Menepis Rasa

832 Kata
“Syukur dong, dia udah pergi dari rumah lo.” Sahut Sari yang baru saja menyantap bakso di kantin kampus. “Iya Sar, gue lega banget. Semalam gue bisa tidur nyenyak.” Jesica menelantangkan kedua tangannya hingga hampir mengenai muka Putri. “Wait, wait, tangannya...jangan ampe muka gue. Make up gue luntur entar.” Cegah Putri membuat Jesica gemas dan mencubit pipi Putri. “Trus, gimana hubungan lo sama Rega. Kok kayaknya adem ayem?” tanya Agnes ingin tau. Dan Jesica pun hanya tersenyum manis. “Dia itu cowok prefect bagi gue. Ganteng, pengertian, sayang sama gue...dan yang paling penting...dia tahu kalau aku hanya mencintai Jonathan seorang..” ucapnya kasmaran. “Akhirnya, lo suka cowok juga...” seru Putri menggoda Jesica. “Maksud lo gue nggak normal gitu selama ini??” tandas Jesica menggelitik Putri hingga minta ampun. “Udah, udah, ntar baksonya keluar lagi.” Ujar Agnes menghentikan mereka. Sementara keadaan Alex yang duduk dikursinya sembari mengelus-elus perbannya. “Parah ya men?” tanya Damar. “Nggak, cuman patah tulang!” cetus Alex “ya sakitlah, tau diberpan masih tanya sakit apa kagak.” Kesal Alex malah membuat teman-temannya terkekeh-kekeh. “Udah, men..kan udah diobatin sama si Jesica.” Ledek Rendy menepuk punggung Alex. “Maksud lo apaan. Gara-gara diobatin dia. Semaleman gue nggak bisa tidur.” Tandas Alex. “Take easy, men...” tenang Mike merangkul Alex yang sedang labil. “Eh, guys malam wisuda besok kita rayain ke pantai yuk.” Ajak Rendy “Kita ajak temen sekampus angkatan kita!!” tambah Rendy semangat. “Good idea.” Damar mengacungkan jempol pada Damar. “Kita cari pantai yang pas aja, biar banyak peminatnya.” Tambah Mike “Wah...seru abis pastinya.” Mike tidak sabar untuk menyambut malam wisuda yang sebentar lagi akan datang tinggal menghitung bulan. “Emang kalian yakin bakalan lulus?” goda Alex yang kemudian dikeroyok teman-temannya. “Ok,ok, ok. Kita cari pantainya kita undang semua angkatan kita.” Seru Alex “tapi, tapi, tapi...jangan ngundang singkong itu. Gue males liat dia, ok.” Tambahnya membuat yang lain diam berpikir sejenak. “Gila lo men. Ya nggak mungkinlah. Kita harus ngundang dia juga. Gitu-gitu dia seangkatan sama kita.” Tandas Rendy yang tidak terima, karena dia tahu apabila Jesica tidak diundang maka pasti Sari juga tidak akan datang diacara itu. “Gue mau, dia tetap diundang.” Tambahnya menegaskan suaranya. “Bener apa yang dibilang Rendy, men. Kita juga harus mengundang dia. Mau nggak mau dia seangkatan sama kita.” Tutur Damar menepuk bahu Alex yang hanya diam saja. Sesaat kemudian barulah Alex menganggukkan kepalanya dengan raut muka yang berat menerimanya. Setelah jam kampus selesai segera Jesica beranjak pergi karena dia tahu Rega sudah menunggunya didepan sana. Tetapi sesampai di tempat parkir dia melihat Rega bersama Alex sedang berbicara. “Ngapain dia sama Rega?? Pasti ada yang nggak beres.” Ucapnya segera menghampiri mereka “ngapain lo disini?!” serunya menghentikan percakapan Rega dan Alex. “Ok, kayaknya gue harus pergi dari sini. Sebelum singkongnya kebakar.” Sindir Alex berlalu dan Jesica ingin sekali memberinya pelajaran tetapi Rega menahannya lalu membukakan pintu mobilnya mempersilahkan Jesica masuk. Dengan senyuman Alex yang seperti itu, Jesica tak bisa berkutik dia hanya bisa menuruti apa yang diminta Rega. Dalam perjalanpun Jesica tidak bisa menahan emosinya lagi, dia bingung kenapa Rega hanya tersenyum saja apabila Alex menjailinya. Sama sekali tidak ada perlindungan dari Rega. “Beb, kenapa sih kamu selalu diem kalau Alex ganggu aku?” protesnya tetapi Rega hanya tersenyum sembari memfokuskan pandangannya ke jalan. “seharusnyakan kamu belain apa kek, kayak orang-orang gitu yang ngelindungi teman sejati.” Omelnya tetapi belum ada respon juga “Terus kenapa tadi juga kalian ngomong-ngomong berdua gitu, kalian mesti ada secret?” penasaran Jesica yang meluapkan emosinya pada Rega. “Kenapa dari tadi senyam-senyum, senyam-senyum.” Tekan Jesica semakin emosi dan barulah Rega angkat bicara. Dia belai pipi Jesica dengan senyuman manis sembari sesekali menatap wajah Jesica yang menjadikan luapan emosi Jesica pudar begitu saja. “Kes, Jonathan nitipin elo ke gue, gue  nggak mungkin biarin kamu disakiti siapaun. Tetapi kita sama-sama kenal Alex, kita tahu siapa dia, begitu juga mama kamu yang sampai-sampai dia dipersilahkan tinggal di rumah kamu dalam jangka waktu yang cukup lama.” Jelas Rega penuh kesabaran “kalian aja yang kayak anak kecil kalau lagi bertemu, bawaannya pengen berantem terus. Kalau aku membela salah satu dari kalian, aku tidak adil dong...kan kalian sedang asyik berantem...” goda Rega membuat Jesica protes mendengarnya. “Tapi dia itu...” “Dia tadi ngundang aku untuk datang diacaranya. Malam wisuda kalian. Dia baik banget mau ngundang aku secara langsung.” Ujar Rega yang membuat Jesica bingung karena dia belum mendengar kabar itu. “Malam wisuda?” bingungnya. “Iya, dia ngundang aku supaya aku bisa nemenin kamu diacara besok. Dia pengertian juga sama kamu.” Tambah Rega malah memuji Alex. “Idih, apaan sih. Yang ada dia itu selalu nyengsarain hidup aku.” Seru Jesica yang hanya direspon senyuman oleh Rega. ********** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN