Hampa

646 Kata
Akhir-akhir ini Jesica terlihat nggak bersemangat. Ngikuti pelajaran dengan datar, jalan melewati lorong sekolah juga datar, makan di kantin pun juga datar. Tanpa ekspresi. Mulai saat ini ia berkomitmen apabila mang Jaja telat jemput ia akan ke halte naik bis atau angkot kalau naik taksi pas keadaan darurat aja. Tapi niatan untuk naik bis ataupun angkot belum kesampaian, karena sekarang mang Jaja datang lebih awal dari yang sebelumnya. Karena kakek menyuruh mang Jaja meninggalkan tugasnya yang lain sebelum menjemput cucunya dan itu sudah berjalan beberapa hari terakhir ini. Meski sekolah sudah bubar dan kelas sudah sepi tapi Amel dan temen-temennya masih ada dikelasnya bercanda gurau lalu barulah setelah beberapa menit Amel berniat pulang. “Ok, guys. Gue cabut dulu!” pamit Amel sembari merhatiin jari kukunya yang halus. “Kalian bawa aja dulu tuh hasil karya gue, kalian puas-puas in aja liat foto gue ” ujarnya menyeringai lalu melangkah pergi keluar dari kelas, sementara teman-temannya keasyikan liat hasil jepretan itu. Enggak sengaja Jonathan melewati kelas yang mana Devi dan yang lain sedang membicarakan Miss Trouble Maker. Ia jadi penasaran dan ingin mendengar lebih jelas apa yang sedang diomongin sama temen-temen Amel itu. “Amel kece banget, gue nggak habis pikir sama tuh anak sampai segala cara dia lakuin demi hancurin Miss Trouble Maker itu buat dapetin Jonathan.” Ucap Lita. “Gue akui dia memang pakai seribu cara buat dapetin cowok Trouble Maker itu…” sahut Sari. “Eh coba lo bayangin dari kelas satu sampai sekarang. Siapapun yang deket sama Jon pasti bakal dia hajar habis-habisan, sekalipun Miss Trouble Maker.” sambung Devi. "Kalian inget waktu kita kunci dia di gudang, sebenarnya gue kasihan juga sih. Tapi..." sahut Sari. Nonyol kepala Sita “Kalau lo ngomong gini didepan muka Amel bisa-bisa ditelen mentah-mentah lo.” Tegur Lita terheran-heran tanpa menyadari Jon menguping pembicaraan mereka dibalik pintu. “Tapi sebenaranya Jon sama Jes itu sama-sama begoknya, coba lo bayangin mereka berdua bisa-bisanya diadu sama Amel.” Jelas Devi. Lita nyentik jari “Gue punya ide.Gimana kalau foto-foto inikita perbanyak??” tandasnya bikin temen-temennya semangat. “Wahh, seru juga tuh!” seru Devi "Amel pasti bakal seneng banget." tambah Sari. “Ini pasti bakal jadi gossip yang…” Lita belum selesai bicara, tiba-tiba Jonathan merampas begitu saja kamerayang dipegang Sari. Seketika secara bersamaan kepala mereka semua mendongak keatas dan berniat protes saat kameranya dirampas begitu saja, tetapi saat tahu siapa yang merampas kameranya,mimik wajah mereka semua berubah pucat pasi. “Punya siapa ini??!!” seru Jonathan menunjukkan kamera itu. Gelagapan saling memandang ketakutan. "Gue bilang, ini punya siapa?!" "Emmhh...itu...itu..." “GUE BILANG PUNYA SIAPA!???” bentaknya tambah garang. “I,itu…itu…punya…A,Amel…” Lita gemetar melirik temannya yang juga ketakutan. Mereka terpaksa menceritakan semua dengan Jonathan sedetail dan sejelas mungkin tentang foto itu. Matanya menatap lurus penuh amarah, hidung kembang kempis, dan raut muka selayak malam jumat kliwon nampak jelas menggamparkan diri Jonathan sekarang. Ternyata selama ini lagi-lagi Amel dalang dari semua ini. Menatap satu per satu teman-teman Amel yang ketakutan lalu Langsung angkat kaki kemudian pergi begitu saja tanpa bicara. Sementara temen-temen Amel ketakutan dan kebingungan kalau Amel sampai tahu bahwa mereka udah ngomong semuanya tentang ulah Amel. Diwaktu bersamaan diluar kelas ternyatadiam-diam Agnes nguping pembicaraan mereka. Dirinya juga kaget ternyata yang dialami Jesica murni ulah Amel. Gue harus kasih tau Jesica. Batinnya. Melihat Jonathan menuju pintu ia bergegas sembunyi. Tap, tap, tap. Langkah kaki Jonathan seakan - akan terbakar oleh api amarah menuju kelas Jesica, ia nggak sabar menjelaskan semua kesalah fahaman selama ini. Begitu b**o-nya gue. Sampai-sampai gue nggak sadar ternyata Amel lah yang sudah memonopoli gue dengan Jesica, gue kira dia sudah berubah. Perang batinnya. "Mana Jesica?" celingukan nggak melihat cewek itu di kelas. "Dia ijin pulang tadi. Katanya lagi nggak enak badan." sahut salah seorang siswa lain. Menoleh. Tarik napas dalam-dalam sembari menutup mata sesaat dengan rasa menyesal. Terpaksa harus nunggu pulang sekolah. ****** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN