Jatuh Talak Saat Hamil eps 7

701 Kata
Bab 7 Setelah cukup lama termenung akhirnya Reza memilih bangkit dan melangkah menuju kamarnya, karena bu Lusi sedang tak di rumah sepertinya dia lagi nongkong di warung bersama ibu-ibu lainnya, sedangkan emeliy sepertinya dia belum pulang. Ceklek Saat pintu sudah terbuka Reza pun segera masuk dan mendekati Kalista yang sedang berbaring di tempat tidur. "Aku tau kamu belum tidur, tak usah pura-pura seperti itu." ujar Reza yang duduk di samping Kalista. "Hah " Kalista menghembuskan nafas kasar. "Ada apa dengan mu kenapa semenjak pulang dari kafe sikap mu malah berubah seperti ini, siapa sebenarnya laki-laki yang kau sebut Andre itu.?" Reza bertanya dengan nada sidikit membentak karena Kalista masih tak m resonnya, semakin membuat Reza tak tenang apalagi paras Andre yang memang lebih tampan darinya. "Kamu apa-apaan sih mas marah-marah gak jelas, jika kamu ingin tau siapa laki-laki tadi, dia adalah mantan pacar ku dulu puas kamu," ujar Kalista dengan kesal karena bentakan Reza tadi. "Oh, ternyata mantan pacar mu, kamu masih cinta sama dia sampai membuat mu uring-uringan seperti ini." bentak Reza lagi yang semakin marah karena cemburu, apalagi setelah dia mengetahui jika Andre adalah mantan Kalista membuat api cemburu di hatinya semakin membara. "Aku sudah tak ada hubungan apa pun sama Andre, jangan membuat kesimpulan sendiri kamu mas." Tekan Kalista tak terima di tuduh seperti itu, walaupun dalam hati kecilnya dia memang masih mencintai Andre, laki-laki pertama yang membuat nya mengenal cinta, tapi dulu Andre menghilang tanpa jejak, Sehingga membuat Kalista memutuskan untuk melupakan Andre dan menjalin hubungan dengan Reza. Tapi tadi saat melihat Andre, membuat hatinya sedikit senang, walaupun dia sedikit kecewa dengan ucapan Andre yang berkata mengenal dirinya. "Ada apa ini kenapa kalian bertengkar,?" tanya bu Lusi yang baru saja sampai di rumah. "Tanyakan saja pada menantu kesayangan ibu itu," ujar Reza dan melengos pergi keluar dari kamar. Bu Lusi mengikuti anak nya itu keluar kamar,. Sedangkan Kalista tak memperdulikan Reza dan ibunya dia lebih memilih membaringkan tubuhnya lagi. "Kamu itu jangan suka marah-marah sama Kalista Za, ingat masih ada misi yang harus kamu selesai kan, jangan sampai kalian berpisah sebelum kita menguasi harta Kalista." Bu Lusi ber-ucap pelan setelah mereka tiba di ruang tamu. Kalista memang anak tunggal, dan orang tuanya memang kaya, ayah Kalista memiliki sebuah perusahaan yang sekarang di kelola oleh Reza. Sejak Kalista keguguran dan tak bisa memiliki anak, Bu Lusi hanya pura-pura baik pada Kalista karena dia tak ingin kembali hidup susah seperti dulu, karena semenjak Reza menikah dengan Kalista kehidupan mereka terjamin. "Ya bu, aku tak akan melupakan semua itu, lagian sekarang yang mengurus perusahaan adalah aku, dan si tua bangka itu mungkin sebentar lagi dia akan mati." ujar Reza dengan santai. "Cepat sana kamu minta maaf sama Kalista, jangan membuat nya marah terlalu lama, takut nya nanti dia akan mengadu pada ayah nya." Bu Lusi menyuruh Reza untuk minta maaf pada Kalista. ** "Ah, akhirnya selesai juga ya Dew," Ujar ku sambil menghempaskan tubuh di kursi, karena aku dan Dewi baru saja selesai membereskan kafe, karena sudah waktunya tutup. "Doni mana?," Lili bertanya pada Dewi dan Risma. "Mungkin lagi di belakang Li," Dewi menjawab asal karena dia memang tak tau keberadaan Doni. "Itu si Doni," tunjuk ku saat melihat Doni menuruni tangga, tapi aku malah Fokus pada pria yang ada di belakang Doni, "Bukan kah itu pria yang tadi siang menolong ku?," aku bergumam pelan. "Itu yang sama Doni siapa? Gantengannya gak ketulungan." Lili berujar sambil menatap pria di belakang Doni. "Ingat kamu udah punya Doni Li, laki-laki itu buat aku aja." celetuk Dewi. Aku hanya menyimak obrolan mereka, tanpa ada niat menyambung obrolan mereka berdua. Saat Doni dan pria itu tiba di depan kami, Dewi dan Lili tak henti-hentinya berdecak kagum. Ya aku akui pria yang berdiri di depan ku ini, memang sangat sempurna, tapi sayang sikap nya sangat dingin melebihi kulkas 7 pintu. "Saya Andre adalah pemilik baru kafe ini." ucap nya dengan ekspresi datar andalannya. "Saya Dewi pak, dan ini teman saya Risma dan Lili," Dewi memperkenalkan diri dengan antusias sambil menunjukku dan Lili. Sedangkan aku hanya menganggukkan kepala sambil melempar senyum tipis kearah bos dingin itu, aku tak ingin banyak bicara karena takut malah di galakin sama pak bos dingin, dan jalan terbaik adalah diam saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN