Kampus begitu heboh dengan acara malam wisuda yang akan diadakan oleh Alex, mereka begitu tidak sabar menunggu hari tersebut, lokasinya pun masih dirahasiakan. Namun semua kampus udah menyambutnya dengan begitu semangat dan berantusias.
“Gue yakin, men. Wisuda kali ini akan jadi wisuda terheboh dan terpopuler dikampus ini. Dan pasti akan diikuti oleh yang lain, nantinya.” Seru Alex yakin.
“Bener kata lo. Gue sendiri juga udah kagak sabar menanti malam itu.” Sahut Damar.
“Yang pasti kita cari dana buat mempelancar acara ini.” Sambar Rendy sangat antusias.
“Itu yang paling penting, guys! Dan udah kumpul lumayan banyak dari mahasiswa angkatan kita, tinggal nambah sponsor terus proposal kampus, top cerrr dah.” Yakin Mike.
“Good Job, guys! Gue yakin seyakin yakinnya, kalau nanti bisa...” ucapan Alex terputus saat tiba-tiba ada yang menyodorkan amplop coklat tebal dihadapannya.
“Nih ambil, buat tambahan dana lo.” Celetuk Jesica membuat semuanya terdiam “ya...anggap-anggap aja sumbangan dari cowok gue yang udah lo undang secara special kemarin.” Tambahnya.
“Serius lo, tebel amat?? Berapa isinya?” sahut Rendy akan mengambil amplop itu dari tangan Jesica, namun Jesica menepisnya.
“Enak aja. Ini yang menerima harus si monster ini, kan dia yang ngundang Rega langsung. Dia mau ucapin terima kasih ke lo.” Seru Jesica menyodorkannya lagi dihadapan Alex.
“Paling juga goceng isinya.” Alex mengambil amplop tersebut lalu membukanya, ketika dia tahu isi amplop tersebut matanya cukup terbelalak membuat teman-temannya ikut penasaran dan ingin tau berapa isi amplop tersebut. “cowok lo tajir juga ternyata.” Sahut Alex.
“Ya iyalah, dia kan udah punya penghasilan sendiri. Itu jumlahnya tiga juta. Cukuplah buat tambahan acara kampus.” Sahutnya kemudian berlalu begitu saja.
“Eh, singkong! Thanks ya!” teriak Alex melambaikan tangannya, Jesica yang mendengarkannya seketika berubah menjadi garang, dia kembali ke Alex untuk menarik uang tersebut, tapi secara spontan Alex menepisnya “Apa-apaan sih?! Main rebut aja.” Protes Alex menyembunyikan uangnya dibalik badannya.
“Gue udah bilang jangan pernah panggil gue gitu!!!” Jesica menyubit lengan Alex sekencang mungkin hingga dia teriak kesakitan.
“Aaaa, sakit, sakit, sakit tau!! Gila lo ya.” Alex mengelus-elus bekas cubitan tersebut.
“Sukurin!! Sampai lo panggil gue gitu lagi, gua tarik uang itu!” ancamnya kemudian pergi, ketika berbalik badan Alex malah menjailinya dengan menarik rambutnya, seketika Jesica teriak kesakitan.
“Aow, what are you doing!?” garang Jesica memukulkan tasnya pada Alex yang malah terkekeh-kekeh.
***********
Ketika Jesica sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba mamanya datang dengan terburu-buru. “Ikut mama sekarang.” Ucapnya singkat.
“Malam-malam gini? Kemana? Malas ah ma.” Sahutnya yang masih memperhatikan tontonan tivi-nya, tanpa banyak bicara mamanya pun mematikan televisinya begitu aja “Mom??!” protes Jesica.
“We have to go to the hospital right now.” Seru mamanya berlalu mengambil kunci mobilnya.
“Hospital??” Jesica seketika mengarahkan pandangan penasarannya kearah mamanya “siapa yang sakit, ma?” tanyanya lagi bangkit dari duduknya.
“Barusan Alex telpon, tante Rita tiba-tiba pingsan dan sekarang dibawa ke rumah sakit. Sampai sekarang belum sadar.” Cemas mamanya yang bergegas menuju pintu keluar diikuti Jesica yang menyusul dari belakang.
“Oh, My God.” Kagetnya cemas mendengar berita tersebut.
Sesampai dari rumah sakit, mereka bergegas menuju kamar tante Rita. Terlihat Alex duduk disamping mamanya sembari menggengggam erat tangan mamanya yang belum juga tersadar. “Alex.” Tegur mama Jesica “gimana keadaan mama kamu?” tanya mama Jesica yang terlihat cemas, Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan raut muka yang begitu tak bersemangat “apa kata dokter?” tanya mama Jesica bertubi-tubi.
“dokter bilang, mama kecapek-an.” jelas Alex
“Ya ampun Rita kamu ini kenapa nggak banyak-banyak istirahat.” mama Jesica membelali rambut mama Alex.
“Mmhh...gue turut sedih denger kabar ini.” Ucap Jesica yang harus berkata lembut dengan musuhnya ini “tante Rita baik banget sama gue, beda kayak lo.” Cerocos Jesica tanpa sadar malah mengajak berantem, tetapi karena keadaan dan situasi yang tidak mendukung Alex tidak menggubrisnya.
“Alex, kamu sudah makan belum? Kalau belum sebaiknya kamu cari makan dulu, biar Jesica temenin kamu.” Ujar mama Jesica yang membuat Jesica menganga, kenapa dia yang harus jadi umpannya untuk nemenin monster itu makan. Meski cemas juga dengan keadaan tante Rita, tapi baginya nggak ada sedikitpun kecemasan untuk Alex. “Jesica, temenin Alex.” Perintah mamanya.
“Nggak perlu tan, Alex bisa sendiri.” Seru Alex
“Biar Jesica yang nemenin kamu.” Tegas mama Jesica “Jesica, accompany him.” Perintah mamanya sekali lagi. Terpaksa Jesica harus menuruti mamanya, dengan berat hati dia membuntut Alex dari belakang.
Alex hanya melamun sembari mengacak-acak makanannya, bahkan dia tidak menganggap ada Jesica didepannya. “Alex, plis deh lo makan makanan lo itu” seru Jesica tetapi tidak digubris oleh Alex yang hanya melihatnya sekilas. “gue tau lo lagi sedih banget, tapi lo harus makan. Kalau enggak gue yang kena marah nyokab gue tau.” Ceplos Jesica yang membuat Alex melirik sinis.
“Gue udah kenyang.” Sahut Alex beranjak pergi meninggalkan Jesica begitu saja.
“What?! Dia nggak bisa apa hargai gue dikitt aja. Maen pergi aja. Mama juga gitu, kenapa harus gue yang disuruh mama buat nemenin makan, ujung-ujungnya kanyak ginikan jadinya. Nggak ada resplek sama sekali.” Omelnya sendiri dimeja tersebut.
***********
Seperti biasa, pulang dari kampus Rega sudah stand by di depan kampus untuk menjemputnya. Dengan srumingah Jesica menyambut kedatangan sang pujaan hatinya itu. “Silahkan masuk tuan putri.” Rega membukakan pintu mobilnya untuk Jesica.
“Terima Kasih, pangeran.” Balasnya lembut.
“So, mau kemana dulu kita?” tawar Rega didalam mobil sebelum menyalakan mesin mobilnya. Jesica pun berpikir ingin kemana dulu, karena dia merasa masih ingin lama bersama Rega. Belum sampai menatakan tujuannya mau kemana, tiba-tiba handphone Jesica berdering.
“Mama? Sebentar ya sayang.” Ucapnya kemudian mengangkt telponnya. “ke rumah sakit, ma? Mom, come on... I have to go with Rega...” protesnya didalam telpon “Yes, I know. Ok. Love you.” Tambahnya menutup telponnya sembari menghela napas.
“Siapa yang sakit?” tanya Rega penasaran.
“Tante Rita, mamanya Alex.” Tandas Jesica terdengar malas.
“Mamanya Alex sakit? Sakit apa?” Rega terlihat juga cemas.
“Demam, kurang istirahat. Sebenarnya gue ingin kesana nemenin tante Rita, tapi kamu tahu kan sama anakanya. Malez banget gue ketemu dia.” Kesalnya “mama juga gitu, sekarang dia pingin aku nemenin Alex disana, soalnya mama ada urusan. Yang sakit kan tante Rita, bukan dia. Kenapa mama suruh aku nemenin dia. Nyebelin tau nggak?!” omelnya sendiri karena dia kesal mamanya membatalkan acaranya dengan Rega.
“Udah, nggak apa-apa. Kita kesana, aku temenin kamu.” Ujar Rega tersenyum manis.
“Tapi masalahnya gue males banget ketemu dia, sayang...” Jesica masih belum bisa terima, sementara Rega hanya tersenyum sembari membelai rambut Jesica lalu diapun menjalankan mobilnya.
Sesampai di rumah sakit, mama Jesica masih disana bersama Alex, dan keadaan tante Rita juga belum tersadar. “Ma, gimana tante Rita?” tegur Jesica yang masuk bersama Rega disampingnya.
“Belum siuman, sayang. Tapi kata dokter dia baik-baik saja kok.” Jawab mamanya memandangi tante Rita.
“Gue turut sedih denger berita ini, Lex.” Tegur Rega menepuk pundak Alex yang hanya menggenggam tangan mamanya itu.
“Sayang, mama pergi dulu ya...nanti mama balik lagi kesini.” Ujar mamanya beranjak pergi dan Jesica menganggukkan kepalanya.
“Tante saya temenin keluar, sekalian saya ambil handphone saya di mobil.” Seru Rega yang kemudian pergi bersama mama Jesica, tinggallah Alex dan Jesica bersama tante Rita yang masih tertidur.
Jesica tidak tahu harus bersikap kasar atau apa dengan musuh bebuyutannya ini, tapi disisi lain kasihan juga kalau dia bersikap kasar saat keadaan kayak gini toh tante Rita juga begitu sayang padanya. “Lex...” panggilnya pelan, tetapi Alex tidak menggubrisnya. Dia hanya menunduk pada genggaman tangannya. “Alex?” panggilnya sekali lagi dengan mendekat kearah cowok itu, dan sekali lagi Alex tidak menggubrisnya.
Jesica pun penasaran, kenapa dia tidak mau menoleh padanya. Lalu dia turunkan kepalanya untuk melihat lebih dekat lagi apa yang sedang dilakukan Alex “Lo nangis?!” ceplosnya begitu aja, membuat Alem menarik napas dalam-dalam tanpa melihat Jesica. “Lex, lo bisa nangis ternyata?” tambahnya membuat Alex terpaksa menoleh pada Jesica yang tidak merasakan kesedihan yang dirasakannya.
Memang terlihat mata Alex merah berkaca-kaca, dan itu cukup membuat Jesica merasa bersalah sudah berkata seperti itu. “Lo puas sekarang bisa lihat gue kayak gini?” seru Alex dengan nada rendah sembari berdiri dihadapan Jesica, dia jadi kebingungan harus menjawab apa.
“Mhh, gue.. gue... nggak maksud gitu, gue cuman...”
“Cuman apa? Lo seneng kan gue kayak gini.” Sahut Alex memutuskan ucapan Jesica “Sekarang lo silahkan nertawain gue, silahkan lo hina gue. Ini kesempatan elo.” Tambahnya lagi kemudian dia membuang muka pada Jesica dan akan kembali duduk disamping mamanya.
Tak disangka, Jesica menahan tangan Alex yang seketika terhenti dan berbalik menghadap Jesica lagi “Gue nggak bermaksud gitu, gue juga sedih banget dengan keadaan nyokab lo. Gue nggak ada pikiran hina lo ataupun nertawain lo.” Ujarnya begitu lembut beda dari yang biasanya “nyokab lo juga sayang sama gue, gue nggak mungkin seneng liat nyokab lo kayak gini. Gue sedih banget malah. Kalau lo tahu, gue selalu berdoa buat nyokab lo supaya cepet sembuh. Dan semua akan baik-baik aja. Lo ngerti kan... nyokab lo pasti kuat.” Ujar Jesica tanpa melepaskan tangannya, Alex hanya diam terpaku memandang serta mendengarkan ucapan Jesica yang jauh beda dari biasanya, bahkan dia belum pernah mendengar Jesica berkata selembut ini dan semanis ini padanya.
Glek! Pintu terbuka membuat mereka berdua terkejut dan seketika melepaskan tangannya masing-masing “Ada apa ini? Serius banget?” Sapa Rega yang baru saja datang. Mereka berdua pun hanya tersenyum dan Jesica kemudian menghampiri Rega.
“Ini makanan buat lo, lo pasti belum makan seharian.” Rega memberikan nasi kotak pada Alex.
“Gue nggak lapar.” Jawab Alex.
“Ya sudah, gue taruk meja. Kalau lo laper makan aja.” Sahut Rega begitu perhatian dengan Alex. Sementara Jesica malah membegokkan dirinya sendiri gara-gara kejadian tadi, kenapa dia harus menahan tangan Alex dan berkata begitu lembut padanya pasti sekarang Alex kepedean dengan sikapnya tadi, padahal yang dia maksud peduli, perhatian sama tante Rita bukannya dengan Alex. “b**o banget sih.” Gumamnya sendiri.
************