Panggung Perang

2005 Kata
Akhirnya setelah beberapa hari, keadaan mama Alex sudah membaik. Meski masih belum diperbolehkan pulang, tetapi Alex sudah lega mamanya bisa tersenyum dan tertawa. Begitu pula Jesica yang ada disana bersama mamanya dan Rega juga lega melihat keadaan tante Rita. “Tante harap tidak ada yang melihat Alex menangis waktu tante belum sadarkan diri.” Goda mama Alex. Sektika Jesica keceplosan mengatakannya dihadapan semua orang. “Jesica lihat, tan. Matanya bengkak merah berkaca-kaca.” Sambarnya membuat yang lain terkejut dan Alex melotot padanya. “Masa? Hahaha...” tawa mama Alex “Mah?” protes Alex. “Setiap tante sakit, Alex selalu saja menangis. Tante sudah hafal dengan anak tante ini. Tidak bisa dipungkiri lagi.” Jelas mamanya membuat semua tertawa mendengarnya, apalagi Jesica yang terlihat paling girang. “Mama apa-apaan sih?” kesal Alex merasa dipermalukan. “Sampai nggak doyan makan.” Tambah Rega ikut bersuara menambah Alex semakin terpojokan. Sekarang Alex sudah masuk ke kampus lagi. Sembari menunggu wisuda dia dan teman-temannya mulai mempersiapkan pesta malam wisuda. Mereka milih lokasi di salah satu pulau yang berada di pulau Seribu. Laut yang biru, butiran pasir putih, ombak yang cantik, serta pemandangan yang luar biasa. “Prefect!” ucap Damar yang mensurvey lokasi tersebut bersama teman-temannya. “Semua yang datang, harus pakai topeng.” Seru Mike. “Masalah Dj, biar gue yang ngatur. Gue bakal ngundang Dj dan para bintang tamu yang nggak kalah dengan artis Holywood.” Sambar Rendi. “Ok, gue percaya sama lo semua. Yang penting kita harus memeriahkan malam wisuda kita semeriah mungkin.” Tandas Alex. Undangan pun mulai disebarkan, dan semua menyambutnya dengan antusias. Kampus begitu heboh tak sabar menunggu malam itu tiba. *********** Hari wisuda yang dinanti-nanti kini telah tiba, semua para mahasiswa-mahasiswi menyambutnya dengan suka cita. Disebuah gedung megah penuh dengan kegembiraan, semua asyik bercanda gurau dengan temannya masing-masing sebelum acara dimulai. Dan Rega selalu setia mendampingi Jesica kemanapun dia berada “Kalian ini romantis banget.” Iri Sari yang selalu saja ditinggal oleh kekasihnya, Rendi. “Apaan sih?” malu Jesica. “Gue nggak nyangka, secepat ini wisudanya...” ucap Putri merasa sedih bercampur bahagia. “Gue nggak tau, habis ini kita bakal masih ketemu atau enggak?” sahut Agnes merangkul Putri. “Ya...nantinya meski jarang ketemu, setidaknya kita rencanain buat reunian.” Sari merangkul teman-temannya. “Oh...I love you guys...” Jesica terharu. Suasana menjadi sedikit melankolis karena mereka semua, Rega yang malu sendiri melihatnya, terpaksa harus membubarkan situasi tersebut. Saat mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba Rendi datang mengahampiri Sari “Hai, girls.” Tegurnya begitu PD, mereka semua diam saling memandang kemudian nenyoraki Rendi dengan kompaknya. “Huuuuu” seru mereka sembari mengacungkan jempol kebawah, namun Rendi hanya tersenyum sembari mendekap pujaan hatinya. “Tumben lo sendirian?” celetuk Jesica “Oh, lo cari Alex. Noh dia disono, kalau gue mah cari kekasih gue...” sahut Rendi nggak kalah pedes ucapannya. Alex, Mike, dan Damar yang sedang asyik bercanda tiba-tiba disambut oleh kedatangan Jesica yang berjalan begitu anggun, dan sangat cantik sekali, selayak Miss Word yang berjalan di catwalk.  “Wiidiiihh, ada ratu kecantikan datang nih?” sambut Damar terpesona. “Gila...lo bisa cantik juga rupanya.” Goda Mike terkekeh-kekeh, namun Jesica hanya berekspresi acuh sampai dia berhenti tepat dihadapan Alex. “Wah, guys. Mata lo semua harus diperiksa kayaknya, singkong jalan kok dibilang orang cantik yang jalan.” Tandas Alex dengan sikapnya yang sok cool itu. “Gue nggak mau berantem ya untuk saat ini. Gue hanya mau bahas masalah susunan acara ini.” Ketus Jesica menahan emosi. “Susunan acara...buat apa dibahas. Kita tinggal bicara, membaca selesai masalah.” Sahut Alex meremehkan. “Gue mau lo bisa diajak kerjasama. Gue nggak mau penampilan gue nanti memalukan gara-gara elo!” kecam Jesica menunjukkan jari telunjuknya dihadapan Alex. “Bawel.” Jawab Alex sembari menekan hidung Jesica dengan salah satu jari telunjuknya. “Stop it.” Tepis Jesica begitu kesal tetapi Alex malah cekikian “Awas, sampai lo malu-malu. I will kill you!” tekan Jesica begitu garang. “Oh ya, siapa takut!” tantang Alex. Ketika keadaan masih memanas, salah seorang dosen memanggil mereka berdua. “Alex, Jesica. Segera siap-siap.” Perintah dosen tersebut, kemudian mereka berdua mengikuti langkah dosennya dari belakang sembari adu mulut dengan nada rendah. “Ini susunan acaranya, kalian pelajari dulu. Lima belas menit lagi acara dimulai, ngerti” tandas dosennya lalu pergi meninggalkan mereka berdua setelah memberikan susunan acara tersebut. Setelah dibaca-baca oleh mereka berdua, Alex malah meremehkannya “Alaahh, nggak pakai ginian aja gue udah hafal. Tinggal ngomong gitu aja kok repot.” Sombong Alex menaruk susunan acaranya di meja dekatnya. “Heh, gue udah peringatin elo ya... Lo harus bawa susunan acara didepan nanti. Jangan sok sok-an deh.” Kecam Jesica mengambil susunan acara yang diletakkan dimeja dan memberikan kepada Alex. “Terserah gue mau gue apain susunan acara ini, yang penting gue udah tau.” Alex malah membuang susunan acara tersebut, Jesica begitu kaget melihat sikap Alex yang selalu saja keras kepala dan seenaknya sendiri. “Gue punya cara sendiri.” Tambahnya membuat Jesica menganga tak percaya. Rasanya gunung didalam tubuh Jesica ingin memuntahkan larvanya, lalu mencekik cowok satu ini. Namun, semua harus dia pendam dikala dosen datang dan mengintruksikan acara dimulai. Saat mereka naik tangga untuk menuju panggungpun terlihat mereka saling beradu mulut. Teman-teman mereka yang sadar dengan hubungan mereka hanya bisa menepuk jidatnya masing-masing. “Pasti ini bakalan konyol.” Resah Putri. “Coba aja kita beri mereka appluse biar mereka berdua sadar dilihat orang sekampus dan bisa meredam emosi mereka berdua.” Sari melontarkan ide cemerlang yang diterima oleh yang lain. “Boleh juga tuh. Tapi kita juga harus kasih tau komplotannya Alex.” Sahut Agnes. “Itu tugas gue, gue telpon dulu si Rendi.” Sari mengambil handphone-nya lalu menelpon kekasihnya itu. Sampailah dibibir panggung ternyata mereka terus berdebat “Itu kan elo yang malu sendiri, gue nggak peduli. I dont care.” Tandas Alex menekan nada suaranya yang rendah. “Denger, gue peringatin sekali lagi, ambil susunan acaranya sebelum kita...” belum selesai bicara, ditengah ketegangan mereka malah terdengar tepukan tangan dan sorakan meriah dari para mahasiswa,mendengar suara itu membuat Alex dan Jesica seketika menghentikan debatnya, tersadar kalau mereka sudah berada diatas panggung. Alex pun tidak menyangka seramai dan semeriah ini acaranya, seketika dia merasa demam panggung dan ingin cepat-cepat turun mengambil susunan acaranya, namun Jesica menahannya. “You want to go where, hah?” desisnya sembari memberikan senyum kepada semua orang “I already told you, but you do not hear. Now, still in the stage and welcomed them all.” Tandas Jesica sembari terus tersenyum untuk menutupi masalah ini. Akhirnya, dengan terpaksa Alex berjalan ketengah panggung tanpa apapun seperti ibarat perang tidak membawa s*****a. Melihat orang-orang yang begitu banyak dan ramai, dari orang tua hingga kepala dosen dan para tamu undanga membuat Alex ingin sekali kabur, tapi dia sadar tidak mungkin dia lari dalam situasi seperti ini, apa kata para cewek-cewek disini, kecuali Jesica. Dia kemudian berpikir sejenak, mengambil napas dalam-dalam, dan menyadarkan diri kalau dia adalah cowok gentlemen. Terlihat microfon didepan matanya, secara bersamaan mereka berdua mengambil mic nya masing-masing, saat Jesica akan mendahului membuka mulut tiba-tiba secara lantang Alex menyambut mereka semua dengan bahasanya sendiri. “Selamat Pagi untuk semuanya!!!” seru Alex cukup mengagetkan Jesica dan teman-teman Jesica yang lain, namun siapa yang tahu dengan keadaan ini kecuali mereka, para undangan dan yang lain tetap menyambutnya dengan meriah. “Perkenalkan, saya Alex dan rekan saya...” “Jesica.” Sambung Jesica yang rasanya ingin sekali mencekik rekannya. “Iya, Jesica. Rekan saya yang paling luar biasa.” Cerocosnya tanpa menyambut dulu para tamu atau kepala dosen atau para hadirin yang datang. “Alex, sepertinya kita semangat sekali menyambut hari ini.” Sela Jesica melotot pada Alex tetapi tetap tersenyum untuk menutupi semua “Sampai-sampai kita lupa memberikan sambutan untuk kepala dosen, para tamu dan para undangan yang sudah menghadiri acara yang begitu meriah dipagi hari ini.” Ucap Jesica yang sebenarny menyindir serta memberitahu Alex apa yang harus dilakukan diawal pembukaan acara ini. Seketika Alex terdiam lalu tersenyum. “Yang terhormat, bapak kepala dosen. Yang terhormat para tamu undangan, yang terhormat para dosen beserta staff-staff nya serta para teman-teman yang kami sayangi. Kami ucapkan selamat pagi dan salam sejahtera.” Sambut Jesica begitu ramah dan sopan. “Kami ucapkan terima kasih, atas kedatangannya yang telah menyempatkan diri untuk menghadiri acara dipagi hari ini.” Sambung Alex yang terdengar sopan dan ramah pula. Teman-teman Jesica dan Alex begitu cemas dengan keadaan mereka dalam satu panggung, mereka begitu takut kalau sampai panggung itu roboh karena bertikaian diantara mereka. Namun setelah melihat kekompakan diantara mereka untuk membuka acara ini mereka cukup lega, karena Alex dan Jesica bisa akur. “Untuk mempersingkat waktu, kita lanjutkan keacara berikutnya.” Ucap Alex yang lupa dia tidak membawa susunan acara “Susunan acara berikutnya apa Jesica, agar para hadirin mengetahuinya...” tambah Alex menutupi rasa malunya. Ketika Jesica akan membacakan susunan acara berikutnya, Alex berusaha melirik isinya, naun Jesica malah menjauhkan susunan acara yang dia pegang, dan Alex terus ingin mengintipnya. Sehingga tanpa mereka sadari semua yang melihatnya menjadi tertawa menganggap itu adalah settingan dari panitia. Tersadar mereka ditertawai, merekapun tersenyum lebar “Ternyata Jesica tidak mengijinkan saya untuk mengintip susunan acara ini. Karena sangat rahasia sekali.” Alex mengeles dan membuat semua tertawa, sementara teman-temannya yang tahu hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Tentu, Alex. Karena ini sakral sekali.” Sahut Jesica membuat semuanya tertawa lagi “Iya, acara berikutnya yaitu sambutan Kepala Dosen yang kemudian dilanjutkan lagi dengan hiburan-hiburan yang dipersembahkan oleh kampus ini. Selamat menikmati.” Seru Jesica yang kemudian diikuti oleh tepuk tangan dari para hadirin. Dibelakang panggung Alex langsung memprotes Jesica “Singkong. Kenapa lo nggak kasih lihat susunan acaranya!” cetusnya. “Elo kan punya sendiri!” kecam Jesica “Elo kan tau gue nggak bawa susunan acaranya! Dasar gila lo ya. Lo mau mempermalukan gue didepan semua orang.” Seru Alex tidak terima. “Heh, sebelum acara dimulai gue udah memperingatin lo untuk bawa susunan acara elo itu. Dan lo yang sok-sok an nggak mau bawa segala. Kenapa sekarang lo nyalahin gue!” tandas Jesica membuat Alex bingung mau jawab apa karena dia tahu kalau dirinya yang salah, namun didepan Jesica dia tidak mau kalah. “Pokoknya gue mau susunan acara itu.” Rebut Alex namun Jesica menepisnya. “Ini punya gue!” cetus Jesica tidak memberikannya. “Gue nggak peduli. Kasihin ke gue!!” Alex berusaha merebutnya namun Jesica tetap tidak mau memberikannya, dia terus mendekap susunan acara miliknya, tapi Alex pun tidak mau menyadari bahwa itu bukan miliknya, dia tetap saja ingin merebut dari dekapan Jesica.  Dengan sekuat tenaga Jesica mendekap susunan acaranya sementara Alex sebisa mugkin merebut dari dekapan Jesica. Karena Jesica mendekap seperti itu, Alex jadi merebutnya dari belakang Jesica, dan berusaha menarik susunan acara tersebut. Cukup lama mereka bersi tegang dengan posisi seperti itu. Hingga beberapa saat kemudian, teman-teman Jesica dan Alex datang. “Alex, Jesica!!??” serempak mereka memanggil nama temannya masing-masing. Seketika itu mereka terhenti dan melihat posisi mereka yang tidak sewajarnya, segera mereka memisahkan diri, namun anting kanan yang dikenakan Jesica tersangkut baju bagian bahu Alex. “Aow!!?? Sakit tau!!” teriaknya “Kalian ini apa-apaan sih? Bisa nggak sih nggak berantem untuk saat ini.” Kesal Putri mendekat pada mereka untuk membantu Jesica melepaskan sangkutannya itu. Tetapi tiba-tiba Agnes  mendekat dan menawarkan diri untuk melapaskannya. “Biar gue aja.” Ujarnya. “Dia yang mulai duluan. Dia merebut susunan acara aku.” Ngadu Jessica kepada Agnes yang hanya diam berusaha melepaskan sangkutan Jesica dan Alex. Sementara Alex hanya mencibir mengkomat- kamit bibirnya.  “Salah sendiri tadi dipanggung lo nggak mau berbagi sama gue!” sahut Alex. “Salah sendiri lo keras kepala gitu!” seru Jesica tak mau kalah. Diantara perdebatan mereka Rega berada ditengahnya untuk melepas sangkutannya hingga seleseipun mereka tidak sadar malah saling melempar cacian. Acara pun berlangsung dengan sempurna, meski hati diantara Alex dan Jesica tidak bisa menyatu namun mereka mampu mengatasi hal tersebut hingga acara selesai.  **********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN