Bukankah Terlalu Cepat untuk Jatuh Cinta Lagi?

1983 Kata
Sesaat setelah menjejakkan kakinya di trotoar, Vanilla langsung berjalan cepat menuju kantornya yang tak jauh dari tempatnya turun dari bus. Pagi ini ia kesiangan. Ia tidur terlalu pulas hingga tidak mendengar alarmnya. Ia beruntung karena langsung mendapatkan bus dan jalanan tidak macet. Ia memelankah saat akan melewati pintu transparan kantornya. Setelah menjejalkan salah satu jarinya di mesin absen dan menunggu hingga alat itu memberikan sinyal berhasil, ia bergerak mendekati lift dan menunggu pintu besi itu terbuka bersama beberapa karyawan lainnya. Saat kotak besi di depannya terbuka, ia masuk dan pintu hampir saja tertutup saat seseorang sedikit berteriak, “wait.” Posisi Vanilla yang paling dekat dengan deretan angka itu langsung mambuatnya menekan tombol open dan menunggu wanita itu masuk. Wanita itu langsung menekan angka empat belas pada tombol. Vanilla melirik wanita yang baru saja masuk. Wanita itu memakai gaun pendek berwarna merah dengan sepatu hak tinggi warna serupa. Rambut panjangnya dikeriting dan dibiarkan menggantung di bahunya, Makeupnya tebal namun cantik. Dari jarak yang begitu dekat, Vanilla bisa mencium parfum wanita itu. Di mata Vanilla, wanita itu sempurna. Melewati beberapa lantai, beberapa orang keluar dari lift hingga akhirnya menyisakan Vanilla dan wanita itu. Saat mencapai lantainya dan pintu lift terbuka, ia keluar dan berpapasan dengan salah satu rekan setimnya yang sedang berdiri di depan lift. Rekan satu timnya tersenyum dan sedikit menunduk pada wanita yang bersamanya di depan lift. “Kamu mengenalnya?” Vanilla bertanya dengan nada penasaran. “Dia calon tunangan bos kita.” *** Di dalam lift, Lauren tersenyum sinis. Tidak butuh usaha untuk bertemu dengan gadis itu rupanya. Dan bahkan setelah ia melihat secara langsung, melirik dengan ekor matanya penampilan gadis itu dari atas sampai bawah, ia sama sekali tidak menemukan apa yang menarik darinya. Gadis itu bahkan tidak ada seujung kuku dirinya. Dia tidak akan sudi bersaing dengan gadis itu. Namun ia jelas tidak akan diam saja. Lauren tidak bisa berhenti berpikir apa yang Joshua lihat dari gadis itu. Dan ia sampai pada kesimpulan bahwa Joshua hanya bermain-main. Pria dewasa seperti Joshua tidak akan menyukai gadis seperti itu. Atau mungkin justru lebih menarik karena mudah dimanipulasi dan dipermainkan. Lauren tidak mengapa jika pria itu ingin bermain-main. Jika pria itu jujur padanya, mungkin ia akan memberikan banyak waktu untuk pria itu menghilangkan rasa penasarannya. Tapi ia tidak suka diabaikan. *** Joshua duduk di kursinya. Di belakangnya ada lemari yang menempel di dinding dengan tinggi hampir mencapai plafon. Lemari itu dipenuhi oleh buku-buku, lalu ordner di sisi lainnya. Di sampingnya, jendela besar membuatnya bisa melihat apa yang ada di luar. Sebelah tangan pria itu mengambil sebuah amplop cokelat dari laci mejanya. Ia membuka dan mengeluarkan isinya. Foto-foto Vanilla dan Aditya. Selama keduanya kembali dekat, Joshua memang menyuruh orang untuk membuntuti mereka berdua dan mengambil beberapa gambar. Joshua belum sempat melakukan apapun terhadap foto-foto itu karena Aditya kembali menghilang dan hubungannya dengan Vanilla kembali membaik. Namun kali ini ia tahu foto-foto itu akan berguna. Foto itu akan membuat kedua orangtua Aditya mendesak pertunangan itu dipercepat dan Vanilla akan mendapatkan kepastian yang ia butuhkan. Benar kata gadis itu, gadis itu butuh kepastian dan ia memastikan gadis itu mendapatkannya meski dengan cara menyakitkan. Gadis itu mungkin akan merasa sedih dan kehilangan awalnya. Tapi ia tahu kalau waktu akan menyembuhkan luka gadis itu. Gadis itu akan terbiasa hingga akhirnya melupakan semua kenangannya bersama Aditya. Ia akan membantu gadis itu melupakannya. Suara pintu ruangannya yang tiba-tiba terbuka membuat Joshua langsung memasukkan foto-foto itu ke amplop dan menyimpan kembali di lacinya. Ia berdecak saat melihat senyum Lauren. Senyum yang entah kenapa membuatnya sangat muak akhir-akhir ini. Lauren menyapanya dengan senyum sumringah lalu duduk di kursi di depannya tanpa diperintah. “kenapa tidak menjawab teleponku?” Lauren bertanya dengan nada merajuk. Ia bilang pada Joshua bahwa ia menghubungi pria itu beberapa kali dan bahkan datang ke rumahnya untuk mengetahui keberadaannya. “Aku sibuk.” Joshua mulai mengalihkan pandangannya ke tumpukan dokumen yang ada di depannya. “Aku tahu kamu selalu sibuk. Tapi kenapa tidak pernah mengangkat teleponku? Kenapa kamu tidak pulang ke rumah? Kenapa ibumu tidak tahu kamu ada di mana.” Lauran memberondong pertanyaan itu. Seakan mendesak pria itu menjelaskan. Tapi Joshua jelas tidak akan pernah memberitahukan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Ia tidak akan membiarkan Lauren mengenal Vanilla. Ia tahu Lauren bisa melakukan apapun dan ia akan membuat Vanilla tetap di tempat yang aman. Joshua mengetuk-ngetukkan pulpen di meja lalu menatap tajam ke arah Lauren. “Aku sibuk, Lauren. Kalau kamu datang ke sini hanya untuk memprotes hal itu, sebaiknya kamu pergi.” Joshua melirik ke arah pintu. Lauren berdecak sebal. Ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Joshua. Ia berdiri di samping pria itu lalu menyandarkan bokongnya ke tepi meja. Joshua sudah mulai fokus mengecek dokumen. “Joshua… Ayo bicarakan pertunangan kita.” kata Lauren. Sebelah tangannya terulur untuk menyentuh bahu pria itu yang dilapisi kemeja dan jas. Joshua bergeming. Ia masih fokus pada dokumen di tangannya. Lauren menghela napas panjang, mencoba bersabar. Sebelah tangannya mengambil dokumen dalam tangan Joshua dan ia menggeser tubuhnya hingga berdiri di depan pria itu. “Aku ingin pertunangan kita secepatnya dilaksanakan.” Lauren sedikit menunduk untuk mengecup bibir Joshua yang langsung menghindar. “Aku sudah memintamu untuk menunggu.” kata Joshua sambil berdiri. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekiknya. Ia tidak meminta Lauren untuk menunggunya. Ia meminta gadis itu menunggu karena ia perlu berbicara dengan ayahnya mengenai rencana ini. Ia perlu membatalkannya dan ia tahu hanya ayahnya yang bisa melakukan itu. Ayahnya yang bisa berbicara pada kedua orangtua Lauren untuk mempertimbangkan kembali rencana itu. Joshua tidak pernah mengerti kenapa Lauren begitu menginginkan pertunangan itu. Wanita itu cantik dan kaya, jelas mudah menemukan pria yang jauh lebih darinya. “Aku perlu kepastian, Joshua.” Lauren melangkah pelan mendekati Joshua yang sedang berdiri di depan jendela. “aku sudah menunggu terlalu lama.” Lauren memeluk pria itu dari belakang. Joshua mengurai pelukan itu dengan paksa dan membalik badan. “Kamu bisa mencari pria lain, Lauren. Ada banyak pria yang lebih baik dariku.” kata Joshua. Lauren menggeleng sambil tersenyum. Ia sedikit mendorong tubuh pria itu hingga punggungnya menyentuh sisi jendela. “aku mau kamu, Joshua.” sebelah tangannya menyentuh d**a pria itu dengan mesra. “aku hanya butuh kamu.” Lauren berjinjit untuk mengecup bibir pria itu namun gagal karena Joshua menghindar. Ia tersenyum sinis. “tidak ada wanita lain, kan?” tanyanya dengan nada penekanan. Ia menatap tepat ke manik mata Joshua yang terdiam dan tampak gugup. “Tidak.” jawab Joshua akhirnya. Lauren kembali berjinjit, mengecup bibir pria itu lalu melumatnya pelan. Ia tersenyum. sebelah tangannya terulur untuk mengusap bekas lipstiknya yang menempel di bibir pria itu. “Aku pergi dulu.” *** Vanilla baru saja keluar dari lift saat mendengar ponselnya berdering. Ia menslide layar untuk mengangkat panggilan dari Joshua. Sambil berbicara dengan pria itu, ia tetap melangkah hingga keluar dari kantor. Setelah mencapai kesepakatan, Vanilla memutuskan sambungan. Ia baru saja hendak makan siang sendiri saat Joshua meneleponnya dan mengajaknya makan siang bersama. Ia setuju dan akan menunggu pria itu di halte dekat kantor. Vanilla pikir mereka akan pergi mencari makan di sekitar kantor, seperti yang ia lakukan biasanya, ataupun karyawan kantor yang lain. Vanilla jelas terkejut melihat pria itu membawa mobil dan kini membawanya ke sebuah restoran. “Aku bosan makan-makanan dekat kantor.” itu adalah jawaban Joshua saat Vanilla bertanya kenapa tak makan siang di dekat kantor. Vanilla akhirnya memaklumi dan menuruti pria itu. “Tadi aku bertemu calon tunangan bos di lift.” Vanilla memberitahu saat pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka. Joshua terdiam. Ia menatap Vanilla yang melanjutkan kata-katanya. “dia cantik sekali. Wajahnya terasa familiar, ternyata dia model.” Joshua menelan ludah. Ia membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. “Kamu pasti sering melihatnya, ya? Ruangan bos ada dilantai empat belas juga, kan? Di sebelah ruangan legal.” Joshua menghela napas lega karena Vanilla berpikir ia adalah karyawan legal. Namun ia kebingungan di saat yang sama. “Dari mana kamu tahu kalau itu calon tunangan bos?” Joshua bertanya. “Aku bertanya dengan rekan satu timku.” Joshua masih memerhatikan Vanilla yang terus membicarakan Lauren. Gadis itu kagum dengan betapa cantik dan berkelasnya wanita itu. Ia lalu bilang bahwa siapapun yang menjadi suaminya akan sangat beruntung. Jashua menatap Vanilla yang tampak semangat bercerita. Ini sepertinya kali pertama gadis itu melihat wanita secantik Lauren secara langsung. Vanilla bercerita mengenai kulitnya yang sangat putih dan mulus, lalu posturnya yang tinggi kurus dan segala macam. Joshua kebingungan. Ia merasa takut jika akhirnya semuanya terbongkar. Ada banyak hal yang terlanjur ia sembuyikan dari gadis itu. Statusnya, masa lalunya, dan ia tidak yakin gadis itu akan memaafkannya. Joshua bingung harus bagaimana. Dorongan untuk berkata jujur atau menyimpan semuanya saling mendominasi sehingga ia benar-benar tidak yakin apa yang sebaiknya ia lakukan. Diantara kedua pilihan itu, manakah yang sekiranya lebih baik, ia tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa ia takut kehilangan gadis itu. Joshua bersyukur pesanan mereka disajikan cepat dan bisa membuat Vanilla menghentikan ceritanya. “kamu lebih cantik, Vanilla.” kata Joshua sambil mengambil pisau dan garpunya. Vanilla terdiam, ia menatap Joshua yang tersenyum. Jika wajahnya bisa lebih merah lagi, itu akan menunjukkan betapa Vanilla malu mendengarkan kalimat pria itu. “Aku serius. Wanita itu tidak ada apa-apanya dibanding dirimu.” Joshua mengatakan itu lebih santai sambil memotong dagingnya. “Mana mungkin aku dibandingkan dengannya. Aku yang perempuan saja mengakui kalau dia sangat cantik. Bahkan lebih cantik saat dilihat secara langsung.” kata Vanilla sambil memasukkan potongan daging ke dalam mulut dan mencacahnya. “Tapi bagiku, kamu lebih cantik. Jauh lebih cantik dari wanita itu.” Vanilla merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada sensasi kupu-kupu berterbangan di perutnya. Ia langsung menutup pembicaraan dan fokus pada isi platenya. Vanilla tahu perasaan apa itu. Ia tidak bodoh saat ia sadar bahwa hati dan perasaan mengkhianatinya. Akhir-akhir ini otak, darah, hormon dan yang lainnya selalu bersatu dan memberikan sinyal bahwa ia mungkin menyukai pria itu. Jantungnya yang kerap berdetak cepat, perasaan gugup, sensasi kupu-kupu berterbangan diperutnya. Hal-hal itu sudah cukup memberitahunya bahwa ia memang menyukai Joshua. Vanilla hanya tidak ingin mengakuinya Di tengah-tengah kegiatan makannya, ia sesekali melirik Joshua yang makan dengan elegan. Vanilla tidak ingin pria itu tahu perasaannya. Ini terasa sangat aneh karena ia sadar ia tidak benar-benar mengenal pria itu. Sedekat apapun hubungan mereka sampai saat ini, ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pria itu. Setiap waktu yang mereka habiskan berdua hanya berpusat pada hidup Vanilla. Pria itu sama sekali tidak pernah menyinggung keluarganya, kehidupannya ataupun yang lainnya. Saat Vanilla merasa bahwa pria itu sudah tahu segalanya tentang hidup dan masa lalunya, ia sama sekali tidak tahu apapun. Bukankah terlalu cepat untuk jatuh cinta lagi? Ia baru saja melepaskan seseorang yang sangat berarti dalam kehidupannya. Bukahkan seharusnya ia menata hatinya dulu hingga benar-benar sembuh baru menerima orang baru. Vanilla merasa ada yang salah. Prosesnya seharusnya tidak secepat ini. Sudah terlalu banyak trauma di hidupnya dan ini penting untuk berdamai dengan masa lalunya dulu sebelum memulai hubungan yang baru. Vanilla menggeleng pelan, mencoba mengusir segala kemungkinan yang sudah memenuhi otaknya. Meski menawarkan sebuah hubungan, memujinya dan menghabiskan banyak waktu bersamanya, pria itu belum tentu menyukainya. Sekali lagi, ia sama sekali tidak bisa membaca perasaan pria itu. Mungkin memang sebaiknya mereka tetap seperti ini. Persahabatan mereka berdua menyenangkan. “Kamu selalu makan sendiri?” Joshua bertanya setelah keheningan panjang di meja itu. Ia melihat gadis itu mengangguk pelan. “kenapa?” tanyanya lagi. “Tidak apa-apa.” Vanilla menjawab singkat. “Apa rekan kerjamu tidak bersikap baik?” Vanilla langusng menggeleng, “mereka semua baik. Hanya saja…” Vanilla bingung bagaimana menjelaskannya. Ia hanya bilang bahwa ia tidak begitu cocok dengan mereka semua. Ia seperti ada di dunia yang berbeda dengan rekan kerjanya lain. Vanilla tidak bisa nyambung jika obrolan mereka hanya seputar fashion, gadget, dan barang-barang mahal lainnya. Vanilla tidak terlalu up to date dengan hal-hal semacan itu. Joshua mengangguk, sangat mengerti dengan penjelasan gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN