Ayo Berkencan

1997 Kata
Vanilla menarik diri. Ia menatap Joshua yang tersenyum kecil. Ia masih terdiam. Ada perasaan aneh yang sama sekali tidak ia mengerti. Ia tiba-tiba kebingungan. Dilihatnya wajah tampan di depannya. Wajah yang akhir-akhir ini nyaris dilihatnya setiap hari. “Aku pulang dulu.” suara itu yang akhirnya menyadarkan Vanilla. Ia ikut berdiri dan mengekori Joshua yang berjalan menuju pintu. Joshua baru hendak menarik pintu lebih lebar lagi saat tiba-tiba merasakan Vanilla meneluknya dari belakang. Pelukan erat itu diiringi pekikan kaget gadis itu. Wajah Vanilla menempel di punggungnya. Semua terjadi dengan begitu cepat, bersamaan dengan lampu yang tiba-tiba padam dan membuat seluruh ruangan gelap gulita. Joshua mengulum senyum lalu mengusap lengan yang melingkari pinggangnya. “Aku takut…” lirih gadis itu, masih mencengkeram kemeja Joshua erat-erat. “gelap.” Ini bukan saat yang tepat untuk mati lampu. Ia tidak mengerti kenapa listrik padam tiba-tiba. Biasanya, beberapa jam sebelum pemadaman, akan ada yang memberikan informasi padanya. Jika seperti itu, Vanilla akan langsung pergi dari rumahnya. Tidak peduli ia tidak punya tujuan, yang penting ia pergi dari rumahnya yang gelap. “Joshua membalik badan dan membalas pelukan gadis itu. “tenanglah.” Joshua mengusap punggung gadis itu saat Vanilla semakin menyerukkan kepala ke ketiaknya. Pria itu membawa gadis itu ke sofa dan bertanya, “kamu punya lilin atau emergency lamp?” “Ada lilin di laci kamarku.” “Aku akan mengambilnya. Kamu tunggu sini ya.” Joshua mengurai pelukan itu yang justru semakin mengerat. “Aku ikut.” Vanilla benar-benar tidak ingin melepaskan Joshua. Ia sudah sangat ketakutan. Dalam kegelapan, mereka berpelukan dan berjalan pelan menuju kamar. “Kamu membuatku susah bergerak.” keluh Joshua saat mereka berdiri di samping nakas. Perlahan, Vanilla merenggangkan pelukannya lalu mengadah. Ia menatap wajah Joshua yang diterpa cahaya bulan dari jendela kamarnya yang tidak tertutup. Dia tampan, katanya dalam hati. Lagi, detak jantungnya menggila. Ia menghela napas untuk menyembunyikan derunya yang sudah seperti genderang. Ia takut pria itu bisa mendengarnya. Ia masih menggenggam lengan Joshua saat pria itu mengobrak-abrik lacinya. Sekali lagi, Vanilla menarik napas panjang saat merasakan tubuhnya gemetar dan dahinya berkeringat. Ia menatap waspada ke sekeliling. Ia mulai cemas dan panik. Ia selalu berpikir bahwa dalam ruangan yang gelap, ada banyak hal yang bisa mengancam jiwanya. “Kamu menyimpan lilin sebanyak ini?” Joshua mengeluarkan kantong berukuran besar berisi lilin yang dimaksud Vanilla. Ini jumlah yang banyak. Sangat banyak bagi orang lain yang mungkin hanya menyimpan satu atau dua buah lilin untuk berjaga-jaga. Keduanya keluar dari kamar dan pergi menuju dapur untuk mengambil korek. Dengan bantuan pemantik api itu, Joshua menyalakan lilin satu persatu. Uniknya, lilin itu memiliki diameter yang cukup besar dibanding lilin biasanya. Ia menaruhnya di ruang tamu dan menyalakan cukup banyak agar ruangan itu temaram. “Aku takut.” Vanilla melirih. Ia takut Joshua akan meninggalkannya. Ia perlu memberitahu pria itu bahwa lilin sebanyak apapun tidak akan meredam ketakutannya. Ia takut jika lilin itu habis dan ruangan itu kembali gelap. “Sudah ada lilin.” kata Joshua, “aku akan menyalakan juga di kamarmu.” Joshua melihat gadis itu menggeleng pelan. Dahi gadis itu berkeringat dengan sorot mata yang ketakutan. “Aku tidak tahu kapan lampu akan menyala.” keluh gadis itu. “bagaimana kalau lilinnya habis.” Joshua tidak punya pilihan lain selain tetap di sana sampa lampu menyala. “Tidurlah.” Joshua menepuk pahanya saat melihat Vanilla menguap beberapa kali. Ini sudah hampir tengah malam, gadis itu pasti lelah dan mengantuk. Vanilla menggeleng, berusaha menyembunyikan kondisinya yang memang sudah sangat lelah dan mengantuk. “Aku tahu kamu mengantuk.” Joshua menarik bahu gadis itu dan menaruh kepala gadis itu pelan-pelan ke pangkuanmu. “aku tahu mungkin tidak nyaman tidur dalam keadaan gelap. Tapi ada aku. Tidak ada yang perlu kamu cemaskan.” Sebelah tangan Joshua mengusap kepala gadis itu, hal yang langsung membuat Vanilla mengingat ibunya. Ibunya suka mengusap kepalanya sebelum tidur, sambil membacakan cerita. Ia menatap Joshua yang juga sedang menatapnya. Pria itu tersenyum kecil. “Kamu juga seharusnya beristirahat.” lirih gadis itu. “Aku akan memastikan kamu tidur dulu, dan lampu menyala.” Joshua masih mengusap rambut Vanilla, mengalirkan hangat yang memenuhi tiap inti sel Vanilla. Ia tidak pernah merasa senyaman ini. Tidak butuh waktu lama karena napas Vanilla mulai teratur dan ia mulai pulas. Joshua tersenyum dan memerhatikan wajah wanita yang dicintainya. Ia ingat saat pertama kali bertemu secara tidak sengaja di pesta Adinda, salah seorang temannya. Vanilla menabraknya sambil menangis dan saat itulah Vanilla berhasil menarik perhatiannya. Kalau ditanya, Joshua juga tidak tahu bagaimana bisa ia mencintai Vanilla disaat dirinya dikelilingi wanita cantik. Lauren misalnya, Vanilla jelas jauh beda dengan Lauren dari segala hal. Tapi entah apa yang membuatnya lebih tertarik pada Vanilla. Kepolosan, kesederhanaan, atau mungkin ini karma karena dulu ia pernah menyakiti gadis itu. Ia pikir Tuhan pasti ingin menyiksanya atas dosa-dosanya di masa lalu. Joshua masih terjaga saat listrik menyala. Suasana yang remang secepat kilat berubah terang. Perlahan ia membopong tubuh mungil Vanilla ke dalam kamar dan membaringkannya ke ranjang. Gadis itu tak terbangun saking lelahnya. Ia malah memeluk guling dan mencari posisi ternyamannya. Joshua menarik selimut hingga ke d**a gadis itu lalu mengecup keningnya. Kenapa harus kamu, Vanilla. Kenapa harus kamu yang bertahun-tahun lalu datang ke rumahku. Kenapa harus kamu yang kucintai, Joshua menelusurkan jarinya ke wajah Vanilla. Apa aku sanggup berkata jujur padamu? Rasa sesak itu masih ada. Sesak yang selalu menyelimuti tiap kali Joshua mengingat itu. Ia selalu berpikir, sampai kapan ia bisa menyembunyikan rahasia itu. Apakah bijak menyimpan rahasia itu terus menerus. Apakah ia sanggup terus membohongi gadis itu. Namun ia tidak pernah siap untuk menceritakan itu. Gadis itu pasti akan membencinya. Ia telah menghina gadis itu, menolak membantu sehingga bibi gadis itu meninggal. Ia telah membuat gadis itu gagal menyelamatkan bibinya. Ia telah merusak hidup gadis itu. Meski sadar bahwa kebencian gadis itu padanya mungkin sebuah kewajaran, dan mungkin ia memang berhak mendapatkannya, ia tetap tidak sanggup. Ia tidak ingin gadis itu membencinya. Ia telah susah payah membangun hubungan yang baik dengan gadis itu, ia tidak ingin menghancurkannya begitu saja. Bisakah ia menyembunyikan rahasia itu selamanya? *** “Hai, Lauren.” Camelia menyapa Lauren yang baru saja masuk ke ruang tamu. Ia melihat gadis itu mendekat, dengan dres berwarna cokelat muda dan sepatu hak tinggi. Gadis itu cantik seperti biasa. Setelah menyalami Camelia, ia duduk di sebelah wanita itu dan bertanya mengenai Joshua. “Dia tidak pulang semalaman. Dia pasti di apartemen.” Camelia menjawab, meski ia tidak benar-benar yakin dengan jawabannya. Tapi ia tahu ia perlu membuat gadis di sebelahnya tenang. “Apa dia menghubungi Tante?” gadis itu bertanya karena sama sekali tak yakin dengan jawaban Camelia. Wanita itu berdehem pelan, “tidak. Tapi di mana lagi kalau bukan di apartemennya.” Wanita itu melihat Lauren menghela napas. “jangan terlalu dipikirkan, Joshua hanya sedang banyak pekerjaan.” ia mengusap lengan gadis itu seraya menenangkan. Camelia menyukai Lauren, sangat. Ia adalah orang yang paling mendukung rencana pertunangan mereka. Lauren berasal dari keluarga terpandang, juga sangat cantik. Lauren adalah jodoh paling tepat untuk Joshua dan ia akan memastikan pertunangan, atau bahkan pernikahan keduanya terjadi. “Bukankah akhir-akhir ini Joshua sangat aneh. Dia sulit dihubungi.” keluh Lauren. Camelia tahu dan sadar. Pria itu pulang semakin larut daripada biasanya, bahkan beberapa kali tak pulang tanpa kabar. Biasanya pria itu selalu mengabari ke mana ia akan pergi, bahkan jika ia pulang ke apartemennya. Tapi Camelia tidak pernah berpikir itu aneh. Joshua sudah dewasa dan hal-hal seperti itu terasa wajar. Ia tidak mungkin terus menerus mencampuri urusan pria itu seperti pria itu anak di bawah umur. “Dia hanya sedang sibuk.” Lagi, Camelia berusaha menenangkan Lauren. Camelia tidak punya anak perempuan sehingga ia senang jika Lauren datang ke rumahnya. Ia telah berpikir bahwa akan sangat meyenangkan jika gadis itu jadi menantunya. Gadis itu berkelas, dan sudah sangat dekat dengannya. Mereka bisa membicarakan banyak hal, ataupun menghabiskan waktu bersama-sama. Saat sudah memasuki umur yang mapan, ia masih bingung apa yang Joshua pikirkan. Ia tidak mengerti bagaimana mungkin pria itu sama sekali tidak tertarik dengan Lauren. Sedangkan diluar sana, ia tahu Lauren digilai banyak lelaki. Seharusnya Joshua merasa beruntung, bukan malah terus menerus menunda pertunangan mereka. Camelia mulai berpikir untuk mendesak anaknya. Ia akan membuka mata dan pikiran Joshua bahwa Lauren adalah jodoh terbaik. Pria itu tidak bisa terus menerus menghindar. Jika pria itu banyak menghabiskan waktu dengan Lauren, ia yakin pria itu akan bisa menerimanya. Ini hanya masalah waktu. Pria itu hanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya. *** Vanilla keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan rapi. Ia masuk ke ruang tamu dan melihat Joshua sedang berdiri membelakanginya dan tengah terhubung dengan seseorang melalui sambungan telepon. Pria itu sudah berpakaian rapi, dengan rambut yang masih setengah basah. Vanilla tidak tahu dari mana pria itu mendapatkan pakaian ganti. Jas pria itu tersampir di punggung sofa. Di atas meja sudah ada dua porsi bubur ayam yang sudah dipindahkan ke dalam mangkok. Saat ia duduk di sofa, pria itu mengakhiri panggilannya. “Dari mana kamu dapat…” Vanilla menatap kemeja biru muda yang melekat di tubuh pria itu lalu ke dua porsi bubur ayam di atas meja. “Aku meminta supirku untuk membawakan baju ganti. Buburnya aku beli dengan layanan pesan antar.” Joshua mengambil tempat di seberang Vanilla dan mengambil mangkok lalu memulai sarapannya. Vanilla melakukan hal serupa. Sesekali Vanilla melirik pria di depannya. Ingatan saat kejadian malam tadi membuatnya malu. Ini tidak benar, pikirnya. Ia tidak tahu pasti bagaimana perasaannya, juga perasaan pria itu. Mereka seharusnya tidak melakukan itu. Mereka sudah melewati batas dan Vanilla tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Lagi, wajah Aditya terlintas. Meski sudah tidak lagi mengharapkan pria itu, ia masih berpikir bahwa ia ingin menerima kabarnya. Atau paling tidak sebuah kepastian. Mereka berdua memulai hubungan baik-baik, pria itu tidak seharusnya menghilang begitu saja. Pria itu seharusnya memberi kejelasan padanya. “Kamu rapi sekali.” kata Vanilla saat Joshua memakai jasnya. “Aku ada keperluan diluar. Nanti aku akan menurunkanmu di depan kantor.” kata Joshua. “Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri.” tolak Vanilla. “Tidak apa-apa. Aku masih punya banyak waktu.” Joshua merapikan dasinya dan menatap Vanilla yang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. “ada apa?” tanyanya. Vanilla menggeleng. Ia baru hendak beranjak dari duduknya saat sebelah tangannya tertahan. Ia tidak mengerti kenapa Joshua seperti bisa dengan mudah membaca pikirannya. Pria itu tahu bahwa ia sedang memikirkan banyak hal, atau memang karena raut wajahnya mudah terbaca. “Aku hanya berpikir, apa yang kita lakukan semalam salah.” “Yang kita lakukan semalam?” Dahinya berkerut dalam. “Ciuman…” Saat mendengar itu Joshua nyaris terbahak, namun ia sekuat tenaga untuk menahannya. Sungguh, ia tidak mengerti jika yang dimaksud Vanilla adalah ciuman itu. Bagi orang dewasa sepertinya, itu bukan sesuatu yang aneh. Banyak orang yang bisa berciuman meski sama sekali tidak memiliki perasaan. Namun bagi Vanilla mungkin itu berbeda. Gadis itu mungkin perlu penjelasan. “Maafkan aku.” kata Joshua akhirnya. “aku tahu ini tidak adil untukmu.” katanya lagi, “ayo berkencan.” ajak pria itu. Ia yakin Vanilla sudah tahu bagaimana perasaannya. Setelah semua yang ia lakukan, gadis itu seharusnya bisa dengan mudah mengartikan semua sikapnya. Tapi gadis itu terlihat kaget saat mendengar ajakannya, lalu gadis itu menggeleng pelan. “Kenapa?” Joshua bertanya dengan nada tenang meski nyeri menghantamnya. Gadis itu bahkan langsung menggeleng dan tidak berusaha memikirkan perasaannya. “bukankah kamu sudah tidak mengharapkan Aditya lagi?” Vanilla menelan ludah. Ia melihat Joshua menatapnya dengan tatapan menuntut. “memang, tapi sebenarnya aku perlu penjelasan. Kami memulainya baik-baik, aku juga ingin berpisah baik-baik.” Joshua menghela napas kasar. Ia ingin marah namun gadis itu ada benarnya. Gadis itu perlu penjelasan agar tidak merasa dibuang begitu saja. Tapi apa gadis itu tidak bisa menerima perasaannya sambil menunggu kepastian itu. Dibanding mendebat, Joshua akhirnya mengangguk. Ia tahu gadis itu butuh waktu dan ia akan memberikan waktu sebanyak yang gadis itu butuhkan. Ia sudah lebih tenang karena gadis itu akhirnya melunak, juga sudah tidak lagi buta oleh perasaannya pada Aditya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN