Mencoba Berdamai

1876 Kata
Sudah beberapa hari di sekolah ini, seiring berjalannya waktu Jesica merasa takasing lagi, ia udah bisa beradaptasi dan merasa bebas melakukan apapun yang ia suka. Menjaili guru, membuat hal-hal unik, membuat ulah. Seperti di sekolah lamanya. Saat Jesica duduk di kantin sendirian, meneguk es teh manis, tiba-tiba ada yang berteriak di telinganya sampai bikin tersedak kaget “SEGERRR BANGGETT!!” seru Jonathan duduk di sebalahnya begitu saja tanpa permisi diikuti dengan geng-nya sekitar tujuh orang mengepung dirinya di meja kantin. “Gila lo ya!!” protesnya. “Kayaknya emang seger nih tehnya...” Radit meminum teh milik Jesica begitu saja. “Heh!! Lo ini nggak sopan banget ya!!? Gue nggak ada masalah ya sama lo lo semua!!” tekannya. “Apa lo bilang?! Lo udah dalam masalah sama kita semua sejak lo masuk kesini pertama kali.” Kecam Jonathan. “Jangan pernah macam-macam dengan Master Trouble Maker disini.” Sahut Amel centil. “Ene' gue lama-lama disini.” Kesalnya bangkit dari duduk berniat pergi tapi di tahan oleh segerombolan orang yang berdiri dibelakangnya, Jonathan tersenyum tipis “Lo mau kemana?” “Lepasin gue!” menghempas lengannya yang dicekal oleh beberapa teman Jonathan. “Ok, guys... Listen to me!!” Teriak Jonathan bangkit dari duduk“Semuanya boleh pesan apa saja di kantin ini, GRATIS.” Tambahnya membuat semua yang ada di kantin berseru riang dan segera memesan apa saja yang mereka inginkan. “Dengerin semuanya, barang siapa yang paling akhir disini. Maka dia yang harus membayar semuanya!!! So, kalian harus bergegas pergi sebelum kalian paling terakhir!!” Serunya lagi membuat kantin semakin gaduh. Sementara itu, Mike dan Dito mengikat kencang tali sepatu Jesica diam-diam dengan kaki kursi yang Jesica duduki. Kantin sudah terlihat sepi, hanya tertinggal beberapa orang saja. Namun Jonathan dan komplotannya masih mengepung Jesica. Mata Jesica menyebar kesuluruh sudut kantin. Sepi. Semua jajanan kantin dan semua menu terlihat habis. “Gue peringatin lo semua. Jangan pernah macam-macam sama gue!!!” Ancamnya. “Wu...apa gue kelihatan takut...??” goda Jon menatap lurus mata Jesica, lalu berdiri tegak dan berkata “Guys, lo semua sudah puas di kantin??” teman-teman Jon pun berseru riang “Asal lo tau, gue hanya mau satu macem sama lo.” Kecam Jon lagi menatap pandangan bencinya pada Jes, begitu pula sebaliknya. “BAYAR SEMUANYA!!! Hahahaha! Ayo, guys kita cabut dari sini!!” seru Jon berlalu bersama geng nya itu, sedangkan Jes yang ingin mengejarnya tiba-tiba malah mau terjatuh. Barulah ia sadar tali sepatunya telah diikat di kaki kursi. “Gggrrrrr!!!!! s****n!!” Jes benar-benar dibuatnya kesal, ia pun melepas ikatan itu sendiri, dan orang kantin pun menghampirinya memberikan secarik kertas berisikan nominal yang harus dibayar. “Ini yang harus dibayar.” Ujar orang kantin tersebut, membuat dirinya ingin sekali membanting meja di depannya, tapitidak mungkin ia melampiaskan kemarahannya dengan orang kantin ini. Terpaksa dia harus merogoh saku untuk membayar semuanya. ****** Sepulang sekolah Jesica segera menyiapkan segala hal untuk kejutan ulang tahun kakek dibantu bibi dan mang Jaja membuat hiasan sederhana tertulis 'HAPPY BIRTHDAY GRANPA' ditengah kesibukan mereka tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Tok! Tok! Tok! mengalihkan perhatian mereka "Saya bukain pintu bentar non?" Jesica mengangguk sembari melihat jam dinding. Belum waktunya kakek pulang, terus siapa yang tiba-tiba datang. Bibi bergegas membuka pintu, kemudian selang beberapa menit Jesica menghampiri bibi ke depan pintu dengan rasa penasaran “Siapa yang datang bi…???” tanyanya sebelum tahu siapa yang berada diluar pintu. Mata langsung terbelalak lebar-lebar “HAH! Lo?!!” tunjuknya kebingungan celingukan kanan kiri. “Hai” sapa Jon tersenyum manis. Ia pandangi Jonathan dari ujung rambut sampai ujung kaki keren bangettteh? batinnya. Kok jadi terpesona?? sadarnya. Paham tamunya mencari non Jesica, Bibi permisi kembali kedalam untuk membantu mang Jaja. “Ngapain lo kesini?! Siapa yang kasih tau alamat gue?!” Tanyanya terheran - heran tanpa mempersilahkan tamunya masuk. “Lolupa kalau gue Master Trouble Maker. Kalau Cuma mencari alamat aja mah kecil” jawab Jon. “Gue nggak menerima tamu siapapun. Apalagi elo.” sambar Jes. “Tapi, gue masuk dulu ya??" kluyur masuk kedalam rumah begitu aja. "Masatamu harus ngobrol di depan pintu.” Jesica hanya bisa melongo melihat cowok trouble maker ini melintasi dirinya dan masuk begitu aja tanpa seijin tuan rumah. Dasar Master Trouble Maker. Seketika iamencegahnya “Sebenarnya apa sih mau lo!?” hadangnya mengintrogasi menarik lengan Jonathan. “Toilet dimana?” Tanyanya “Ap, apa?? Lo pikir rumah gue itu toilet umum?!” protes Jesica. “Apa gue harus menjawab pertanyaan lo.” Sahut Jonathan membuat Jesica kewalahan lalu menunjukan arah toilet. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil. Kakek. "Aduh…kakek nggak boleh tau kalau ada cowok disini…??!" bingungnya"Gimana nih...???" mondar mandir nggak jelas mikirin sebuah ide. "Aduhh…bisa berabe ini jadinya???" mengepal kedua telapak tangan. "Gue ada ide.” nyentik jarinya nemuin ide, kemudian bergegas pergi nemui kakek. “Kakek…!” serunya menyambut kakek yang baru saja masuk kedalam rumah, lalu bibi segera meminta tas hitam yang dibawa kakek.“Kayaknya ada pesta kecil” melihat seisi rumah sudah penuh hiasan. Sementara Jonathan yang ada di toilet nggak bisa membuka pintu. Ia coba berkali-kali tapi pintunya tetap tidak bisa terbuka. “Jes? Jes?” serunya menggedor dari dalam ternyata dari luar sudah diganjal kursi oleh Jesica. "Sekarang kakek mandi dulu, terus Jesica bakalan kasih kejutan special buat kakek." Serunya mengantar kakek ke kamar. Sementara nunggu kakek selesei mandi, ia segera menuju toilet dimana Jonathan terperangkap. "Jes?! Jes?! pintunya nggak bisa kebuka." teriaknya dari dalam sembari gedor pintu. "I,iya...bentar." teriak Jesica dari luar nahan geli. "sori ya, kadang emang gini pintunya kekunci dari luar. Lo pasti nutupnya kekencengan ya?!" serunya cekikikan dari luar. "Enggak juga kok." sahut Jonathan polos. "Ya udah, lo tunggu bentar. Gue cari kunci dulu. Lo tenang aja didalam." ia bener-bener ngempet pengen ketawa ngebodohin cowok trouble maker ini. Tunggu sampai kakek gue tidur, barulah gue bukain pintu buat lo. pikirnya cekikikan lalu pergi. Selesai mandi, Jesica membawa kakek ke ruang keluarga. “Emhhh…hari ini akan jadi hari yang paling special buat kakek karena Jes punya kejutan yang super duber bikin kakek kaget!” serunya merangkul kakek dari belakang begitu manja. “Oh ya?” kakek mulai penasaran. “Iya, kakek pasang mata baik-baik ya jangan sampai ngedipin mata, daaann kejutannya adallaahhh…” GUBRAAAK. Suara itu cukup mengejutkan Jesica dan kakek. Seketika mata cewek trouble maker ini terbelalak lebar-lebar saat muncul cowok dari balik tembok. Mampus gue. Jantungnya serasa berhenti sesaat melihat Jonathan dihadapannya. Bola matanya langsung tertuju ke Kakek yang terlihat terpaku memandang lurus Jonathan. Kejutan ini benar-benar buat kakek terkejut sampai-sampai beliau tidak bisa bicara apa-apa, ia berbalik arah melihat cucunya dengan penuh rasa ingin tahu. Siapa cowok itu. Dalam benaknya bertanya-tanya. Tanpa Jonathan sadari, dirinya tidak melihat kalau kakek ada didepannya. Ia malahlangsung nyerocossembari menyapu lengan baju. “Sorry, tadi pintunya nggak bisa dibuka, jadi terpaksa gue gubrak, mungkin pintunya perlu sedikit perbaika…" melihat kedepan dan mendapati kakek berdiri tepat didepannya "kek???” lanjutnya mengatupkan rahang. Mengambil napas dalam-dalam lalu dihembuskan pelan-pelan. Kemudian kaki kanannya mulai melangkah mendekati Jesica dan kakek sembari melihat sekeliling ruangan yang baru saja ia sadari kalau terpasang tulisan 'HAPPY BIRTHDAY GRANPA' Dengan tatapan penasaran, beliau tetap membusungkan d**a menghadapi anak muda yang sekarang berdiri tepat didepannya. “Selamat…Ulang Tahun…kek??” ucap Jonathan to the point menahan malu, sekilas ia melihat Jesica yang raut mukanya sudah niat banget kepengen mencekik lehernya. Dan ia hanya mengedipkan matanya sebagi tanda semua akan baik-baik aja. Masih bisanya cowok ini pake main mata segala. celotehnya dalam hati. Kakek masih diam, keadaan ini membuat dirinya tambah bingung tidak tahu harus berbuat apa “Emh, kek. Saya…saya…Jon…teman Jesica, tadi dia mengundang saya…” gagapnya melirik Jes yang sedang memelotot pada dirinya “Emh, maksud saya…bukan diundang tapi…dia tadi dia bilang hari ini ulang tahun kakek, jadi karena Jesica sudah memberitahu saya…jadi saya pikir cucu kakek mengundang saya…terus saya datang untuk memberikan selamat ulang tahun untuk kakek.”jelasnya panjang lebar yang bohong habis. “Bukan kayak gini kejutan buat kakek.” ucap Jesica meluruskan acaranya dari awal. "Kejutan buat kakek yaitu..." tambahnya sembari menepuk kedua telapak tangannya sekali. Kemudian munculah bibi dan mang Jaja membawa kue tart besar dua tingkat dihiasi lilin-lilin dengan api kecil diujungnya sambil menyanyikan lagu ulang tahun. “Kakek kira kejutannya teman kamu ini…?” tebak kakek. “Apa? Orang kayak gini dijadiin kejutan.” Sahut Jes menuding hidung Jonathan kesal “mendingan lo pulang deh." Ketusnya niat mengusir sembari melipat kedua tangan.Namun nggak taunya kue yang Jon bawa ditimpuk ke wajahnya sampai blepotan sedangkan Jonathan langsung kabur mendekati Kakek yang malah tertawa. Kayaknya lo mau ngajak perang. oke. “Awas lo!!!” ia ambil sepotong kue lalu ia melemparnya ke cowok itu tapi cowok itu cepet mengeles hingga akhirnya terkena muka kakek. “Ahh!!” seketika menggigit lidah sendiri merasa bersalah “Maaf, maaf kek…nggak sengaja” ujarnya menghampiri beliau. Kakek usap wajahnya dengan tangan tanpa mengeluarkan suara beliau memandang cucunya. Jonathan yang berada disamping kakek cekikikan sendiri. Kemudian raut muka Jonathan yang awalnya cekikikan puas berubah diam saat kakek mengoles sisa butter cream ke wajah Jonathan. "Hahaha." tawa Jesica "rasa'in." lanjutnya. Lalu mereka pun akhirnya perang butter cream. Semua terlihat acak-acakan. Tak lama kemudian barulah mereka kelelahan dan duduk lemas di sofa panjang penuh tawa. ****** Semua telah usai, mereka semua membersihkan diri masing-masing. Kemudian Jon berpamitan pulang. Didaun pintu, Jonathan menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan dan mengarah pada Jesica yang berada dibelakangnya. “Pestanya keren. Thanks undangannya…” “Undangan?" sahut Jesica "idih, siapa juga yang ngundang lo. Lo tau, lo itu nggak pernah ada dalam daftar undangan..." seketika telapak tangan Jonathan menutup mulutnya. Jonathan hanya tersenyum tipis lalu tiba-tiba ia mengecup pipi kanan Jesica. Seketika matanya terbelalak lebar-lebar. Sangat sangat membuat shock tingkat dewa. Jonathan barusan ngapain gue?! Apa ini mimpi buruk?! What's going on!!!!! bengongnya nggak karuan. Belum tersadar dari shock, Jonathan sudah say good bye dengannya ninggalin dirinya sendiri terpaku didepan pintu. Beberapa saat setelah cowok pembuat onar pergi, barulah ia terbangun dalam kecengangannya, ia menyentuh pipi kanan dan mereka ulang adegan apa yang barusan terjadi. What?! What?! What?!! Dia barusan cium pipi gue?!! Aaaaaaaa???!! teriak batinnya. "Nggak mungkin ini terjadi! Enggakkk mungkiiinnnnn!!!!" teriaknya begitu keras hingga membuat mang Jaja dan bibi yang ada didapur langsung menuju pintu depan dengan perasaan cemas. "Ada apa non? ada apa?!" sambar mereka berdua kompak. Air muka Jesica sudah terlipat-lipat nggak karuan, kayak kertas yang baru aja diremas-remas. Ia berhenti berteriak saat mang Jaja dan bibi datang menanyakan keadaannya. Males banget cerita ginian. Yang ada malah mereka bakal cerita sama kakek terus bakalan ada siraman rohani sepanjang hari setiap detik dan setiap menitnya. "Non, kenapa teriak-teriak?" cemas bibi mengelus-elus lengannya. Ia hanya memandang mereka berdua kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam rumah. "Cariin bunga tujuh warna tujuh rupa. Jesica mau mandi kembang sekarang." ketusnya sembari berlalu. Mendengar permintaan majikan begitu, mereka hanya saling memandang bingung. Mau cari dimana. Pikir mereka. "Tapi non, mana ada?" tanya mang Jaja garuk-garuk kepala. "Kalau nggak ada cari aja ke kuburam sono no." sahut Jesica tanpa berbalik badan menghilang dibalik tembok. Mendengar jawaban majikan yang nglantur begitu membuat mereka saling menatap lagi dan mengangkat bahu masing-masing penuh tanya. "Mungkin non Jesica kecapek-an." ujar mang Jaja. "Ya udah, kalau gitu kita balik lagi aja ke dapur." tambah bibi masuk kedalam dan menutup pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN