Patah

1540 Kata
Melalui pintu kayu berbahan dasar kayu jati itu, Vanilla memasuki sebuah rumah bertingkat. Sudah hampir empat tahun ia menghabiskan separuh malamnya di tempat ini. Rumah bertingkat ini memang difungsikan sebagai stasiun radio di mana Vanilla bekerja sebagai penyiar. Lantai pertama ada ruang tamu dan dapur, lantai dua adalah lantai inti yang difungsikan sebagai tempat siaran sedangkan lantai tiga ada beberapa kamar yang biasanya digunakan oleh teman-teman penyiarnya yang menginap. Empat tahun lalu, Vanilla tidak sengaja bertemu dengan Yoga saat radio itu menggelar siaran langsung di SMAnya yang sedang mengadakan pensi besar-besaran dan Vanilla bertindak sebagai MC. Perkenalan itu berlanjut sampai Yoga akhirnya menawarkan sebuah pekerjaan sebagai penyiar kepada Vanilla selepas gadis itu lulus SMA. Tiga jam diruang siaran selalu membuatnya merasa senang. Inilah pekerjaan yang paling disukainya. Menghibur para pendengar tanpa batas. Memutar lagu-lagu yang membuatnya tenang. “Aditya sudah menunggumu di bawah.” Salah satu teman wanitanya yang juga penyiar memberitahu Vanilla saat ia keluar dari ruang siaran. Vanilla mengangguk lalu mengambil tasnya di meja. Sebagian teman-temanya mengira bahwa Vanilla dan Aditya adalah sepasang kekasih dan bagaimanapun Vanilla menyangkal, mereka tidak percaya. Hubungan mereka memang sedekat itu, tapi itu masih dalam batas teman. Aditya tidak pernah menyatakan cinta atau semacamnya. Dan sebenarnya Vanilla juga tidak mau mengharapkan apapun dari Aditya. Ia sadar ia dan Aditya berada dalam tingkatan yang berbeda. Aditya adalah anak tunggal seorang pengusaha kaya. Dan Ia cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan pria itu. Baginya melihat pria itu sudah cukup membuatnya senang. Setelah berpamitan dengan teman-temannya yang masih mengobrol di ruang itu. Ia bergegas keluar dan menemukan Aditya dengan motornya di depan gerbang. Ia menghampiri dan memengambil sebuah helm yang diulurkan pria itu. Setelah memakainya, ia naik ke belakang pria itu dan tak lama, kendaraan roda dua itu mulai berputar. Kurang dari satu jam, motor itu sampai di depan gerbang rumah sederhana Vanilla. “Kamu punya waktu besok?” Aditya bertanya saat Vanilla mengulurkan helm padanya. “aku mau mengajakmu ke pesta ulang tahun salah satu sepupuku.” tambahnya saat Vanilla belum sempat menjawab. Vanilla terdiam sebentar lalu menelan ludah. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan mengajaknya ke acara keluarganya. Tapi akhirnya ia mengulas senyum tipis sambil mengangguk, sangat menghargai ajakan pria itu. “Aku akan menjemputmu besok jam tujuh malam.” Aditya menghadiahkan kecupan di dahi gadis itu. Vanilla mematung di tempatnya. Kecupan kecil itu terasa mematikan seluruh fungsi tubuhnya. Usapan di kepalanyalah yang akhirnya membuatnya tersadar. “Selamat malam.” Gadis itu melihat Aditya tersenyum sambil melambai. Tidak lama, motor pria itu menjauh hingga menghilang dari padangannya. *** Vanilla menatap penampilannya di cermin. Ia memakai gaun selutut berwarna hitam dan hak tinggi warna senada. Ia tidak pernah datang ke acara-acara formal seperti itu sehingga ia tidak punya banyak pilihan pakaian di lemarinya. Ini adalah gaun terbaik yang ia punya. Ia membubuhkan makeup tipis di wajahnya agar tidak terlihat mencolok karena ia sama sekali tidak begitu familiar dengan semua itu. Setiap hari, ia membiarkan wajahnya hanya berbalut sunscreen dan liptint. Ia tidak pernah berdandan seperti teman-temannya yang lain yang begitu memerhatikan penampilan mereka. Ia menghela napas panjang dan berharap penampilannya tidak akan memalukan Aditya. Dia tahu keluarga Aditya berasal dari keluarga seperti apa. Dan memikirkan orang-orang yang mungkin akan hadir di sana membuatnya ia tiba-tiba merasa mual. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan mencoba meredam detak jantungnya yang entah kenapa terasa sulit dikendalikan. Suara ketukan membuat seluruh kegelisahannya luruh. Ia menoleh dan mendengar suara ketukan lagi. Ia menjauhi cermin, mengambil tas tangannya di atas meja lalu keluar dari kamar. Vanilla membuka pintu dan langsung menatap Aditya yang saat itu terlihat tampan di balik setelan jas abu-abunya. Rambut pria itu tertata rapi dengan bantuan gel. Tak hanya Vanilla yang terhipnotis oleh penampilan Aditya, namun juga sebaliknya. Aditya tidak bisa mengenyahkan senyum dibibirnya. Ia menatap gadis di depannya dari atas sampai bawah dan mengaguminya. Gadis itu cantik, lebih cantik dengan gaun dan makeup tipis di wajahnya. “Kamu cantik sekali.” Aditya mengatakan itu dan langsung membuat Vanilla tersipu malu. Gadis itu juga perlahan menghela napas lega. Pujian itu membuatnya tahu bahwa pria itu menyukai penampilannya. Sebelah tangan Aditya terulur untuk mengambil tangan Vanilla. Pria itu menelan ludah lalu meremas tangan dalam genggamannya. “Aku menyukaimu.” Kalimat yang keluar dari mulut Aditya membuat gadis itu diam sejenak. Aditya tidak bisa lagi perasaannya. Ia tidak tahu waktunya tepat atau tidak, namun ia tahu bahwa ia tidak bisa lagi membendung perasaannya pada gadis itu. Mata Vanilla mengerjap. Ia mencoba menilik apakah pria itu serius dengan kata-katanya atau tidak. Pengakuan pria itu jelas mengejutkannya. Meski dekat, Vanilla tidak pernah bisa membaca perasaan pria itu. Apakah pria itu menyukainya, atau hanya menganggapnya teman. “Aku menyukaimu.” Aditya mengulangi ucapannya. Mencoba terdengar lebih serius, agar gadis itu percaya padanya. Vanilla menelan ludah. Ia bingung harus menjawab apa. Ia tahu bagaimana perasaannya, namun entah kenapa lidahnya terasa kelu. Kata iya yang sudah ada di ujung lidahnya tidak juga terlepas. Vanilla akhirnya memilih untuk mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu. Deretan gigi Aditya terlihat di belakang senyum lebarnya. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti keduanya. Vanilla sempat melirik ke arah Aditya sesekali dan melihat raut ketegangan dalam wajah pria itu. Vanilla sendiri tiba-tiba merasa perutnya melilit dan perasaan tidak enak menyeruak di hatinya. Entah pertanda apa, tapi Vanilla berusaha menghilangkan perasaan itu pelan-pelan. Gadis itu berkali-kali menghela napas pelan dengan tidak ketara. Gadis itu berusaha meredam gempuran perasaan aneh yang menyelimutinya. Mobil mewah itu membawanya ke sebuah rumah besar. Tampak beberapa mobil terparkir di sepanjang jalan dekat rumah itu. Vanilla tidak sanggup membayangkan berapa jumlah orang yang ada di sana. Aditya keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuknya. Yang pertama kali Vanilla lihat saat keluar dari mobil adalah puluhan mobil yang memenuhi halaman rumah besar itu. Pilar-pilar besar dengan ukiran mewah. Berbagai bunga yang ditata dengan begitu cantik di berbagai sisi. Rumah itu bak istana, berdiri kokoh dengan hiasan lampu benderang di mana-mana. Dan perasaan gugup langsung kembali menyeruak. Ia tidak pernah hadir di acara seperti ini, dan ia takut kalau-kalau ia salah bersikap. Vanilla menelan ludah lalu menggandeng lengan pria di sampingnya menuju tempat acara. Seseorang yang berada di ujung ruangan, yang ia pikir pemilik acara terlihat sangat cantik dengan gaun panjang berwarna hitam dan rambut ditata begitu rapi. Gadis yang berdiri di samping sebuah kue tart bertingkat dan berukuran besar itu memberinya senyum, oohh bukan, ia tersenyum kepada Aditya. “Selamat ulang tahun, Adinda.” Aditya memberikan sebuah bungkusan kecil yang ia sembunyikan di sakunya sambil mencium pipi gadis muda itu. “Terima kasih, Kak.” Gadis itu tersenyum, tidak sanggup menyembunyikan kebahagiaannya. “Oia, kenalkan ini… Vanilla….” Vanilla menjabat tangan gadis cantik itu sambil mengucapkan selamat. “Paman dan bibi ada di belakang.” katanya pada Aditya sambil menunjuk ke halaman belakang. Setelah berbincang sebentar dengan Adinda, Aditya mengandeng Vanilla menuju halaman belakang yang ternyata tidak kalah ramai. Halaman dengan sebuah kolam renang di tengah-tengah itu disulap menjadi tempat yang tak kalah indah. Dekorasi dengan d******i warna putih dan penuh bunga. Sebuah alunan musik mengaung dari sudut halaman. “Aku akan mengenalkanmu ke orangtuaku.” Kalau wajah Vanilla bisa lebih lebih pucat lagi, mungkin itu akan menunjukkan bagaimana gugupnya dia saat ini. Vanilla melihat Aditya yang mengedarkan pandangannya. Vanilla masih berusaha mengatur perasaannya yang entah kenapa tiba-tiba memberikan sinyal buruk. “Ayo…di sana.” Aditya tersenyum dan menggengam tangannya lebih erat. “Kenapa kamu baru sampai?” Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu bertanya saat mereka sampai di depannya. Vanilla mencoba tersenyum kecil lalu menatap orang di hadapannya, sepasang orangtua dan seorang wanita cantik kini menatapnya dengan tatapan yang entah mengapa membuatnya risih. Gadis itu memakai dress sangat minim yang memperlihatkan kaki jenjangnya, dengan sepatu hak tinggi yang menyempurnakan penampilannya. Kulit gadis itu putih mulus bak porselen, dengan tulang pipi yang tirus dan alis tebal, juga rambut bergelombang. Gadis itu sempuran di matanya. “Ma, kenalkan, ini Vanilla…” ia bisa melihat Aditya yang mencoba mencairkan ketegangan di tengah keramaian itu. Ketegangan yang entah sejak kapan menyelimuti mereka. Vanilla tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Tapi tak ada satupun tangan yang menyambutnya. Kebingungan, Vanilla kembali menarik tangannya. Ia mulai tahu bahwa ini adalah salah satu alasan kenapa perasaan buruk menyelimutinya sejak tadi. Ia tahu bahwa perasaan itu tidak datang begitu saja. “Ini Tasya, calon tunangan Aditya.” Wanita itu mengatakan itu dengan senyum jumawa. Ia dengan bangga memperkenalkan gadis yang ada di sampingnya. Detik itu juga Vanilla merasa berada di tempat yang salah. Sekali lagi, ia menatap Tasya yang tersenyum lebar. Gadis itu tampak bangga mendengar hal itu. “Kamu sudah kenal dengan Tasya, kan? Dia anak salah satu relasi bisnis Papa.” kali ini, ayah Aditya yang berbicara. Vanilla melirik Aditya yang menunjukkan raut wajah dingin dan tidak terbaca. Pria itu sepertinya juga kaget dan tidak menyangka jika kedua orangtuanya akan menyambut Vanilla dengan dingin. “Jadi… siapa wanita ini?” Wanita paruh baya itu kini menatap Vanilla dengan pandangan merendahkan. Sungguh, tatapan itu sangat melukai perasaan Vanilla. “kenapa membawa orang tidak penting ke acara seperti ini. Kamu pasti tahu kalau akan banyak saudara-saudara kita yang datang ke sini.” tambahnya, melirik Vanilla dari atas sampai bawah dengan tatapan mencemooh. “Kita akan segera merencanakan pertunanganmu.” katanya wanita itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN