Bab.15 Mood Darrel Yang Naik Turun

1162 Kata
  Sesampainya di apartemen, keduanya langsung sibuk masing-masing. Shasa langsung memilih ke kamar untuk istirahat sedangkan Darrel lebih memilih sibuk dengan dunianya. Apalagi kalau bukan dengan pekerjaan kantor.   Darrel kini lebih memilih menatap laptop di ruang tv. Ia bahkan sesekali melirik ke arah pintu kamar Shasa tanpa ia sadari.   “Ck! Dasar tukang ngambek,” gerutunya dalam hati.   Di saat sedang fokus bekerja karena beberapa hari belakangan ia lebih memilih menjaga Shasa di rumah sakit membuat pekerjaan kantornya sedikit keteter.   Tiba-tiba saja pintu kamar Shasa terbuka yang menampilkan wajah merajuk dari perempuan itu. Darrel yang tidak tahu penyebab Shasa merajuk hanya diam saja dan terus bersikap masa bodoh.   Lagipula bagi Darrel selama mengenal Shasa ekspresi yang sering ditunjukkan oleh perempuan itu hanya mengambek dan murung saja. Tidak pernah ada ekspresi ceria seperti kebanyakan perempuan yang pernah ia temui.   “Darrel.”   Darrel memilih diam saja kala mendengar perempuan itu memanggil namanya. Ia akan terus berpura-pura sibuk meski sebenarnya sangat penasaran kenapa Shasa memanggil namanya.   “Darrel, kau b***k, ya?”   Darrel masih tetap diam saja. Matanya bahkan terus menatap fokus ke depan laptop dengan jari jemari yang terus menari di atas keyboard-nya.   “Darrel! Kau dengar aku tidak?” teriak Shasa sengaja mendekat ke arah telinga Darrel. “Kau b***k, ya?”   Darrel mendengkus sebal kala merasa telinganya pengang. Buru-buru ia langsung menoleh dengan mata melotot tajam ke arah Shasa yang masih saja menunjukkan ekspresi kesalnya.   “Ada apa panggil-panggil?”   “Aku ingin ke supermarket. Kau bisa antarkan diriku tidak?”   “Pergi saja sendiri.”   Shasa mendecih sebal. Kalau ia tahu di mana supermarketnya juga tidak akan merepotkan pria menyebalkan itu. Tidak bisa dibayangkan jika ia akan menikah dengan Darrel nanti. Bisa-bisa tekanan darahnya akan selalu naik terus menerus.   “Aku tidak tahu. Kalau aku tahu juga tidak akan meminta tolong. Ada beberapa kebutuhan yang harus aku beli.”   “Di mini market terdekat saja.”   “Tidak komplit. Aku pengin ke supermarket saja yang lebih komplit.”   Darrel mengesah dalam. Ia langsung berdiri untuk mengimbangi posisi berdiri Shasa. Kepalanya mendekat ke arah wajah Shasa hingga membuat perempuan itu menjauhkan kepalanya ke belakang.   “Ada syaratnya kalau kau ingin meminta tolong kepadaku.”   “Hah! Syarat?” Shasa tampak terkejut dengan permintaan Darrel yang sangat aneh itu.   “Ya, syarat. Kau mau tidak? Jika mau akan aku antarkan kau pergi ke supermarket terlengkap di sini. Bahkan banyak makanan Asia di sana.”   Shasa kini tampak menimbang-nimbang dengan tawaran yang diajukan oleh Darrel. Namun, ia juga takut jika tawaran atau syarat yang diajukan pria itu merugikannya.   “Syarat apa memangnya?” tanya Shasa, penasaran.   “Kau harus ikut menemaniku perjalanan bisnis ke Barcelona.”   “Apa? Tidak tidak! Aku tidak mau, Darrel. Kau ajak saja sekretarismu itu.”   “Tentu saja sekretarisku ikut. Akan tetapi jika kau ikut akan lebih membuatku tenang nantinya? Karena kau itu calon istriku.”   “Ih, apa-apaan. Kita setuju akan perjodohan ini karena untuk membuat para daddy kita tenang. Kau pergi saja sendiri, dan aku tetap di sini.”   “Ayolah, Clarisa. Jika daddy-ku tahu pasti dia akan mengamuk kembali. Kau sudah lihat sendiri bukan jika dia mengamuk seperti apa?” Darrel langsung menunjukkan arah sudut bibirnya yang terdapat bekas luka pukulan di sana dan hidung yang pernah menjadi sasaran empuk tangan Damian.   Shasa yang melihat kode dari Darrel tidak bisa menolak karena bekas pukulan itu didapatkan juga akibat ulahnya yang mencoba ingin bunuh diri.   “Baiklah. Lagipula apa untungnya jika diriku ikut kau berbinis?”   “Tentu saja aku sangat untung karena tidak akan kena ceramah oleh daddy.”   “Hahaha, jadi kau mengajakku karena takut akan ceramah Uncle Damian? Benar-benar pria b******k,” maki Shasa kesal.   “Kau bilang apa barusan, Nona?”   “Kau pria b******k,” ulang Shasa tanpa bisa menduga jika ucapannya ini justru memancing sisi liar dari Darrel.   “Kau mengatakan diriku b******k, hm? Maka akan aku tunjukkan kebrengsekanku ini kepadamu.”   Darrel langsung melangkahkan kakinya maju hingga membuat tubuh Shasa secara otomatis melangkah mundur.   Kedua pandangan mata mereka pun kian menatap satu sama lain. Bahkan saling mengunci. Darrel yang memiliki tatapan tajam seperti elang terus menatap bola mata berwarna cokelat terang milik Shasa.   “Darrel,” gumam Shasa kala dirinya tak bisa mundur lagi karena terpentok dengan lemari bufet panjang yang berisi hiasan guci kecil di atasnya.   Darrel tak menjawab ucapan Shasa. Pria itu justru tersenyum menyeringai yang membuat perempuan itu tampak ketakutan. Darrel yang melihat ekspresi Shasa seperti itu justru sangat menikmati. Ia merasa senang melihat Shasa gampang sekali diintimidasi olehnya, dan Darrel menyukai hal ini.   “Kau mau apa, Darrel?” Shasa mencoba menyingkirkan tubuh besar Darrel yang saat ini menghimpitnya paksa hingga membuat kakinya benar-benar menekan kaki lemari bufet. Tak hanya itu saja, bahkan pangkal pahanya merasakan sesuatu yang aneh tengah menempelnya.   “Kau tanya aku ingin apa? Bukannya kau sendiri yang mengatakan jika aku seorang pria b******k? Maka dari itu akan aku tunjukkan betapa brengseknya pria ini kepadamu.”   “Da-Darrel, aku barusan hanya bercanda saja. Sungguh aku tidak serius mengatakan itu.” Shasa merasa khawatir kala mengetahui jika aset milik Darrel sudah on saat ini. Shasa sebagai perempuan normal sangat takut akan hal yang akan terjadi kepadanya saat ini. “Darrel, aku mohon maafkan diriku,” pinta Shasa begitu memohon.   Melihat ekspresi Shasa yang sudah memohon dan ingin menangis seperti itu membuat Darrel langsung mendecih kesal. Bahkan ia sudah menjauhkan diri dari posisi tubuh Shasa yang sangat gemetaran itu.   “Kau bahkan sudah sangat ketakutan hanya dengan tatapanku saja. Bagaimana jika aku memang berbuat lebih b******k?”   Shasa menelan salivanya sendiri—merasa lega saat ini karena Darrel sudah menjauhi posisinya berdiri. Rasanya ia akan berhati-hati berbicara dengan pria kaku itu. Dia benar-benar sangat nekat.   “Maafkan aku, tadi tidak sengaja terucap,” kata Shasa mencoba meminta maaf sekali lagi.   “Jagalah perkataanmu, Clarisa. Kali ini kau selamat karena aku masih berbaik hati. Akan tetapi jika kau berkata sekali lagi yang melukai harga diriku kembali, kau harus siap-siap menerima konsekuensinya nanti.”   GLEK.   Shasa menelan ludahnya susah payah kala Darrel mengeluarkan ancamannya itu. Shasa bahkan merasa sangat panas dingin sendiri jika ia keceplosan kedepannya. Shasa kini akan memilih untuk diam saja jika berada di dekat pria itu.   “Ma-maaf,” ucap Shasa sekali lagi.   “Ya sudah sebaiknya kau ganti pakaian yang lebih tertutup lagi sana. Jangan gunakan pakaian seperti itu di depanku. Bagaimanapun aku pria dewasa yang sangat normal.”   Mendengar itu membuat Shasa langsung buru-buru lari ke dalam kamar. Ia benar-benar takut sendiri dengan ancaman Darrel barusan. Apa maksudnya dia bilang pria dewasa normal? Apa artinya?   Shasa pun langsung berdiri di depan cermin untuk melihat penampilannya yang sangat normal menurutnya. Bahkan dulu di rumah saja ia bisa menggunakan lebih terbuka dari ini. Dan, daddy sama kakaknya hanya diam saja tidak seperti Darrel reaksinya.   “Lagipula aku hanya menggunakan tengtop dan rok mini seperti biasa saja kok. Lagian ini pakaian yang sangat normal bukan?” tanya Shasa pada dirinya sendiri yang kini tengah bercermin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN