Lemas nggak berdaya itulah yang sedang ia rasakan. Langkah kakinya serasa berat nyusuri lorong sekolah dengan tas tersampir dipundak sebelah kanan seakan menambah beban.
Pandangan kosong, pikiran kemana-mana. Sampai-sampai nggak berasa ia menabrak lengan kiri orang yang berjalan berlawanan arah, tetapi ia malah terus berjalan lempeng tanpa merhatiin siapa orang yang ditabrak apalagi minta maaf.
“Jes?” tegur pak Surya. Guru olah raga yang kabarnya masih lajang. Jesica menoleh "Pak Surya?" sesaat saling memandang seakan-akan pak Surya mengerti apa yang sedang dirasakan Jesica “Saya yang usir dia supaya pergi jauh dari kehidupan saya, pak. Tapi...waktu saya bilang gitu pikiran saya lagi kacau.”
"Saya antar kamu pulang dulu habis itu kita ke bandara." tawar pak Surya.
******
Sesampai di rumah, ia melihat beberapa orang yang tergopoh-gopoh menggotong sesuatu yang cukup besar tertutup dengan kain putih dihiasi tali kado.
Keluar dari mobil dengan penuh penasaran, disusul Pak Surya yang juga keluar dengan penasaran juga.
Bibi yang sedang ngarahin dihampiri lalu bertanya “Apa ini, bi?” Jesica pengen tau.
“Saya juga enggak tau non?? Katanya ini kado dikirim untuk non Jes???” ujar bibi yang juga bingung.
“Buat gue???” bertolak belakang sambil mencoba ngingat-ngingat. Apa ini kado ultah gue? tapi nggak deh.
“Iya non?? Saya juga bingung?? Kado sebesar ini isinya apa???” bibi bubarin lamunannya.
“Oh ya, bi. Kakek mana?”
“Tuan besar sedang istirahat habis minum obat barusan.”
"Kado dari siapa?" sela Pak Surya ngelus-ngelus dagu kagum. Geleng-geleng kepala sambil mengangkat bahu dan berkata "tau nih."
"fans rahasia nih..." goda Surya.
Melirik kesal lalu merhatiin orang-orang letakin kado misterius itu di ruang tengah. “Siapa yang ngirim kado sebesar ini??” gumamnya gigit ujung jari.
Setelah orang-orang pergi barulah ia dekati kado itu. "Ayo, buka." sahut pak Surya beri isyarat. Dengan rasa ragu campur penasaran berlahan-lahan ia buka tali yang melingkari kain itu.
Piano putih. Petir seakan nyambar dirinya, ia nggak percaya piano milik Jonathan dikirim kerumahnya.
Mata terbelalak shock dan tercengang tanpa kata. Pak Surya mendekati piano itu berdecak kagum dan bertanya "dari siapa piano ini?" Ia nggak menjawab pertanyaan Surya. Matanya terus menatap piano didepannya ini.
Pak Surya melihat secarik kertas berwarna biru diatas piano. Pelan-pelan ia ambil lalu nunjukin ke Jesica.
Diterima dan lekas dibuka surat tersebut.
Hai, Jes. Mungkin setelah lo menerima kado gue dan baca ini, gue udah pergi…gue harap lo mau menerima piano gue.
Piano ini bearti banget buat gue, thanks banget
Karena lo, gue mau membuka kenangan manis dalam piano ini yang hampir aja terlupakan oleh waktu.
Dan gue tau, lo suka banget sama piano ini.
Gue janji… mulai sekarang gue nggak akan pernah ganggu lo, dan nggak akan pernah ada dihadapan lo lagi…
Gue akan berusaha sekeras mungkin untuk melakukan itu, Karena lo yang meminta, dan gue nggak bisa menolak permintaan lo
Sebab gue, cinta sama lo…
Maafin semua sikap gue yang buat lo sakit selama ini…
Salam manis,
Master Trouble Maker
Mata berkaca-kaca membaca surat dari Jonathan, pak Surya yang merhatiin dirinya langsung mendekat dan bertanya-tanya. “Jo…n…” suara Jesica terdengar gemetar netesin air mata "Dia nggak kan pernah kembali lagi..." suara berubah sumbang lalu melihat piano itu “Ban, bandara?? Bandara??Iya, bandara?? kitalangsung susul dia?” serunya menarik tangan Pak Surya keluar rumah.
Sementara keadaan Jonathan yang sedang menunggu cek-in hanya bisa diam membisu membuntuti kedua orang tuanya yang sibuk mengecek tiket ke petugas.
Melihat jam tangan hitam melingkar di pergelangan kiri pukul 15.30 menoleh kebelakang terbayang senyum manis Jesica yang dihiasi lesung di pipi.
******
Buukk!! Jesica menutup pintu mobil keras-keras setelah turun dari mobil lalu berlari masuk kedalam bandara. Sementara Pak Surya berlari menyusulnya setelah markirin mobil di tempat parkir.
Tap, tap, tap, jalan cepat dan sesekali lari kecil sambil tengok kanan kiri nyebarin pandangan kesagala sudut berharap ketemu sama Jonathan.
Gigit bibir bawah sembari tangan kanan megang kepala yang kepengen pecah, rasanya makian malam itu terus aja terngiang dikepala.
Lalu dia berlari menuju jadwal penerbangan. 16.05 nengok ke arah jam dinding yang nggak jauh dari tempat ia berdiri. 15.50
"Jes." menengok "Gimana??" tanya Pak Surya yang cukup ngos-ngosan juga ngejar cewek didepannya ini.
Geleng kepala dengan mata berkaca-kaca. Pak Surya menepuk kecil pundaknya sembari melihat kesemua arah. Set. "Jon??" melihat disebrang Jonathan berjalan bersama orang tuanya, ikut menengok bersamaan air matanya jatuh menetes ke pipi.
“JOOOONNNNNNNN!!!!???? JOOOOONNN!!!!!” TeriakJesica sekeras mungkin, namun apa daya suaranya tak sampai karena jarak mereka cukup jauh ditambah lagi ramainya orang yang lalu lalang.
Ketika petugas itu mendekat dan mau bertindak tiba-tiba Pak Surya lebih cepat bertindak denganmeminta maaf kepada petugas tersebut "Maaf pak, maaf. Kami akan segera pergi dari sini." dengan raut muka nggak enak hati kemudian melihat Jesica dan mengajaknya untuk pergi. "Jes, Jes," panggilnya namun nggak digubris "Jesica!" nada sedikit menekan. Menoleh. "Ayo, kita pulang." nada berubah melembut saat Jesica menatap dirinya.
"Jon..." gumamnya berkaca-kaca menatap Surya begitu dalam.
Pak Surya gelengin kepala sekali sembari mengusap pipi kanannya dan berkata "kita pulang ya..."
******
Sepanjang lorong sekolah seolah-olah sepi tanpa ada keonaran Master Trouble Maker. Warna warni sekolah seakan-akan berubah menjadi abu-abu, nggak ada kegaduhan dan keonaran apapun. Apa mungkin sekolah ini sudah terbiasa dengan adanya kejailan-kejailan dari Master Trouble Maker.
Sementara semua siswa cukup terkejut mendengar kalau ternyata Master Trouble Maker sekolah ini pindah diam-diam. Ada apa??
Perpindahan Master Trouble Maker ke sekolah lain menimbulkan banyak sekali keganjanlan dan rasa penasaran para murid, bahkan Amel sekalipun kaget setengah mati.
"Whaatt??!!" kejut Amel sampai dobrak mejanya.
"Iya, Mel. Beneran!! Semua murid lain juga pada kaget denger kabar ini." sahut Devi.
Amel malah melongo sendiri nggak percaya.
Langkah berat dan pandangan kosong Jesica telah gambarin kalau dirinyalah yang paling merasa kehilangan Jonathan. Semua gara-gara dirinya, gara-gara ia terlalu buta buat percaya sama Jonathan sampai-sampai ia ngusir tanpa berpikir panjang.
Ketika nggak sengaja lewat kelasnya Jonathan, ia sekilas nengok kedalam kelas dan cuma mendapati bangku kosong yang sebelumnya tempat Jonathan duduk dan buat masalah kini cuma bangku kosong tanpa penghuni.
******