Sudah enam jam kakek nggak kunjung sadarkan diri.Jesica hanya bisa merangkul perut kakek sembari memandang beliau yang masih saja mejamin mata. “Non, sebaiknya non istirahat dulu…lagian non belummakan…” tutur bibi tapi ia tak menjawab sepatah katapun.
Garuk-garuk kepala cemas “Ini bibi bawain nasi padang kesukaan non Jes.”Rayu bibi
“Jes nggak mau makan, bi.”Nada pelan dan terdengar sumbang.
“Tapi non belum makan dari tadi sore…entar malah non sakit.”
Menoleh. Dengan nada yang cukup tinggi berkata “Jes bilang, Jes nggak mau makan sebelum kakek buka mata dulu.” Keras kepala.
Bibi lumayan tersentak tapi ia tetep berusaha merayu.
“Non…kalau kakek denger pasti sedih non enggak mau makan…” tutur bibi cemas.
“Bibi, Jes nggak mau…Jes mau nunggu kakek sampai bangun.”Nada merendah.
“Tapi non…”
“Jes nggak mau! Jes mau nunggu kakek disini sampai kakek bangunn…” serunya kembali dengan nada meninggi mempertegas ucapannya.
“Betul…apa yang bibi bilang…” suara serak lemah menyela pembicaraan mereka.
Set. Nengok kakek. Siuman. “kakek sedih kalau kamu nggak mau makan…” lanjut beliau lembut.
“Kakek??!!” Jesica memeluk kakek dan meminta bibi manggilin dokter.
“Bibi panggilin dokter!” Bibi lekas keluar.
Beberapa menit kemudian, dokter datang dan memeriksa kakek. Setelah ngecek semua baru dokter berkata “Kakek anda sudah membaik. Dia sekarang hanya membutuhkan istirahat.” Senyum lega pun terpancar dari air muka Jesica, bibi dan mang Jaja.
******
Beberapa hari ini, Jesica tidak masuk sekolah, ia lebih memilih mengurus kakek di rumah sakit.
Beberapa hari ini juga, diam-diam Jonathan mengurus surat pindahnya tanpa diketahui temen-temen “Kenapa kamu harus pindah sekolah??” tanya guru BK diruang guru. BK bakalan sepi tanpa adanya kenakalan murid didiknya yang satu ini. Pikir pak Sidiq.
“Ini sudah jadi keputusan saya, pak.” jawabnya yang duduk didepan meja wali kelas.
“Kamu yakin…?” tanya Suryayang berdiri tegap sembari melipat kedua tangan. Mengangguk.
Enggak sengaja diwaktu bersamaan, Agnes masuk ke ruang guru membawa setumpuk buku tugas matematika yang disuruh ngumpulin ke meja pak Hendra.
Ada apaan tuh kok pada kumpul-kumpul. Diam-diam celingukan pengen tahu sembari pelan-pelan naruk setumpuk buku diatas meja. "Mungkin saya akan berangkat ke Makasar besok lusa, Kamis sore.” Ucap Jon jelas dengan nada yang datar sambil sesekali melihat pak Surya yang juga memandang ragu.
Dug. Apa?? Jon mau pindah sekolah ke Makasar??? Hari Kamis??? kagetnya dalam hati. Kenapa??
Rasanya pengen banget ikut nimbrung dengerin semuanya tapi tiba-tiba ada pak Sidiq negur dirinya "Ada perlu apa, Nes??"
Kaget. Cengar-cengir sembari berkata "Nggak ada apa-apa kok pak, cuma disuruh numpuk buku tugas sama pak Hendra."
"Oohh, iya."
"Hehehe, mari pak..." pamitnya dengan berat hati keluar ruangan sembari sesekali celingukan pengen tau kelanjutannya.
“Ini nggak bisa dipercaya!!??" ucapnya setelah keluar ruang guru berjalan menuju kelas "Jon mau pindah??? Gue harus kasih tau Jesica. Tapi beberapa hari ini dia nggak masuk sekolah terus dihubungi susah banget lagi. Hadduuhh. Kemana sih anak itu??!!” garuk-garuk kepala.
Setelah bel pulang berbunyi, Agnes bertekat mampir ke rumah Jesica untuk memberi tahu kabar tersebut sebelum ada yang menyesal diantara mereka.
Namun sesampai disana, rumahterkunci dan nggak ada orang satupun. “Kok, nggak ada orang sih?? Kemana anak itu?? Haduh…lo tuh kemana sih Jes?? Bikin kawatir aja…” guman Agnes kebingungan.
******
Empat hari nggak masuk sekolah rasanya sekolah sudah berubah. Berubah tenang. Biasanya ia melihat gengster Amel lagi heboh buili murid lain, terus grombolan Master Trouble Maker yang selalu aja bikin ulah disetiap sudut kelas tapi hari ini kayaknya suasananya hening banget. Aneh. Pikirnya sembari melewati setiap lorong sekolah menuju kantin.
Dalam lamunan tiba-tiba dikejutin sama Agnes yang nubruk badannya dari belakang “Agnes??” kejutnya bercampur kesel.
“Lo tuh, kemana aja sih??? Gue telpon nggak bisa!? Gue datang ke rumah lo nggak ada orang?! Gue mau bicara sama lo! Ikut gue!!” tarik Agnes membawanya pergi.
“Ih lo ini kenapa sih??!!” berhenti didepan ruang bahasa “Nes, lo baik-baik aja kan?” tanyanya kawatir.
Agnes lihat ruang bahasa kayaknya enggak ada orang. Ia tarik tangan Jesica masuk kedalam ruang bahasa kemudin menutup pintu rapat-rapat. "Elo ini maksudnya apa sih? Gue mau pergi aja." Agnes menahan tubuhnya "Nes, gue nggak suka lo bersikap gini sama gue. Jangan sampai gue nyakitin elo." membuang tangan Agnes yang menahan tubuhnya "gue mau pergi."
“Jon pergi.” Seru Agnes singkat.
“Pergi?? Maksud lo apa sih??” menghentikan langkahnya menoleh ke arah Agnes dengan penuh tanda tanya.
“Jon pindah ke Makasar.” Tambah Agnes membuat ia terpaku mendengarnya. “Dia nggak sekolah disini lagi…pas lo enggak masuk, dia mengurus surat pindahnya, bahkan temen-temen yang lain nggak ada yang tau kepindahannya. Gue tau soalnya pas itu gue ke ruang guru dan mendengar sekilas percakapan mereka.” Jelas Agnes yang nggak bisa membuat ia berkutik.
“Dia…dia…pindah…???” shock-nya enggak menyangka. Tapi mengingat rasa sakit yang sudah diberi oleh Jonathan ia berusaha acuh “Apa urusannya sama gue???” celetuknya cuek.
“Ya ada lah urusannya sama lo!! Lo tau…lo salah paham sama Jon, bukan Jon yang lakuin semua ini, tapi Amel.” seru Agnes mempertegas ucapannya.
“Kenapa lo jadi ikut-ikutan masalah ini??!! Gue sudah nggak mau peduliin hal ini lagi! Jadi lo enggak perlu ikut campur masalah gue!!” serunya mulai kesal. “Lo nggak tau masalahnya!!” kecamnya sambil nunjuk-nunjuk kearah Agnes “Lo tau…seharusnya gue nggak percaya sama dia, seharusnya gue enggak kenal dia, dan seharusnya juga gue enggak jattuh cinntaa sama dia!! Lo tau…hati gue sakit banget…Nes, sakit…" suara mulai tedengar sumbang "ini pertama kali gue jatuh cinta sama cowok tapi ini juga pertama kalinya gue merasakan hati ini sakittt…" mata berkaca-kaca bikin Agnes nggak enak hati "gue mohon jangan ngomongin dia lagi, cukup sekali gue jatuh cinta dan cukup sekali gue sakit hati. Dia sudah buat gue bahan taruhannya lagi.” tekannya kemudian berbalik badan niat beranjak dari ruang bahasa.
Sampai dari daun pintu Agnes berseru.
“Lo salah Jes." berhenti melangkah"Jon cinta sama elo” tambahnya kemudian merogoh kantong depan ambil handphone touchscreen miliknya "oke, lo boleh nggak percaya lagi sama dia. Tapi lo, harus percaya sama gue." menyentuh menu aplikasi rekaman suara lalu ia tekan tombol play untuk memutar rekaman itu.
Terdengar suara teman-teman Amel dalam rekaman tersebut, ternyata saat itu Agnes tidak hanya mendengar pengakuan mereka,tapi diam-diam dia juga merekam semua pembicaraan mereka juga sebagai tanda bukti bahwa semua yang terjadi antara temannya dan Jonathan itu berasal dari niat buruk Amel yang pengen merusak hubungan mereka.
"Apa lo masih nggak mau percaya??" seru Agnes.
Pelan-pelan Jesica berbalik badan melangkah mendekat handphone yang digenggam Agnes. Jelas betul suara rekaman itu.
Ia bener-bener shock, dadanya serasa sesak, mata yang mula berkaca-kaca kini jatuh menetes basahi pipi.
tubuhnya melemas sampai-sampai bersandar dibangku yang tak jauh dari posisinya, sementara ia sudah mencaci maki habis-habisan cowok trouble maker itu.
Agnes memeluk dirinya. “Jon terus berusaha agar lo mau maafin dia, selama lo nggak ada, selain dia mengurus kepindahannya, dia cuma diam nggak banyak bertingkah.” Jelasnya.
"Gue...gue...yang memintanya buat pergi..."
"Ma, maksud lo??" Agnes ngerutin kening.
"Disaat gue terima kabar kalau kakek gue kecelakaan, gue bener-bener shock banget. Dan diwaktu barengan Jon datang dan itu bikin gue nggak bisa ngontrol emosi gue. Gue lampiasin emosi gue ke dia. Terus...terus gue yang minta dia buat pergi selamanya dari kehidupan gue..." jelasnya bikin Agnes shock.
"Apa..."
"Gue udah caci maki dia habis-habisan, Nes. Gue...gue yang bikin dia pindah sekolah. Gue nyesel bangeeett, gara-gara ego gue dia...dia...dia pergi dari sini." tangispun pecah didalam pelukan Agnes.
“Hari ini…Jon pergi ke Makasar.” Ujar Agnes.
melepas pelukan menatap Agnes “Ha, hari ini…”
“Gue yakin dia naik pesawat, tapi gue nggak yakin jam berapa dia berangkat, yang gue tau…sore ini.”
Penyesalan seakan-akan sudah tiada arti lagi. "Gue harus gimana, Nes? Gue, gue nyesel banget udah ngusir dia."
Sekilas Agnes dapat ide cemerlang. "Lo telpon dia!" tandasnya.
"Gue nggak bawa hape"
"Pakai punya gue. Setidaknya kita masih punya waktu." mencari-cari kontak nama 'Jonathan'
Tuuuuutttt, Tuuuuuttt, Tuuuuuuutt.
Jonathan yang masih masukin baju-baju kedalam koper cuma menengok panggilan masuk. Agnes.
Ia pun malas menerima panggilan itu dan kembali menata barang-barang kedalam koper.
"Dia nggak angkat-angkat telponya..." cemas Jesica dibalik telpon.
"Coba lo telpon lagi." ujar Agnes.
Mengulang sekali lagi, lagi, lagi, dan lagi tapi nggak juga diangkat.
Dengan menyesal menatap temannya sembari gelengin kepala dua kali. Ia nggak sanggup mengatakan apa-apa, sudah nggak ada harapan buat ketemu Master Trouble Maker lagi.
Berpikir sejenak lalu menyapu air mata di pipi dan berkata “Gue mau nyari Amel.”
“Tapi Jes…”
“Gue mau nyari dia, ini semua gara-gara dia.” nada meninggi “Gue akan beri dia pelajaran.” beranjak keluar dari ruangan.
Tap, tap, tap, dengan langkah cepat ia celingukan mencari-cari Amel di setiap sudut sekolah. Kalau teringat apa yang dikatakan Amel tentang taruhan, pacar, dan fotoitu sama sekali Jonathan tidak mengetahuinya kalau semua rencana Amel.
Setelah cukup lama mencari akhirnya ia melihat Amel dan temen-temen masuk ke toilet, bergegas ia susul kesana.
Ketika Amel sedang melisps-gloshi bibirnya didepan cermin, tiba-tiba Jesica meraih tangan Amel yang memegang lipsglosh sehingga warnanya blepotan diluar garis bibir.
“Aaaa!!!??? Lo apa-apaan sih!!???” teriak Amel protes melotot.“LO GILA YA!!!"
“Heh!! Dasar tukang boong lo ya!!???”
“Bohong apaan?!!! Kurang ajar banget lo!!!”
Temen-temen Amel nggak berani ikut campur masalah mereka. Liat cikcok mereka aja ngeri apalagi mau ngelerai. “Gue nggak butuh celotehan lo!! Sekarang lo jujur sama gue!! Kalau apa yang lo lakuin ke gue sama Jon itu semua lo yang rencanain???!!!” delik Jesica pengen ngejambak rambut panjang cewek didepannya ini.
“Heh!!" bentak Amel nggak kalah garang "Terserah gue!!! Apa urusan lo!!! Yang penting gue puas!!!!”nantangnya didepan muka Miss Trouble Maker.
“Apa lo bilang!!!???” Jesica menarik kasar tangan kanan Amel kedalam kamar mandi kosong, meski berontak cengkraman Jesica lebih kuat.
Didalam kamar mandi ia ambil gayung yang ada di bibir bak lalu diisi air kemudian disiram ke Amel begitu saja. “Aaaaakhh????!!!! LO APA-APAAN SIH!!???” teriak Amel yang basah kuyup.
“Sekarang lo jujur sama gue!!! Kalo lo yang rencanain ini semua!!! Bilang!!!???” kecamnya terus mengguyur Amel sampai gelagapan sampai akhirnya mengaku juga "Iya!! Iya!!" teriaknya. Berhenti mengguyur, terpaku sejenak "Emang gue yang rencanain semuanya!!! Kenapa??!! Lo nggak terima!!!??” Nyolot Amel malah tambah menantang.
Ternyata Jon nggak bermaksud lakuin semua ini. Batinnya mengabaikan Amel. Ia lempar gayung dalam genggamannya lalu pergi begitu aja ninggalin Amel yang basah kuyup.
Mata Amel terbelalak kesal dirinya ditinggal begitu aja "Heh!!!!?" teriaknya kearah Jesica yang keluar dari pintu.
Teman-temannya baru mau hampiri setelah Jesica hilang dari balik pintu. “Aaahhh!! Udah!! Udah!! Teman apaan kalian!!” kesalnya“Resek banget si Trouble Maker itu!!! s****n!!!.”
******