Jatuh Talak Saat Hamil eps. 8

711 Kata
Bab 8 "Saya sudah tau dari Doni." jawab nya dingin, dan melangkah pergi. "Bapak, tidak akam memecat kami kan? " ucap Dewi lagi, sebelum bos baru itu menjauh. "Tidak," dia menjawab tanpa menghentikan langkahnya. "Hore.... " Dewi dan Lili berteriak kegirangan, seperti anak-anak yang mendapat mainan baru. " Lili, si Doni sepertinya ngambek tuh, cepat kamu susul ntar kalau di tinggalin sama Doni baru tau rasa kamu, pulang nya harus ngesot." ejek ku pada Lili. "Gak mungkin lah sih Doni tega ninggalin aku, kalau pun di tinggalin kan ada kamu dan Dewi, aku bisa nebeng sama kalian." balas Lili sambil mengedib-ngedibkan matanya. "Udah lah, ayo pulang aku sudah rindu sama Alvin, " ujarku dan langsung melangkah meninggalkan Dewi dan Lili. "Tunggu Ris," Lili dan Dewi mengejar ku. "Don, aku mau nanya, " ucap ku pada Doni yang sudah nangkring di atas sepeda motornya. "Mau nanya apa Ris, tentang Andre" tebak Doni, yang langsung tepat sasaran. "Iya, kenapa kamu tadi kok bisa sedekat itu sama pak Andre kayak orang sudah lama kenal gitu.?" tanya ku. "Dia itu teman ku saat SMA dulu Ris, makanya aku bisa dekat sama dia." jelas Doni. "Oh," balas ku setelah rasa penasaran ku terjawab. "Ya udah aku pulang duluan ya bay." ucap ku dan melajukan motor metic yang aku tumpangi dengan kecepatan sedang. ****** Setibanya di rumah aku di sambut oleh ibu dan Alvin yang sedang duduk di teras rumah. Setelah mematikan motor buru-buru aku turun dan melangkah mendekati Alvin yang ada di pangkuan Ibu, tak lupa aku juga mencium punggung tangan ibu dengan takzim. "Massyaallah anak mama udah ganteng aja," ucap ku sambil mencium pipi gembul Alvin. "Mandi dulu Ris, nanti baru kamu pegang Alvin." ujar ibu yang menjauhkan Alvin dari ku. "Ya udah aku mandi dulu bu." balas ku dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah. ***** Setelah salat isyak, kami memang suka kumpul di ruang tamu sambil nonton TV sambil lesehan di atas karpet. Alvin belum tidur dia masih asik bercanda dengan Keysa dan bapak, kadang Alvin sampai tertawa lepas kala Keysa dan bapak membuat lelucon. Kadang aku juga ikut tertawa melihat wajah bapak dan Keysa yang di taburi bedak bayi, hanya untuk membuat Alvin tertawa. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, aku pun segera bangkit guna mengecek siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. Ceklek Setelah pintu terbuka ternyata itu adalah mas Reza dan Kalista yang datang, entah lah mau apa lagi mereka datang kesini. "Ada apa?," Tanya ku malas. "Aku hanya ingin menjemput anak ku, karena aku juga memiliki hak atas dia." Mas Reza berucap tanpa rasa malu, apa kata nya hak, di mana letak hak yang dia maksud, apa dia sudah amesia bahwa sejak dulu dia tak pernah mau mengakui Alvin, dan dengan tega nya menelantar kan ku dengan Alvin bahkan dia tak pernah memberi Alvin nafkah lantas letak hak yang dia maksud itu dimana,? Jelas-jelas dia tak memiliki hak sedikitpun atas Alvin. "Kamu sudah amesi ya mas, bukan kah Alvin itu bukan anak mu, kamu dan ibu mu sendiri yang bilang kalau aku dulu bukan hamil dengan mu, melainkan hamil dengan laki-laki lain, apakah kamu lupa dengan ucapan mu itu" Tekan ku agar dia sadar. "Oh, nama anak ku Alvin, bagus juga, dan tantang ucapan ku dulu itu lupakan saja sekarang berikan saja Alvin pada ku, biar aku dan Kalista yang merawat nya, " ujar mas Reza dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dan dengan gampang nya dia menyuruhku untuk melupakan kejadian pahit itu, sungguh laki-laki di depanku ini memang tak memiliki hati. Dan rasa malu sedikitpun dia yang menelantarkanku dan mengataiku murahan tapi sekarang dia malah ingin mengambil Alvin dariku, tak akan aku biarkan itu terjadi. Menyesal rasanya aku dulu pernah jatuh cinta padanya dan pernah menjadi istrinya, karena pada akhirnya aku lah yang terluka. "Silahkan pergi dari sini sebelum aku memanggil warga untuk mengusir Mas," "Heh, mbak gak usah sok-sok an deh ingin merawat Alvin, berikan saja Alvin padaku, biar aku saja yang merawat nya, jika dia hidup bersama orang miskin seperti mbak kehidupan Azmi tak akan terjamin," "Biarpun saya miskin tapi saya masih mampu untuk membiayai Alvin jadi sebaiknya kalian pergi dari sini jika tak ingin saya memanggil warga untuk mengusir kalian," ucapku sungguh-sungguh agar Mas Reza dan wanita ular itu segera pergi dari sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN