Diantara Mereka

2691 Kata
Jesica begitu lahap menyantap makanannya. Dion iseng meriksa keningnya. Panasnya udah turun. "Gimana?" tanya Tari "Udah mendingan." Jawabnya. Jesica tersenyum "Aneh juga, gue baru tahu Miss Trouble Maker bisa ketakutan kayak tadi. Sampai-sampai panas badannya." Jesica terbelalak dan langsung menutup mulut cowok disebelahnya ini. "Sstt, jangan kasih tau siapa-siapa." Dion melirik Tari yang malah cengingisan. Mengangguk. Baru nglepasin bungkamannya. "Dari dulu itu, Miss Trouble Maker kita phobia sama yang namanya gelap." jelas Tari sambil melahap makananya. Dion melirik Jesica dengan menyibir nggak percaya. "Biasa aja kali liatnya." tandas Jesica menyruput jeruk manisnya. "Lo nggak tanya, gue tadi didalam rasanya kayak apa??" "Kayak apa?" "Kayak masuk kedunia lain. Percaya nggak percaya. Tadi gue pikir Miss Trouble Maker modus pengen deket-deket gue gitu..." ke-pede-an. Tari nonyol kepalanya. "GR banget" "Gue serius. Gue bener-bener kepikiran gitu. Tapi akhirnya setelah ngrasain keringat dinginnya keluar dan suhu badannya panas ditambah gemetaran. Gue jadi bertanya-tanya. Serius nih cewek kayak gini takut setengah mati masuk rumah hantu." jelasnya. "Aakhh, Dion. Udahan deh nggak perlu dibahas detailnya. Entar gue makan juga nih makanan lo." ancam Jesica. "Nah..." nuding cewek ini "gimana nggak percaya coba. Kalau pas lagi terang perilaku kayak preman tapi kalau udah gelap" nyibir ngejek, sembari nunjukin jempolnya lalu dibalik kebawah "Nggak ada apa-apanya." lanjut Dion. Tari tertawa lebar karena emang gitu kenyataannya. "Emhh, e...gue...gue ke toilet bentar." seru Tari yang salting kemudian berdiri dan berlalu. "Gue juga." sahut Jesica ngekor. Tinggallah Dion sendiri nikmati makanannya. Bruk. Suara pintu toilet tertutup. Bercermin didepan wastafel. Brak. Tari masuk ke toilet. "Tariiii???" girangnya "Gue...gue..." mata berbinar-binar. "Gue bisa lihat dari mata lo." Jesica memeluk erat temennya ini. "lo bener. Lo bener, kalau hubungan jarak jauh apa salahnya dicoba dulu." Dug. Rasanya tubuh Tari melemas, tapi ia harus berpura-pura kuat dan bahagia didepan sahabatnya ini. "Apa dia juga miliki perasaan yang sama kayak gue??" tanyanya masih memeluk Tari. "Siapa yang bisa nolak lo?" ucap Tari. Melepas pelukannya "Gue rasa Dion nggak mungkin mainin perasaan gue. Gue rasa dia nggak mungkin jadiin gue barang taruhan. Ya, kan??" Tari mengangguk sembari tersenyum lebar. Sehabis makan dan keadaan Jesica kembali normal. Mereka bertiga pun kembali menikmati zona permainan yang ada. Tapi kali ini Tari milih mundur, melihat senyum sahabatnya kembali seperti dulu bikin dirinya rela melepas Dion untuk Jesica. Terlihat Jesica dan Dion menikmati berdua. Ia baru sadar kalau dirinya yang berada ditengah-tengah antara mereka berdua. Andae aja Jesica nggak pindah sekolah mungkin dirinya nggak bakal jadian sama Dion. Tapi setelah mereka bertemu, tanpa sadar mereka punya ketertarikan satu sama lain. ****** Tari baru keluar dari kamar mandi mengenakan piyama handuk sembari ngusap-usap rambutnya yang basah. "Seger juga habis mandi." ucapnya berjalan nuju meja rias. Sementara Jesica yang merebah di kasur langsung bangkit duduk. "Lo kecapek-an??" "Iyalah, gila apa nggak capek. Nyampe rumah udah jam delapan malem. Selesei mandi..." nengok jam dinding "udah jam sembilan kurang sepuluh." dumelnya "emang lo nggak capek apa?" nengok ke Jesica yang senyam-senyum geleng-geleng kepala. "Mmmhh, jelas lo nggak capek. Disamping lo ada siapa coba??" memutar bola matanya "udah sono mandi. Kalau lo nggak mandi, gue ogah tidur sama lo." berdiri lalu berlari nuju Tari dan nyium sahabatnya. "Iiiyyuuu, Jesica!! Jorok" teriak Tari dan Jesica langsung berlari masuk kamar mandi. Sementara Jesica mandi, Tari jalan-jalan didapur itung-itung nyari pengganjal perut. Laper. Buka lemari es. Mantap, lengkap. Kue, cemilan, jus segar, sama buah. Ambil sepotong kue lalu melahapnya. Lumayan bisa tidur nyenyak. Pikirnya sambil ambil apel merah lalu menutup pintu lemari es kemudian beranjak pergi dari dapur. Ketika menikmati buah apelnya tiba-tiba ada yang narik tangannya hingga apel yang dipegang jatuh ke lantai. Didekat kolam dibalik tembok, Dion menatap Tari dengan kedua tangan menompang ke dinding berada diantara pundak ceweknya. "Dion, apa-apaan ini!?" tekan Tari dengan nada pelan "nanti ada yang liat kita." "Biarin." "Dion." berusaha pergi tapi Dion mencegahnya. "Dua hari ini kita nggak bisa berduaan. Rasanya kangen berat." "Dion. Biarin gue pergi." "Dua hari ini aku sudah nurutin semua kemauan kamu. Tapi kenapa disaat aku lagi kangen, kamu nggak nyempetin waktu buat nemenin aku." tatapan Dion begitu dalam hingga membuat Tari menghela napas. "Dion..." Tersenyum manis mendengar suara Tari. "Kita putus." seketika senyuman diwajahnya lenyap. Matanya yang tadi berbinar-binar berubah menjadi tanda tanya besar. "Maksud kamu apa?" shock. "Gue mau kita putus." tegas Tari kemudian ngelahkahin kaki berniat pergi dari hadapan Dion. Namun tangannya ditahan. "Gue tanya, apa karena Jesica lo mau mutusin gue??" tebak Dion berbalik badan menghadap kedepan Tari yang mulai berkaca-kaca "Jawab? apa karena dia?" "Dion, gue nggak mau bahas sekarang. Lepasin gue." "Aku nggak akan lepasin sebelum kamu jawab pertanyaanku." tandasnya begitu marah. "Dion gue mohon...gue mohon..." Sementara Jesica baru selesei mandi dan melihat Tari tidak dikamar. Ia berniat mencarinya. Kemana nih anak. Pikirnya keluar kamar. Diruang tivi nggak ada? Dapur nggak ada? "Dion, dia yang lebih dulu suka sama lo. Gue...gue..." "Tapi perasaan gue sekarang sama lo" menyentuh pipi Tari. "Gue nggak sanggup bilang kalau kita udah pacaran sementara dia cinta sama lo. Sahabat gue. Sahabat gue, Dion. Gue nggak bisa nusuk dia dari belakang." Jesica melihat bekas apel jatuh di lantai. Bibi gimana sih nyapu-nya, masa apel segede ini nggak dibuang?? pikirnya sambil memungut apel tesebut. si Dion kemana juga kok nggak keliatan. Masa malem-malem ke kolam?? mencoba lihat kesana. "Mana mungkin sekarang gue harus berpindah hati sementara gue masih cinta sama lo." Tari geleng-geleng kepala "dengerin gue, dengerin. Kita akan ngomongin ini baik-baik biar nggak ada salah faham. Pasti Jesica mengerti hubungan kita." "Tapi, Dion gue..." "Sstt, udah. Semuanya bakalan baik-baik aja." meluk Tari. "Tapi gue nggak sanggup liat dia sedih. Mendingan kita putus dan elo bisa sama Jesica." "Apa kalau aku nanti sama Jesica bisa bahagia sedangkan hatiku ada di lo. Gue nggak bisa, gue nggak bisa lakuin itu. Untuk dua hari ini, oke. Gue turuti kemauan lo untuk kasih perhatian sama Jesica tapi nggak bearti aku berikan hatiku juga buat dia. Enggak. Enggak Tari. Gue cinta sama lo. Gue cinta..." Apel terjatuh kemudian menggelinding tepat di kaki Tari. Melihat kebawah. Apel gue?? melihat kedepan. Mata Tari terbuka lebar-lebar. Jesica??? cepat-cepat lepasin diri dari Dion. Dengan berdiri tegak dengerin obrolan mereka berdua. Air mata Jesica berderai tanpa syarat. Ia terpaku mendengar semua yang diucap Dion dan Tari. Tatapan matanya mengarah lurus ke mereka tanpa sepatah kata pun. Saat ini Tari bener-bener merasa bersalah, tanpa sadar air matanya juga menetes ke pipi. Ia bingung mau berkata apa, hanya bisa buka tutup bibir tanpa ngeluarin suara. Meski Jesica berderai air mata ia tidak terisak-isak, meski hatinya hancur lagi karena sahabatnya udah bohong, ia tidak bisa maki-maki. Pandangannya tetap lurus melihat mereka. Ia teringat ucapan Tari sebelumnya yang mengatakan kalau Dion akan ada buatnya, ia teringat dengan pernyataan Tari yang bilang cowok mana yang bisa nolak lo, ia teringat ketika mau masuk rumah hantu Tari bilang kalau dirinya akan lupa tentang Jonathan. Bearti, Tari sengaja nggak masuk ke rumah hantu saat itu, bearti Tari sengaja tidak mau duduk disamping Dion, bearti Tari sengaja melakukan semua ini. Tanpa mengatakan apa-apa dengan langkah berat mendekati mereka sampai benar-benar bertatapan muka sama Tari. Air mata Tari pun juga bercucuran karena merasa bersalah udah nggak jujur. Mereka berdua saling memandang penuh kekecewaan dan penyesalan. Ketika Dion mau angkat bicara ia angkat telapak tangan dan membuka lebar-lebar didepan Dion tanpa bicara tanpa menoleh. Menatap Tari begitu dalam. Kenapa lo tega berbuat gini sama gue. Kenapa lo bohongin gue. Kenapa lo nyembunyiin hubungan lo dibelakang gue. Apa arti gue buat lo, Tar. Terpukul Jesica dalam hati. "Dion" lekuk bibir Jesica sangat jelas mengucap nama Dion dengan nada yang hampir tidak terdengar. Tari tak bisa berkata apa- apa lagi didepan sahabatnya. Seketika Jesica memeluk erat sahabatnya. Dan memecahkan tangis Tari. "Maafin gue, Jes...gue...gue...nggak bermaksud..." Jesica melepas pelukannya, memandang sesaat temannya lalu pergi berlalu menuju kamar. "Jes..." panggil Tari tubuhnya melemas, Dion segera memberi topangan. "Gue...gue...udah bertindak bodoh. Seharusnya kita nggak ngomongin hal ini disini..." isak tangisnya dengan Dion "gue...gue...sahabat yang paling jahat...gue jahat...Dion..gue jahat..." Dion mengecup kening Tari "Enggak Tari, semua pasti akan baik-baik aja." Jesica menangis didalam kamar mandi. Ia terlungkup dibalik pintu sembari terisak-isak. Nggak menyangka kalau sahabatnya sendiri udah mainin perasaannya. Rasa hati seperti tercabik-cabik. Tari masuk ke kamar dan mendengar tangisan Jesica dari dalam kamar mandi. "Jesica" panggil Tari gemetar didepan pintu kamar mandi "Jesica..." tangis Tari "Buka pintunya, Jes..." pinta Tari sementara Jesica masih menangis didalam kamar mandi "Gue minta maaf...gue nggak bermaksud nyakitin lo...Gue mohon dengerin gue...gue mohon..." isak tangisnya. "Lo tidur aja. Gue nggak apa-apa" sahut Jesica terdengar sumbang. "Bukain pintunya Jes...gue mohon..." Tari duduk bersandar didepan pintu. "Gue jelasin semuanya Jes, tapi gue minta lo bukain pintunya dulu." "Apa yang perlu dijelasin, hah?? Apa?! Jawab gue!?" teriak Jesica dibalik pintu sambil terisak-isak "Lo mau jelasin apa?? Kenapa lo tega sama gue?! Kenapa lo yang harus mainin perasaan gue?! Kenapa, Tariii?? Kenapa?!" Tangis mereka berdua semakin pecah "Luka gue belum sembuh, tapi kenapa lo kasih luka baru. Gue kira lo itu sahabat gue yang paling ngerti gue, yang paling ngerti perasaan gue. Tapi apa nyatanya?! Lo sama kayak JONATHAN. Kalian sama aja!!" teriak Jesica meluapkan emosi. "Jes...gue nggak ada maksud nyakitin lo...gue...gue...cuman pengen liat lo seneng..." "Maksud lo sama pacar sahabat gue sendiri, gitu!!" balas Jesica tambah menangis. "Kenapa Tar, kenapa lo harus nyembunyiin ini semua...kenapa...?? Lo itu bagian dari hidup gue, tapi kenapa lo lakuin ini sama gue..." nada Jesica berubah pelan. "Jes...maafin gue...gue minta maaf..." "Ternyata orang-orang yang gue anggap sayang sama gue ternyata semua omong kosong." "Jes, gue minta maaf nggak langsung kasih tau lo. Tapi awalnya gue mau kasih tau lo langsung setelah ketemu lo. Tapi pas gue datang sama Dion, lo langsung meluk dia. Dan pelukan itu, gue kenal pelukan kebahagian elo. Dari situ gue berpikir kalau lo pasti bisa lupain Jonathan dengan adanya Dion..." "Lo pikir gue bakalan seneng gitu setelah tahu ternyata lo sama Dion itu ada hubungan, gitu!!! Lo pikir gue nggak punya hati ngebiarin lo diam kayak gitu!!! Jawab!?? Jawab Tari?!! Gue ini lo anggap apa?! Hah?!!" "Gue nggak maksud kayak gitu..." "Lalu apa?! Lo korbanin pacar lo buat gue sedangkan lo nggak mikirin hati pacar elo, gitu?!!" teriak Jesica tambah terisak-isak "DASAR EGOIS." Sesaat kakek datang dengan Dion masuk kedalam kamar. Dion yang melihat Tari bersimpuh didepan pintu kamar mandi segera ia bantu berdiri dan duduk di ranjang. "Dia nggak mau maafin gue, Dion...dia nggak mau bukain pintu buat gue..." isaknya dalam dekapan Dion. "Dia teriak-teriak sama gue...dia...diabilang...gu...gue...gue egois..." tambah menangis. "Jes..." panggil kakek. "Jes mohon...kakek tinggalin Jes sendiri..." tangisnya nggak henti-henti. Kakek menghela napas melihat Tari nangis terisak-isak kemudian duduk disamping Tari. "Kakek...Tari harus berbuat apa kek...Tari nggak maksud buat Jesica kayak gini...Tari nggak berniat nyakitin Jesica." Kakek ngecup keningnya. "Sekarang kamu istirahat. Tidur. Besok pasti udah baikan. Jesica pasti ngerti maksud kamu." Tari manggukin kepala sambil ngusap air mata "oke, good." ngusap rambut Tari "kakek pergi dulu..." bangkit dari duduk lalu keluar kamar. Dion mengecup genggaman tangan Tari. Cup. "Benar kata kakek. Semua bakalan baik-baik aja besok." Tari bersandar ke tubuh Dion. "Gue nggak maksud nyakitin siapaun. Gue nggak maksud nyakitin dia dan nyakitin lo. Gue nggak maksud egois sampai-sampai maksa lo buat jadian sama Jesica. Gue minta maaf Dion..gue minta maaf..." Dion mengangkat dagu Tari "Ssstt, sstt, sstt. Kamu nggak egois, kamu nggak egois." memegang kedua pipi Tari "Kamu hanya lakuin yang terbaik buat Jesica, oke..." jelas Dion nenangin Tari. "Sekarang kamu istirahat. Besok kita jelasin semuanya baik-baik. Oke." "Oke." "Good" nyiapin batal untuk Tari, kemudian berbaring dan Dion menyelimuti dirinya "Good Night. Nice dream. I love you." ngecup kening Tari. "I love you too" balasnya tanpa ngeluarin suara. Dion tersenyum manis dengan pandangan lembut kemudian beranjak pergi keluar kamar. Sudah jam satu lewat empat puluh lima menit Jesica baru keluar dari kamar mandi dengan muka lebam. Melihat Tari tidur membelakangi dirinya. Lalu pelan-pelan ia naik ke ranjang dan tidur membelakangi Tari. Mata Tari terbuka. Sebenarnya pura-pura tidur, ia sengaja menunggu Jesica sampai keluar dari kamar mandi. Mereka saling membelakangi. Beberapa menit kemudian, Tari menoleh kebelakang kemudian pelan-pelan mendekat ke Jesica yang masih membelakangi dirinya, lalu ia memeluk sahabatnya. Jesica sebenarnya pun juga berpura-pura tidur, ia membuka matanya ketika sahabatnya meluk dirinya. "Gue sayang sama lo, Jes." bisik Tari. Diam-diam Jesica netesin air mata. "Gue nggak pernah ada niat sedikitpun buat mainin hati lo. Gue sayang sama lo. Lo udah seperti saudara gue sendiri...Gimana bisa gue nyakitin lo...Lo lebih dari sahabat gue..." suara Tari mulai sumbang "kata-kata lo tadi itu bener-bener nyakitin perasaan gue, tapi...tapi...emang gue yang salah, emang gue yang egois...Seharusnya gue langsung kasih tau lo ketika Dion nembak gue. Tapi gue pikir-pikir akan kasih tau lo kalau kita ketemu...Gue...gue...yang salah. Maafin gue...maaf Jesica. Maafin gue..." Jesica tidak membalas sepatah katapun, ia hanya netesin air mata dengerin semua ucapan sahabatnya. ****** Terik matahari yang menembus jendela kamar telah bangunin Tari. Tengok kanan kiri. Jesica dimana? turun dari ranjang keluar dari kamar mencari sahabatnya. Melihat Jesica sedang duduk dekat kolam, berniat menyusul tapi tiba-tiba kakek datang dan berkata "Biarin aja dulu. Dia butuh waktu untuk sendiri." Tari tarik napas dalam-dalam. "Tari nggak pernah liat Jesica seperti ini. Rasanya Tari bener-bener bersalah. Tari nggak..." kakek nyentuh pipinya dan berkata lembut "Kakek tau. Sekarang, sebaiknya kamu mandi dan prepare buat sekolah besok. Oke." Tari tersenyum. Sampai tas terakhir masuk kedalam bagasi, Jesica tidak kunjung nemuin dirinya dan Dion. Melihat kedalam rumah berharap Jesica muncul dan nemuin dirinya. "Kakek akan bicara sama dia nanti." hibur kakek. Tari tersenyum. Rasanya berat ninggalin Jesica tanpa berpamitan. Tapi apa boleh buat, Jesica nggak pengen ketemu dengan dirinya. "Kek...Tari pamit pulang dulu ya..." Melihat kedalam rumah "salamin buat Jesica. Tolong beri tahu dia kalau Tari sayang banget sama dia." memeluk kakek. "Pasti, sayang." balas kakek. Kemudian Tari melepas pelukannya. Ganti Dion yang berpamitan. Saat Tari mau buka pintu tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Tariii!!!" menoleh. Jesica berlari kemudian langsung memeluk sahabatnya. Beban sedunia yang dipikul Tari seakan-akan menghilang saat sahabatnya datang dan meluk dirinya erat-erat sampai-sampai tangis memecah. "Jahat banget lo nggak say goodbye sama gue." desah Jesica. "Gue pikir...gue pikir lo udah nggak mau lihat gue lagi. Gue pikir lo nggak mau ngomong sama gue lagi...Gue...gue bener-bener minta maaf." enggak kalah terharunya. "Kenapa lo berpikiran kayak gitu. Apa gara-gara ucapan gue semalem sampai-sampai lo berpikir kayak gitu??" Tari mengangguk dalam pelukan. "Gue minta maaf. Gue nggak bermaksud nyinggung perasaan lo tentang ucapan gue..." Tari melepas pelukan sembari gelengin kepala dan berkata "Jangan minta maaf sama gue. Gue yang salah...Lo marah malam itu, jadi lo pantas maki gue...Maafin gue..." kembali berpelukan. Melihat keadaan membaik Dion ikut memeluk mereka berdua. "Dion, gue nggak bisa bernapas" melepas pelukannya kemudian tersenyum melihat Dion. "Benar kata Tari, dulu sebenarnya gue sempat suka sama lo." Dion membuka omongan "emmhh, gue berniat mau nembak lo sehabis DN." tangan bertolak pinggang "tapi...setelah dengar lo mau pindah dari sekolah setelah DN. Gue harus berpikir seribu kali buat nembak lo, karena gue pikir lo nggak mungkin nerima gue. Dan akhirnya..." Jesica tersenyum manis "Pernah gue ingin nyoba nembak lo, gue beraniin diri gue. Dan saat gue datang pas lo kena fitnah masalah obat terlarang saat itu, gue lihat ada cowok yang sayang sama lo. Yang berada deket sama lo. Jadi...sekali lagi gue kurung niat gue buat nembak lo." Jelas Dion blak-blakan. "Jonathan kan namanya...?" tebaknya "Setelah itu, gue berusaha move on dari lo. Cukup sulit juga." Jesica tersipu malu "tapi setelah berbulan-bulan gue baru sadar." melihat Tari "Ada cewek yang selalu berada disamping gue, dideket gue, dan selalu dukung gue." menoleh kembali ke Jesica "Gue berusaha buka hati buat dia. Dan akirnya, aku bisa dapetin dia. Tari." Jesica meluk erat Dion. "Gue minta maaf, Jes." ucap Dion membalas pelukannya "gue pernah cinta sama lo, cuman gue nggak punya nyali untuk ungkapin. Karena gue takut lo nggak mau hubungan jarak jauh sama gue..." "Thanks udah mau mencintai gue." balas Jesica. Melepas pelukannya lalu meraih tangan kanan Dion dan Tari "Lo harus jaga sahabat gue. Lo harus selalu sayang sama dia." Dion tersenyum manis "Kalau Tari bandel dan lebay itu memang sifatnya" godanya bikin Tari nguncrit bibir. "Gue pasti jagain dia. Kalau dia lebay gue tinggalin aja di trotoar." "Dioonnn." Mereka tertawa lebar. "Kayaknya kakek sekarang nggak perlu kawatir lagi. Jadi sebaiknya kakek ke kantor aja." Pamit beliau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN