Bosen dikamar terus seharian. Kepengen nelpon Tari pasti dia masih jam pelajaran. Glebakan diatas kasur, pindah ke sofa, pindah lagi ke kasur. Huft. Ke teras aja deh, cari udara segar.
Bangkit kemudian menuju pintu berniat keluar kamar.
Nggak lama bibi masuk kamar membawa makanan dan obat untuk Jesica. Glek. Suara gangang pintu diputar. Looh?? Kok nggak ada orang?? tanyanya dalam hati.
Celingukan sambil naruk nampan yang ia bawa, kemudian ngetok pintu kamar mandi. Tok, Tok, Tok. "Non??" panggilnya tanpa jawaban. Mungkin aja nggak dengar. Tok, tok, tok. "Non?" Ulangnya.
"Ada apa, bi?" sahut Jesica yang baru aja masuk ke kamar.
Menoleh. "Saya kira non ada didalam kamar mandi. Non dari mana?"
"Teras." Buka lemari baju mencari jaket.
"Non lagi sakit kok malah di luar. Nanti tuan marah kalau tau."
"Ya bibi jangan kasih tau kakek kalau gitu." jawabnya "mana jaket gue sih..."
Ambil nampan dimeja. "Makan dulu non, habis itu minum obat."
Berhenti menyila-nyila baju yang bergantungan di lemari. Menoleh lihat bibi lalu melirik makanan yang dibawa. Meraih nampan sambil berkata "Ya udah. Tolong bibi carikan jaket. Jes makan di teras." berlalu keluar kamar.
Bibi geleng-geleng kepala. Kalau udah punya kemauan udah nggak bisa ditekuk lagi. Hela napas.
Tak lama, bibi datang bawa jaket buat dirinya. "Ini non, pakai dulu."
Naruk sendok kemudian langsung memakai jaketnya. "Makasih bi, ya." ucapnya.
"Non, apa sebaiknya nggak makan didalam aja." tutur bibi.
Menengok kearah bibi sembari tersenyum. "Enggak usah, bi...Toh Jes juga mau nunggu kakek pulang."
"Ya udah kalau gitu, bibi kedalam dulu. Kalau ada apa-apa panggil bibi aja." Mengangguk sambil lanjutin makan. Bibi angkat kaki masuk kedalam rumah.
Sudah berjam-jam nongkrong di teras. Mulai bosen. Mau ngapain lagi?? Huft. Tiba-tiba handphone berdering. Lihat layar. Nomor tak dikenal. Siapa ini? mencet tombol terima. "Halo?"
"Jes." suara cowok.
Ngerutin kening. Kayak pernah denger suaranya "Siapa nih?" memastikan.
"Jes, kata temen-temen lo lagi sakit?" suara Jonathan dibalik telpon yang ternyata diam-diam sembunyi di toilet demi bisa tahu kondisi Jesica.
Jonathan. Mata terbelalak dan berniat matiin telponnya. Tapi suara Jonathan begitu nyaring dibalik telpon meminta supaya nggak dimatiin telpon darinya. "Pliss Jes, jangan lo matiin. Gue cuma pengen tau kondisi lo. Pliisss" nada suaranya begitu tinggi sampai-sampai Jesica nggak perlu deketin spekear ditelinga.
Rasanya nggak enak juga kalau dimatiin. Nempelin speaker ke telinga. "Hemm" ketusnya.
"Sorry Jes kalau gue ganggu istirahat lo. Gue cuma pengen tau kondisi lo aja dan jelasin tentang..."
"Gue baik-baik aja!"
Tut, tut, tut, tut, tuuuuttt. Nada putus.
"Jes??" panggilnya tapi apa daya telponnya udah diputus. "Aaarrggg!!!" ninju dinding lampiasin amarah.
Jesica gerutu sendiri setelah memutus telponnya. "Gue nyesel bisa seneng sama orang kayak lo yang bisanya nyakitin hati gue.”
Nggak lama terdengar telpon rumah berdering. Pasti dia lagi yang telpon. Tebaknya dalam hati. Nggak bakalan gue mau angkat tuh telpon.
"Nooon, nooon!?" panggil bibi.
Tuh kan, apa gue bilang. Pasti dia yang telpon. Sampai ribuan kali gue nggak bakal mau angkat. batinnya.
"Noon..." bibi membawa telpon tanpa kabel dengan mata berkaca-kaca dan gemetaran.
Menoleh. Mata terbelalak “Kenapa bi?” tanyanya bingung sembari bangkit dari duduk. Masa dapet telpon dari Jonathan sampai mau nangis gini?? pikirnya.
Bibi malah meneteskan air mata, membuat ia semakin bingung “Bibi, bilang ada apa?” megang kedua lengan bibi "masa Jon yang telpon bibi sampai mau nangis gini. Emang dia bilang apa??"
Bibi geleng-geleng kepala dan berkata terbata-bata “Tu, tu, tuan besar kecelakaan...” derai air mata bibi pun tak tertahankan, sementara ia shock seakan-akan ada petir yang nyambar. "Ka, kakek???" kejut Jesica terasa lemas.
"Ini telpon dari kantor polisi non...." suara sumbang bibi.
“Se, sekarang dimana kakek?!! Dimana kakek bibi?! Bilang! Dimana kakek??!!” histerisnya mengoyak tubuh bibi, air matanya sudah tak bisa terbendung lagi.
“Kakek sekarang di rumah sakit bersama mang Jaja, non...” desah bibimemeluknya yang menangis tersedu-sedu.
“Bibi, kita harus ke rumah sakit!! Kita harus ke rumah sakit!! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!!” Paniknya. “Ki, kita harus segera ke rumah sakit!! Bibi, kita harus segera ke rumah sakit!!!”ucapnya berulang-ulangkarena sangking kawatirnya.
“I, iya non. Non, tenang dulu. Non tenang, saya panggilkan taksi dulu.” Tutur bibisembari menghapus air mata.
Karena sangking panik, bibi tidak menelpon nomer taksi saja tapi malah keluar mencari taksi di jalan raya, sedangkan Jesica berusaha hubungi mang Jaja tapi nggak diangkat-angkat.
Mondar-mandir cemas didepan rumah. "Bibi lama banget sih cari taksinya..." gumamnya "cari kemana sih bibi ini??" sudah nggak sabar.
Saat berbalik badan ia malah mendapati Jonathan yang baru aja turun dari motor dan berjalan menuju kearahnya.
Melihat kondisi Jesica lebam seperti orang nangis, ia segera berlari kecil dan bertanya “Jes, apa yang terjadi?? Kenapa lonangis???” tanyanya cemas meraih tangan Jesica tanpa sadar.
“Ngapain lo kesini!!" membuang tangan "Gue udah bilang jangan temui gue lagi!!!” serunya berdelik menatap tajam mata Jonathan meski dengan air mata.
“Jes, gue hanya mau jelasin yang sebenarnya sama lo tentang salah faham..."
“GUE NGGAK MAU BAHAS ITU SEMUA!!!" Potongnya dengan suara keras dan lantang. "GUE UDAH LIHAT DENGAN MATA KEPALA GUE SENDIRI!!! LO NGGAK PERLU JELASIN APAPUN!!!” bentaknya dengan derai air mata. Dilain sisi mikirin kondisi kakek, disisi lain mikirin hatinya yang remuk. Lengkap sudah.
“tapi Jes ini bukan seperti yang lo pikirin…ini…semua Amel yang lakuinnya, dia bikin skenario agar lo jauhi gue.” Jelasnya begitu tegas.
“BIARIN GUE HIDUP TENANG JON…GUE MOHON" Pintanya menepuk kedua telapak tangan didepan hadapan cowok itu dengan memohon. "SEMUANYA SUDAH JELAS BANGET. HATI GUE SUDAH CUKUP SAKIT DAN GUE ENGGAK BISA NGOBATINYA…GUE NGGAK KUAT JON…LO, AMEL, TIPUAN, SANDIWARA, FOTO, GUE NGGAK MAU PEDULI LAGI.” Tambahnya yang malah semakin tak kuasa menahan diri.
Selang beberapa saat perdebatan mereka,ia melihat taksi datang dan bibi keluar dari taksi. “Tapi Jes…Amel, AMEL YANG LAKUIN SEMUA INI.”
“GUE BILANG CUKUP JON!! LO BENER-BENER NGGAK TAU MALU APA??!! GUE NGGAK MAU LIHAT LO LAGI!!! PERGI!!! PERGIII!!” teriaknya sambil mendorong-dorong tubuh Jonathan. “PERGI DARI HADAPAN GUE!!! Gue nggak mau lihat lo lagi…gue nggak mau lihat lo lagi…”
“Jes, selama ini Amel yang membuat kita musuhan…dia yang membuat kita bertengkar dan saling membenci. Foto itu…itu semua rekayasa…Amel yang rencanain semuanya…” Jonathan terus berusaha jelasin semuanya, ia menahan tangan Jesica untuk tidak pergi.
“Apa lo bilang…Amel yang rencanain semua ini…Amel yang rencanain…???” ucap Jes melemas. “TERUS APA ARTI SAAT LO MENGGENDONG DIA, HA???! DAN LO SUDAH MENANG TARUHAN!!!" nunjuk-nunjuk kearah Jonathan.
"Saat itu gue cuma..."
"GUE JELAS-JELAS LIHAT KALIAN BERDUA!!! LO SAMA AMEL!!! LO MAU BILANG NGGAK ADA HUBUNGAN DENGAN DIA!!!lo bilang Amel yang rencanain…???” kepala Jesica mangguk-mangguk.
“I, itu, gue juga nggak tau kalau dia mau…”
“MAU APA??!! Gue nggak buta lihat lo sama Amel. BASI TAU NGGAK!" berniat pergi tapi Jonathan masih saja nahan dirinya. Ia memegang lengannya.
"Sekarang, gue mohon sama lo, Jon. Gue minta lo pergi dari hadapan gue dan jangan pernah kembali kesini lagi…gue nggak mau lihat lo lagi. PERGIIII!!! Gue bennnciii sama lo!” serunya mendorong tubuh Jonathan yang tak bisa berkutik lagi.
Jesica berlari penuh derai air mata menuju bibi yang menunggu didepan taksi.
“GUE CINTA SAMA LO!! GUE JATUH CINTA SAMA LO, JES!!!” Teriak Jonathan yang tak bearti apa-apa, malah Jesica masuk kedalam taksi dan berlalu. "GUE BENER-BENER CINTA SAMA LO, JES!!"
Bibi memeluk dirinya yang semakin menangis terisak-isak di dalam taksi. Selain kasihan dengan Jesica yang sedang kawatir dengan kondisi kakek, bibi juga merasakasihan dengan Jonathan yang kena imbasnya karena Jesica sedang kacau saat ini.
Jonathan datang diwaktu yang tidak tepat. Andai saja dia lebih bersabar menunggu Jesica masuk sekolah pasti tidak akan terjadi kesalah pahaman ini. Dan sekarang dia harus pulang dengan rasa kekecewaan yang begitu mendalam setelah mendengar makian dari cewek yang dia cintai.
******
Sesampainya di rumah sakit, polisi memberi keterangan kepada Jesica tentang apa yang telah terjadi. “Kakek anda korban dari tabrak lari. Pelaku masih dalam pencarian kami. Semoga saja kakek anda baik-baik saja.” Jelas polisi itu.
Jesica nggak bisa bicara lagi. Ia hanya berdoa dan berharap kakek baik-baik saja.
Dengan rasa cemas ia tunggu diluar ruang ICU. Bibi dan mang Jaja juga menemani dirinya.
"Gimana kakek bisa sampai kayak gini sih mang??" isaknya.
"Maaf non. Mang Jaja cuma nunggu didalam mobil. Jadi mang Jaja nggak tau ceritanya. Tau-tau diseberang jalan rame orang. Terus mang Jaja penasaran lalu kesana. Enggak taunya kakek yang kecelakaan." sesal mang Jaja.
“Non, tenang aja…pasti kakek non baik-baik saja” tutur bibi membelai rambutnya.
Beberapa saat kemudian pintu ruang ICU dibuka dan dokter keluar dari ruangan. “Bagaimana keadaan kakek saya dok???” sambarnya cemas.
“Kita sudah melakukan yang terbaik demi pasien kami…kakek anda masih koma karena luka di kepalanya cukup parah, jika dalam 20 jam kakek anda belum sadar…kami tidak bisa melakukan apa-apa." jelas dokter.
"Maksud dokter, kakek saya..." netesin air mata.
"Kita hanya bisa berdoa sekarang, semoga kakek anda bisa segera siuman, permisi.” tambah dokter.
Kabar ini membuat Jesica semakin kawatir, segera ia masuk ruangan kakek.
Melihat kakek tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur tanpa suara mebuat hatinya semakin teriris. “Kakek…?” gumamnya sambil mendekat“Kakek…kakek harus kuat…ka,kakek enggak boleh ninggalin Jes sendirian disini…kakek…kakek bangun…kakek harus buka mata kakek…kakek harus berusaha…” tangisnya penuh harap.
*****