Part 8. Adelard Aneh

708 Kata
Mi Li mendelik jengkel kala melihat senyum Adelard yang terlihat begitu menyebalkan di matanya. Padahal bagi perempuan lain senyuman Adelard adalah surga dunia yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kalau perlu sewaktu pria itu tersenyum mereka akan mengabadikannya agar tidak pernah terlupakan sepanjang sejarah. Entah apa yang merasuki Adelard, kini pria itu mengelus kepalanya begitu lembut. Begitu pelan dan hati-hati seolah takut membuat kepala cantiknya yang sudah terluka semakin terluka dan tersakiti. Kepalanya juga punya perasaan. Lelah disakiti melulu kayak perasaan author. Eh?! "Masih sakit kepalanya?" "Salah siapa juga membuat kepalaku sakit!! Tapi kenapa sekarang malah sok perhatian. Dasar pria jahat!" Jerit Mi Li dalam hati. Mi Li diam, berniat mengacuhkan Adelard yang telah membuatnya kesakitan. Bahkan sekarang kepalanya masih terasa nyut-nyutan. Sementara Adelard tak gentar membuat sang istri membuka suara padanya. "Jangan diam saja! Kau mau apa? Biar kubelikan?" Cih, dia seperti membujuk anak kecil yang sedang mogok bicara saja. Cemooh Mi Li dalam hati. "Kenapa diam saja? Tuh mulut udah gak berfungsi? Perlu aku jahitin?" Nyatanya Adelard tidak bisa sesabar itu menghadapi kebisuan istri kecilnya. Pria itu memaksa gadis itu menatapnya. Tangan besarnya mencengkram dagu Mi Li terlalu kuat. Sakit memang, namun, pantang bagi Mi Li untuk meringis. Dia tidak akan pernah mau membuat pria itu semakin senang akibat ketidakberdayaannya. Biarkan saja pria itu berlaku sesukanya. Dan dia akan setia dengan kebisuan dan kebungkamannya. Toh lama-lama pria itu pasti menyerah karena tidak enak menyiksa patung gaes. Coba aja kalian siksa patung, lama-lama kalian jadi jenuh sendiri 'kan. Si patung akan tetap diam sedangkan kalian udah lelah jiwa raga dan batin. "Berbicara lah, Sonia!!" Namaku Mi Li bukan Sonia. Jadi, aku harua tetap diam dong ya? Kan yang disuruh bicara Sonia. Pria itu menggeram kesal. Menekan kedua pipi gadis itu kuat. Namun, apa yang didapatnya sungguh mengesalkan. Gadis kecil itu masih menatapnya dengan sorot mata datar dan malas plus bosan. Melihat tatapan itu, harga diri si tampan benar-benar merasa terinjak. Harusnya gadis yang dicengkramnya menunjukkan ekspresi takut atau apa lah itu selain datar dan malas. "Aku tidak suka diabaikan!" Mana ada orang di dunia ini yang suka diabaikan?! Aneh-aneh aja pria jahat ini. Adelard menyeringai dengan tatapan menggelap. "Sepertinya kau harus di hukum agar tidak berani lagi mengabaikanku." Alarm berbahaya berbunyi di kepala Mi Li. Menatap was-was ke pria itu. Jangan bilang kalau pria itu akan men__ Cup! Menyiksanya__ What?!!! Adelard menciumnya?! Demi apa?!! Pria ini kesurupan apa?!! Apa ada yang tahuu pria itu kenapa?! Sumpah, ini Mi Li hampir kena serangan jantung mendadak. Padahal tadi dia sudah bersiaga menarik pisau lipat yang berada dipinggangnya jika saja pria itu kembali menyiksanya. Iya, pisau. Ketika pria itu keluar tadinya, dia segera mengambil pisau sebagai pertahanan diri jika sewaktu-waktu pria itu menggila lagi. Hello! Jangan pikir Mi Li perempuan lemah dan mudah ditindas! Jika saja dulu dia mengetahui rencana busuk suami dan sahabatnya tentu saja dia akan membunuh kedua orang itu terlebih dahulu. Lalu setelah itu hanya menciptakan sebuah cerita dramatis agar rakyat percaya padanya. "Sepertinya kau menikmati hukumanku, heh? Kenapa tidak dari dulu saja kau kuhukum dengan cara ini." kekeh pria itu penuh kemenangan melihat wajah nelangsa perempuan yang bergelar sebagai istrinya. Adelard kembali menyerang sang istri yang masih terperangah tidak percaya. Bibirnya melumat bibir Mi Li dengan ganas. Menelusupkan lidahnya ke dalam dan bermain dengan lihai. Mengabsen gigi gadis itu satu persatu sebelum mengajak lidah gadis itu bermain. Ia sangat menyukai sensasi ini. Kenapa tidak dari dulu saja dia melakukan ini kepada istrinya?? Melakukan ini lebih nikmat daripada menyiksa istri kecilnya. Sadar atau tidak sadar, Mi Li malah membalas ciuman pria itu sama panasnya. Mungkin ia terbawa suasana. Adelard dapat merasakan jantungnya berdegup kencang bisa sedekat dan seintim ini dengan istrinya. Di dalam dadanya perasaan bahagia begitu meletup-letup hingga dia takut jantungnya tidak berfungsi dengan baik lagi. Bibir kissable Adelard bergerak begitu lembut namun menggebu-gebu di bibir mungil Mi Li. Posisi mereka sudah saling tindih-tindihan. Lebih tepatnya Adelard yang menindih dan Mi Li yang tertindih. Ciuman Adelard berpindah ke leher Mi Li. Menghisapnya lembut hingga gadis itu mendesah lagi. Mengigitnya gemas kala melihat wajah tersiksa gadis itu. Ternyata memang lebih menyenangkan melihat wajah tersiksa Mi Li yang sedang menahan kenikmatan daripada menahan kesakitan. "Aku ingin memilikimu seutuhnya, Sonia." bisik Adelard dengan suara seraknya yang terdengar begitu sexy. -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN