tiga, ini bearti beberapa menit lagi masuk. Keringat dingin sudah bercucuran, badan sudah gemetaran, sepertinya panas dingin duluan. "Silahkan" petugas membuka gerbang. Dug dug, dug dug, dug dug. Langkah kakinya terasa berat masuk kedalam sana hingga orang-orang yang dibelakang jalan duluan. "Udah, enggak apa-apa kok ini cuman sebentar aja..." bisik Dion lembut. "Tari mana...??" suara terdengar gemetar. "Bentar lagi juga nyusul. Yuk kita masuk pelan-pelan" papah Dion dengan sabar. Ia beraniin diri masuk dengan nyali yang udah nyiut. Ketika sudah masuk gerbang ternyata tidak ada apa-apa malah lampu terang benderang didalam suasana rumah. Mata berkeliaran merhatiin sekitar. Huft, syukur deh ternyata terang dan nggak ada apa-apanya. "Lihat, nggak ada apa-apa, kan??" hibur Dion. Tersenyum lega kembali berjalan nyelesein permainan ini. Masih beberapa jangkah tiba-tiba. Tep. lampu mati gelap gulita. Seketika ia teriak kencang dan Dion langsung mendekapnya. "Tenang Jes, tenang...kita terus jalan." Tutup mata rapat-rapat dalam dekapan Dion dan merengek minta kembali "gue nggak mau...gue nggak mau...ayo kita kembali aja...gue takut banget..." Eratin dekapannya sembari mengelus-elus rambut Jesica bermaksud nenangin. "Kita nggak bisa kemana-mana kecuali jalan terus, oke. Kalo lo takut, lo tutupin mata aja ikuti langkah kaki gue." Jesica ngangguk-ngangguk ketakutan. Sepanjang kaki melangkah ia bersembunyi dalam pelukan Dion berharap segera berakhir sebelum pingsan disini. Meski mata tertutup tidak menutup kemungkinan takutnya hilang, malah hampir tiap langkah ia teriak ketakutan karena suara-suara aneh, atau hembusan angin apalagi kalau badannya kesentuh sesuatu teriaknya malah semakin histeris. Sementara Dion hanya berusaha menghibur dan nenangin dirinya. Sampai akhirnya selesai sudah perjalan panjang nan mengerikan ini. "Kita udah keluar. Lo bisa buka mata." Jesica masih belum mau lepas dari dekapan dan belum mau buka mata. Kemudian Dion membawanya ke kursi panjang dibawah pohon. "Udah, kita bener-bener diluar sekarang." Pelan-pelan Jesica membuka mata. Ternyata matanya berkaca-kaca basah. Sangking takutnya sampai nangis. Mengangkat kepala dan lepasin diri dari dekapan. Dion yang melihat Jesica, Miss Trouble Maker histeris kayak tadi cukup aneh juga. Cewek kayak dia kok bisa-bisanya takut setengah mati masuk rumah hantu. "Jes, lo nangis???" mengusap pipi "ya ampun, Jes. Gue nggak tau kalau lo bener-bener ketakutan kayak gini." mengusap lembut kedua pipi Jesica. "Gue...gue...hampir pingsan..." suara gemetar keluar dari bibir Jesica. Dion yang cemas memeriksa tangan yang gemetar, lalu beralih ke kening. Panas. "Jes???" seru Tari yang dari tadi berlari nyari mereka "lo baik-baik aja, kan?" duduk disamping Dion "muka lo pucet banget." meriksa kening "gila, panas." kejut Tari "gue panggilin petugas kesehatan, ya?" Geleng kepala lemas "enggak, enggak perlu..." tolak Jesica "abis ini juga bakalan baikan." Dion yang berada tepat disampingnya melihat kondisi cewek trouble maker ini kayak gini, kasian juga. Ia kemudian ngarahin kepala cewek ini kepundaknya sembari ngelus-ngelus. "Gue beliin minum dulu ya..." "Nggak perlu Tari..." suaranya bener-bener lemas seperti nggak ada kekuatan lagi. "Ya udah kalo gitu gue..." berniat bangkit dari duduk dan beranjak pergi. Tapi tangan kanan Dion menahannya diam-diam. Tari pun terhenti melihat cowoknya. Setelah lumayan lama bermenit-menitan nunggu Jesica pulih dari phobia-nya. Akhirnya pulih juga "gue laper..." suaranya sudah terdengar kembali normal. "Ya udah, kita makan dulu." balas Dion. Membantu Jesica berdiri. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN