Part 7. Psikopat Boy

814 Kata
Mi Li menjerit kala pria itu dengan sangat cepat naik kembali ke atas dan menindihnya. Gadis kecil yang terkurung dibawah tubuh besar itu mengerjap beberapa kali. Ternyata wajah pria dihadapannya sangat tampan. Lebih tampan dari suaminya. "Sudah puas mengagumiku, Sonia?" Gadis itu mendengkus kesal. Merutuk dirinya yang sempat memuji pria dihadapannya tampan. Cih. Untuk apa tampan kalau menyebalkan dan tidak punya hati! "Kenapa kau berubah, hm?" Pipi Mi Li di elus dengan sangat lembut oleh pria itu hingga si empu wajah merinding. "Tetap lah menjadi peliharaanku yang manis." "Menyingkir kau dariku!!!" bentaknya tak mau memperlihatkan kegugupan yang melandanya. "Aku harus memberimu pelajaran agar kau tidak membangkang lagi." Pria itu berdiri, menyentak lengan Mi Li kuat hingga gadis itu meringis. Tanpa kasihan, ia menyeret tubuh Mi Li ke salah satu ruangan rahasianya. Mi Li terkagum-kagum melihat ruangan Adelard. Sekuat tenaga ia menahan langkahnya hingga Adelard menoleh. "Itu apa?" tanyanya polos seraya menunjuk salah satu lemari kaca yang berisi berbagai jenis pistol. Adelard menyeringai keji. "Benda berbahaya. Aku biasanya membunuh musuhku dengan itu tapi khusus untukmu, aku tidak akan menggunakan itu!" "Aneh. Padahal senjata itu tidak terlihat tajam. Tapi nyatanya bisa membunuh seseorang." decaknya heran. "Biasanya di tempatku senjata yang digunakan untuk membunuh seseorang pedang, panah, dan pisau." Adelard hampir tertawa mendengar penuturan polos Mi Li yang dapat membuat telinganya geli. "Kenapa tidak ada pedang atau panah di sini, satu pun?" Dengusan Adelard membuat Mi Li menyipitkan mata tak suka. "Sepertinya aku memang harus membuat ingatanmu kembali. Kau benar-benar terlihat seperti orang i***t sekarang." Tanpa dapat ditebak, Adelard menyudutkan Mi Li ke dinding. Kemudian menghantukkan kepala gadis itu ke tembok dengan kuat. "ARGHH!" "Bagaimana? Kau sudah ingat?" Mi Li mendesis seraya berusaha mendorong Adelard kuat. Tapi apa lah daya, kepalanya terasa sangat pusing dan tenaganya kalah oleh tenaga banteng Adelard. "Sepertinya masih belum ingat." Pria tampan itu menyeringai iblis. Kembali menyakiti Mi Li hingga darah segar mulai mengucur deras, membasahi gaun putih bersih nan polosnya. "Kau.." Sementara Mi Li sampai tak bisa berkata-kata mendapati kesadisan pria yang merangkap sebagai suami pemilik tubuhnya. Adelard mencengkram leher Mi Li kuat sehingga gadis itu kesulitan bernafas. "Apakah sudah ingat?!" Dengan sisa tenaganya, Mi Li berusaha melepaskan cekikan Adelard. "JAWAB AKU, b***h!" "YA! AKU INGAT! KAU ADALAH SUAMI TERBRENGSEK DI DUNIA!!" teriak Mi Li dengan suara yang tercekat. Mendengar ucapan Mi Li, sisi iblis Adelard semakin terbangun. "Kau tidak boleh membentakku! Ingat! Kau hanya peliharaanku!!" Dihantukkannya lagi kepala gadis malang itu ke dinding. "ARGHH! HENTIKANN!!" Adelard seolah tuli. Ia merobek pakaian Mi Li dengan kuat serta mulai menyiksanya. "Arghh! Hentikann! Sakitt!!" Wajah pria itu semakin bersemangat mendengar teriakan kesakitan Mi Li. Mi Li menangis. Ternyata disiksa secara perlahan lebih menyakitkan daripada tertusuk pedang. Kegiatan Adelard tak terhenti di sana. Terus menyakiti Mi Li sambil tertawa riang. "Hentikan hiksss.. Bunuh saja aku!!" erang gadis cantik itu putus asa. "Tidak akan!" Mi Li berusaha kabur, namun Adelard dengan sigap menangkapnya. Tangan besar pria itu menampar pipinya kuat hingga tersungkur. Jantung Mi Li terasa mencolos ke bawah. Sial! Baru kali ini dia diperlakukan begitu kejam! Pria itu berjongkok di depan Mi Li. Kemudian menjambak rambutnya kuat. Pria itu tampak tertegun kala melihat air mata Mi Li. "Kenapa kau sejahat ini kepadaku? Apa salahku padamu? Hikss." Adelard masih tertegun. Untuk pertama kalinya ia merasakan jantungnya teremas melihat gadis yang menjabat sebagai istrinya menangis. Kesempatan emas itu dimanfaatkan oleh Mi Li. Tangan kecilnya meraih pelan pisau yang digunakan Adelard untuk menyiksanya. "Kau sungguh jahat." Dramanya terus berlanjut. Kepalanya kini mulai berdenyut sakit. Pandangannya terasa mulai memburam. Namun, sekuat tenaga ia tetap mempertahankan kesadarannya. "Ak--" JLEBBB! Adelard melotot ke arah perutnya yang baru saja di tusuk istri kecilnya. JLEBB!! "Kau harus mati!! Berani sekali kau menyakitiku!!" jerit Mi Li dan bersiap menusuk perut Adelard untuk yang ketiga kalinya. Namun, kalah cepat dari Adelard yang lebih dulu merampas pisau dan membuangnya ke sembarangan arah. "KA--" BRUK! Mi Li tergeletak tak sadarkan diri. Adelard mengerang kesal. Dengan menahan rasa sakit di perutnya, ia menggendong Mi Li yang pingsan kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan, darah Adelard mewarnai lantai. Para pelayan yang melihat keadaan pasangan yang sangat kacau itu menjerit histeris dan memanggil dokter pribadi Adelard. "Entah kenapa, sekarang kau terlihat lebih menarik, sayang. Kau milikku!" seringai Adelard sembari meletakkan tubuh rapuh Mi Li ke atas tempat tidur. Mengobati perutnya sendiri dengan senyuman manis. Sungguh gila! Disaat orang lain akan meringis kesakitan dan mengumpat kala terluka parah, pria itu malah tersenyum dan tertawa. Bagi Adelard, tusukan yang diberikan Mi Li tidak lah berarti. Sudah terlalu sering dia mendapatkan tusukan bahkan serangan peluru. Pria tampan itu mendekati gadis yang sedang tak sadarkan diri. Duduk di sisi gadis itu. "Haha! Kau sungguh menarik sekarang." tawanya manis. Jemarinya mencabut pecahan kaca di pelipis Mi Li dengan pelan. Meletakkan pecahan kaca di atas nakas. "Apa pun yang terjadi. Kau milikku!" Dan, untuk yang pertama kalinya Adelard mencium bibir Mi Li dengan penuh kelembutan. -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN