Pada akhirnya Shasa mengalah untuk berganti pakaian daripada nanti akan menimbulkan masalah kembali dengan Darrel. Jadi ia lebih memilih posisi aman saja.
Shasa kini mengenakan kemeja lengan panjang dengan celana jeans panjang. Tak lupa juga ia menggunakan topi agar mendukung penampilannya yang sangat fashionable.
Merasa sudah sangat pas, Shasa keluar dan melihat Darrel yang masih saja sibuk dengan laptopnya itu. Bahkan kehadirannya seperti angin. Tidak dianggap dan rasakan.
“Ekhem! Ayo kita pergi sekarang,” ujar Shasa mencoba menyadarkan Darrel dari kesibukannya itu.
“Tunggu lima belas menitan lagi. Ini sangat penting jadi bersabarlah.”
Shasa langsung memutarkan bola matanya malas kala mendengar jawaban Darrel yang sangat menyebalkan menurutnya. Benar-benar kategori pria egois jika seperti itu.
Tak ingin mengeluarkan u*****n yang berujung dengan perubahan terhadap sikap Darrel, Shasa memilih untuk bermain ponselnya—ternyata ada satu pesan chat dari Daniel di sana.
Tanpa disadari oleh Shasa, Darrel memperhatikan ekspresi perempuan itu yang tengah tersenyum senang. Kening Darrel mengerut bingung karena merasa penasaran apa yang membuat Shasa tersenyum lebar seperti itu.
Darrel pun memilih untuk berdeham dan segera mematikan laptopnya secepat mungkin. “Ayo kita pergi ke supermarket.”
Shasa langsung melihat arloji miliknya yang melingkar begitu manis di lengan sebelah kiri. “Lho, ini masih kurang dua belas menitan menunggu waktu yang kau tentukan itu.”
“Aku sudah selesai. Jadi cepetan sebelum diriku berubah pikiran nantinya.”
“Oke, oke, dasar tidak sabaran.”
Akhirnya mereka berdua keluar apartemen dengan saling diam satu sama lain. Entah kenapa mereka berdua merasa seperti kucing dan tikus jika selalu bersama. Ada saja hal yang mereka perdebatkan meski hal itu sangat tidak penting.
Saat sudah berada di dalam mobil. Shasa kembali sibuk dengan ponselnya yang membuat Darrel merasa kesal karena diabaikan seperti ini.
Kini akhirnya Darrel menambah kecepatan gas pada mobilnya agar bisa melaju dengan kencang. Shasa yang terkejut langsung menjerit kencang. Jangan lupakan jika ponselnya terjatuh karena efek keterkejutannya itu.
“Darrel, please … turunkan kecepatan mobilnya.”
Darrel tidak memedulikan rengekan Shasa yang begitu memohon itu. Ia lebih suka jika Shasa ketakutan seperti ini daripada sibuk dengan ponselnya.
“Darreeeeeeel,” teriak Shasa kencang.
Darrel tersenyum senang ketika Shasa memilih untuk memeluk tubuhnya dari samping. Jiwa penakut perempuan itu benar-benar merupakan senjata jika perempuan itu macam-macam dengannya. Banyak sekali hal yang perempuan itu takutkan di dunia ini, dan Darrel menyukai ini semua.
Masih dengan cara menyetirnya yang sangat bar-bar, Darrel tetap memikirkan keselamatan dirinya juga Shasa. Ia bahkan mengulum senyum kala kedua tangan Shasa semakin erat memeluk tubuhnya meski dari samping.
“Lepaskan pelukanmu! Ini bisa mengganggu konsentrasiku menyetir.”
Meski berkata demikian kepada Shasa, akan tetapi sangat bertolak belakang dengan hatinya yang sangat begitu menikmati momen ini.
Hingga sampai akhirnya mereka sampai di parkiran supermarket. Saat sudah berhenti pun Shasa merasa mual hingga membuatnya ingin muntah. Melihat itu Darrel langsung melotot begitu sempurna karena takut jika kejadian waktu lalu akan terulang kembali.
Dengan cepat Darrel langsung melepaskan sabuk pengamannya dan segera mendorong Shasa untuk segera melepaskan pelukannya. “Cepatlah keluar sebelum kau muntah lagi di mobilku!” teriak Darrel yang terus mendorong-dorong tubuh Shasa agar cepat keluar dari mobil kesayangannya.
Saat sudah berada di luar mobil, Shasa merasakan jika seluruh tubuhnya sangat lemas hingga membuatnya terjatuh tepat di samping mobil.
BRUG.
“Astaga, Clarisa! Kau kenapa terjatuh, hah?”
Darrel langsung berjalan menghampiri posisi Shasa yang sudah terduduk lemas di samping pintu mobil penumpang. Wajahnya sangat pucat sekali hingga membuat Darrel merasa khawatir sendiri.
“Kakiku lemas,” ujarnya memberitahu.
“Lemas kenapa?”
Shasa mendengkus sebal ketika melihat wajah Darrel yang tidak menunjukkan perasaan bersalahnya itu. Padahal yang terjadi saat ini akibat ulahnya yang menyetir seperti orang kesetanan.
“Ayo cepatlah bangun, Clarisa. Nanti banyak yang melihat kita. Apakah kau tidak malu jika menjadi pusat perhatian orang?”
Shasa menggeram kesal, rasa ingin muntahnya tiba-tiba hilang. Hanya saja perutnya terasa diubek-ubek hingga terasa mual-mual seperti orang yang sedang hamil.
“Ayo bangun, Clarisa.”
Merasa kesal membuat Shasa langsung melepaskan sepatunya dan melemparkan ke tubuh Darrel yang kini tengah menjulang begitu tinggi di depannya. “Dasar tidak berprikemanusiaan!” teriak Shasa emosi.
“Hei, kau kenapa marah-marah, hm?”
Shasa kini justru menangis sendiri karena sangat begitu kesal menghadapi sikap dan sifat Darrel yang begitu menjengkelkan. Pria itu benar-benar tidak pernah paham dan mengerti akan kondisinya saat ini.
“Kenapa sekarang kau malahan menangis, hm? Kau kenapa memangnya?”
Shasa tidak menjawab pertanyaan bodoh dari Darrel. Ia lebih sibuk meluapkan kekesalannya saat ini dengan menangis.
Dengan gerakan pelan, Shasa mencoba berdiri meski tubuhnya terasa masih sangat sempoyongan. Shasa berjalan mendekati Darrel untuk mengambil sepatunya yang ia gunakan untuk memukul pria yang sangat tidak peka itu.
Masih dengan suara tangisnya yang tersendu-sendu, Shasa berjalan menuju ke mobil untuk duduk di jok penumpang. Shasa langsung menggunakan sepatunya dengan perasaan kesal bercampur sedih. Tak hanya itu saja. Ia pun langsung mencari-cari ponselnya di kolong kursi mobil.
Di saat ponselnya ketemu. Layar ponsel itu ternyata retak yang membuat Shasa semakin menangis kencang.
Huaaaaa! Hiks … hiks ….
“Astaga, kau kenapa, hah? Aku sudah menurutimu untuk mengantarkan ke supermarket. Kenapa kau sekarang menangis?” tanya Darrel yang masih juga belum paham—lebih tepatnya pura-pura tidak paham karena ia menyukai jika perempuan itu merajuk dan mengomel seperti ini. Benar-benar hiburan untuknya—hiburan gratis.
Masih dengan perasaan emosi kini Shasa langsung menunjukkan ponselnya ke arah Darrel dengan gemas. “Kau lihat ini! Layar ponselku retak dan ini semua gara-gara cara menyetirmu yang sangat ugal-ugalan!” teriak Shasa lantang.
“Hahaha, ponselmu saja yang sangat murahan hingga gampang sekali retak,” sangkal Darrel. “Lagipula cara menyetirku sudah benar tadi. Jadi kau jangan pernah mencemarkan nama baikku karena itu bisa dituntut. Kau paham itu, kan?”
Shasa merasa bingung ingin menjawab apa dengan Darrel yang selalu bisa menjawab dan berkilah. “Tetap saja tadi kau menyetir benar-benar ngebut hingga membuatku takut akhirnya ponselku jatuh.”
“Namun bukan salahku, kan? Itu salahmu sendiri karena bermain ponsel di saat sedang berkendara. Sudahlah, jangan terus-terusan menyalahkan orang lain terus.”
Shasa mendengkus sebal melihat Darrel yang benar-benar tidak mau mengalah dengan seorang perempuan sepertinya.
“Kalau begitu kau harus ganti ponselku dengan yang baru,” pinta Shasa dengan wajah yang cukup menantang di mata Darrel.
“Enak saja. Beli saja sendiri.”
“Dasar menyebalkan!”
Shasa langsung memilih menutup pintu mobil dengan cara membanting. Perempuan itu bahkan melempar ponselnya ke d**a bidang pria itu karena merasa kesal.
Shasa langsung berjalan masuk menuju ke supermarket karena merasa emosi akibat tingkah dan prilaku Darrel yang begitu minus di matanya.
Berbeda dengan Darrel yang menangkap ponsel milik Shasa. Pria itu tersenyum kecil ketika mendapati ponsel milik Shasa tidak dikunci. Semua itu membuat Darrel merasa penasaran dengan siapa Shasa melakukan chat barusan.
Saat dibuka dan dilihat, ada nama Daniel yang paling atas di sana. Tanpa Darrel sadari saat ini telapak tangannya sudah mengepal begitu kuat ketika membaca chat Daniel yang memuji kecantikan Shasa dan mengajaknya berjalan-jalan.
“b******k! Tidak akan aku biarkan kalian berdua pergi bersama!” gumam Darrel, emosi.