“Kapan Papa pulang?” Joshua bertanya saat melihat ibunya masuk ke ruang makan. Ia yang sedang mengaduk kopinya berhenti sejenak lalu memerhatikan ibunya yang duduk di seberangnya dan tengah menuangkan teh dari teko ke cangkir yang ada di atas meja.
Camelia, ibunya adalah wanita blasteran yang begitu cantik. Wanita itu begitu memerhatikan penampilannya sehingga menghabiskan banyak waktu dan uang untuk melakukan serangkaian perawatan wajah, tubuh, juga membeli baju-baju bagus untuk menunjang penampilannya.
“Entahlah, ada apa memangnya?” tanyanya balik lalu menyesap teh hangatnya.
“Ada sesuatu yang harus aku tanyakan?” Joshua kini meneliti wajah ibunya baik-baik. Ia memang sangat mirip dengan ibunya. Matanya, juga hidung. Saat foto kecilnya dan foto kecil ibunya disandingkan, mereka berdua seperti anak kembar.
“Mengenai apa?” Camelia menatap anaknya dengan raut penasaran.
Joshua diam sebentar, lalu berkata, “Apakah aku benar-benar anak Papa?” pertanyaan Joshua kali ini berhasil membuat Camelia hampir menyemburkan teh yang sedang disesapnya. Dahinya berkerut dan kedua alisnya hampir bertautan. Joshua pikir bertanya dengan ayah ataupun ibunya akan sama saja.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” wanita itu menyeka bibirnya dengan tisu lalu menatap Joshua dengan tatapan menyelidik.
“Hhmm… aku hanya berpikir, aku tidak memiliki kemiripan fisik dengan Papa.” Camelia mendesah pelan. Ia menatap Joshua baik-baik.
“Jangan menanyakan hal bodoh seperti itu.” katanya, “kamu pikir kamu anak siapa kalau bukan anak kami berdua.”
Joshua terdiam. Ia tidak bermaksud mengira ibunya selingkuh atau bagaimana, ia hanya… tidak terima. Ia hanya berpikir bahwa ia bisa mencari celah. Ia pikir ada hal-hal yang bisa ia jelaskan bahwa bukan diri orangnya. Ia berharap ada banyak hal yang tidak ia ketahui sehingga semua pemikirannya salah.
Joshua kembali ke kamarnya dan mengambil jas dari lemari. Tatapannya beralih ke ranjang, di mana sebuah kemeja dan celana miliknya terlipat rapi. Bagaimana mungkin? Pikirnya. Ia telah menanyakan hal itu berulang kali sejak menerima kemeja dan celana itu dari tangan Vanilla hari itu.
Ingatan bertahun-tahun lalu berkelut dalam pikirannya. Saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang wanita remaja pingsan di depan pos security rumahnya dengan tubuh yang sudah basah kuyup karena hujan. Ia lalu memerintahkan penjaga untuk membawanya kamar tamu dan menyuruh pelayan menggantikan pakaiannya. Ia juga masih ingat saat gadis itu bilang,
“Apa anda tahu kalau ayah anda mempunyai mantan istri yang dia tinggalkan belasan tahun lalu”
“Mantan istri ayah anda adalah bibi saya, dan sekarang dia sedang sakit dan membutuhkan pertolongan.”
“Ayah anda membawa anaknya turut bersamanya sebulan setelah anak itu lahir dari rahim bibi saya.”
Bahkan setelah bertahun-tahun, ia masih ingat kalimat-kalimat itu. Saat itu, ia memang tidak membicarakan hal itu pada kedua orangtuanya. Ia pikir Vanilla hanya seorang gadis yang mencoba memeras keluarganya. Ia pikir jika ia memberitahukan hal itu, hanya akan membuat masalah di keluarganya. Ia tidak ingin itu terjadi dan memilih menyimpan semuanya sendiri. Namun seperti katanya, karena berpikir bahwa cerita itu adalah karangan demi uang, ia tidak pernah bepikir untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Ia tetap menjalai hidupnya seperti biasa meski otaknya terus berpikir mengenai hal itu selama beberapa malam. Hingga akhirnya, ia benar-benar melupakannya.
Kenapa ini harus terjadi padanya? Ia tidak menyangka bahwa gadis yang mendatanginya bertahun-tahun lalu, yang ia hina dengan mulutnya sendiri, akan menjadi wanita yang dicintainya kini. Ia tidak menyangka akan kembali dipertemukan dengan gadis itu, yang bahkan tidak sempat ia lihat wajahnya waktu itu. Ia tidak habis pikir kenapa dari semua kemungkinan dalam hidupnya, ia dihadapkan dalam kondisi ini.
Sejak menyadari bahwa Vanilla adalah gadis itu, ia kerap memikirkan segala kemungkinan. Apa yang terjadi jika ia memutuskan untuk percaya pada gadis itu. Apa yang akan terjadi dengannya jika saat itu ia memutuskan memberitahu kedua orangtuanya mengenai kejadian itu. Ada segala macam kemungkinan yang bisa ia perkirakan. Namun tidak benar-bernar tahu akan bagaimana akhirnya.
Joshua adalah satu-satunya anak di rumah ini dan kemungkinan ia adalah anak yang dimaksud Vanilla. Yang akan diminta mendonorkan salah satu ginjalnya demi menyelamatkan bibinya, yang tidak lain ibunya sendiri. Tapi rasanya sangat tidak mungkin karena ia merasa sangat mirip dengan ibunya. Joshua masih tidak ingin mempercayai itu, namun tidak bisa juga menyangkalnya.
***
Lauren masuk ke dalam rumah dan langsung mendekat ke meja kecil di ruang tamu. Diantara segala macam tumpukan kertas di sana, ia langsung mengambil sebuah amplop cokelat yang berada paling atas. Ia membawa amplop itu dan masuk ke kamarnya. Duduk di meja riasnya, ia membuka amplop itu dan memerhatikan hasil tangkapan layar orang suruhannya. Dalam beberapa foto itu, ia melihat Joshua dengan seorang wanita. Ada cukup banyak gambar yang membuatnya yakin bahwa mereka berdua terlibat hubungan spesial. Semua pemikirannya benar. Pria itu susah dihubungi akhir-akhir ini karena memang ada wanita lain.
Ia menatap gadis itu baik-baik dan tersenyum sinis. Jika memang Joshua menyukai gadis itu, ia akan bertanya-tanya apa yang dilihat pria itu. Ia jelas lebih dari gadis itu dalam segala hal. Dalam pandangannya, sama sekali tidak ada yang menarik dari gadis itu.
Yang jelas, ia tidak akan sudi bersaing dengan gadis itu. Gadis itu tak ada apa-apanya dibanding dirinya.
Ia meremas satu foto yang ada di tangannya hingga menyerupai bola. Telapak tangannya mencengkeram gulungan foto itu kuat-kuat. “Jangan harap kamu bisa lolos dariku, Joshua.” Lauren mengatakan dengan nada dingin dan penekanan yang jelas. Ia selalu mendapatkan apa yang ia mau dan ia akan melakukan apapun. Hal-hal seperti ini tidak akan membuatnya menyerah. Ia telah punya banyak rencana dan tidak akan membiarkan orang lain menghancurkannya. Semuanya harus berjalan sesuai rencananya dan ia akan memastikan itu.
***
“Boleh aku mampir? Aku mau melihat kucingmu.” Joshua bertanya saat ia ikut keluar dari mobil. Ia menatap gadis itu yang tampak berpikir lalu mengangguk pelan.
Vanilla telah berpikir untuk melepaskan Aditya. Ya. Tidak peduli ada begitu banyak barang yang diam-diam pria itu berikan, nyatanya sosok pria itu tak juga terlihat sampai saat ini. Bunga, cokelat, boneka dan segala macam yang awalnya membuat bahagia kini tak ada artinya lagi. Ia tidak butuh apapun seperti itu, ia hanya menginginkan pria itu, yang nyatanya sama sekali tidak terlihat sampai sekarang.
Vanilla telah melepaskan semua harapnya pada pria itu. Ia tahu akan sulit, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin terus bergantung pada seutas tali yang ia tahu tak akan lagi bisa menahan bobotnya. Sudah saatnya ia berdiri di kakinya sendiri.
Suara derit terdengar saat Vanilla membuka pintunya. Joshua masuk dan langsung mengangkat kucing yang sedang tiduran di bawah sofa ke pelukannya. “Dia bertambah berat.” Pria itu mengusap bulu kucing itu dan membuat binatang kecil itu makin mendekam di dadanya.
Vanilla membawa secangkir kopi dari dapur dan menaruhnya di atas meja.
“Bunga itu, kenapa tinggal satu?” Joshua melirik bunga plastik yang ditaruh di atas meja kecil tak jauh dari sofa.
“Aditya memberikan lima bunga mawar asli dan satu bunga mawar plastik. Bunga aslinya sudah layu, hanya bunga plastiknya yang tersisa.” Vanilla menjawab saat ia mengempaskan tubuhnya di sofa di seberang sofa.
“Aditya?” Dahi Joshua berkerut saat mengatakan itu. Ia menatap Vanilla yang mengangguk.
“Iya… beberapa hari ini ada kiriman mulai dari bunga, cokelat, kue dan boneka. Selalu ada note dengan kata-kata manis. Dan di sana tertulis inisial A.J. Itu inisial untuk Aditya Johan.”
Joshua terlihat mengangguk sambil menyesap kopinya. Bukan hanya kopinya yang panas tapi kini tubuhnya benar-benar terbakar. b******k. Berani-beraninya dia. Joshua mencengkeram cangkirnya erat-erat seakan bisa memecahkannya dalam satu hentakan tangannya.
“Kenapa?” Vanilla bertanya saat menyadari perubahan raut wajah pria itu. Tatapan pria itu tiba-tiba berkilat marah.
“Tidak apa-apa.” Joshua menaruh cangkirnya dan kembali mengusap-usap kucing dalam pelukannya. Ia senang melihat hewan berbulu itu sangat terawat. Meski Vanilla sibuk seharian, ia tahu kalau Vanilla merawat hewan itu dengan sangat baik. Gadis itu pasti tidak ingin hewan ini berakhir seperti ikan hiasnya.
“Kemarilah.” Joshua menepuk sisi sebelahnya yang kosong. Vanilla langsung menggeleng dengan raut wajah yang membuat Joshua tersenyum geli. “kenapa?” tanya Joshua saat Vanilla menggeleng begitu cepat seakan benar-benar tidak ingin dekat dengannya.
Karena gadis itu bergeming, Joshua yang akhirnya berdiri dari duduknya dan berpindah ke samping Vanilla yang langsung beringsut menjauh.
Vanilla menelan ludah saat melihat Joshua terkikik geli. Ia menarik napas panjang demi meredam jantungnya yang akhir-akhir ini selalu berdetak tak karuan saat dekat dengan pria itu. Ia tidak tahu sejak kapan ini terjadi. Dan memang sepertinya ini terjadi begitu tiba-tiba. Dulu, ia tidak pernah merasakaan apapun meskipun mereka melakukan kontak fisik. Akhir-akhir ini jantungnya kerap berdegup kencang meski mereka hanya berdekatan. Ia tidak ingin Joshua menangkap keanehannya sehingga ia berpikir untuk berada sejauh-jauhnya dari pria itu.
“Kemarilah.” Joshua menganyunkan sebelah tangannya. Saat ia melakukan itu, kucingnya melompat dan menghampiri mangkok berisi makanannya yang ditaruh di depan rumah.
Vanilla sekali lagi menggeleng meski ia berusaha menjaga mimik wajahnya agar terlihat lebih tenang.
Joshua mengulum senyum. Melihat gadis itu tidak ingin meninggalkan tempatnya, ia akhirnya menggeser tubuhnya hingga benar-benar dekat.
Vanilla melotot, lalu mengomel demi menutupi kegugupannya. Ia bilang bahwa masih banyak space di sana dan menyuruh Joshua menyingkir. Tapi Joshua tidak mau. Ia malah menaikkan sebelah kakinya agar bisa menghadap Vnilla yang pinggangnya sudah menyentuh lengan sofa dan akan semakin mundur jika ia mendekat.
“Bagaimana kabar Aditya?” Joshua bertanya. Kali ini tanpa nada mengejek seperti biasa.
Vanilla terdiam sebentar lalu menjawab, “tidak tahu.”
Joshua menaruh sikunya di punggung sofa dan menumpu wajahnya di sana. Ia menatap gadis di depannya lama-lamat. Sebelah tangannya refleks terulur untuk menahan saat gadis itu hendak berdiri dari duduknya.
“Aku belum selesai bicara.” kata pria itu.
“Aku sedang tidak mau membahas Aditya.” kata gadis itu dengan raut wajah jengkel.
“Aku hanya bertanya, sama sekali tidak ada niat membahas pria pengecut itu.” Joshua mengusap lengan Vanilla yang bagi gadis itu terasa seperti sengatan listrik. Gadis itu buru-buru melepaskan sentuhan pria itu.
Vanilla menuduk saat merasakan Joshua menatapnya dengan intens. Tatapan itu terasa menelanjanginnya dan membuatnya tidak nyaman.
Joshua menikmati itu. Menatap gadis itu lamat-lamat. Jika ia bisa, ia akan berlama-lama melakukan itu. Memandangi gadis itu yang ia tahu tak akan membuatnya bosan sama sekali.
Sebelah tangannya terulur untuk mengambil tangan gadis itu. Vanilla coba menarik namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia membawa ke bibirnya dan mengecupnya pelan.
“Berhentilah siaran.” kata Joshua yang membuat Vanilla menatapnya dengan tatapan bingung. “sampai kapan kamu akan melakukan itu? Kamu perlu istirahat yang cukup.”
Vanilla terdiam. Ia telah melakukan itu sejak pertama kali kuliah sampai sekarang. Bukan hal mudah, namun ia mulai terbiasa dengan jam tidurnya yang tak sebanyak orang lain. Tubuhnya pun sepertinya menyesuaikan dengan cepat. Meski bagi orang lain ia tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, ia jarang sakit. Tubuhnya seakan tahu bahwa ia memang harus melakukan itu untuk bisa bertahan hidup.
“Aku bisa meminta HRD untuk memberikanmu pekerjaan tetap di perusahaan itu.”
“Aku bahkan belum lulus kuliah.” kata Vanilla. Ia jelas tidak bisa masuk ke perusahaan itu begitu saja. Orang-orang yang bekerja di sana adalah sarjana dari universitas negeri terbaik, beberapa bahkan lulusan S2. Ia tahu bahwa masuk ke perusahaan perlu menjalani segudang tes dan itu tidak mudah.
“Semuanya bisa diatur.” Joshua mengusap lengan gadis itu dan berusaha meyakinkan tawarannya. Gadis itu sudah bekerja terlalu keras. Ia ingin gadis itu menikmati hidupnya saat ini.
“Memangnya kamu kenal dengan pemilik perusahaan?” Vanilla bingung karena Joshua menawarkan pekerjaan itu begitu mudah padahal mereka melakukan seleksi yang ketat untuk setiap calon karyawan di sana.
“Bisa dibilang begitu.” kata Joshua sambil tersenyum kecil.
“Aku sudah melakukan ini bertahun-tahun. Aku sudah terbiasa.” jawab Vanilla. Ia tahu pria itu kasihan padanya dan sejak dulu, meski hidupnya berantakan, ia tidak pernah ingin dikasihani.
“Jangan berpura-pura di depanku.” kata Joshua. “aku tahu kamu lelah.” Joshua menarik tangan Vanilla hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Sebelah tangan Joshua mengusap rambut gadis itu pelan.
Vanilla punya banyak tenaga untuk menarik diri, namun pelukan itu terasa menenangkan sehingga ia memilih diam. “aku mau kamu menjalani hidup seperti anak seusiamu.” Joshua mengecup kepala wanita itu dan mengeratkan pelukannya.
Tidak ingin terlena, Vanilla mengurai pelukannya dan menatap Joshua yang berada sangat dekat dengannya, “aku menikmati hidupku.” dalam jarak yang begitu dekat, Vanilla bisa merasakan napas hangat pria itu.
Waktu terasa berputar begitu lambat, dan Vanilla masih diam di tempat saat wajah Joshua perlahan semakin dekat hingga akhirnya kedua bibir mereka bersentuhan.
Joshua menunggu sebentar. Saat menyadari tidak ada penolakan dari gadis itu, ia mengecup bibir gadis itu, hingga akhirnya kecupan itu berubah menjadi lumatan kecil.