Kurang dari dua jam, mereka berdua keluar dari biskop dengan senyum sumringah. Ini adalah kali pertama Vanilla merasa sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama pria itu. Joshua tidak menyebalkan seperti biasa. Pria tidak mendebat pilihannya. Ia tidak melihat senyum sinis ataupun tawa mengejek dari pria itu.
Mereka masuk ke salah satu kedai ramen pilihan Vanilla. Joshua telah memutuskan akan menjadikan hari ini hari terbaik gadis itu. Ia membiarkan gadis itu memilih dan akan langsung setuju dengan pilihannya, sama seperti saat gadis itu memilih film dan seat yang akan mereka duduki.
Setelah menempati salah satu meja kosong, pelayan menghampiri untuk menanyakan pesanan mereka. Meja-meja di sana hampir penuh, orang-orang bergerombol dan berisik. Pelayan hilir mudik dengan nampan di tangan. Ada antrian cukup panjang di depan kasir.
“Aku boleh tanya sesuatu?” Joshua bertanya saat pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka. “kenapa kamu tidak bisa duduk di depan?” Joshua bertanya dengan nada pelan dan lembut, berharap tidak menyinggung gadis itu.
Vanilla menelan ludah, ia terdiam sebentar lalu berkata, “aku pernah mengalami kecelakaan. Saat aku naik taksi, aku duduk di depan bersama ayahku, sementara ibuku di belakang. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat mobil dari arah berlawan itu hilang kendali lalu menghantam taksi dan membuat kedua orangtuaku meninggal di tempat.” Vanilla melihat itu semua sebelum ia tak sadarkan diri. Vanilla tidak bisa mencegahnya. Saat kenangan-kenangan itu mendobrak keluar dari relung paling dalam tempat ia menyimpannya. Kenangan itu langsung terproyeksi seakan benar-benar terjadi di depan matanya. Deru tabrakan, jeritan, darah di mana-mana. Meski itu sudah berlalu bertahun-tahun, Vanilla masih ingat bagaimana rasanya. Saat itu ia masih kecil namun entah kenapa ia menyimpan terlalu banyak memori dari kecelakaan itu.
Setiap kali ia duduk di depan, ia selalu merasa bahwa akan ada mobil yang menghantam mobilnya, persis seperti kecelakaan itu. Ia tidak bisa menahannya. Ia akan merasakan cemas luar biasa saat melihat langsung jalanan di depannya.
“Maafkan aku.” Joshua melepaskan jari-jari Vanilla yang saling bertaut dan menggengamnya erat. Joshua sadar ia baru saja membangkitkan memori paling buruk gadis itu dan ia menyesal.
“Kamu tidak berpikir untuk pergi ke psikiater?” Joshua bertanya, “aku juga pernah mengalami kecelakaan yang nyaris membunuhku. Aku tidak lagi berani naik mobil, mengalami kecemasan juga depresi.” Joshua bercerita. “Psikiater memberikan terapi sampai akhinya sembuh.” Joshua ingin memberitahu bahwa apa yang Vanilla alami bisa disembuhkan. Gadis itu hanya perlu mendatangi seorang ahli.
Vanilla ingat Aditya juga pernah mengajak ke psikiater. Namun Vanilla tidak benar-benar punya waktu. Ia sudah terlalu sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Ia pikir ia hanya perlu menghindar. Ya. Ia hanya perlu menghindari kursi yang langsung bisa menatap jalanan.
Pesanan mereka disajikan. Untuk beberapa saat, mereka sibuk dengan mangkok masing-masing.
“Setelah ini mau ke mana?” Joshua melihat Vanilla masih sibuk mencacah mie dalam mulutnya saat ia baru saja menghabiskan porsi ramen miliknya.
“Aku perlu ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan.”
Joshua mengangguk, ia menyesap air dalam gelasnya hingga tersisa setengah. Ia menunggu hingga Vanilla menghabiskan makanannya lalu mereka pergi ke supermarket yang ada di lantai dasar mall itu.
Joshua mengambil alih troli yang baru saja diambil Vanilla lalu mengekori gadis itu. Mereka beralih dari satu rak ke rak lainnya.
Joshua selalu berpikir bahwa trauma gadis itu konyol sekali. Ia bahkan berpikir bahwa gadis itu mungkin mengada-ngada. Namun saat tahu bagaimana ceritanya, ia tahu bahwa kejadian itu terlalu berat untuk gadis itu. Melihat dengan jelas bagaimana kecelakaan itu, lalu terbangun dengan kedua orangtua yang sudah tiada. Gadis itu dipaksa menerima keadaan.
“Setelah kedua orangtuamu meninggal, kamu tinggal dengan siapa?” Joshua bertanya saat mereka tengah berdiri di depan rak sabun. Vanilla yang sedang melihat-lihat langsung terdiam, “kamu tidak perlu menjawabnya.” kata Joshua saat melihat raut wajah gadis itu berubah. Gadis itu tidak perlu menceritakan jika tidak ingin. Joshua tidak akan memaksa.
“Bibiku.” kata Vanilla. Ia menoleh dan menatap Joshua dengan tatapan tidak terbaca. Sabun yang baru saja ia ambil ditaruhnya di dalam troli. “beberapa tahun yang lalu bibiku menderita gagal ginjal. Setelah berkali-kali cuci darah, dokter bilang bahwa transplantasi ginjal adalah jalan keluar.” Lagi, kenangan itu kini mengelilingi pikirannya. “aku gagal mendapatkan donor ginjal.” kali ini ada lapisan bening di kedua mata Vanilla.
Vanilla ingat bahwa setelah kematian bibinya, ia menghabiskan banyak hari dengan penyesalan. Ia berpikir jika ia bisa memutar waktu, ia akan berlutut di depan laki-laki itu. Ia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan bibinya. Ia tidak bisa mengenyahkan bahwa kegagalannya membuat bibinya meninggal. Berkali-kalipun ia mencoba mengenyahkan rasa penyesalan itu, ia tidak bisa. Ia telah gagal menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia punya.
Joshua maju selangkah dan memeluk gadis itu. “maafkan aku.” ada banyak hal yang ingin Joshua katakan namun ia hanya sanggup mengatakan itu. Ia mengusap punggung gadis itu pelan.
Joshua menarik napas saat merasakan sesak menyelimutinya. Ada banyak perasaan yang ia rasakan. Benci, menyesal, marah, dan segala rasa yang tak bisa ia telaah sendiri. Ia hanya merasakan dadanya seperti dihantam batu begitu besar hingga membuatnya sulit bernapas.
Vanilla mengurai pelukan itu lalu menyeka sudut matanya. “Jika aku bisa mengulang waktu, akau akan berlutut di bawah kaki satu-satunya orang yang bisa mendonorkan ginjalnya pada bibiku. Aku akan melakukan apapun agar laki-laki itu mau menyelamatkan bibiku.” Vanilla selalu berpikir, jika ia melakukan itu, ia mungkin akan berhasil. Ia mungkin akan bisa menyelamatkan bibinya dan hidup berdua sampai saat ini. Vanilla tidak perlu merasakan penyesalan ataupun kesepian luar biasa sepeninggal bibinya. Hidupnya pasti tidak akan seberat ini jika bibinya masih hidup.
Joshua merengkuh Vanilla lagi saat mendengar suara gadis itu bergetar, “jangan lakukan itu…” kata Joshua. Ia menggeleng pelan, tidak sanggup membayangkannya. Gadis itu telah benyak kehilangan dan ia bisa membayangkan bagaimana susahnya hidup gadis itu.
“Kedua orangtuamu, juga bibimu pasti bangga melihatmu sekarang.” kata Joshua sambil mengurai pelukannya.
Vanilla tersenyum kecil, “aku belum jadi apa-apa. Sarjanapun belum.” kata Vanilla, “tidak ada yang bisa aku banggakan saat ini.”
Joshua menggeleng. Ia menyelipkan sejumput rambut gadis itu ke belakang telinganya, “kamu tidak perlu jadi apa-apa.” kata Joshua. “kamu hanya perlu bahagia.”
***
Joshua menaruh berlanjaan Vanilla di meja makan, sementara Vanilla mulai membuka plastik satu-persatu dan menata semua belanjaannya. Bahan-bahan masakan ia tata ke dalam kulkas satu pintunya, sementara kebutuhan kamar mandi ia taruh di salah satu lemari yang ada di sana. Joshua duduk di seberang gadis itu dan memerhatikan Vanilla bergerak dari satu sisi ke sini lainnya hingga kantong-kantong plastik itu kosong.
“Mau kopi?” Vanilla bertanya dan melihat Joshua mengangguk.
Joshua melihat gadis itu mengisi ceret lalu menaruhnya di atas kompor yang menyala. Sebelah tangannya mengambil cangkir di rak lalu menuangkan kopi dan gula ke dalamnya.
Joshua tidak heran jika Vanilla begitu takut kehilangan Aditya. Gadis itu mungkin tidak benar-benar mencintai pria itu, gadis itu hanya terlalu bergantung. Gadis itu tahu bahwa ia tidak akan punya siapa-siapa lagi setelah Aditya pergi. Setelah banyak waktu yang mereka lalui berdua, gadis itu tidak siap kehilangan lagi. Joshua kini mengerti apa yang gadis itu rasakan.
“Terima kasih.” Joshua mengatakan itu saat Vanilla menyuguhkan secangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul, juga sepiring berisi apel yang baru saja ia potong.
“Aditya tidak ada kabar?” tanya Joshua saat melihat gadis itu mengutak-atik ponselnya.
Vanilla menatap Joshua lalu menggeleng pelan. Dahi Vanilla berkerut saat menyadari bahwa Joshua tidak mengatakan apapun lagi. Ini aneh, pikirnya. Biasanya pria itu akan mengejeknya, atau tertawa sinis, atau menceramahinya untuk tidak lagi mengharapkan Aditya.
Vanilla menatap Joshua yang meniup isi cangkirnya dan menyesapnya pelan. Keheningan yang tiba-tiba tercipta terasa aneh bagi Vanilla.
“Aku pulang dulu. Terima kasih untuk hari ini.” kata Joshua saat isi cangkirnya masih tersisa setengah.
“Harusnya aku yang berterima kasih.” Vanilla berdiri dan mengekori pria itu menuju pintu.
Saat hendak mencapai pintu, Joshua berhenti lalu berbalik. Vanilla kontan langsung berhenti agar tidak menabruk pria itu.
“Vanilla… aku tahu aku tidak berhak mengatakan ini.” ujar Joshua, “tapi jangan pernah merasa sendiri.” Joshua mengambil sebelah tangan Vanilla dan mengusapnya pelan.
Vanilla diam. Bingung dengan kalimat pria itu yang tiba-tiba. “kamu punya aku.” kata pria itu lagi. “aku akan selalu ada. Aku berjanji.”
Vanilla tidak pernah bisa menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Joshua. Ia merasa nyaman meskipun pria itu kadang menjengkelkan. Ia lupa kapan mereka mulai dekat hingga akhirnya bisa sedekat ini. Tapi pria itu tidak perlu berjanji seperti itu.
“Jangan berjanji seperti itu.” kata Vanilla. Ia ingat bahwa Aditya pernah berjanji seperti itu, namun ternyata tidak pernah benar-benar bisa ditepati. Ia tidak ingin mendengar janji-janji semacam itu lagi. Ia takut kembali menggantungkan diri sementara orang itu tidak bisa menepati janjinya.
“Aku selalu menepati janjiku.” Nada suara Joshua terdengar meyakinkan. Seakan-akan ingin memberitahu Vanilla bahwa ia tidak akan pernah mengingkari janjinya. Bahwa semua omongannya bisa dipercaya.
Vanilla masih terdiam saat Joshua memeluknya. Ini terasa aneh, pikir Vanilla. Ini adalah kali ketiga pria itu memeluknya. Namun entah kenapa, kali ini ia tidak ingin mengurainya. Ia melingkarkan kedua tangannya dan membalas pelukan pria itu.
Usapan jemari Joshua pada rambutnya terasa menenangkan. Ada banyak hal yang ingin Vanilla katakan. “Terima kasih.” Vanilla mengucapkan salah satunya. Vanilla tidak pernah benar-benar punya teman dekat selain Aditya dan beberapa teman siarannya. Namun saat Aditya menghilang, Vanilla merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Keberadaan Joshua sedikit membuatnya tidak merasa kesepian. Ia juga sepertinya sudah bisa memaklumi sikap menyebalkan pria itu.
“Untuk apa?” Joshua belum melepaskan pelukannya. Ia mengusap kepala bagian belakang gadis itu.
“Semuanya…” Vanilla mengurai pelukan dan melihat pria itu tersenyum.
Joshua sedikit menunduk lalu mengecup pipi gadis itu sekilas. “aku pulang dulu.” katanya sambil membuka pintu dan meninggalkan Vanilla yang masih terdiam di tempatnya.
Sebelah tangan Vanilla terangkat dan menyentuh pipinya sendiri. Kejupan singkat itu membuat hangat yang langsung menjalari tubuhnya. Garis bibirnya terangkat, ia tersenyum.