Kejadian belasan tahun lalu langsung berkelebat dalam pikiran Vanilla. Ia masih ingat detailnya. Bahkan bayangan punggung tegap pria itu masih membekas dalam ingatannya. Ia menoleh ke arah Joshua yang menatapnya dengan nanar. Raut wajah pria itu penuh penyesalan yang mendalam. Vanilla tidak bisa percaya dengan yang baru saja keluar dari mulut Joshua. Namun raut wajah pria itu meyakinkannya bahwa semuanya benar. Bagaimana mungkin pria itu adalah Joshua? Bagaimana mungkin mereka orang yang sama? Bagimana mungkin ia mencintai Joshua? Kenapa Joshua tidak pernah menceritakan semuanya? Permainan apa yang sedang dilakukan pria itu? “Maafkan aku…” lirih Joshua dengan perasaan sesak yang semakin membuatnya sulit bernapas. Ia mengambil sebelah tangan Vanilla dan menggenggamnya erat. “Kamu… bren

