Aditya

1573 Kata
Tangis Vanilla pecah saat ia keluar dari rumah itu. Ia tidak menyangka akan dianggap begitu rendah oleh laki-laki itu. Ia memang orang miskin, tapi ia sama sekali tidak berniat memeras keluarga itu dengan mengarang-ngarang cerita. Ia menuju rumah sakit dan kembali menangis saat mengetahui bahwa bibinya koma. “Saya sudah mencoba menghubungimu dari semalam. Tapi tidak ada jawaban.” Vanilla akhirnya mengerti maksud dari panggilan tak terjawab itu. Semua kekuatan Vanilla terkuras habis. Ia terduduk lemas di samping ranjang, menatap wajah bibinya yang seputih kapas. Ia sedih, marah, juga kebingungan. Ruangan itu hening, hanya alat pendeteksi detak jantung yang terdengar, yang meyakinkannya bahwa seseorang yang tergolek di atas ranjang dengan selang yang tersambung ke tubuhnya memang masih memiliki harapan hidup. Vanilla mencoba menarik napas panjang untuk menahan tangisnya namun gagal. Ia terisak tanpa suara. “Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Bibi.” saat ia mengatakan itu, alat pendeteksi detak jantung menunjukkan garis lurus disertai bunyi yang semakin cepat. Vanilla merasa seluruh tubuhnya terasa kaku. “Bibi…” Vanilla berteriak histeris sambil terus menguncang-guncangkan tubuh wanita itu, hingga akhirnya dokter dan beberapa suster datang. Vanilla langsung menyingkir dan membiarkan dokter melakukan tindakan. Salah satu wanita berseragam itu meminta Vanilla untuk menunggu di luar. Vanilla menatap pintu ruangan itu dengan tatapan nanar. Bibirnya bergetar. Ia memilin jari-jarinya dengan cemas. Ia terus mengucapkan doa dalam hati. Sungguh, ia tidak siap jika harus kehilangan bibinya. Wanita itu adalah satu-satunya keluarganya. Bagaimana hidupnya jika tanpa wanita itu. Dokter keluar dan menampakkan raut wajah yang sama sekali tidak diharapkan Vanilla. Vanilla melongok ke belakang tubuh pria paruh baya berkaca mata itu. Ia melihat seorang suster tengah mencopot semua selang yang terhubung ke tubuh bibinya. Wanita itu melepas semua alat penunjang kehidupan bagi bibinya. Tangis gadis itu pecah saat melihat perawatan menutup seluruh tubuh bibinya sampai kepala. Vanilla tak lagi bisa berpikir. Ia mundur tanpa sadar hingga punggungnya menyentuh dinding koridor rumah sakit. Tubuhnya merosot. Ia menekuk lututnya dan memeluknya erat. Ia membenamkan kepalanya di lututnya dan kembali menangis Semua terjadi begitu cepat. Saat jasad bibinya dikebumikan, ia masih tidak henti-hentinya menangis. Teman-teman bibinya datang dan berusaha menenangkannya. Vanilla tidak peduli lagi pada hidupnya. Baginya, hidupnya juga sudah berakhir. Setelah pulang dari pemakaman, Vanilla masuk ke dalam kamar bibinya. Mencium wangi khas bibinya yang masih melekat di kamar itu. Semua kenangan bersama bibinya langsung terproyeksi tanpa bisa ia cegah. Ia duduk di tepi ranjang dengan sprei motif bunga itu. Sebelah tangannya terulur untuk membuka laci nakas. Ia mengeluarkan isinya satu persatu. Di sana ada satu map yang isinya sertifikat rumah yang sudah dipindah tangankan atas namanya. Dan yang paling membuatnya kaget adalah ada surat pernyataan mengenai pendidikannya. Dalam surat itu dia sudah terdaftar dalam salah satu unversitas swasta, juga tabungan pendidikan atas namanya. Jadi, selama ini biaya pendidikannya sudah diurus oleh bibinya. Vanilla tidak habis pikir bagaimana bisa bibinya mempunyai uang sebegitu besar untuk membiayai sekolahnya padahal ia hanya karyawan biasa. Sejak saat itu ia hidup dalam kesendirian. Ia menjual rumah peninggalan bibinya dan pindah ke rumah yang lebih kecil karena berpikir rumah itu terlalu besar untuk ditempatinya sendiri. Lagipula rumah itu selalu membawa kenangan dan membuatnya sedih setiap malam. Ia berpikir bahwa pindah adalah jalan terbaik baginya. Ia ingin memulai hidup baru. Ia ingin fokus pada kehidupannya. *** Masa sekarang Vanilla tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Kejadian saat Tuhan mengambil satu persatu orang yang dicintainya hingga akhirnya ia sebatang kara. Semua kejadian yang akhirnya membuatnya harus lebih kuat dari anak seusianya. Namun waktu memang akan membiasakan semuanya. Vanilla telah ditempa begitu keras sehingga akhirnya bisa menjalani semua hari-harinya dengan sangat baik. Kini ia kuliah di universitas yang telah didaftarkan bibinya. Selain menjadi mahasiswi jurusan ekonomi di universitas itu, ia juga membiayai hidupnya dengan menjadi seorang penyiar radio yang siaran setiap malam. Bagaimanapun, ia juga butuh uang untuk membiayai hidupnya sendiri. Vanilla menyukainya pekerjaannya. Meski mengharusnya untuk begadang, ia tahu bahwa itu adalah pekerjaan terbaik yang bisa ia dapatkan. Pekerjaannya santai dan ia dibayar dengan layak. Satu-satunya yang harus ia korbankan adalah jam tidurnya. Tidak apa, ia hidup sendiri dan ia suka menyibukkan diri. Itu adalah salah satu hal yang bisa membuatnya tidak merasakan kesepian. *** Vanilla terbangun dan langsung kaget saat melihat jam memberi isyarat kalau ia sudah terlambat. Ia ada kuliah pagi ini dan dosen yang mengajar termasuk dalam katagori killer dan tanpa ampun. Ia bergegas ke kamar mandi dan keluar kurang dari setengah jam. Ia membuka lemarinya dan mengambil kemeja dan celana jeans dengan asal. Ia hanya menggulung rambutnya ke atas tanpa menyisirnya. Ia pergi keluar rumah dan berjalan terburu-buru. Berkali-kali ia melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Kakinya bergerak gelisah saat ia duduk di dalam bus. Mulutnya tak berhenti komat-kamit menggumamkan doa. Namun semua doanya pupus sudah. Saat ia berhenti di depan ruang kelasnya, pintu sudah tertutup rapat dan dari jendela kecil di tengah pintu, ia bisa melihat dosennya sudah asik berbicara di depan kelas. Vanilla menghela napas panjang. Ia mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengetuk pintu itu dan melangkah masuk. “Maaf, Pak, saya telat.” Ia berkata lirih, menunjukkan raut wajah menyesal. Vanilla terus berjalan hingga berhadapan dengan pria paruh baya itu. “Kamu tahu kalau saya tidak suka ada yang terlambat di mata kuliah saya dan saya tidak akan menolerir alasan apapun. Kenapa kamu berani-beraninya masuk?” Pria paruh baya itu membenarkan letak kacamatanya, menatap Vanilla tanpa rasa kasihan seditikpun. Baginya, kedisplinan adalah yang utama. “Maafkan saya Pak, saya janji ini adalah kali pertama dan terakhir kalinya saya telat.” Vanilla mencoba menampakkan wajah memelas. Mencoba membuat pria paruh baya itu kasian. “Saya akan kasih kamu tugas setelah ini. Lusa sudah harus kamu kirim ke email saya. Sekarang kamu boleh keluar.” Bahu Vanilla melemas. Usahanya sia-sia. Seharusnya ia tahu kalau dosen ini memang tidak punya rasa kasihan. Ia pasrah dan keluar dari kelas. Ia menuju taman belakang kampus. Tepat saat ia mendudukkan diri dibangku taman. Ponselnya berbunyi, ada foto Aditya di layarnya. Vanilla menjawab saat laki-laki itu bertanya ia ada di mana. Ia juga menceritakan insiden kesiangan yang membuatnya tidak boleh masuk kelas. Saat mendengar Aditya berbicara, ia menoleh dan melihat pria itu berdiri dengan jarak cukup jauh namun masih terlihat. Pria itu melambaikan tangan ke arahnya. Ia tersenyum saat melihat Aditya mendekat lalu mematikan ponselnya. “Tidak apa-apa sesekali ketinggalan satu mata kuliah.” kata Aditya saat sampai di depan gadis itu. Ia mengusap pucuk kepala gadis itu dan menjatuhkan diri di sebelahnya. “Dosen itu benar-benar tidak punya belas kasihan.” Bibir gadis itu mengerucut kesal. Aditya tersenyum. Sebelah tangannya terulur untuk mencubit sebelah pipi gadis itu karena gemas. Ia selalu senang melihat raut wajah kesal gadis itu. Ia pertama kali bertemu Aditya saat pria itu menjadi salah satu panitia seminar yang diadakan di kampusnya. Perkenalan mereka berlanjut melalui komunikasi telepon genggam. Hingga pada akhirnya, Aditya mulai berani menampakkan wajah di depan kelas Vanilla untuk menjemputnya ataupun sekadar mengajaknya makan. Aditya adalah seorang mahasiswa ekonomi yang sedang melanjutkan studi S2 di kampus yang sama dengan Vanilla. Sebelum mereka bertemu, kampus mungkin bukan sesuatu yang menyenangkan untuk Vanilla. Ia hanya pergi ke kampus untuk belajar dan pulang setelahnya. Ia tidak punya banyak kegiatan yang bisa ia lakukan di kampus. Ia tidak punya banyak teman dan tidak suka menghabiskan waktu untuk nongkrong seperti anak seusianya. Ia jelas lebih memilih tidur dan mempersiapkan diri untuk bekerja saat malam. Tapi semenjak kehadiran Aditya, Vanilla menjadi pribadi baru. Pribadi yang lebih baik. Gadis itu melihat dunia dengan kacamata berbeda. Pria itu membuat dunia Vanilla penuh warna. Bayangkan, Vanilla bisa begitu bahagia meski hanya melihat senyum pria itu. Ya, memang sesederhana itu kebahagiaannya. “Kamu sudah cari tempat untuk magang?” Mereka berdiri lalu berjalan keluar dari taman. Mereka pergi ke kantin fakultas ekonomi yang saat itu tidak terlalu ramai. Vanilla baru ingat kalau ia akan mencari tempat magang. “Minggu ini aku akan mulai mencari.” katanya setelah mereka selesai memesan makanan. Mereka menempati salah satu meja yang kosong. “Aku akan memberikanmu daftar referensi perusahaan-perusahaan bagus.” Aditya mengerlingkan sebelah matanya. “Terima kasih.” Vanilla tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya. Mereka membicarakan banyak hal sampai pesanan mereka disajikan di atas meja. Tak peduli mereka bertemu setiap hari, keduanya sama sekali tidak pernah bosan mengobrol dan tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Mereka bisa membicarakan apapun. Mulai dari membahas politik, sampai hal remeh temeh lainnya. Vanilla tidak peduli apa yang mereka bicarakan, yang penting Aditya ada di depannya. “Aku ada kelas sebentar lagi. Setelah kelas selesai, aku akan mengantarmu ke tempat siaran.” Pria itu menilik penunjuk waktu di pergelangan tangannya, lalu menyeruput es teh manisnya yang tinggal setengah hingga tandas. Sementara Aditya pergi ke gedung pacasarjana, Vanilla memilih kembali ke taman kampus. Vanilla menghabiskan siangnya di tempat itu. Membuka buku untuk mata kuliah selanjutnya. Satu jam kemudian, Vanilla beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak mau terlambat lagi untuk mata kuliah selanjutnya. Walaupun dosennya tidak seperti dosen killer tadi pagi, tapi ia bukan tipe orang yang menyia-nyiakan waktu. Ia menghargai hidupnya yang sebatang kara tapi masih bisa melanjutkan pendidikan hingga sarjana. Ia tidak mau mengecewakan almarhum kedua orangtua dan bibinya. Ia berjanji ia akan membuat mereka semua bangga pada waktunya. Vanilla keluar dari ruang kelasnya pukul lima lewat lima belas sore. Ia langsung melaju menuju parkiran. Aditya tersenyum saat melihatnya mendekat. “Aku sudah membuat list untukmu.” Gadis itu mengambil selembar kertas yang diulurkan oleh pria itu. Matanya menyorot beberapa nama perusahaan di sana. “Aku akan coba secepatnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN